Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Ternyata Kamu Cantik juga.


__ADS_3

Sudah satu minggu Tareeq berada di Dubai, dan selama satu minggu itu, entah kenapa ia merasa seperti ada yang kurang, tapi ia sendiri tidak tahu apa itu. Yang ia tahu, ada rasa rindu yang membuatnya ingin cepat kembali ke negara kelahirannya itu.


Mungkin ia sudah terlalu nyaman tinggal di Qatar sehingga saat berkunjung ke negara lain akan ada saja yang membuat hatinya ingin segera kembali, begitu pikirnya.


Hari ini adalah hari terakhir bagi Tareeq berada di Dubai, dan dalam beberapa saat lagi pesawat yang akan membawanya kembali ke Qatar akan segera take off.


***


Sudah seminggu Nameera menjalani rawat inap di rumah sakit, dan selama Tareeq tidak di rumah, Zulaikha selalu menjaga Nameera pada malam hari, dan akan pulang sebentar ke rumahnya saat pagi untuk membersihkan tubuhnya.


Zulaikha sengaja melakukan itu karena ia ingin menghabiskan banyak waktunya untuk belajar bersama Nameera, selain itu ia ingin memberikan kesempatan untuk Kakek Husein untuk berisitirahat lebih banyak dikarenakan tubuhnya yang semakin tua.


Seperti malam ini, Zulaikha baru saja membersihkan tubuhnya setelah memastikan Nameera sudah berisitirahat dengan nyenyak. Ia akan kembali tidur di sofa empuk di kamar itu seperti hari-hari sebelumnya.


Mengenai Tareeq, Zualikha benar-benar tidak tahu kapan pria itu akan kembali, ia juga tak ingin menanyakannya kepada Kakek Husein karena jika itu ia lakukan, sama saja dengan membongkar rahasia jika ia tidak memiliki nomor sang suami.


Waktu telah menunjukkan pukul 12.00, Nameera maupun Zulaikha sudah masuk ke alam mimpinya masing-masing.


Tap tap tap


Derap langkah kaki seseorang yang diiringi dengan suara roda yang berputar di lantai terdengar mendekati kamar itu.


Ceklek


Suara pintu terbuka yang khas terdengar begitu pelan bersamaan dengan masuknya seorang pria yang masih lengkap dengan setelan jas dan sebuah koper di tangannya.


Pria itu melangkah mendekati tempat tidur di mana Nameera, adik satu-satunya terbaring di sana. Sejenak ia melihat keadaannya yang masih saja tampak pucat. Ya, pria itu adalah Tareeq, ia baru saja tiba di Qatar dan langsung menuju ke rumah sakit setelah mengetahui dari penjaga rumahnya bahwa Nameera masih berada di rumah sakit dan Zulaikha yang menjaganya.


Tareeq kini berjalan ke sofa di mana Zulaikha sudah tertidur nyenyak di sana. Perlahan ia melepas jasnya lalu menyelimuti tubuh Zulaikha yang tampak kedinginan.


"Dasar gadis bod0h, harusnya kalau mau bermalam, bawa selimut dong," dumelnya sembari menatap lekat wajah gadis itu. Sebuah senyuman tipis kembali terukir di wajahnya saat memandang wajah sang istri.


"Jika dilihat seperti ini, ternyata kamu cantik juga," tukasnya sembari mendaratkan tubuhnya di sofa single yang berada di samping Zulaikha.


Karena sangat lelah, akhirnya pria itu memutuskan untuk langsung berisitirahat. Namum, waktu yang semakin larut, dan suhu yang semakin dingin, membuat pria yang tadinya sudah tidur itu berpindah tempat mencari tempat yang lebih nyaman dan hangat, meski dalam keadaan setengah sadar.

__ADS_1


***


Adzan subuh mulai berkumandang, Zulaikha mulai merenggangkan tubuhnya dengan mata yang masih terpejam. Namun, ada yang berbeda kali ini, rasanya ia seperti sedang tidur di tempat yang sempit. Gerakannya bahkan tidak seleluasa saat malam tadi seolah ada yang membatasi ruang geraknya saat ini.


Perlahan ia membuka matanya, dan beberapa kali ia mengusap matanya dan seketika mata itu membola saat wajah yang pertama kali ia lihat adalah wajah Tareeq. Pria itu rupanya ikut tidur di atas sofa dan menghadap ke arahnya.


Akibat rasa tidak percaya dan terkejut yang menghampirinya secara bersamaan, membuat Zulaikha langsung mendorong tubuh besar Tareeq hingga jatuh ke lantai.


"Awww," pekik pria itu seraya bangkit dari lantai yang terasa dingin. "Apa yang kamu lakukan?" tanya pria itu kesal.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Zulaikha dengan jantung yang makin lama makin terasa berdebar karena terkejut.


"Yaa karena aku sudah pulang dan aku ingin melihat adikku." Tareeq berdiri lalu membersihkan celana dan baju akibat terjatuh tadi.


"Lalu kenapa kamu tidur bersamaku di sofa?" tanya gadis itu lagi.


"Hey, kamu jangan geer dulu, coba lihat di sekitarmu, apa ada tempat lain yang bisa kutempati untuk tidur? Tidak ada kan? Lagi pula aku kedinginan dan aku ingin menutupi tubuhku dengan jas yang kamu pakai itu." Tareeq menunjuk ke arah jasnya yang kini berada di pangkuan Zulaikha.


"Ya, ma-maaf, aku hanya tidak terbiasa tidur denganmu apalagi dalam jarak dekat seperti tadi, makanya aku terkejut," jawab Zulaikha membuat pria itu terdiam, ia tidak lagi membalas perkataan sang istri.


"Kak Zul," panggil Nameera dengan suara pelan, membuat Zulaikha langsung beranjak dari duduknya lalu berjalan melewati Tareeq dan menghampiri adik iparnya itu.


"Kamu mau sholat?" tanya Zulaikha dan dijawab anggukan oleh gadis itu.


"Bagaimana keadaanmu, Nameera?" tanya Tareeq ikut menghampiri adiknya.


"Alhamdulillah, kak. Oh iya, Kak Tareeq kapan datang?"


"Tengah malam tadi. Ya sudah kalau gitu Kakak mau ke masjid dulu," ucap pria itu lalu keluar dari kamar.


Setelah kepergian Tareeq, kedua gadis itu juga mendirikan sholat secara berjamaah, dimana Zulaikha sholat di lantai beralaskan sajadah, dan Nameera sholat dengan cara duduk dan bersandar di kepala tempat tidur.


-


Pagi kini telah tiba, seperti biasa Kakek Husein akan datang untuk berganti dengan Zulaikha. Meski begitu, Zulaikha baru akan pulang setelah ia memastikan Nameera sudah selesai sarapan, sehingga mau tidak mau Tareeq harus menunggunya atas perintah sang kakek.

__ADS_1


Kini mereka telah berada di dalam mobil untuk pulang ke rumah mereka.


"Beberapa hari yang lalu, Qifty datang di rumah sakit dan mencarimu." Zulaikha melirik ke arah Tareeq untuk melihat bagaimana respon wajah pria itu. Namun, yang ia dapatkan hanya ekspresi wajah datar dari sang suami.


"Untuk apa lagi dia mencariku?" tanyanya dengan mata yang tetap fokus menatap ke arah depan.


"Entahlah, dia hanya mencarimu," jawab Zulaikha dan tidak lagi mendapat respon dari pria yang duduk di sampingnya.


"Apa kamu akan menikahinya?" Zulaikha akhirnya memberanikan diri untuk bertanya tentang apa yang membuatnya penasaran selama ini.


Tak langsung menjawab, pria itu sejenak melirik ke arah sang istri yang sepertinya sangat mengharapkan jawaban atas pertanyaannya itu.


"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu?" tanya Tareeq.


"Aku penasaran, jika memang kamu ingin menikahinya, maka aku akan mundur teratur dari pernikahan ini," ujar Zulaikha.


Tak ingin menjawab, pria itu memilih diam.


"Jika kamu diam, aku anggap kamu memang ingin menikahinya," lanjut Zulaikha, membuat Tareeq tersenyum miring.


"Kamu ini bod0h atau apa sih? Jelas-jalas menikahimu saja aku keberatan karena traumaku, bagaimana mungkin aku menerima tawaran menikah lagi?" balas Tareeq, membuat Zulaikha merasa sedikit lega.


Tak terasa, kini mereka tiba di halaman rumah mereka. Tareeq segera mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor, sementara Zulaikha menyiapkan semua keperluan sang suami, lalu segera keluar dari kamar itu.


Setelah bersiap dan sarapan bersama, Tareeq akhirnya pergi ke kantor meski agak sedikit terlambat dari jadwal biasanya. Tak lama setelah kepergian Tareeq, suara ponsel Zulaikha berdering menandakan seseorang sedang meneleponnya.


"Halo, assalamu 'alaikum."


"...."


"Baiklah, saya akan segera keluar, mohon tunggu sebentar."


Panggilan pun berakhir dan gadis itu langsung berjalan keluar rumah untuk membuka pintu, dan matanya seketika membola saat melihat sosok yang ada di hadapannya.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2