Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Terpuruk Lagi


__ADS_3

Tahukah kamu bagaimana rasanya berada dalam keterpurukan? Takut dan bingung bagaimana menjalankan kehidupanku setelah ini, rasa sedih dan kecewa selalu menghantuiku, rasanya dunia tidak lagi berpihak padaku.


Saat tidur, rasanya aku tak ingin bangun karena semangat dan harapan yang dulu ada kini hilang entah kemana, bagaikan mereka yang kucintai kini telah pergi untuk selamanya.


Bukan hiburan bukan pula nasehat yang kubutuhkan sebab akal sehatku sedang tidak bekerja saat ini, dukungan dan kesabaranmu dalam menemani dan menungguku, itulah yang sangat kubutuhkan.


(Zulaikha Azkadina)


***


Zulaikha meremas selimut yang sedang ia gunakan, tubuhnya masih saja berguncang karena menangis. Meski rasanya ia sudah lelah untuk menangis, tapi entah kenapa air matanya selalu saja mengalir deras. Luka hatinya kembali terbuka setelah sekian lama reda, dan kali ini semakin brrtambah rada sakit itu karena ia menyalahkan dirinya sendiri.


Entah sudah berapa kali ia menyesali keteledoran dalam menjaga anak dalam kandungannya, bahkan kata 'bod0h' pun telah ia ucapkan pada dirinya sendiri. Zulaikha tidak tahu lagi bagaimana ia harus berhadapan dengan dunia setelah ini, berhadapan dengan Paman Harun dan Bibi Anisa, Kakek Husein, Nameera, bahkan ia sangat takut berhadapan dengan sang suami.


Mengalami keguguran tentu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, di saat anak yang sudah dinantikan selama ini, tiba-tiba pergi begitu saja bahkan sebelum bisa melihatnya secara langsung.


"Maafkan Mama, Nak. Maafkan Mama, Mama memang bod0h tidak mampu menjagamu, apakah Mama masih pantas disebut Mama? Hiks." Lagi-lagi suara tangisan dari Zulaikha terdengar memenuhi kamar itu, kamar yang kini hanya menyisakan dirinya sendiri.


-


Sementara di luar kamar rawat Zulaikha, Tareeq duduk di kursi seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang bertumpu di kedua lututnya. Kedua pundaknya tampak bergetar, Paman Harun dan Bibi Anisa sangat sadar jika saat ini pria itu sedang menangis.


Bibi Anisa yang merasa iba melihat kesedihan suami dari keponakannya itu hendak menghampiri pria itu, tapi langsung ditahan oleh Paman Harun yang kini menggelengkan kepalanya pelan.


"Biarkan dia mengeluarkan semua emosinya terlebih dahulu, setelah tenang, barulah kita mengajaknya berbicara," lirih Paman Harun.


Malam semakin larut saat Tareeq mulai merasa sedikit tenang. Ia beranjak dari kursi lalu melangkah perlahan menuju pintu kamar rawat Zulaikha. Sejenak ia menempelkan telinganya di daun pintu untuk memastikan apakah sang istri masih menangis atau sudah tenang juga seperti dirinya.

__ADS_1


Perlahan Tareeq membuka pintu setelah memastikan jika Zulaikha tidak lagi menangis, dan benar saja, wanita itu kini sudah tertidur dengan mata yang sembab dan masih basah akibat menangis.


Tareeq duduk di samping tempat tidur lalu meraih tangan sang istri dengan begitu hati-hati agar tak sampai membangunkannya.


"Kamu yang sabar, Sayang. Allah tahu kamu kuat, kamu mampu menghadapinya, makanya Allah kembali mengujimu dengan perpisahan. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu, Sayang," lirih Tareeq lalu mencium tangan Zulaikha.


Usai mengatakan itu, ia pun menidurkan kepalanya di atas tempat tidur Zulaikha dengan berbantalkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tetap menggenggam tangan sang istri.


Bibi Anisa dan Paman Harun yang melihat bagaimana sikap Tareeq merasa sedikit lega. Sungguh mereka sangat takut jika Tareeq menyalahkan Zulaikha atas semua yang terjadi bahkan sampai meninggalkannya.


"Semoga Allah segera menggantinya dengan kehamilan selanjutnya agar luka Zulaikha dan Tareeq bisa sedikit reda meski mustahil untuk dilupakan," ucap Paman Harun lalu diaamiinkan oleh Bibi Anisa.


***


Sudah beberapa hari berlalu sejak Bibi Afra diusir oleh Qifty saat hendak menjenguk ibunya. Kini wanita paruh baya itu kembali mendatangi lapas untuk menjenguk sahabatnya sejak kecil, dan beruntung Qifty sedang tidak ada sehingga tak ada yang menghalanginya kali ini.


Wanita paruh baya yang kini memakai baju tahanan diam sejenak dengan tatapan tajam yang mengarah ke depan. Namun, sesaat kemudian ia tertunduk sambil membuang napas kasar.


"Kamu tahu, semenjak kejadian itu, aku sangat membenci Tareeq dan semua yang berhubungan dengannya termasuk kamu, bahkan sampai detik ini aku masih membencimu, tidak peduli seberapa dekat kita dulu, hatiku terlanjur sakit atas penghinaan keponakanmu itu. Namun, aku sadar, rasa benciku tidak akan merubah apa pun, bahkan ia hanya akan menamban bebanku di sini. Jika saja Qiftyku tidak ada, mungkin aku juga sudah menyerah dan memilih mati saja," ujar wanita paruh baya itu.


"Maafkan aku, aku tidak tahu Tareeq akan bertindak senekat itu hanya demi menjaga hubungannya dengan Zulaikha yang jelas-jelas mereka menikah karena perjodohan."


"Sudahlah, jangan sebut nama mereka lagi, aku ingin hidup tenang."


Kedua wanita paruh baya itu kini saling diam sejenak dalam tunduknya.


"Oh iya, aku punya permintaan jika kamu ingin menebus kesalahanmu." Ibu dari Qifty kembali membuka suara.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Bibi Afra.


"Tolong jaga putriku, aku tidak ingin ada yang menyakitinya, jaga dia juga agar tidak lagi mendekati Tareeq dan istrinya, aku takut dia akan terluka lagi."


"Baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu."


Usai berbicara dengan sahabatnya, Bibi Afra keluar dari ruangan itu dengan hati yang bimbang. Bagaimana caranya ia bisa menjaga Qifty, sementara wanita itu kini sangat membencinya, jangankan berdekatan dengannya, melihatnya saja, Qifty akan langsung murka.


"Ngapain lagi Bibi ke sini?" tanya seorang wanita dengan nada ketus, membuat Bibi Afra menghentikan langkahnya dan langsung mengangkat wajah yang sejak tadi tertunduk.


"Qifty? Maaf, Bibi hanya ingin meminta maaf kepada Ibumu, Nak," jawab Bibi Afra.


"Nggak ada gunanya minta maaf, toh semua sudah terjadi, sekarang aku minta, Bibi pergi dari sini dan jangan pernah menampakkan wajah Bibi di hadapanku," titah Qifty dengan suara yang melengking sehingga mengundang rasa penasaran beberapa polisi yang ada di sana.


"Tapi, Nak ...."


"Aku bilang PERGI!!!" teriak Qifty.


"Hei! Sopanlah saat berbicara dengan yang lebih tua darimu!" tegur seorang pria berseragam sembari menghampiri kedua wanita beda usia itu.


"Khalid?" lirih Bibi Afra, wanita paruh baya itu jelas mengenal teman dari keponakannya karena dulu sering datang ke mansion bersama Tareeq.


"Kamu tidak usah ikut campur," balas Qifty ketus, lalu kembali menatap tajam Bibi Afra. "Ngapain Bibi masih di sini? Aku bilang pergi!" Wanita itu kini berusaha mendorong tubuh wanita paruh baya di hadapannya.


Khalid yang melihatnya dengan cepat menahan tangan Qifty, tapi karena dorongan dan desakan dari wanita itu yang begitu kuat, membuat pria itu tanpa sengaja mendorong Qifty hingga membuatnya hampir terjatuh.


"Hey, jangan kasar dengan wanita!" Kali ini teriakan bukan berasal dari Qifty melainkan dari Bibi Afra, membuat Khalid menoleh ke arah wanita paruh baya itu karena heran sekaligus terkejut.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2