
Qifty berjalan dengan langkah cepat dan napas yang memburu menuju ke ruangan yang biasa ia gunakan untuk bertemu dengan sang ibu . Kekesalannya dengan kejadian yang baru saja ia alami membuat moodnya semakin memburuk. Ia semakin mempercepat langkahnya saat menyadari ada seseorang yang mengikutinya dari belakang, merasa muak selalu diikuti, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya lali berbalik ke belakang.
"Berhenti mengikutiku!" bentak Qifty pada pria berseragam yang sejak tadi berjalan di belakangnya.
"Astaghfirullah, kenapa kamu galak sekali sih? Aku tidak mengikutimu, aku hanya sedang menjalankan tugasku," jawab Khalid.
Qifty diam, lalu kembali berbalik dan melangkahkan kakinya. Namun, baru beberapa langkah, wanita itu kembali menghentikan langkahnya. "Lalu kenapa kamu juga datang ke sini? Ini tempatku untuk bertemu dengan Ibuku," tanyanya ketus.
"Karena tugasku mengawasimu, Nona," jawab Khalid santai.
Lagi-lagi Qifty tidak membalas perkataan Khalid, ia langsung masuk ke dalam ruangan itu sambil menunggu kedatangan ibunya, sementara Khalid menunggu di luar.
"Baru kali ini aku menemukan wanita yang galaknya kelewatan, jika saja aku tidak sedang menggantikan temanku yang sakit, aku juga tidak mau bertemu dengannya, ckckck." Khalid menggelengkan kepala seraya berdecak tidak habis pikir.
Belum selesai ia menggerutu, pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan wanita dengan tatapan tajam bagaikan singa yang siap menerkam mangsanya.
"Jika sudah puas mengumpatku, minggirlah, keberadaanmu mengganggu jalanku," ujar Qifty lalu segera pergi meninggalkan Khalid yang masih dalam keadaan membuka mulut karena begitu terkejut.
"Wah, wanita yang benar-benar galak," gumamnya lagi lalu ikut pergi.
***
Beberapa hari telah berlalu, kini Zulaikha trlah dibolehkan pulang ke rumah Paman Harun. Namun, selama beberapa hari kemarin hingga saat ini, wanita itu lebih banyak diam, ia enggan berbicara kepada siapa pun termasuk Tareeq. Psikisnya yang tidak siap menerima perpisahan lagi membuatnya begitu tertekan.
Hal itu membuat Tareeq semakin dirundung rasa sedih. Seperti saat ini, usai membawa Zulaikha ke kamarnya yang sederhana, pria itu duduk di kursi sambil memandangi Zulaikha yang duduk di kasur dengan tatapan kosong mengarah ke depan. Tak ada sama sekali pembicaraan di antara mereka, pun tak ada suara di kamar itu, hanya terdengar suara anak-anak yang bermain tidak jauh dari rumah yang mereka tempati saat ini.
"Sayang ...."
"Kembalilah ke Qatar," ucap Zulaikha datar tanpa mengubah posisi dan pandangannya.
__ADS_1
"Baiklah, jika kamu ingin kembali, kita akan kembali malam ini."
"Bukan kita, tapi kamu." Zulaikha kini menatap Tareeq yang kini mengerutkan keningnya usai mendengar perkataannya barusan.
"Apa maksudmu, Sayang? Bukankah kita harusnya kembali bersama ke Qatar?" tanya Tareeq heran.
"Sebagaimana saat ke sini, aku datang lebih dulu dan kamu masih bekerja, maka kembalilah lebih dulu dan lanjutkan pekerjaanmu," ucap Zulaikha yang terdengar seperti sindiran bagi Tareeq.
Mendengar perkataan sang istri, hati Tareeq seperti tercubit. Memang benar, ia tidak datang ke Indinesia bersama Zulaikha karena masalah pekerjaan, dan ia menyesali hal itu berkali-kali.
"Maafkan aku, aku tahu kamu pasti menyalahkanku atas semua ini, maafkan aku." Hanya itu yang bisa Tareeq katakan saat ini.
"Aku tidak menyalahkanmu, aku menyalahkan diriku sendiri, aku sudah gagal menjadi istri yang baik karena tidak mengikuti keputusanmu, aku juga gagal menjadi ibu yang baik karena tidak bisa menjaga anak kita." Suara Zulaikha mulai terdengar bergetar saat menyebut kata 'anak'. Air matanya kembali mengalir dari matanya yang masih sembab.
"Tidak, Sayang ...."
"Zulaikha!" Suara Tareeq kini terdengar meninggi hingga membuat Zulaikha langsung menghentikan perkataannya. "Jangan pernah membuat keputusan saat kamu sedang marah atau sedih seperti ini. Kamu tahu? Keputusanmu ini bisa saja membuatmu menyesal di kemudian hari," lanjut pria itu.
Zulaikha hanya diam, ia kembali menangis dalam diam, sementara Tareeq yang melihatnya pun perlahan mendekat lalu bertekuk lutut di hadapannya.
"Kembalilah bersamaku, hmm? Kita akan mulai kehidupan kita dari awal lagi, aku tidak sanggup jauh darimu, Sayang," ucap Tareeq begitu lembut, berharap Zulaikha mau mengikuti apa yang ia katakan kali ini.
Sayangnya, wanita itu justru menggelengkan kepalanya pelan. "Aku butuh waktu sendiri, aku butuh waktu untuk menata kembali hati dan psikisku yang terguncang karena ini, ku harap kamu mengerti," lirihnya.
Tareeq terdiam, ia menatap dalam manik mata Zulaikha. Hancur dan sedih, itulah yang terpancar dari matanya saat ini.
"Tapi, Sayang ...."
"Kumohon, kembali lah dulu ke Qatar dan biarkan aku menenangkan diri di sini," pinta Zulaikha, ia bahkan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.
__ADS_1
Tareeq membuang napas kasar, rasanya begitu berat jika ia harus kembali sendiri, tapi melihat keseriusan Zulaikha, ia kini tak mampu berbuat apa-apa.
"Baiklah jika itu maumu, aku akan kembali ke Qatar saat ini juga agar kamu bisa lebih cepat menenangkan diri." Tareeq berdiri lalu menarik koper yang memang belum pernah ia buka selama tiba di rumah itu. Sejenak ia berhenti di ambang pintu lalu menoleh ke arah Zulaikha.
"Kuharap kamu segera pulih, aku akan menunggumu," ucapnya lalu pergi.
Tangisan Zulaikha yang tadinya tertahan kini pecah seketika, hatinya benar-benar terasa sakit saat ini.
"Maafkan aku," ucapnya lirih.
***
Tareeq kini tiba di Qatar saat pagi hari, ia dijemput oleh Ali dan langsung menuju ke kantor. Sepanjang perjalanan, pria itu lebih banyak diam sembari sesekali memijit kepalanya.
"Kenapa Istri Bapak tidak ikut pulang, Pak?" tanya Ali sambil melihat sang bos jok belakang melalui kaca spion.
Tareeq bergeming, ia sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan asisten pribadi yang dalam beberapa hari lagi akan menjadi adik iparnya. Namun, sebuah pertanyaan tiba-tiba melintas dipikirannya.
"Ali, jika nanti kau telah menikah dengan Adikku, lalu diantara kalian terjadi masalah yang membuatnya meminta waktu untuk sendiri, apa yang akan kau lakukan?" tanya Tareeq yang secara tidak langsung menjawab pertanyaan Ali, dan Ali paham akan hal itu.
"Kalau saya yah mungkin akan mengikuti perkataannya Pak. Tapi tetap memberikan perhatian padanya, setidaknya dengan begitu dia bisa tahu jika saya peduli dan mengkhawatirkannya," jawab Ali.
"Kenapa kau pintar sekali dalam hal hubungan seperti ini, aku curiga, apa kau pernah memiliki hubungan dengan wanita lain sebelum adikku?" selidik Tareeq.
"Bu-bukan begitu Pak, jawaban itu langsung melintas dipikiranku secara spontan," jawab Ali sedikit tergagap.
Tareeq membuang napas kasar lalu menoleh keluar jendela, sorot matanya kini kembali sendu. "Semoga saja waktu menyendirimu tidak lama," batin Tareeq.
-Bersambung-
__ADS_1