Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Hamidun?


__ADS_3

Ali keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri. Pria itu mendapati Nameera masih berada dalam posisi tidur yang sama, hal itu sedikit membuatnya merasa risih karena ia tahu, tidur dengan posisi itu tentu sangatlah tidak nyaman.


Perlahan Ali mendekati sang istri lalu diangkatnya dengan hati-hati kaki yang tadinya masih menggantung ke atas tempat tidur hingga posisi tidur Nameera terlihat nyaman. Tak lupa pria itu menarik selimut hingga menutup setengah tubuhnya. Meski diluar sedang musim panas, tapi suhu pendingin ruangan di kamar itu cukup sejuk.


Setelah memperbaiki posisi tidur Nameera, Ali pun menuju ke bagian tempat tidur yang masih kosong dan ikut membaringkan tubuhnya di sana. Namun, saat hendak memejamkan mata, ia mendengar suara dari sang istri.


"Kak?" panggil Nameera.


Ali menoleh ke arah wanita yang kini menatapnya malu-malu di sampingnya.


"Iya? Kenapa bangun, Dik?" tanya Ali.


"Maaf, tadi aku hanya pura-pura tidur," jawab Nameera begitu polos. Gadis itu juga merasa heran dengan dirinya sendiri, kadang ia bisa bersikap dewasa, tapi jika berhadapan dengan pria yang kini berstatus suaminya itu, kepolosannya tiba-tiba kumat.


Ali tersenyum mendengar jawaban polos Nameera, ia tidak menyangka gadis itu akan mengakui kepura-puraannya dengan begitu cepat. "Aku tahu," ucapnya.


"Jadi Kak Ali sudah tahu?" Masih dengan senyuman di wajahnya, Ali menganggukkan kepala pelan.


"Maaf," cicit Nameera.


"Tidak apa-apa, itulah yang aku sukai dari kamu, kamu kadang polos, tapi kadang juga dewasa,"


"Kakak menyukaiku?" Ingin sekali Nameera membungkam mulutnya saat ini yang tanpa sadar malah menanyakan hal itu tanpa malu sedikit pun.


"Tentu saja, mana mungkin aku menikahimu jika aku tidak menyukaimu."


Nameera diam sejenak menatap langit-langit kamar, jantungnya semakin berdegup kencang mendengar pengakuan sang suami, meski diungkapkan dengan cara biasa, tapi hatinya ikut berdesir dibuatnya.


"Kenapa, Dik?" tanya Ali karena Nameera tampak diam.


"Maaf, Kak, kalau boleh tahu sejak kapan?" Bukannya menjawab pertanyaan Ali, Nameera justru kembali bertanya. Rasa keingintahuannya kini semakin terusik oleh pertanyaan yang awalnya tidak sengaja ia lontarkan.


"Sudah lama, bahkan waktu pertama kali melihatmu di mansion ini saat aku datang menemui Tareeq."


Nameera lagi-lagi hanya diam, sejenak ia mengingat saat di mana Ali datang di mansion untuk pertama kalinya, yaitu dua tahun lalu, di mana Nameera masih berusia 16 tahun.

__ADS_1


"Sudah lama yah, kenapa aku tidak pernah tahu?" Lagi-lagi sebuah pertanyaan keluar dari gadis itu. Namun, tak ada jawaban dari Ali. Ia hanya diam dengan wajah yang mengarah ke langit-langit kamar.


"Kamu tahu kisah cinta antara Ali bin Abi Thalib dan Fatimah putri Rasulullah?" tanya Ali setelah diam beberapa saat dengan sedikit menoleh ke arah Nameera yang kini menganggukkan kepala.


Siapa yang tidak tahu kisah cinta yang begitu menyentuh itu? Konon, Ali dan Fatimah memang sudah saling mencintai, tapi mereka menjaga perasaan mereka satu sama lain dalam diam sehingga tak ada satu pun orang yang tahu, bahkan setan pun tak dapat mengedusnya.


Ali kembali menatap langit-langit kamar lalu berkata. "Aku ingin seperti itu, bukan karena namaku juga Ali, tapi karena aku sadar, betapa berharganya cinta itu hingga aku tak ingin cinta yang kumiliki dinodai oleh setan."


Hati Nameera semakin berdesir mendengar jawaban pria di sampingnya, ingin sekali ia menatap penuh wajah tampan pria itu, tapi rasa malu masih menguasai hingga ia hanya berani menoleh sedikit.


"Tapi ...." Ali menggantungkan perkataannya lalu menoleh ke arah Nameera. Tatapan mereka tak sengaja saling bertemu. Seolah terhipnotis, keduanya kini tak mampu mengalihkan pandangan mereka.


"Aku benar-benar tersiksa saat mengetahui kesehatanmu yang semakin memburuk, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, maafkan aku," ucap Ali dengan wajah sendu.


"Siapa bilang Kakak tidak berbuat apa-apa? Yang selama ini bekerja keras membantu Kak Tareeq mencari pendonor itu Kakak, dan yang rela menyamar jadi petugas lab untuk mendapatkan donor juga Kakak, Kak Tareeq sudah menceritakan semuanya."


Ali mengusap wajahnya terharu, pria itu tidak menyangka apa yang selama ini ia lakukan akan diketahui oleh sang istri. "Terima kasih karena sudah menerimaku," ucap Ali seraya tersenyum.


"Aku yang berterima kasih karena Kakak mau menyukai orang sepertiku."


***


Beberapa bulan kemudian telah berlalu. Kehidupan berjalan seperti biasa, Paman Harun dan Bibi Anisa sudah kembali beraktivitas di desa tanpa ada lagi yang mengusik mereka. Ali dan Nameera sudah mulai tinggal bersama di rumah baru mereka yang jaraknya tidak jauh dari mansion sang Kakek.


Begitu pun Zulaikha dan Tareeq, mereka sudah mulai kembali pada kehidupan mereka yang penuh cinta, walaupun sesekali Tareeq masih mendapati sang istri menyendiri sambil menangis, tapi sejauh ini wanita itu mulai tampak ceria kembali seperti biasa.


Meski Nameera maupun Tareeq sudah berkeluarga dan tinggal di rumah yang berbeda, tapi setiap akhir pekan mereka akan datang untuk bermalam dan berkumpul bersama sang kakek yang selama ini sudah membesarkannya.


Seperti saat ini, Tareeq dan Zulaikha bersama Ali dan Nameera kini tiba di mansion itu di waktu yang sama. Kedua pasangan itu langsung menuju ke ruang keluarga di mana Kakek Husein sudah menunggu mereka.


Hanya Bibi Afra yang kini menemani sang Kakek di mansion itu, tapi sayangnya, saat kedua keponakannya datang, wanita paruh baya itu akan memilih menyendiri di kamar.


"Nameera, ayo," ucap Zulaikha sembari memberikan kode untuk memulai aksi mereka, membuat para pasangan mereka beserta Kakek Husein mengerutkan kening.


"Kalian mau ke mana?" tanya Tareeq saat melihat Zulaikha dan Nameera sudah beranjak dari sofa bersama.

__ADS_1


"Kami punya misi rahasia," jawab Zulaikha, lalu menarik tangan Nameera dan pergi meninggalkan suami dan kakek mereka.


"Kalian tahu apa yang ingin mereka lakukan?" tanya Kakek Husein kepada Tareeq dan Ali yang duduk di hadapannya, dan kompak dua pria itu mengedikkan bahu pertanda mereka tidak tahu.


Tak lama setelah itu, Zulaikha dan Nameera datang kembali bersama, tapi tidak dengan tangan kosong, karena kedua wanita itu menempatkan seorang wanita paruh baya di tengah mereka lalu menggandeng tangannya seolah mereka begitu akrab.


"Bibi Afra?" lirih Ali heran yang sudah tahu bagaimana hubungan mereka akhir-akhir ini.


"Kenapa kalian tiba-tiba jadi akrab begitu?" tanya Tareeq yang juga merasa heran.


"Aku tidak akrab, mereka yang sok akrab," jawab Bibi Afra ketus.


"Ayolah, Bibi, mau sampai kapan Bibi menyendiri terus, bergabunglah bersama kami agar Bibi tidak kesepian," ujar Zulaikha.


"Benar, Bibi. Jangan selalu menyendiri kalau pada dasarnya Bibi tidak sendiri," timpal Nameera.


Bibi Afra hanya memutar bola mata malas sembari membuang napas kasar. Entah ini sudah usaha ke ke berapa mereka dalam meluluhkan hati wanita paruh baya itu tanpa sepengetahuan suami mereka.


Awalnya, Bibi Afra marah saat Zulaikha dan Nameera mendekatinya. Namun, seiring berjalannya waktu, pertahanan wanita paruh baya itu mulai runtuh, ia tak lagi semarah dulu, bahkan kini ia pasrah tanpa ada perlawanan saat kedua wanita itu kembali membawanya.


Waktu makan malam pun tiba, semua orang mulai berkumpul di depan meja makan. Acara makan malam bersama pun dimulai setelah berdoa, tapi belum juga makan, atensi semua orang yang ada di sana teralihkan pada dua wanita muda itu.


"Huek."


"Huek."


Zulaikha dan Nameera langsung berlari menuju kamar mandi bersama.


"Paling mareka hamidun," ucap Bibi Afra begitu santai sembari menyantap makanannya.


Tareeq dan Ali kini saling menatap heran.


"Tunggu apa lagi? Cepat susul mereka," ujar Bibi Afra, membuat dua pria itu langsung berlari menyusul istri mereka.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2