
*Flashback*
Melalui permintaan Zulaikha, Asiah mengikuti juragan dan para bodyguardnya pulang, ia memahami keraguan yang di rasakan istri dari bosnya itu, sehingga ia berusaha melalukan tugasnya sebaik mungkin.
Dari jauh, Asiah dapat melihat keadaan mobil yang sebenarnya, tak ada kerusakan parah, dan hanya sedikit tergores. Tak ingin kehilangan barang bukti, Asiah segera mengambil gambar mobil yang masih bagus itu. Merasa ada yang aneh dengan pembicaraan mereka meski ia tidak mengerti, Asiah memutuskan untuk tetap menunggu apa yang akan di lakukan oleh juragan itu.
Mata wanita itu membulat sempurna saat melihat apa yang dilakukan para bodyguard kepada mobil bosnya. "Astaghfirullah, mereka benar-benar sudah gila," lirihnya ddngan bahasa Arab seraya mengarahkan kamera ponselnya kepada mereka.
Usai puas mengambil video mereka, Asiah memutuskan untuk segera kembali menemui Zulaikha.
"Kerja bagus Asiah, oh iya bisa kah kamu membawa bukti ini ke kantor polisi? Ini sudah masuk tindak kejahatan, mengancam, dan pemalsuan barang bukti, serta pemerasan," ujar Zulaikha sambil mengirimkan video itu ke dalam ponselnya.
"Saya tidak tahu tempatnya, Nona," ujar Asiah.
"Biar aku menemanimu, Nak," tawar Bibi Anisa. Mereka pun pergi ke kantor polisi bersama, sementara Zulaikha dan paman Harun tetap tinggal untuk menunggu kedatangan juragan itu, mereka berharap polisi akan datang tepat waktu.
*Flashback off*
***
Tareeq melangkah cepat menyusuri lorong rumah sakit dengan wajah yang begitu marah dan khawatir. Usai mendapat kabar dari pengawal wanita yang ia tugaskan untuk menjaga Zulaikha, pria itu murka, ia sempat menyalahkan keteledoran Asiah dalam menjaga istrinya.
"Maafkan saya, Pak," ucap Asiah saat menjemput Tareeq di lorong rumah sakit.
"Kemana saja kamu? Mengapa istriku bisa celaka? Hah!" sungut Tareeq dengan napas yang memburu, tapi tetap melangkah cepat di samping Asiah yang menuntunnya menuju kamar rawat Zulaikha.
"Tareeq," panggil paman Harun, pria itu sejak tadi sudah menunggunya di depan pintu kamar rawat Zulaikha.
__ADS_1
"Maafkan kami, kami tidak bisa melindungi Zulaikha, maafkan kami, Nak," ucap pria paruh baya itu dengan suara bergetar dan mata yang memerah, bahkan air mata sudah berkumpul di pelupuk matanya.
Melihat bagaimana Paman Harun meminta maaf, dan bagaimana ia menahan air matanya, sepertinya Zulaikha memang mengalami sesuatu yang buruk.
"Paman, bagaimana keadaan Zulaikha? Bagaimana keadaan anakku?" tanya Tareeq berusaha mengatur emosinya.
"Maaf, Nak. Perut Zulaikha mengalami benturan akibat dorongan yang yang sangat kuat sehingga kata dokter kandungannya tak bisa diselamatkan," ucap pria paruh baya itu bersamaan dengan lolosnya air mata di pipi yang tidak lagi kencang itu.
"Apa?" Tubuh Tareeq seketika meluruh ke lantai, pandangannya mulai buram oleh air mata, baru saja ia merasakan kebahagiaan yang amat besar karena kehamilan sang istri, tapi semuanya hilang begitu saja dalam sekejap.
"Tareeq ...." Paman Harun berjongkok sembari mengusap pundak Tareeq.
"Bagaimana keadaan Zulaikha?" lirihnya setelah mengusap seluruh wajahnya yang sudah basah oleh air mata.
"Dia masih belum sadarkan diri, Nak. Jika nanti dia sadar, tolong hibur dia, Nak. Dia pernah mengalami keterpurukan karena kehilangan kedua orang tuanya, Paman takut dia akan memgalami hal yang sama karena kehilangan anaknya," jawab Paman Harun pelan.
"Tareeq, akhirnya kamu datang juga." Bibi Anisa segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Tareeq, sementara Tareeq kini bagai orang yang tak melihat apa pun selain Zulaikha, ia berjalan mendekati tempat tidur sang istri yang kini perutnya terlihat lebih rata.
"Sayang, maafkan aku, harusnya aku ikut pulang bersamamu malam itu juga, maafkan aku, Sayang." Tareeq meraih tangan Zulaikha lalu mencium tangannya beberapa kali.
"Maafkan aku, maafkan aku," ucapnya lagi lalu menempelkan tangan Zulaikha di matanya yang basah oleh air mata.
Sebuah gerakan tangan berhasil menyadarkan Tareeq. Ia mengangkat wajahnya dan melihat tangan sang istri yang memang mulai bergerak. Tatapannya kini mengarah ke wajah yang tampak pucat di hadapannya.
Mata indah milik Zulaikha perlahan terbuka, beberapak kali ia mengedipkan matanya untuk mengurangi efek silau dari lampu di kamarnya.
"Sayang, kamu sadar juga," ucap Tareeq seraya berdiri dan mengecup kening sang istri.
__ADS_1
"By, kamu kapan datang? Ini di rumah sakit yah?" tanya Zulaikha dengan suara yang lemah.
"Baru saja aku datang, Sayang. Iya ini rumah sakit," jawab Tareeq. "Apa kamu baik-baik saja?" lanjutnya bertanya.
"Iya, By, aku baik-baik saja, dan anak kita ... anak ... anak kita kemana? Kenapa perutku rata begini?" Zulaikha kulai terdengar panik saat memegangi perutnya yang rata.
"By, anak kita baik-baik saja, 'kan?" tanyanya lagi berusaha tenang, tapi sorot matanya menampakkan hal yang sebaliknya, kekhawatiran dan ketakutan terlihat jelas di sana.
"Anak kita ... anak kita sudah menunggu kita di surga, Sayang," jawab Tareeq dengan suara bergetar.
"Maksud kamu apa, By?" Zulaikha hendak bangkit dari pembaringannya, tapi langsung dicegah oleh Tareeq, hingga mau tidak mau ia harus kembali berbaring.
"Sayang, kamu jangan bangun. Keadaan kamu masih lemah." Tareeq mengusap pundak Zulaikha agar bisa rileks berbaring.
"By, kamu bohong, 'kan? Anak kita baik-baik saja, 'kan?" Zulaikha kini menarik tangan Tareeq dengan air mata yang mulai mengalir dari pelupuk matanya.
"Maaf, Sayang." Hanya jawaban itu yang bisa Tareeq ucapakan saat ini, bahkan ia hanya bisa menunduk saat memberikan jawabannya. Menatap wajah sendu dan tatapan kepanikan Zulaikha rasanya membuat hati pria itu tercabik-cabik.
Tubuh Zulaikha terlihat mulai berguncang, suara isakan kecil mulai terdengar dari wanita yang kini membelakangi Tareeq. Semakin lama suara tangisan itu semakin terdengar, tangisan pilu yang begitu menyayat hati.
Kini Zulaikha hanya bisa kembali menangisi nasibnya yang lagi-lagi ditinggal pergi lebih dulu oleh orang yang ia cintai. Hatinya benar-benar hancur, bahkan psikisnya kembali terguncang. Tareeq yang hendak memeluknya pun langsung ia tolak.
"Jangan mendekatiku, aku benar-benar wanita bernasib buruk, pergi kamu! Biarkan aku sendiri!"
Tareeq begitu terkejut mendengar suara Zulaikha yang meninggi, untuk pertama kalinya wanita itu berbicara dengan nada tinggi, bahkan saat ia meninggikan suara ketika menyuruhnya pergi, wanita itu sama sekali tidak membalas.
"Kumohon tinggalkan aku sendiri," ucap Zulaikha lagi, kali ini dengan suara yang lebih rendah di tengah isak tangisnya.
__ADS_1
-Bersambung-