Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Misi Zulaikha dan Tareeq


__ADS_3

Tareeq menatap sendu Zulaikha yang tersenyum, meski air mata sudah membasahi pipinya. Di usapnya dengan lembut pipi gadis itu dengan tangannya lalu ia perlihatkan tangan yang basah itu di hadapan sang istri.


"Lalu ini apa?" tanya Tareeq, membuat Zulaikha semakin menundukkan wajah lalu segera menghapus jejak air matanya.


"I-itu bukan apa-apa," kilahnya tak ingin menatap Tareeq.


"Tatap mataku saat bicara Zulaikha," titah Tareeq, membuat gadis itu perlahan mendongak hingga kedua manik mata mereka bertemu.


"Sekarang katakan dengan jujur, apa kamu rela di madu? Apa kamu rela wanita masuk dalam rumah tangga kita? Dan ... apa kamu mencintaiku?"


Mendengar pertanyaan terakhir Tareeq, lagi-lagi Zulaikha refkeks langsung menunduk. Namun, kali ini Tareeq mengapit dagunya dan memaksanya kembali saling bertatapan.


"Jika kamu tidak ingin menjawab karena merasa malu mengakui perasaan lebih dulu, baiklah, kuakui, aku mulai menyukai keberadaanmu, merindukan ketidakhadiranmu, dan membenci melihat tangisanmu, aku tidak tahu apakah ini namanya cinta atau bukan karena aku sendiri tidak pernah merasakan sebelumnya." Tareeq menghentikan sejenak perkataannya.


"Kamu harus tahu, aku tidak ingin berbagi hati kepada yang lain, termasuk Qifty. Sekarang katakan bagaimana perasaanmu dan juga keinginanmu yang sesungguhnya," ungkap pria itu.


Bukannya menjawab, Zulaikha lagi-lagi mengeluarkan bulir air matanya. Ia sendiri bingung bagaimana perasaannya saat ini.


"Kumohon beri aku kejelasan agar aku bisa bertindak tanpa menyakitimu lagi."


"Aku ... aku tidak tahu bagaimana perasaanku padamu saat ini, tapi jujur aku tidak ingin terluka yang kedua kalinya karena harus berbagi suami dengan yang lain," ungkap gadis itu membuat Tareeq menarik kedua ujung bibirnya.


"Baiklah, kalau begitu kita akan mencari pendonor itu bersama," ucap pria itu langsung menarik Zulaikha ke dalam dekapannya, membuat tubuh Zulaikha seketika menegang dan kaku bagai patung karena begitu terkejut.


Tinggi badan Zulaikha yang hanya sebatas pundak Tareeq, membuatnya dapat merasakan debaran jantung pria itu. Jika ingin jujur, ia sangat bahagia mendengar pengakuan dari sang suami, di tambah sikap manisnya yang sangat berkebalikan dengan sikapnya yang acuh selama ini.


"Pergilah ke Indonesia, Nak." Suara seorang wanita paruh baya seketika membuat keduanya saling melerai pelukan dan menoleh ke sumber suara.


"Ibu," lirih Zulaikha saat mendapati Ibu Ammara berdiri tidak jauh dari tempat mereka, sementara Tareeq justru langsung membuang muka ke sembarang arah karena tak ingin menatap wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Ibu baru mengingat jika dulu saat Ibu masih hamil Rafif, ada yang menawarkan agar nanti saat Rafif lahir, darah tali pusatnya di ambil untuk di jadikan sebagai pendonor bagi yang membutuhkan."


"Benarkah? Di mana Ibu mendonorkannya?" tanya Zulaikha.

__ADS_1


"Ibu lupa nama bank tali pusatnya, yang ibu tahu, meski telah berlalu beberapa tahun, tapi darahnya pasti masih ada, itu yang petugasnya bilang saat itu. Niat ibu ingin membantu sesama saat itu, ibu tidak pernah menduga jika anak ibu yang akan membutuhkanya saat ini." Ibu Ammara menyeka air matanya yang mulai tumpah.


"Semua adalah takdir Allah, Bu, insya Allah kami akan mencarinya, terima kasih, Bu." Zulaikha langsung memeluk ibu mertuanya itu.


Di saat mereka sedang berpelukan,Tareeq pergi meninggalkan mereka, membuat keduanya saling melepas pelukan. Ibu Ammara hanya tersenyum paksa melihat sikap dingin Tareeq yang sepertinya sangat membencinya.


"Sabar yah, Bu, suatu saat pasti hati Tareeq akan melembut untuk Ibu." Zulaikha mengusap lengan Ibu Ammara dengan begitu lembut.


"Iya, Nak. Ibu percayakan Tareeq padamu," ucapnya, membuat Zulaikha menganggukkan kepala.


***


Anda


Billy, maaf, aku merepotkanmu lagi, apa kamu bisa mengecek data pendonor darah tali pusat 11 tahun lalu di Indonesia?


Usai mengirimkan pesan kepada Billy, kini Zulaikha dan Tareeq sudah berada di pesawat menuju ke Indonesia dengan berbekal beberapa data dan surat dari dokter yang menangani Nameera.


Selama di pesawat, keduanya hanya diam dan sibuk dengan urusan masing-masing. Tareeq sibuk dengan pekerjaannya yang hari ini terpaksa harus absen lagi, dan Zulaikha yang sibuk dengan mimpinya. Bukan tanpa sebab, ini adalah kali kedua Zulaikha menaiki pesawat dengan kelas bisnis karena bersama Tareeq, tempat duduknya yang sangat nyaman bahkan bisa untuk tiduran membuatnya tak kuasa menahan kantuk.


"Terima kasih sudah mau berjuang bersamaku untuk kesembuhan Nameera," bisiknya lalu mengecup kening Zulaikha, membuat gadis itu sedikit menggeliat.


Beberapa jam berlalu, kini pesawat telah landing di bandara Ir. Soekarno Hatta. Kedua pasangan suami istri itu keluar dari pesawat bersama. Seperti biasa, Tareeq kembali menggandeng tangan sang istri seolah ia takut jika gadis itu akan hilang.


Sambil menunggu barang bagasi mereka, Zulaikha memeriksa ponselnya untuk melihat balasan Billy. Benar saja, hanya dalam waktu singkat, pria itu telah berhasil menemukan apa yang dia cari. Tarlihat dari file yang berisi deretan nama, waktu, hingga tempat penyimpanan donor itu 11 tahun lalu.


"Wis, keren banget Billy," gumam Zulaikha dengan bahasa Indonesia.


"Apa? Billy?" Tanya Tareeq yang mendengar Zulaikha menyebut nama Billy.


"Eh, itu, Billy yang ...." Perkataan Zulaikha terputus saat Tareeq langsung merebut ponselnya.


Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat informasi yang dikirim oleh Billy. "Apa ini?"

__ADS_1


"Itu data nama dan tempat donor darah tali pusat 11 tahun lalu, biar kita nyarinya lebih mudah," jawab Zulaikha.


"Pintar juga kamu, coba berikan nomor Billy kepadaku, kalau kita butuh informasi lagi, biar aku yang menghubunginya," ujar Tareeq.


"Tapi dia orang Indonesia."


"Memangnya ada yang salah? Kamu pun orang Indonesia dan menikah denganku, kalau masalah bahasa Inggris, orang sepintar dia pasti bisa berbahasa Inggris."


Zulaikha membuka mulutnya hendak kembali menyanggah, tapi kembali ia tutup saat Tareeq menatapnya tajam.


"Kenapa? Apa kamu memang suka berkomunikasi dengannya? Ya sudah, tinggal saja sekalian dengannya," ujar Tareeq lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Zulaikha setelah mengambil kopernya.


Gadis itu diam menatap heran pria yang memakai setelan kemeja lengan panjang itu. "Apa dia sedang merajuk? batinnya, lalu tertawa sendiri. "Kupikir hanya pria Indonesia yang pandai merajuk, ternyata pria Qatar juga," lanjutnya segera menyusul Tareeq.


Zulaikha dan Tareeq kali ini tidak pergi ke desa mereka, misi mereka kali ini adalah mencari pendonor untuk Nameera, dan alamat bank darah tali pusat berada di kota, sehingga untuk sementara mereka tinggal di hotel.


"Jadi kita akan kemana sekarang?" tanya Tareeq datar.


"Kita ke jalan A. Bank darah yang menyimpan nama Rafif dan Ibu Ammara berada di sana," jawab Zulaikha.


Setelah menyimpan barang-barang mereka di hotel, mereka pun pergi menuju alamat yang di berikan Billy dengan bantuan maps. Hingga dua jam berlalu, mobil yang dibawa Tareeq kini sudah berada di sebuah gedung tua yang tidak terawat lagi.


"Apa ini gedungnya?" tanya Tareeq tidak yakin


"Dari alamat yang di masukkan ke maps, ini udah benar," jawab Zulaikha merasakan hal yang sama.


"Jangan-jangan temanmu itu bohong lagi?" selidik Tareeq.


"Eh, nggak mungkin, dia itu orang jujur, ini bukan kali pertama dia menolongku soalnya," sanggah Zulaikha.


"Sepertinya kamu memang sangat mengenalnya," gumam Tareeq datar.


"Astaga, mulai lagi dia ngembeknya," batin gadis itu. "Ya sudah aku akan turun untuk menanyakan kebenarannya ke warga di sana, sepertinya kamu selalu saja menaruh curiga padaku," ujar Zulaikha langsung turun dan menemui para warga yang berkumpul tidak jauh dari tempat mereka.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2