Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Rindu yang Tak Sampai


__ADS_3

Rawatlah ikhlasmu, sebab ia dapat menjaga dan melapangkan dadamu dalam menerima takdir apa pun yang datang tanpa menyalahkan Sang Pemberi Takdir.


Ikhlaslah, maka ia akan menjaga hatimu agar tetap berprasangka baik atas apa yang terjadi dalam hidupmu.


__________________________________________


Zulaikha terbangun saat adzan subuh berkumandang. Karena sedikit lelah, ia terlambat bangun dari jadwal bangunnya seperti biasa semenjak menikah. Tak ingin mengulur waktu, gegas ia mengambil wudhu dan pergi melihat sang suami di kamarnya, apa sudah bangun atau belum.


Gadis itu sedikit terkejut saat mendapati tempat tidur Tareeq yang sudah rapi. "Apa dia sedang di kamar mandi?" batinnya sembari mendekat ke arah kamar mandi yang ternyata juga kosong.


Zulaikha beralih mencari koper yang telah ia siapkan semalam, dan ternyata sudah tidak ada. Itu artinya pria itu sudah pergi sebelum ia bangun. Gadis itu tertawa sumbang, menertawakan hubungannya dengan sang suami. Tak ada pamit atau apa pun saat akan pergi jauh.


Pria itu benar-benar berbeda di hadapan Zulaikha, arogan tapi tak sampai melontarkan kata-kata kasar padanya, kadang keras kepala tapi pada akhirnya menerima perlakuan Zulaikha.


Tak ingin ambil pusing, Zulaikha memutuskan untuk menunaikan sholat subuh terlebih dahulu. Setelah itu dia akan membuatkan bakso untuk Nameera, gadis itu sangat menyukai bakso buatannya.


.


***


Nameera duduk bersandar pada tumpukan bantal sembari memegang foto kedua orang tuanya. Dua orang yang sangat ia rindukan, tapi tak bisa lagi ia jumpai.


Bulir air mata perlahan membasahi pipinya, menahan rindu itu sungguh sangat menyiksanya. Rindu yang bahkan tak bisa ia ungkapkan kepada siapa pun, dan lebih memilih memendamnya sendiri.


Kadang ingin ikut membenci sang Ibu yang telah pergi meninggalkannya saat masih kecil, tapi ia juga tak bisa memungkiri cinta yang pernah sang ibu berikan kepadanya sungguh tidak sebanding dengan luka yang telah ia torehkan.


"Ayah, Ibu, Nameera rindu, hiks," ucapnya di sela tangisan yang tertahan.


"Jika Ayah tak mungkin lagi bisa kulihat di dunia ini, lalu bagaimana dengan Ibu? Apa masih ada kesempatan bagiku untuk melihatnya, meski untuk terakhir kalinya?" Air mata semakin gencar membasahi pipinya yang memucat. Ia sadar, umurnya mungkin tak akan panjang, tapi setidaknya ia bisa melihat sang ibu di ujung usianya.


Untuk sesaat di dalam kamar hanya terdengar suara isakan dari gadis malang itu. Tanpa ia ketahui, Zulaikha sejak tadi mendengar apa yang dikatakan Nameera, hingga air mata juga ikut membasahi pipinya. Ia jelas paham bagaimana rasanya merindu pada orang yang tak lagi bisa di temui.


Zulaikha menghapus air matanya sejenak, ingin rasanya ia segera masuk dan memeluk Nameera, tapi ia urungkan. Untuk saat ini ia memilih diam di luar kamar sampai gadis itu tenang, ia ingin memberikan kebebasan dan kesempatan bagi adik iparnya itu agar dapat mengeluarkan semua perasaannya yang selama ini dia pendam yang menyesakkan dada.

__ADS_1


Hingga saat suara Nameera tak terdengar menangis lagi barulah Zulaikha masuk. Tak lupa ia merubah mimik wajahnya agar tak lagi terlihat sendu.


"Assalamu 'alaikum," ucap Zulaikha sembari tersenyum saat mendapati Nameera melihat ke arahnya.


"Wa'alaikum salam," balasnya.


"Di mana Kakek?" tanya Zulaikha.


"Tadi Kakek dipanggil oleh dokter, mungkin dokter ingin mengatakan jika umurku tidak lagi panjang," jawab Nameera lesu.


"Et et et, ngomong apa sih guruku ini, bukankah kamu mengajariku bahwa umur, rezeki dan jodoh itu hanya Allah yang tahu? Jadi jangan bicara yang tidak-tidak, insya Allah kamu akan segera sembuh." Zulaikha merangkul pundak adik iparnya itu, ia mencoba memberikan semangat meski hatinya juga merasa takut akan perkataan Nameera tadi.


"Kak Zul benar, maafkan sikap pesimis ini Ya Allah. Oh iya Kak, apa kakak bawa bakso? Aku mencium aroma yang sangat sedap," selidik Nameera sembari mengendus aroma yang sejak tadi menyapa indera penciumannya.


"Tentu saja, aku membuat bakso spesial untuk kamu dan Kakek." Zulaikha mengambil kotak makanan yang ia bawa dan menyajikannya di meja khusus di tempat tidur Nameera.


"Alhamdulillah, Kak Zul tahu aja kalau aku mau makan bakso buatan Kakak."


"Iya dong, kan kita sehati," candanya membuat gadis di hadapannya langsung tertawa.


"Qifty," batin Zulaikha menatap datar wanita itu.


"Bagaimana keadaanmu Nameera?" Bukannya menjawab, Nameera justru mengernyitkan alisnya dan malah mengacuhkan Qifty.


"Jika kamu ingin mencari Tareeq, dia sedang tidak ada di sini." Zulaikha ingin mengetahui apakah wanita itu datang murni untuk menjenguk Nameera atau hanya ingin menarik perhatian suaminya.


"Kemana dia?" tanya wanita itu ketus kepada Zulaikha.


"Ke tempat yang jauh," jawab Zulaikha asal.


"Iya kemana?"


"Ya tempat yang jauh, jika ada sesuatu silahkan tinggalkan pesan kepada saya selaku ISTRINYA," ucap Zulaikha menekan kata-katanya.

__ADS_1


"Tidak terima kasih," balas Qifty ketus.


"Nameera, aku pergi dulu yah kalau begitu," pamit Qifty begitu ramah, sangat berbeda saat berbicara dengan Zulaikha.


Wanita itu pun pergi meninggalkan Nameera dan Zulaikha. Mereka pun beralih saling menatap satu sama lain.


"Kenapa kamu tidak menjawab saat dia menanyakan keadaanmu?" tanya Zulaikha kepada Nameera.


"Karena dia tidak tulus, dia datang ke sini bukan untukku, tapi untuk Kak Tareeq," jawabnya, membuat Zulaikha mengangguk paham.


Sementara itu, Kakek Husein yang baru saja keluar dari ruang dokter berjalan dengan begitu wajah sendu.


Nameera saat ini hanya bisa di selamatkan dengan donor sumsum tulang belakang. Obat-obatan yang selama ini ia minum hanya bisa memperlambat penyebaran kankernya, dan tidak bisa mengobati. Jika tidak segera dilakukan transplantasi sumsum tulang belakang, saya khawatir umurnya tidak panjang, meski hanya Allah yang lebih tahu.


Perkataan dokter tadi memenuhi pikirannya pria usia lanjut itu sungguh tindak sanggup jika harus kehilangan cucunya di usia muda. Sudah cukup sang anak yang telah pergi lebih dulu meninggalkannya, jangan lagi cucunya.


"Ya Allah, aku yang lebih dulu lahir di dunia ini dari pada Nameera, jika ada yang harus kembali padamu, akulah orangnya," lirih Kakek Husein sembari mengusap matanya yang sudah berair.


Sejenak ia duduk di tempat yang sepi untuk sekedar menenangkan hatinya. Memikirkan sang cucu yang telah lama menderita penyakit mematikan itu, membuatnya tidak tega, apalagi setelah sekian lama Nameera berusaha bertahan, setidaknya dia bisa merasakan tubuh yang sehat dan merasakan kebahagiaan.


***


"Halo,"


"Halo, ini aku Billy, teman Akmal."


"Oh iya, bagaimana?"


"Setelah mencari data medis beberapa orang, aku menemukan hanya satu yang hampir mirip dengan data medis adik iparmu."


"Benarkah?" tolong beri aku nomor teleponnya."


"Dia tidak memiliki nomor telepon karena masih kecil. Tapi aku melihat data diri Ibunya, ternyata dia adalah Ibu dari adik iparmu."

__ADS_1


"Apa?"


-Bersambung-


__ADS_2