Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Keputusan Nameera


__ADS_3

Semua tatapan orang yang ada di ruangan itu kini tertuju pada Nameera. Kira-kira jawaban apa yang akan ia berikan? Siapa di antara dua pria itu yang akan menjadi pilihannya?


"Nak, mereka sudah memenuhi permintaanmu, sekarang giliranmu untuk menentukan pilihanmu." Kini Kakek Husein mempersilahkan sang cucu untuk membuka suaranya.


Nameera tidak langsung berbicara, ia masih diam dalam tunduknya, rasa ingin memilih, tapi takut menyakiti pun muncul dalam hatinya sebab kedua pria itu adalah orang baik. Meski begitu, hatinya sudah menentukan pilihannya, dari hasil istikharah dan dari jawaban pria itu.


Khalid dan Ali masih diam menunggu jawaban dari Nameera dengan perasaan pasrah, keduanya siap menerima apa pun jawaban dari gadis itu.


"Kak Khalid," ucap Nameera, membuat pria itu mengangkat wajah menatap ke arahnya.


"Jawaban Kakak bagus, ... tapi jujur, aku lebih menyukai jawaban dari Kak Ali," ucap gadis itu.


Ali yang mendengar namanya disebut langsung menutup mata tanpa mengangkat wajahnya. Rasa pasrah yang tadi ia jaga seakan mendapat sedikit titik terang.


"Jadi, saya memilih Kak Ali."


Ali mengusap wajahnya dengan kedua tangan pertanda ia merasa sangat bersyukur telah di pilih oleh Nameera. Sementara Khalid membuang napas kasar seraya menunduk dalam.


"Maaf, Kak Khalid, semoga Kakak segera mendapatkan wanita yang lebih baik," ucap Nameera, membuat Khalid mengangkat wajahnya lalu tersenyum.


"Tidak apa-apa, namanya juga bukan jodoh," ucap Khalid, lalu menoleh ke arah Ali. "Selamat saudara, sepertinya aku terlalu sombong dan meremehkanmu, kamu memang pria hebat, kamu pantas bersama Nameera," tukasnya lalu menepuk pelan pundak Ali.


"Terima kasih, Pak Khalid," lirih Ali masih dengan wajah datarnya. Ia merasa bahagia, tapi rasa gugup mengalahkan segalanya.


"Hey, Ali, bisa kah kau melemaskan otot wajahmu itu? Kenapa tegang sekali? Tersenyumlah karena sebentar lagi aku tidak hanya akan menjadi bosmu, tapi juga kakak iparmu," celoteh Tareeq, membuat Ali semakin salah tingkah dibuatnya, tak hanya itu, semua orang yang ada di ruangan itu ikut tertawa, termasuk Nameera, meski hanya sekedar tersenyum tipis.


"Baiklah, karena Nameera sudah menentukan pilihannya, maka kakek ucapkan selamat kepada Ali, silahkan tentukan waktu agar kamu dan kedua orang tuamu bisa datang kembali untuk melamar cucu kesayanganku ini secara resmi," ujar Kakek Husein.


"Baik, Kek. Insya Allah saya akan mengatur itu secepatnya," balas Ali.

__ADS_1


"Dan untuk Nak Khalid, tak perlu berkecil hati, Allah telah mengatur jodoh untuk setiap manusia, entah itu saat di dunia, atau pun di akhirat nanti. Kakek doakan semoga kamu segera bertemu dengan jodoh terbaikmu di dunia ini dan menjadi pendampingmu hingga di akhirat nanti."


"Aamiin, terima kasih, Kek," ucap Khalid tersenyum.


Suasana di mansion Husein bin Ibrahim kini tampak begitu hangat, meski Khalid tak terpilih saat ini, tapi ia cukup bahagia, setidaknya ia sudah pernah menjadi pria yang berhasil mengutarakan niat baiknya kepada Nameera. Pria itu cukup berbesar hati dan juga sadar bahwa memang Ali lah pria rendah hati yang lebih pantas menjadi suami gadis itu.


***


Tareeq dan Zulaikha serta Ibu Ammara kini sudah berada di rumah saat malam hari. Wajah lelah terlihat jelas dalam raut wajah ketiganya, khususnya Zulaikha, wanita hamil yang memang sangat mudah lelah.


"Apa kamu lelah, Sayang?" tanya Tareeq hendak merangkul sang istri saat sudah berada di kamarnya. Namun, lagi-lagi Zulaikha menghindarinya seperti biasa.


"Jangan dekat-dekat, By, aku mual tahu kalau cium bau pakaian kamu itu," ujar Zulaikha sedikit mengibaskan tangan di hadapan wajahnya.


"Ck, sampai kapan sih kamu akan kayak gitu terus sama aku? Masa iya kamu hanya mau dekat sama aku hanya saat baru selesai mandi? Apa aku harus mandi terus agar bisa dekatan sama kamu?" Wajah pria itu kini tampak cemberut.


"Ide bagus, kalau kamu mau dekat sama aku, kamu harus rajin mandi, kalau aroma sabun dari tubuh kamu hilang, yah artinya kamu harus mandi lagi, aku kangen nih sama kamu," ucap wanita hamil itu sedikit merayu di akhir kalimatnya, membuat Tareeq yang tadinya sempat cemberut langsung kembali tersenyum.


Zulaikha yang melihat tingkah lucu suaminya itu ikut tersenyum. Sejujurnya ia merasa bersalah jika harus menjauhi suaminya seperti itu, tapi mau bagaimana lagi? Pengaruh kehamilan adalah sesuatu yang tidak bisa ia cegah.


Kurang lebih 15 menit kemudian, Tareeq telah selesai dengan kegiatan mandinya. Ia keluar dari kamar mandi dalam keadaan sangat segar dan cerah, serta tentu saja sangat wangi, entah berapa kali ia menggunakan sabun. Ia berharap wangi sabun itu bertahan lama di tubuhnya agar tidak seperti terakhir kali saat ia sedang bermesraan dengan sang istri, tapi tiba-tiba wanita itu menjauh karena aroma sabun di tubuhnya sudah hilang.


"Sayang, aku sudah wa ...." Ucapan pria itu terhenti saat melihat sesuatu sudah tertutup selimut di atas tempat tidur. Bahkan senyuman yang sejak tadi merekah indah di wajah tampannya perlahan pudar.


"Malah tidur," gumamnya pelan dengan wajah yang kembali cemberut. Pria itu terduduk lesu membelakangi sesuatu yang ia duga sebagai Zulaikha yang sudah tidur dengan wajah lesu.


Ceklek


Tareeq berbalik saat mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka. Senyuman kembali terbit di wajahnya saat melihat Zulaikha memasuki kamarnya dengan membawa secangkir teh karak yang masih mengepulkan asap.

__ADS_1


Tareeq bangkit dari duduknya dan langsung membuka selimut yang tadinya ia duga sebagai sang istri. "Ternyata hanya bantal," lirihnya lalu duduk di kasur.


"Ada apa?" tanya Zulaikha setelah meletakkan teh karak di atas nakas.


"Tidak ada apa-apa, kemarilah, Sayang," ucap Tareeq seraya menggerakkan tangannya sebagai kode agar Zulaikha mendekat ke arahnya.


Zulaikha mendekat dengan begitu patuh. Tareeq langsung menarik sang istri hingga terduduk menyamping di pangkuannya. Tangan kekarnya bergerak mengelus lembut perut sang istri yang belum terlalu buncit itu.


"Kira-kira dia sedang apa di dalam yah, Sayang? Apa dia belum bisa bergerak? Kenapa aku belum bisa merasakan gerakannya? Bukankah kata Ibu aku bisa segera merasakan gerakan bayi kita di dalam sini?" celoteh pria itu, membuat Zulaikha tersenyum.


"Tunggulah sampai dia berusia 18-20 minggu, kamu akan segera merasakan pergerakannya," ucap Zulaikha seraya mengusap tangan sang suami.


"Benarkah? Aku tidak sabar, kalau begitu ... bolehkah aku menjenguknya? bisik pria itu di akhir kalimat.


Zulaikha mengerutkan kening. "Menjenguknya? Bagaimana caranya?" tanyanya tidak mengerti maksud sang suami.


Tanpa menjawab, Tareeq langsung mengangkat tubuh Zulaikha bagaikan seorang ratu. "Menjenguknya melalui ritual ibadah yang sangat indah," lirihnya tersenyum, membuat semburat merah merona muncul di kedua pipi sang istri.


***


"Ma, maafkan aku, gara-gara aku mama jadi masuk penjara seperti ini, maafkan aku, Ma," ucap seorang wanita muda sembari menangis sesenggukan di sebuah meja yang berada di hadapan sebuah dinding kaca.


"Tidak, Sayang. Kamu tidak salah, mama yang salah karena sudah berulah seperti bos preman, Mama sadar tidak seharusnya Mama bersikap begitu," ucap wanita paruh baya yang berada di balik dinding kaca tersebut.


"Aku akan memberi mereka pelajaran karena sudah memenjarakan Mama."


"Tidak, tidak Nak. Jangan lakukan itu, cukup Mama yang berada di tempat ini, jangan kamu, Nak. Kasihan Ayahmu jika harus menanggung malu lagi."


"Tapi, Ma, mereka sudah keterlaluan, mereka bersenang-senang di atas penderitaan kita Ma."

__ADS_1


"Kita menerima sebab-akibat ini karena perbuatan kita sendiri, jadi hentikan semuanya, jangan sampai penyesalan kembali menghampiri kita, Nak."


-Bersambung-


__ADS_2