Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Memperlakukanmu Sebagai Istriku


__ADS_3

Zulaikha duduk di balkon kamarnya yang berada di lantai 8 sembari menatap jalanan yang masih saja terlihat ramai di malam yang semakin larut. Embusan angin yang cukup dingin membuatnya harus menutupi tubuhnya dengan jaket.


Sejenak ia mengingat masa-masa di mana ia begitu sibuk mengurus segala keperluan suaminya. Rasanya sedikit aneh, tinggal sendiri tanpa melakukan apa pun seperti saat ia masih tinggal bersama Tareeq.


Aku sangat membenci orang-orang yang tidak tahu apa-apa tapi malah ikut campur dan sok tahu. Aku tidak butuh semua perlakuanmu, masa bodoh dengan tugasmu, mulai saat ini berhenti mencampuri urusanku, aku tidak ingin melihatmu lagi ada di sini .... PERGI!


Seketika hatinya kembali merasakan sakit saat perkataan Tareeq malam itu kembali berputar diingatannya. Meski begitu, ia sedikit bersyukur karena pria itu tidak main kekerasan saat marah. Ia benar-benar merasa asing dengan karakter orang-orang di negara ini


Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 mlam, Zulaikha akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamarnya untuk berisitirahat. Tepat setelah Zulaikha tertidur, ponselnya tiba-tiba bergetar menunjukkan bahwa ada orang yang menelepon saat ini, tapi gadis itu sama sekali tidak terusik dari tidurnya.


--


Suara operator yang berbicara lagi-lagi membuat Tareeq membuang napas kasar. Ini adalah panggilan kesekian kali yang ia lakukan tapi tak kunjung di angkat oleh Zulaikha.


Tak berselang lama, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Wajah pria itu seketika berubah bahagia saat mendapat pesan berisi sebuah alamat dari temannya yang seorang polisi.


Yah, usai mendapatkan nomor Zulaikha dari sang adik, Tareeq segera meminta tolong kepada temannya itu untuk melacak lokasi Zulaikha saat ini melalui nomor ponselnya. Dan hanya dalam beberapa menit lokasinya sudah ia kantongi.


Tareeq melajukan mobilnya membelah jalanan di tengah gelapnya malam. Tujuannya kali ini adalah menjemput sang istri, gadis yang selama satu minggu ini membuatnya menderita secara batin.


Di sisi lain, selama satu minggu pula, pria itu memikirkan nasib pernikahan mereka. Dan ia telah memutuskan untuk belajar menerima pernikahan ini, semoga apa yang dikatakan Kakeknya saat itu bahwa Zulaikha adalah gadis yang tulus dan setia memanglah benar.


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dari rumah sakit, akhirnya sampailah Tareeq di kawasan The Pearl Qatar. Kawasan yang begitu indah tak hanya saat siang hari tapi juga saat malam hari. Pria itu melangkahkan kakinya memasuki salah satu gedung apartemen itu dan menaiki lift menuju ke lantai yang menjadi tempat tinggal Zulaikha.


Tuuut tuuut


Tareeq menekan bel agar Zulaikha bisa membukakan pintu untuknya. Namun, sudah beberapa menit berlalu sejak ia menekan bel, tapi tak ada sama sekali tanda-tanda pintu itu akan terbuka.


"Apa dia sudah tidur?" lirihnya lalu mencoba membuka lock key yang berada di samping pintu.

__ADS_1


"Pasti kombinasi tanggal lahirnya nih," gumamnya hendak menekan tombol tersebut.


"Tunggu dulu, tanggal lahirnya berapa yah? Astaga, suami macam apa aku ini?" Pria itu mengomeli dirinya sendiri seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hey, apa yang kau lakukan di sini?" tanya seseorang dari tim keamanan yang sedang melakukan patroli dengan menggunakan bahasa Arab.


"Ini, Pak, saya dan istri saya sedang bertengkar, sudah seminggu ini dia tak ingin pulang dan lebih memilih tinggal di sini, saya ingin masuk tapi kombinasi lock key-nya sudah diganti," ujar Tareeq dengan wajah yang dibuat frustrasi.


"Apa buktinya jika kau memang adalah suaminya?" tanya orang itu.


"Astaga, Pak, anda lihat cincin ini? Ini adalah cincin pernikahan kami, kami menikah hampir 3 bulan yang lalu di Indonesia," jelas Tareeq sembari menunjukkan jari manisnya di mana sebuah cincin melingkar di sana.


Pria dari tim keamanan itu memicingkan mata melihat cincin itu dan ia diam sejenak. "Silahkan tekan belnya lagi, saya ingin memastikannya secara langsung jika kau memang adalah suaminya dan bukan orang m3sum," ujarnya.


"Apa? M3sum dia bilang? Astaga berani sekali dia, apa dia tidak tahu dengan siapa dia berbicara saat ini?" batin Tareeq sangat kesal.


Meski sangat kesal, pada akhirnya Tareeq kembali menekan bel beberapa kali hingga terdengar suara pintu yang sedang berusaha dibuka dari dalam. Entah kenapa jantung pria itu berdegup kencang saat mengetahui sebentar lagi ia akan segera bertemu dengan sang istri.


"Akhirnya kamu membukanya juga, kemarilah istriku." Tareeq menarik tangan Zulaikha ke depan pintu lalu merangkul pundaknya agar pria yang berjaga itu dapat melihat secara langsung, untung saja ia sudah memakai kerudung bergo ala anak rumahan di Indonesia yang dipadukan dengan piyama lengan panjang.


"Apa benar ksmuistrinya?" tanya pria itu dengan bahasa Arab.


"Pak, istri saya ini orang Indonesia, dia hanya paham jika anda menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris," sela Tareeq semakin mengeratkan rangkulannya, membuat jantung Zulaikha serasa ingin melompat.


"Apa benar kamu istrinya?" ulang pria itu dengan bahasa Inggris.


"Iya benar," jawab Zulaikha singkat.


"Kapan kalian menikah?" selidik pria itu ingin mencocokkan jawaban Tareeq dan Zulaikha.

__ADS_1


"Hampir 3 bulan yang lalu," jawab Zulaikha, membuat pria itu lsngsung menganggukkan kepala karena mendapatkan jawaban yang sama.


"Baiklah, silahkan masuk kembali, maaf sudah mengganggu waktu kalian." Pria itu langsung pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.


Rangkulan Tareeq seketika terlepas dari pundak Zulaikha. "Ma-maaf," ucap pria itu sedikit canggung.


"Iya, kenapa kesini?


"Aku ingin menjemputmu," ucap Tareeq sembari tertunduk.


"Menjemput?" ulang Zulaikha dan pria itu mengangguk cepat.


"Anu, ma-maafkan aku karena telah berkata kasar padamu waktu itu, aku sadar aku salah, tidak seharusnya aku marah tanpa menunggu penjelasanmu terlebih dahulu," ungkapnya jujur.


Zulaikha mematung sejenak menatap pria bertubuh tinggi di hadapannya. "Ini sudah malam, masuklah dulu, di sini dingin," ujarnya lalu masuk lebih dulu, diikuti oleh Tareeq di belakangnya.


Tareeq duduk di ruang tamu dengan lutut yang bergerak cepat naik turun, jangan tanyakan kenapa, ia sendiri tidak mengerti kenapa rasanya segugup ini berhadapan dengan wanita, padahal ia sudah sering berhadapan dengan banyak wanita dalam urusan bisnisnya, terlebih dia adalah istrinya sendiri.


"Minum dulu agar tubuhmu terasa hangat." Zulaikha meletakkan secangkir minuman cokelat panas di hadapan Tareeq, lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan pria itu.


"Terima kasih," ucap Tareeq lalu mulai menyeruput minuman itu dengan memejamkan mata, yang mengisyaratkan bahwa ia sangat menikmati cokelat panas buatan sang istri.


Keduanya kini terdiam, suasana seketika terasa begitu canggung. Tareeq maupun Zulaikha tak ada yang bersuara.


"Ekhem, Zulaikha, sekali lagi aku minta maaf atas minggu lalu, bukan cuma itu, aku juga minta maaf atas sikapku selama ini yang begitu acuh padamu." Tareeq sejenak menatap Zulaikha yang diam menyimak perkataannya. "Apa kamu mau memaafkanku?" tanyanya.


Zulaikha terdiam sejenak. "Mungkin aku masih bisa memaafkanmu, tapi aku tidak tahu apakah aku masih bisa bersikap seperti dulu lagi padamu," tutur gadis itu dengan wajah datar.


"Aku akan menunggumu sampai sikapmu bisa kembali seperti biasa. Selama satu minggu kamu meninggalkanku, aku banyak berpikir mengenai kesalahanku padamu, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu, dan mulai saat ini aku akan belajar untuk menerima pernikahan ini, dan memperlakukanmu sebagai istriku sebagaimana seharusnya," ungkap pria itu.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2