Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Pesta Pernikahan di Qatar


__ADS_3

Wajah Nameera seketika berubah bahagia, air mata yang tadinya sudah berkumpul di pelupuk matanya kini benar-benar mengalir membasahi pipinya. Namun, bukan lagi karena kesedihan, melainkan kebahagiaan.


"Kak Zul!" teriak Nameera lalu berlari memeluk kakak iparnya yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu, diikuti oleh Ibu Ammara yang juga memeluk Zulaikha usai Nameera melepaskan pelukannya.


"Bagaimana keadaan Kakak? Kenapa Kakak lama sekali, aku rindu banget sama Kak Zul. Kakak kapan datang? Apa Kak Tareeq sudah tahu tentang kedatangan Kakak?" cecar Nameera yang memberondong Zulaikha dengan deretan pertanyaan yang juga mewakili pertanyaan sang ibu.


Ya, Zulaikha benar-benar kembali ke Qatar, tapi ia tidak sendiri melainkan ditemani oleh Paman Harun dan Bibi Anisa yang sedang berbincang dengan Kakek Husein di ruangan yang akan menjadi tempat berlangsungnya aqad nikah.


"Maafkan aku, aku benar-benar down beberapa hari yang lalu, tapi alhamdulillah karena sekarang sudah lebih baik.... Oh iya, Kakak kamu di mana? Aku tidak melihatnya sejak tadi," jawab Zulaikha.


"Sepertinya Kak Tareeq sedang bertemu dengan Ali sebelum aqad nikah sebentar lagi. Apa Kakak mau aku panggilkan?" tawar Nameera.


"Sepertinya jangan dulu, entah kenapa aku tiba-tiba ingin memberikan surprise kepadanya," tolak Zulailkha disertai senyuman malu-malu.


"Ide bagus, Kak. Aku akan mendukung Kakak. Kalau boleh beri saran, sebaiknya Kak Zul pakai ini." Nameera mengeluarkan sebuah niqab berwarna hitam yang senada dengan pakaian Zulaikha yang serba hitam.


"Apa tidak apa-apa?" tanya Zulaikha sedikit ragu.


"Tidak apa-apa kak, pakai saja," jawab Nameera santai.


Zulaikha akhirnya memakai niqabnya begitu pun Bibi Anisa atas saran Nameera lalu segera ikut keluar bersama calon mempelai wanita menuju tempat aqad di mana Kakek Husein, Paman Harun, Bibi Anisa, Tareeq, Ali sebagai mempelai pria dan kerabat dekat lainnya sudah berkumpul, tak terkecuali pejabat yang akan mencatat pernikahan Ali dan Nameera agar sah di mata hukum dan agama.


Benar saja, Tareeq sama sekali tidak menyadari kehadiran Zulaikha di antara mereka, hingga setelah ijab qabul diucapkan Ali sebagai tanda resminya ia menjadi suami Nameera. Wanita itu beberapa kali mencuri pandang ke arah sang suami yang sangat ia rindukan, tapi saat pria itu menoleh karena merasa ada yang memperhatikan, Zulaikha segera memalingkan wajahnya ke arah lain.


Tareeq sendiri mengira Paman Harun hanya datang sendiri, sementara Bibi Anisa dan Zulaikha tinggal di Indonesia. Apalagi di tambah penjelasan pria paruh baya itu yang memang tidak mengatakan jika Zulaikha juga ikut datang bersamanya saat ini.


Usai melangsungkan aqad nikah, semua pihak laki-laki menuju ke tempat pesta pernikahan khusus tamu dan keluarga laki-laki, sementara semua pihak perempuan menuju ke tempat pesta pernikahan khusus tamu dan keluarga perempuan.


Begitulah tradisi pernikahan di negara Qatar, sangat jauh berbeda dengan pesta pernikahan di negara Indonesia atau beberapa negara lain yang menggabungkan tempat untuk laki-laki dan perempuan. Di Qatar, tempat pernikahan antara laki-laki dan perempuan di pisah, tak hanya itu, dalam kasus lain, terkadang waktu pestanya pun berbeda.


Zulaikha sedikit tercengang kala melihat semua yang ada di dalam ruangan megah itu di isi dengan perempuan yang memakai pakaian serba hitam, kecuali tamu yang berasal dari negara lain, tak ada sama sekali laki-laki di dalam ruangan itu.


Tarian khas warga Qatari pun dapat di saksikan dalam acara pernikahan itu. Yang paling membuat Zulaikha terkejut adalah, saat tamu hendak memakan hidangannya, sebab di ruangan itu disediakan nampan berukuran besar untuk satu meja, di mana satu nampan akan menjadi tempat untuk makan bersama beberapa orang, bagaikan anak pesantren yang makan bersama dalam satu wadah.

__ADS_1


"Bibi, pengalaman baru kita makan seperti ini di acara pernikahan," lirih Zulaikha kepada Bibi Anisa dengan bahasa Indonesia.


"Benar, Nak. Bibi jadi punya bahan cerita nanti jika sudah sampai di Indonesia, kapan lagi kan berbagi pengalaman di luar negeri, wong ini pertama kalinya bibi ke luar negeri." Kedua wanita beda usia itu kini tertawa pelan bersama lalu mulai menyantap hidangan yang tampak begitu menggugah selera.


Sementara asik makan bersama Bibi Anisa dan Ibu Ammara, Zulaikha tidak sengaja mendengar dua wanita sedang bercerita dengan bahasa Arab, Zulaikha memang tidak mengerti dengan yang mereka bicarakan. Hanya saja, ia sedikit penasaran karena nama Tareeq ada dalam percakapan mereka.


"Bu, boleh tolong terjemahkan apa yang mereka bicarakan? Aku mendengar mereka menyebut nama Tareeq dan aku penasaran," pinta Zulaikha kepada Ibu Ammara yang duduk di sampingnya.


Ibu Ammara yang paham akan maksud menantunya itu akhirnya mulai menajamkan pendengarannya. Alisnya bahkan sampai bertautan saat mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Nak, Ibu dan gadis itu sepertinya mengira Tareeq belum menikah, mereka berencana akan meminta ayahnya untuk berbicara dengan suami kamu agar dia mau menikah dengan gadis itu," jelas Ibu Ammara.


"Apa?" Zulaikha begitu terkejut, ternyata apa yang dikhawatirkan sang suami waktu itu adalah benar.


"Nak, setelah ini sebaiknya kamu pikirkan kembali mengenai pesta pernikahan kalian di sini, sepertinya itu memang perlu dilakukan," saran Ibu Ammara.


"I-iya, Bu. Aku akan memikirkannya," ucap Zulaikha pada akhirnya.


Sementara itu di tempat pesta para laki-laki, seluruh ruangan itu diisi dengan pria yang memakai pakaian serba putih dan penutup kepala sebagaimana gaya khas pria Timur Tengah.


Sepanjang acara, Tareeq sangat sibuk menyambut rekan bisnisnya yang berdatangan, seolah ia tak diizinkan untuk bermuram durja, orang-orang selalu saja bergantian mengajaknya berbicara.


Hingga tak terasa, acara sore itu pun berakhir, semua tamu undangan mulai pulang satu per satu, begitu pun Tareeq, Kakek Husein, dan Ali yang kini pulang bersama menuju Mansion Husein bin Ibrahim.


Saat hendak memasuki rumah, Tareeq menghentikan langkah ketika ponselnya berdering. Pria itu diam sejenak untuk mengangkat teleponnya.


"Halo, assalamu 'alaikum, Pak Fayyad," ucap Tareeq menyapa seseorang di seberang telepon.


"...."


"Tidak apa-apa, Pak. Ada apa, Pak?"


"...."

__ADS_1


"Oh, Bapak ada di mana sekarang?"


Tareeq segera menuju ke pagar dan kembali membukanya, rupanya di sana sudah ada seorang pria paruh baya yang berdiri menunggu Tareeq.


"Silahkan masuk Pak." Tareeq tampak begitu sopan mempersilahkan pria paruh haya itu untuk masuk.


"Kita bicara di sini saja, Pak Tareeq," ujar pria itu paruh baya itu saat sudah berada di teras depan rumah.


"Maaf, Pak. Saya tidak menyangka Bapak mau menemui saya secara langsung, orang penting seperti Bapak tentu sangat sibuk."


"Pak Tareeq bisa saja, oh iya selamat atas pernikahan adiknya, maaf tadi saya tidak sempat hadir karena masih berada di perjalanan dari Amerika."


"Santai saja, saya sangat mengerti dengan kesibukan Bapak."


"Terima kasih, Pak. Begini, sebenarnya kedatangan saya kemari juga ingin menyampaikan sesuatu kepada Pak Tareeq."


"Apa itu, Pak?"


"Maaf sebelumnya Pak Tareeq, saya melihat Bapak adalah pria yang baik, oleh karena itu saya bermaksud menjodohkan Pak Tareeq dengan Putri saya, bagaimana Pak? Bapak masih lajang, 'kan?"


Tareeq sejenak diam karena begitu terkejut, pasalnya ia tidak menyangka salah satu inverstor terbesar di perusahaannya kini hendak menjodohkan dia dengan sang putri.


"Maaf, Pak. Saya tidak bisa memenuhi keinginan Bapak Fayyad," tolak Tareeq sesopan mungkin.


"Memangnya kenapa Pak Tareeq?"


"Saya adalah pria yang tidak mudah jatuh cinta karena cinta saya hanya sedikit. Saat ini, saya sudah memiliki seseorang yang memiliki cinta itu sehingga saya tidak bisa lagi membaginya," jelas Tareeq.


"Apa maksud Pak Tareeq ...."


"Benar, Pak. Saya sudah menikah."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2