Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Di mana Dia?


__ADS_3

Sebelumnya ...


Tareeq baru saja menyelesaikan meetingnya siang ini, ia hendak mengunjungi adiknya dengan membawakan salah satu makanan kesukaan mereka yaitu Kunafa.


Pria itu baru saja membeli makanan tersebut, sebelum akhirnya ia mendapat telepon dari petugas keamanan di rumahnya yang sudah lama berkerja dengan keluarganya sejak kecil bahwa ibunya kembali dan bertemu dengan Zulaikha, dan kini mereka sedang pergi bersama ke rumah sakit.


Rahang Tareeq seketika mengeras setelah mendengar laporan itu. Gegas ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit untuk memastikan kebenarannya.


Benar saja, saat ia masuk ke dalam kamar sang adik, ia dapat melihat dengan jelas wanita itu sedang memeluk adiknya. Rasa kecewa dan marah kini menyatu dalam hatinya, sejanak ia menatap ke arah Zulaikha dengan tatapan tajam yang baru pertama kali ia perlihatkan kepada gadis itu, lalu segera pergi.


--


Kakek Husein baru saja pulang dari masjid, ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang masih tampak ramai. Namun, dari jauh ia melihat Tareeq yang berjalan sangat cepat dengan wajah yang tidak bersahabat, lalu disusul oleh Zulaikha di belakangnya.


Rasa penasarannya membuat pria usia lanjut itu hendak mengikuti mereka, tapi ia urungkan saat mendengar suara seseorang memanggilnya.


"Ayah."


Kakek Husein lantas berbalik dan memperhatikan wanita yang ada di hadapannya, seketika raut wajahnya berubah dan memperlihatkan kemarahan. Namun, belum sempat ia berbicara dan melontarkan kemarahannya, wanita yang dulunya ia sebut menantu itu sudah bersujud dan mencium kakinya sembari menangis dengan tubuh yang bergetar, membuat pria usia lanjut itu terkejut.


"Ayah, maafkan aku, aku menyesal telah menyakiti kalian semua, kumohon maafkan aku, Ayah," ucap Ibu Ammara di sela tangisannya, tapi tak juga mendapat respon dari mantan mertuanya itu.


"Ayah, Allah telah membalas perbuatanku dengan membuatku di tinggal selingkuh oleh suami saat dalam keadaan hamil, dan sekarang aku siap menerima hukuman apa pun dari Ayah asal aku bisa bertemu dengan Nameera dan Tareeq," lanjut Ibu Ammara dengan mempertahankan posisinya yang bersujud dan mencium kaki Kakek Husein.


Pria usia lanjut itu berusaha bertahan pada pendiriannya untuk tetap mendiami wanita itu. Tapi semakin lama ia menunggu, wanita itu tak kunjung bangkit dari posisinya, membuat sisi pemaaf Kakek Husein perlahan tergerak.


"Bangun!" titah pria itu.


"Tidak sampai Ayah memaafkanku," tolak wanita itu di sela tangisannya.


"Kamu pikir setelah semua yang telah kamu lakukan di masa lalu bisa dengan mudah di maafkan? Mungkin kami masih bisa memafkan, tapi luka yang telah kamu torehkan terutama kepada almarhum Ahmad dan kedua anakmu tidak akan bisa sembuh begitu saja," ujar Kakek Husein.


"Aku tahu, Ayah, itu sebabnya aku akan menerima hukuman apa pun agar bisa membayar semua itu." Ibu Ammara sedikit mendongak menatap wajah pria usia lanjut itu yang tampak begitu sendu dengan mata yang memerah.


"Dari semua yang kamu lukai waktu itu, Tareeq lah yang paling merasakan trauma akibat perbuatanmu, ia bahkan tak ingin menikah karena takut mengalami hal yang sama dengan ayahnya," jelasnya sembari menarik lengan Ammara agar dia berdiri.


"Tapi, bukankah Zulaikha adalah istri Tareeq?" tanya wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Mereka menikah karena aku dan Nameera yang mendesaknya, dari mana kamu mengenal Zukaikha?"


"Sebenarnya, Zukaikha lah yang mengabariku mengenai keadaan Nameera, dia sedang berusaha mencari pendonor sumsum tulang belakang, dan dari informasi yang dia dapat, Rafif adalah satu-satunya orang yang cocok, hanya saja usianya masih 11 tahun. Makanya tadi dia menemaniku untuk melakukan konsultasi sekaligus pemeriksaan untuk memastikan apakah aku bisa menjadi pendonornya atau tidak," jelas Ibu Ammara.


"Apa tadi Tareeq melihatmu?" Ibu Ammara mengangguk.


"Dia tampak sangat marah, dan aku khawatir Tareeq akan menyalahkan Zulaikha atas kedatanganku," ujarnya membuat Kakek Husein terdiam.


***


Keesokan paginya, Tareeq terbangun saat adzan subuh berkumandang. Namun, ia merasa ada sesuatu yang berbeda saat ia bangun, sebab ia tidak mendapati baju sholatnya yang sudah disiapkan di tempat tidur seperti biasa.


Tak ingin ambil pusing, Tareeq langsung beranjak untuk menunaikan ibadah sholat subuh yang kemudian ia lanjutkan dengan mandi pagi. Usai mandi, Tareeq keluar dari kamar mandi dengan mata yang langsung memandang ke arah tempat tidur, tapi lagi-lagi ia merasa ada yang berbeda karena tidak mendapati pakaian kerjanya yang biasanya sudah tersedia dengan rapi di atas tempat tidur.


Mau tidak mau, Tareeq melakukan semuanya dengan sendiri setelah lebih dari dua bulan lamanya tidak pernah lagi ia lakukan karena kehadiran sang istri. Usai memakai semua pakaiannya, Tareeq berjalan keluar kamar dan melirik ke arah kamar Zukaikha, ada rasa bersalah yang hinggap di hatinya kerena telah berkata kasar gadis itu,, tapi egonya masih saja membuatnya merasa benar dan menyalahkan Zukaikha atas apa yang terjadi kemarin.


Tareeq kini sarapan seorang diri di meja makan, lagi-lagi ia merasakan ada sesuatu yang hilang dan berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi yang menyiapkan sarapannya, dan tak ada lagi yang selalu mengoceh di meja makan.


"Astaghfirullah, ada apa denganku? Bukan kah ini yang kuinginkan sejak dulu, tak ada interaksi apa pun?" batin pria itu merasa bingung dengan dirinya sendiri.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Tareeq bergegas pergi ke kantor, untuk sesaat ia sama sekali tidak ingin berinteraksi dengan gadis yang menurutnya masih memilih mengurung diri di kamarnya itu.


--


Bayangan wajah sendu Zulaikha saat ia membentaknya malam itu terus saja membayangi pikiran Tareeq. Pria itu sejenak menghentikan pekerjaannya lalu mengusap kasar wajahnya untuk meredam semua pikirannya yang selalu mengarah kepada Zulaikha.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu dari luar, seketika mengalihkan Tareeq dari pikirannya yang saat ini sedang kalut.


"Tareeq, boleh kakek bicara?" Suara khas Kakek Husein membuat pria itu refleks berdiri dan menyambut kedatangan sang kakek, lalu membawanya untuk duduk di sofa.


"Ada apa Kakek? Kenapa tiba-tiba Kakek datang ke sini? Apa Zulaikha yang kini menjaga Nameera?" tanya Tareeq yang sesungguhnya ingin memastikan keberadaan sang istri.


"Zulaikha tidak datang ke rumah sakit, tumben sekali gadis itu tidak datang, biasanya jam segini dia sudah menemami Nameera bercerita." Jawaba sang kakek tentu saja membuat Tareeq sedikit terkejut.


"Jadi dia juga tidak berminat pergi ke rumah sakit," batin pria itu.

__ADS_1


"Lalu siapa yang menjaga Nameera, Kek?"


"Ibumu," jawab Kakek Husein.


"Kenapa Kakek mengizinkannya menjaga Nameera? Harusnya Kakek memyuruhnya pergi," ujar pria itu dengan alis yang bertautan.


"Nak, dengarkan Kakek ..." Kakek Husein mulai menceritakan maksud kedatangan sang Ibu dan bagaimana ia bisa datang kembali menemui mereka sebagaimana yang telah di jelaskan Ibu Ammara sebelumnya.


Di tembah dengan penjelasan yang ia dapatkan dari Nameera bahwa sesungguhnya ia sangat merindukan sang Ibu, dan Zulaikha membantu mewujudkan keinginannya itu.


"Jadi, niat Zulaikha sangat baik, dia hanya ingin mencarikan pendonor untuk Nameera sekaligus mengobati kerinduannya," lanjutnya menjelaskan.


"Kenapa Zulaikha tidak menjelaskannya semalam? Kenapa dia diam saja saat aku membentaknya?" batin Tareeq yang kini dipenuhi rasa bersalah kepada istrinya itu.


Setelah kepulangan Kakek Husein, Tareeq langsung bersiap untuk pulang ke rumah, tujuannya kali ini adalah menemui Zulaikha dan meminta maaf padanya.


"Bapak mau kemana? Sebentar lagi kita akan meeting," tanya Ali yang tidak sengaja berpapasan dengannya di depan ruangan Ali.


"Batalkan semua agendaku hari ini, aku memiliki urusan yang jauh lebih penting dari apa pun," ucap Tareeq lalu kembali melangkah cepat memasuki lift dan langsung menuju ke basement tempat di mana mobilnya diparkir.


Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke rumahnya. "Zulaikha, maafkan aku," lirih pria itu.


Tak menunggu lama, kini Tareeq telah tiba di rumahnya. Langkah lebarnya membawa pria itu langsung ke depan pintu kamar Zulaikha.


Tok tok tok


"Zulaikha," panggil pria itu tapi tak ada sahutan dari dalam kamar.


Ia kembali mengulang mengetuk pintu beberapa kali, tapi lagi-lagi tak ada,- suara dari dalam sana. Karena tak sabar, Tareeq membuka pintu yang ternyata tidak dikunci dan langsung masuk.


Pandangannya menyisir ke seluruh ruangan di kamar itu, tapi tak menemukan Zulaikha. Bahkan kamar mandi tak luput dari pemeriksaannya, tapi tak ada sama sekali tanda-tanda gadis itu ada di sana untuk waktu yang lama.


Pandangannya kini tertuju pada Black Card yang berada di atas nakas. Perasaan pria itu semakin bertambah tidak tenang saat menyadari bahwa itu adalah kartu yang pernah ia berikan kepada Zulaikha.


Dengan cepat ia memeriksa lemari pakaian Zulaikha yang kini sudah kosong. "Astaghfirullah, di mana dia?" lirhnya sembari mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Halo, tolong periksa, apa ada orang bernama Zulaikha Azkadina yang melakukan perjalanan dengan pesawat sejak tadi malam hingga saat ini?"

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2