Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Kadatangan Tiga Pria


__ADS_3

Tepat siang hari, Tareeq dan Zulaikha tiba di Qatar. Mereka memutuskan untuk singgah di mansion Kakek Husein karena Zulaikha yang tiba-tiba merindukan Nameera.


Zulaikha dan Tareeq berjalan masuk ke dalam mansion bersama, tak sengaja mereka bertemu dengan Bibi Afra, tapi sikap wanita paruh baya itu tetap tidak berubah, ia tetap bersikap ketus dan acuh tak terkecuali kepada Tareeq karena sudah membuatnya kecewa.


"Tenang saja, suatu saat pasti hati Bibi akan melembut dan mau menerima kita," lirih Tareeq yang melihat sang istri sedikit sendu sembari membuang napas lesu.


Zulaikha menatao sang suami lalu mengangguk, mereka kembali melanjutkan jalannya menuju kamar Nameera. Sebagaimana perkiraan mereka, Nameera kini sedang beristirahat di kamarnya, kehadiran Zulaikha dan Tareeq di kamar rupanya sama sekali tidak membuat gadis itu terganggu.


"Nameera lagi tidur, gimana kalau kamu juga tidur, kamu pasti lelah, aku mau ke kantor dulu, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan."


Tareeq mencium kening sang istri lalu segera pergi ke kantornya. Zulaikha menuruti kata suaminya, ia benar-benar ikut berbaring di samping Nameera, dan hanya dalam beberapa saat, suara dengkuran halus dari wanita itu mulai terdengar sebagai tanda jika ia sudah masuk ke alam mimpinya.


Waktu terus berjalan, hingga terdengar suara adzan di indera pendengaran dua wanita yang sedang tertidur itu, membuat kedua nya terbangun.


"Kak Zul? Kapan kakak datang? Kok aku nggak dibangunin?" tanya Nameera.


"Tadi kamu nyenyak banget tidurnya, aku juga sedikit ngantuk makanya aku ikutan tidur," jawab Zulaikha.


"Oh gitu, oh iya kebetulan banget Kak Zul ada di sini, aku mau minta di temenin ke toko buku sore ini, aku lagi mau baca buku baru soalnya," ujar Nameera.


"Eh, maaf kak, nggak jadi deh, aku baru ingat, kata Ibu, Kakak lagi hamil," ucap gadis itu meralat permintaannya.


"Selamat yah Kak Zul, semoga Allah selalu menjaga Kakak dan calon dedek bayinya," lanjutnya.

__ADS_1


"Kenapa malah tidak jadi? Ayo deh, kebetulan aku ingin cari buku seputar bayi dan kehamilan. Oh iya terima kasih yah doanya," balas Zulaikha.


"Hah? Beneran Kak, apa tidak apa-apa Kakak pergi? Kakak kan lagi hamil," tanya Nameera sedikit ragu.


"Aku kan hamil, bukannya sakit, jadi aman kok, nanti aku telepon Tareeq untuk minta izin," jawab Zulaikha, membuat Nameera semakin bersemangat.


"Oke kak, kalau gitu kita sholat dulu," ujar Nameeralalu segera mengambil wudhu di ikuti oleh Zulaikha.


Mereka pun mulai melaksanakan sholat bersama dengan Zulaikha yang menjadi imamnya. Wanita itu mulai semakin lancar dalam membaca dan menghafal bacaan sholat dan ayat Al-Qur'an, bahkan cara penyebutan hurufnya tidak lagi kaku dan terdengar semakin fasih.


Usai melaksanakan sholat, Zukaikha benar-benar menghubungi Tareeq untuk meminta izin, setelah bernegosiasi panjang lebar, akhirnya wanita itu berhasil mengantongi izin dari suaminya.


Di sinilah mereka sekarang, di sebuah toko buku yang cukup terkenal di kota Doha. Suasana di tempat itu cukup ramai, meski sedang memasuki musim panas, rupanya tidak menjadi penghalang bagi beberapa orang untuk datang mencari buku yang ingin mereka baca.


Cukup lama Zulaikha dan Nameera menghabiskan waktu sore mereka dengan mencari buku, hingga matahari kian tergelincir ke ufuk Barat saat mereka memutuskan untuk kembali karena telah menemukan buku yang mereka cari.


Sedang asik bercerita di dalam mobil, tiba-tiba mereka di kejutkan oleh mobil yang tiba-tiba berhenti mendadak saat memasuki sebuah jalan sepi.


"Ada apa, Pak?" tanya Nameera pada sang supir.


"Maaf Nona, ada mobil yang tiba-tiba menghalangi jalan kita di depan," ujar supir itu seraya menunjuk ke arah depan.


Zulaikha dan Nameera menyipitkan mata untuk untuk memfokuskan pandangan mereka ke depan. Tampak tiga pria bertubuh besar dengan wajah khas Eropa keluar dari mobil itu dan berjalan ke arah mereka, membuat kedua wanita itu seketika merasa sedikit khawatir.

__ADS_1


"Kenapa mereka ke sini?" tanya Zulaikha dan Nameera hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangan dari tiga pria yang kini semakin mendekat.


"Nona tunggu di sini, biar saya yang keluar menemui mereka," ujar pengawal yang duduk di depan dan langsung keluar.


Sejenak terlihat mereka sedang berbincang-bincang santai. Namun, di detik berikutnya pengawal itu tiba-tiba pingsan, entah apa yang di lakukan ketiga pria itu kepadanya, yang jelas pengawal itu langsung dibawa masuk ke dalam mobil mereka dengan cara di bopong oleh salah satu pria itu.


Setelah itu, pria yang lain mengetuk pintu mobil mereka dengan ekspresi yang tak bisa di baca, membuat Zulaikha dan Nameera semakin ketakutan.


"Buka pintunya!" titah pria itu sembari mengintip melalui kaca mobil yang berwarna hitam.


"Nona, jangan pernah membuka pintu untuk mereka, sepertinya mereka memiliki niat jahat," ujar sang supir memperingatkan.


"Bukaaaa!" teriak pria itu lagi karena tak mendapat respon.


Zulaikha memeluk tubuh Nameera yang terlihat mulai bergetar karena panik dan takut. Meski begitu, dzikir dan doa tak henti-hentinya mereka ucapkan dengan lirih.


"Cepat buka! Atau kami akan membu**h pria tadi," ancamnya pria, tapi masih tak mendapat respon dari mereka yang berada di dalam mobil.


Merasa kesal, akhirnya pria itu memberikan kode kepada temannya yang sedang bersama pengawal tadi di dalam mobil dengan pintu yang terbuka, kemudian terlihat pria itu mengeluarkan sebuah pis4u dan di arahkan ke leh3r pengawal itu.


"Aku akan hitung sampai tiga, jika kalian tidak keluar, nyawa pria itu akan melayang, satu ... dua ...."


Ceklek

__ADS_1


Suara kunci pintu yang terbuka terdengar, membuat pria itu menghentikan hitungannya.


-Bersambung-


__ADS_2