Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Keberanian Zulaikha


__ADS_3

Zulaikha keluar dari mobil sebelum pria berwajah Eropa itu selesai berhitung. Tatapannya tajam tanpa ada kesan takut sama sekali.


"Apa mau kalian? Lepaskan dia dan biarkan kami melanjutkan perjalanan kami dengan tenang."


"Kami ingin kamu dan suamimu datang ke tempat kami, tapi karena tidak ada suamimu, maka kami akan membawamu bersama dia." Pria itu menunjuk Nameera yang masih berada di dalam mobil.


"Ada urusan apa kalian dengan kami?"


"Bos kami yang punya urusan dengan kalian, dan kami akan membawa kalian ke sana, jadi selagi kami masih bersikap baik, maka ikuti kami."


Zulaikha menatap sejenak Nameera, lalu kembali menatap pria itu. "Izinkan aku menghubungi suamiku terlebih dahulu." Zulaikha mengambil ponsel dari dalam tasnya, tapi pria itu segera merampas ponsel itu.


"Biar kami yang menghubunginya ...."


Sementara di dalam mobil, Nameera merutuki kebodohannya karena meninggalkan ponselnya di rumah. Jika saja ia membawanya, mungkin ia bisa menghubungi sang kakak secara sembunyi-sembunyi.


***


Seorang pria tampan sedang mengemudikan mobilnya sembari bersenandung menuju ke mansion sang kakek. Suara ponselnya yang berdering tiba-tiba mengagetkannya.


"Assalamu 'alaikum, Kek," sapa pria itu.


"Tareeq, kamu di mana? Apa Nameera sedang bersamamu?"


Tareeq mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Kakek Husein. Bukankah seharusnya dia yang menanyakan keberadaan istrinya yang sedang bersama Nameera saat ini? Kenapa malah ia yang di tanya tentang keberadaannya?


"Kakek, Nameera tidak bersamaku, justru aku yang ingin menanyakan keberadaan Nameera dan Zulaikha karena dia sudah berjanji akan menungguku di mansion malam ini."


"Tapi Nameera dan Zulaikha belum datang sampai sekarang Tareeq, Kakek sudah menghubunginya berkal-kali tapi dia tidak mengangkatnya."


"Apa? Kalau begitu aku akan mencarinya di rumah, siapa tahu mereka ada di sana."


Tareeq segera memutar balik mobilnya menuju rumah, entah kenapa perasaannya tiba-tuba merasa gelisah, rasa khawatir tiba-tiba melanda pikirannya, membuat pria melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Tidak biasanya Zulaikha maupun Nameera terlambat pulang tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu. Sembari menjalankan mobil, ia mencoba menghubungi nomor ponsel sang istri, tapi tak kunjung di angkat. Kini ia beralih menghubugi Ibu Ammara, tapi hatinya jawaban dari sang ibu semakin membuatnya panik. Pasalnya, wanita paruh baya itu mengatakan jika Zulaikha maupun Nameera tidak pernah datang seharian ini.

__ADS_1


Tareeq segera menghentikan mobilnya, laku kenbali memutar ke arah lain dengan perasaan tidak keruan. Merasa ada yang tidak beres, pria itu segera menghubungi Ali yang tidak alin adalah asistennya.


"Assalamu 'alaikum, Ali kau di mana?" tanya Tareeq melalui sabungan telepon.


"Wa'alaikum salam, saya di rumah, Pak," jawab Ali di seberang telepon.


"Bersiaplah, aku akan menjemputmu sekarang juga." Tareeq segera mengakhiri ponselnya secara sepihak, lalu kembali fokus mengemudikan mobilnya.


Tak menunggu lama, mobil yang dikemudikan oleh Tareeq kinintelah tiba di depan pagar sebuah rumah, di mana Ali sudah menunggu di sana.


"Naiklah," titah Tareeq.


"Ada apa, Pak?" tanya Ali setelah naik di atas mobil.


"Kita punya masalah," jawab Tareeq yang kini kembali melajukan mobilnya ke suatu tempat.


***


Dua orang wanita sedang duduk di sebuah ruangan kosong dengan mata yang tertutup kain hitam serta tangan dan kaki yang terikat.


"Kak, kenapa kita di perlakukan seperti ini? Apa yang mereka cari? Aku takut Kak," lirih Nameera.


"Tenang Nameera, kita akan baik-baik saja, aku akan menjaga kamu," ujar Zulaikha berusaha menenangkan adik iparnya.


Tak lama setelah itu, terdengar suara pintu terbuka disertai suara langkah kaki beberapa orang yang masuk secara bersamaan, makin lama suara tersebut terdengar makin dekat.


"Jadi ini wanita Indonesia yang menghalangi Qifty menikah dengan Tareeq?"


Zulaikha mengerutkan keningnya mendengar perkataan wanita di hadapannya. Yang benar saja, bagaimana bisa dia di tuduh menjadi penghalang antara Qifty dan Tareeq, pernikahan mereka saja terjadi secara terpaksa pada awalnya.


"Siapa anda? Apa anda ibu dari Qifty?" tebak Zulaikha.


"Pintar juga kamu. Karena kamu sudah tahu, sebaiknya kita menbuka penutup matamu saja." Wanita paruh baya itu membuka penutup mata Zulaijha dan Nameera dengan kasar.


"Sekarang, dengarkan apa yang akan ku katakan padamu baik-baik." Wanita itu menghentikan sejenak perkataannya. "Karena ulahmu dan Tareeq, putriku sangat terpukul bahkan dia mencoba bunuh diri," lanjutnya.

__ADS_1


Zulaikha terdiam menyimak perkataan wanita paruh baya itu.


"Jadi, sekarang aku ingin kamu yang langsung menyuruh Tareeq untuk menikahi Qifty."


Zulaikha tercengang mendengar permintaan yang menurutnya cukup aneh.


"Pantas saja sikap Qifty begitu memaksa, rupanya itu turunan dari ibunya," batin Zulaikha.


"Maaf, aku tidak akan memaksa suamiku jika dia memang tidak ingin menikahi Qifty," tolak Zulaikha.


"Oh, jadi kamu menolak permintaanku?" Wanita paruh baya itu kini memberikan kode kepada salah satu dari pria yang tadi membawanya untuk maju mendekati Zulaikha dengan membawa sebuah balok kayu.


"Aku tahu, kamu sedang hamil. Mari kita lihat apakah Tareeq masih akan tetap betahan denganmu jika kamu tidak lagi bisa melahirkan anak untuknya," ujar wanita paruh baya itu seraya menyeringai.


Zulaikha seketika membolakan mata mendengar kalimat ancaman itu. Jantungnya berdegup kencang, rasa takut kembali merangkul hatinya, lebih tepatnya rasa takut kehilangan anak dan kesempatan memiliki anak.


"Bagaimana? Apa kamu masih tidak ingin memenuhi permintaanku?" tanya wanita itu sekali lagi tapi tak mendapat respon dari Zulaikha yang justru memilih tertunduk.


"Baiklah jika kamu tetap bersikeras dengan pilihanmu itu." Wanita itu kembali memberikan kode kepada pria itu untuk melaksanakan tugasnya.


"Kak Zul," lirih Nameera dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Zulaikha menoleh ke arahnya dan memberikan kode agar gadis itu tetap tenang seraya tersenyum seolah semuanya baik-baik saja


"Tidak, jangan lakukan itu pada Kak Zul," teriak Nameera dengab air mata yang mulai membanjiri pipi. Sayangnya semua perkataannya itu bagaikan angin lewat.


Sesaat kemudian, pria di hadapannya itu melayangkan balok kayu ke arah perut Zulaikha, dsn terdengar suara benturan keras.


"Kak Zul!!!" teriak Nameera begitu histeris karena kini Zulaikha tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari kepalanya.


Ya, Zulaikha melindungi parutnya dengan cara menunduk sehingga kepalanya yang terkena hantaman balok kayu itu.


"Si*l," ujar pria itu lalu hendak kembali memukulnya, tapi aksinya tertahan saat lampu di ruangan itu seketika mati


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2