
"Sebenarnya ada alternatif lain untuk pengobatan leukimia selain transplantasi sumsum tulang belakang," ungkap dokter itu yang bagaikan angin segar di telinga Ibu Ammara.
"Apa itu dokter?" tanya Ibu Ammara kembali bersemangat.
"Transplantasi darah tali pusat," ujar dokter. "Jadi di tali pusat bayi terdapat beberapa jenis sel punca, satu di antaranya memiliki sel punca yang sama dengan sumsum tulang belakang, morfologi dan molekulernya mirip meski pun jumlahnya tidak banyak, tapi efektifitas untuk mengobati leukimia lebih cepat," lanjutnya menjelaskan.
Ibu Ammara mengerutkan keningnya mendengar kata darah tali pusat, seolah ia pernah mendengarnya.
"Tenang, Bu. Kami akan membantu mencarikannya, insya Allah ada, karena bukan hanya dari keluarga saja yang bisa menjadi pendonor dalam hal ini, tapi orang lain pun bisa asal cocok," tukas dokter itu pada akhirnya.
-
Ibu Ammara berjalan keluar dari ruang dokter menuju ke kamar Nameera. Ia masih saja memikirkan perkataan dokter mengenai darah tali pusat. Tanpa mengundur waktu, wanita paruh baya itu segera mengirimkan pesan kepada Zulaikha mengenai apa yang ia dengar dari dokter pagi ini.
"Aku pernah mendengarnya, tapi di mana yah?" monolog Ibu Ammara bertanya pada dirinya sendiri.
Ibu Ammara memasuki kamar Nameera, hatinya seketika merasa tersentuh saat melihat pemandangan di hadapannya. Rafif, anak itu rupanya sedang menyuapi Nameera makanan yang sempat tertunda olehnya.
Air matanya seketika mengalir, menangisi nasib malang yang sudah menimpa anak-anaknya. Semuanya harus menerima kenyataan perpisahan kedua orang tua karena keegoisannya. Pertama karena ia tergoda oleh rayuan pria lain dan yang kedua karena ia tidak terima jika ia harus berbagi suami dengan wanita lain.
Hal yang lumrah sebenarnya bagi setiap perempuan untuk alasan yang kedua, hanya saja ia selalu merasa bahwa itu adalah hukuman yang Allah berikan akibat kedurhakaannya terhadap sang mantan suami.
***
Usai sarapan bersama, Tareeq kembali beristirahat karena tubuhnya yang benar-benar tidak nyaman. Demam dan sakit kepala, itulah yang dirasakan, sehingga mau tidak mau, terpaksa ia tidak masuk kantor hari ini.
Selagi sang suami berisirahat di kamarnya, Zulaikha memanfaatkan waktu untuk membersihkan rumah. Mulai dari menyapu, mengepel, hingga mencuci, semua pekerjaan yang tidak pernah lagi ia lakukan setelah menikah kini kembali ia kerjakan.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, Zulaikha memeriksa ponselnya, pagi ini ia hendak melakukan video call bersama Nameera sebagaimana aktivitas rutinnya selama ia tidak bisa menjenguknya. Namun, rencananya itu tertunda saat ia melihat pesan dari Ibu Ammara.
Ibu Ammara
Zulaikha, hasil pemeriksaan ibu sudah keluar, dan hasilnya tidak cocok, tapi kata dokter mereka akan mencarikan darah tali pusat yang cocok sebagai alternatif lain untuk mengobatan Nameera.
"Darah tali pusat?" lirih Zulaikha setelah membaca pesan itu.
Masih dengan rasa penasarannya, Zulaikha kini dikejutkan oleh suara ponselnya yang berdering dan itu adalah panggilan video call dari Nameera. Tak ingin mengulur waktu, gadis itu langsung mengangkat panggilan dari sang adik ipar
Terlihatlah wajah cantik Nameera memenuhi layar ponselnya. Meski wajah gadis itu terlihat begitu pucat, tapi senyuman tulus tetap ia perlihatkan kepadanya.
__ADS_1
"Assalamu 'alaikum, Nameera. Bagaimana keadaanmu?" ucap Zulaikha mengawali panggilannya.
"Wa'alaikum salam, alhamdulillah aku merasa jauh lebih baik, Kak Zul tahu kenapa?" Nameera menjawab sambil sesekali mengunyah makanan.
"Kenapa?"
Nameera kini mengarahkan layar ponselnya ke arah Rafif yang sibuk menyuapinya makan.
"Hay Rafif, masya Allah, kamu pintar dan baik sekali," pujinya melihat anak laki-laki yang mendekati usia remaja itu.
Zukaikha tentu mengenali anak itu karena selama ia tidak bisa menjenguk Nameera, setiap hari ia akan melakukan video call dan akan selalu mendapati wajah anak itu di sana.
"Kak, di mana Kak Tareeq?" Nameera kini kembali mengarahkan kamera ke wajahnya.
"Dia sedang beristirahat di kamar," jawab Zulaikha.
"Sekarang kakak sedang kalut, tidur kakak tidak pernah nyenyak, dan hari-hari kakak terasa sangat hampa. Harus kakak akui, kakak sangat merindukan Zulaikha, jadi tolong bantu kakak kali ini." Nameera menirukan apa yang ia dengar kemarin dari sang kakak.
"Apa maksudmu Nameera?" tanya Zulaikha bingung.
"Itu perkataan Kak Tareeq saat sudah putus asa mencari Kakak, dan pada akhirnya dia datang dan meminta nomor Kak Zul," terang Nameera.
Zulaikha kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Nameera setelah ia terdiam beberapa saat, tampak ia begitu asik berbicara dengan Adik Iparnya di ruang tamu, terbukti dari senyuman yang tak pernah surut dari wajahnya.
--
Sementara itu, Tareeq yang tadinya sedang beristirahat di kamar dan tempat tidur Zulaikha tiba-tiba di kagetkan dengan suara deringan ponselnya. Pria itu mengambil ponsel yang ia simpan di atas nakas, ia mengira bahwa itu adalah panggilan dari sang asisten, tapi raut wajahnya seketika berubah datar saat melihat nama yang tertara di layar ponselnya.
"Qifty," batin pria itu.
Tareeq kembali menyimpan ponselnya ke tempat semula. Sungguh ia tidak ingin wanita itu kembali mengusik rumah tangganya di saat ia mulai merasa nyaman dan bahagia dengan sang istri.
Satu panggilan pun akhirnya berhenti tanpa di angkat oleh Tareeq. Namun, beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berdering, tapi Tareeq tetap mengabaikannya. Hingga pada panggilan keempat, barulah Tareeq mengangkatnya karena begitu kesal.
"Halo," ucap pria itu begitu dingin.
"Tareeq, aku punya berita penting mengenai donor yang bisa menyembuhkan adikmu," ucap gadis di seberang telepon dengan cepat agar Tareeq tidak mematikannya.
"Apa itu?"
__ADS_1
"Mari kita bertemu agar aku bisa menjelaskannya."
"Jelaskan saja melalui telepon, aku sedang tidak bisa kemana-mana saat ini."
"Aku menemukan pendonor untuk adikmu, tapi bukan sumsum tulang belakang, melainkan darah tali pusat."
"Apa?"
"Jika kamu ingin tahu lebih lanjut, mari kita bertemu," ucap Qifty lalu mematikan ponselnya secara sepihak."
Tareeq segera beranjak dari tempat tidur, setelah membaca pesan dari Qifty mengenai alamat restoran tempat mereka bertemu siang ini. Pria itu hendak berjalan keluar kamar mencari keberadaan Zulaikha.
Hati pria itu seakan menghangat saat mendapati istrinya sedang asik melakukan video call dengan adiknya. Senyuman tulus dari wajah gadis itu benar-benar terpancar secara alami.
Tareeq memilih diam memandangi Zulaikha dari ambang pintu kamar hingga gadis itu menyelesaikan panggilannya. Ia kemudian berjalan ke arah sofa lalu duduk di samping Zulaikha dan langsung membaringkan tubuhnya dengan berbantalkan paha sang istri.
Zulaikha yang terkejut hendak langsung berpindah, tapi tangannya dicekal oleh Tareeq.
"Biarkan seperti ini sebentar," ucap pria itu, membuat Zulaikha kini diam mematung dengan degupan jantung yang makin lama makin terasa cepat, ia tak tahu harus berbuat apa saat ini.
"Bagaimana hasil tes Ibu mengenaik kecocokannya dengan Nameera?" tanya Tareeq sembari menatap wajah Zulaikha.
"Kata Ibu, hasilnya tidak cocok, tapi kata dokter ada cara lain untuk mengobati leukimia selain transplantasi sumsum tulang belakang," jawab Zulaikha sembari menatap ke sembarang arah, ia tak ingin menatap Tareeq yang sedang berbaring di pahanya.
"Apa itu transplantasi darah tali pusat?" selidik Tareeq.
"Iya benar. Tunggu dulu, dari mana kamu tahu?" Zulaikha refleks menunduk menatap wajah sang suami, tapi di detik berikutnya ia langsung mengangkat kembali wajahnya.
"Kalau begitu, temani aku makan siang bersama Qifty, aku ingin tahu apa lagi rencananya kali ini," ajak Tareeq tanpa menjawab pertanyaan Zulaikha.
"Bertemu Qifty? Kenapa harus aku?" Rasanya ia begitu enggan untuk sekedar bertemu dengan gadisi itu.
"Karena kamu istriku."
"Tapi jika aku ikut pergi, bisa saja apa yang ingin dia rencanakan padamu jadi gagal."
"Tenang saja, aku punya ide."
-Bersambung-
__ADS_1