Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
SPA dan Setrika


__ADS_3

"Hueek." Zulaikha langsung berlari ke kamar mandi.


"Nak, susul istrimu sana, kalau perlu panggilkan dokter," ujar Ibu Ammara.


"Iya Kak, kasihan kak Zul," timpal Nameera.


Tareeq hanya mengangguk lalu pergi menyusul sang istri yang kini sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak pucat.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Tareeq menghampiri Zulaikha dengan raut wajah khawatir.


"Nggak tahu, By. Rasanya tiba-tiba mual lihat machboos di atas meja," jawab Zulaikha.


"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu di kamar, nanti biar aku yang bawakan kamu makanan, kamu mau makan apa?" tanya Tareeq seraya menuntun Zukaikha pergi ke kamar mereka.


"Bakso aja, By," jawab Zulaikha.


"Oke, kalau gitu kamu tunggu aku, aku ke bawah dulu," ucap Tareeq lalu segera kembali ke ruang makan usai mendaratkan sebuah kecupan di kening Zulaikha.


"Bagaimana keadaan Zukaikha Tareeq?" tanya Kakek Husein.


"Masih lemas, Kakek, katanya dia mual lihat machboos di meja," jawab Tareeq.


"Nanti kamu panggil dokter, siapa tahu dia hamil," usul Ibu Ammara.


Tareeq sejenak terdiam memikirkan perkataan ibunya. "Iya, Bu," jawab Tareeq di sertai rasa penasaran sekaligus bahagia.


Setelah makan malam, Tareeq langsung menghubungi dokter, dan tak lama kemudian dokter tersebut datang dan memeriksa Zulaikha tepat setelah wanita itu menghabiskan satu bulatan bakso yang di bawa Tareeq ke kamarnya.


Tareeq dan keluarga yang lain menunggu di luar kamar dengan perasaan khawatir, mereka penasaran dengan prediksi mereka yang mengatakan jika Zulaikha memang hamil.


-


"Kapan Ibu terakhir menstruasi?" tanya seorang dokter wanita yang memeriksa Zulaikha.


"Awal bulan lalu, Dokter," jawab Zulaikha.


"Berarti bulan ini belum yah?"


"Iya, Dok."


Dokter wanita itu kini menganggukkan kepalanya. "Berdasarkan hasil pemeriksaan saya, Ibu baik-baik saja, dan ada kemungkinan Ibu sedang hamil," ujar dokter itu.


"Hamil, Dokter!" ulang Zulaikha dan di jawab anggukan oleh dokter itu.


"Tapi untuk lebih jelasnya, Ibu bisa langsung memeriksanya ke dokter obgyn," ujar dokter itu memberikan saran.


"Ini ada vitamin asam folat dan anti mual, jika mual yang ibu rasakan begitu mengganggu, ibu bisa meminum obat anti mualnya, untuk vitaminnya usahakan harus di minum setiap hari."


"Baik, Dokter, terima kasih banyak. Oh iya tolong jangan katakan dulu kepada keluarga saya, saya ingin pastikan dulu ke dokter obgyn," pinta Zulaikha dan di jawab anggukan lagi oleh dokter.

__ADS_1


Setelah kepergian dokter yang mengatakan jika Zulaikha hanya mengalami gejala anemia, semua keluarga langsung merasa lega, meski pun apa yang mereka sangkakan tidak benar.


***


Keesokan paginya, seperti biasa Zulaikha menyiapkan pakaian untuk sang suami sama seperti kebiasaannya di awal pernikahan mereka. Hanya saja, kali ini ia tidak perlu main kucing-kucingan seperti dulu, ia bahkan menunggu sang suami hingga menyelesaikan mandi paginya.


Tak lama kemudian, Tareeq keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk sepinggang. Zulaikha langsung berjalan mendekati sang suami dan memeluknya.


"Kamu kenapa , Sayang?" tumben banget nempel kayak gini?" tanya Tareeq yang langsung membalas pelukan sang istri.


”Aku menyukai aroma tubuh kamu setelah mandi tanpa menggunakan parfum apa pun," jawab Zulaikha seraya semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Tareeq.


Tareeq tertawa pelan mendengar jawaban Zulaikha yang menurutnya barusan seperti itu.


"Ada-ada aja kamu, tumben banget." Tareeq mengusap rambut Zulaikha lalu mengecup keningnya.


"Memangnya salah yah?" tanya Zulaikha mendongak menatap wajah sang suami.


"Tidak kok, aku malah suka kamu kayak gini," jawab Tareeq seraya mengusap lembut kedua pipi sang istri.


Setelah dirasa cukup, Zulaikha langsung membantu sang suami untuk memakai pakaian sebagaimana biasa setelah mereka tinggal di dalam kamar yang sama.


"By, bisa temani aku nanti ke rumah sakit?" tanya Zulaikha yang kini sedang sarapan bersama Tareeq, Ibu Ammara dan Rafif.


"Ada apa? Kamu tidak enak badan lagi yah?" tanya Tareeq kembali khawatir.


Sementara Ibu Ammara dan Rafif yang sejak tadi memperhatikan mereka hanya diam dan saling pandang. Rasanya mereka tak memiliki kesempatan untuk menyela apa yang mereka bicarakan karena pergerakan mereka ke kamar mandi sangat cepat.


Tareeq memijit lembut tengkuk Zulaikha yang saat ini sudah memuntahkan semua sarapannya.


"Aku akan meminta Ali untuk menggantikanku di kantor, kita ke rumah sakit sekarang," ujar Tareeq.


***


Di rumah sakit, dokter mulai memeriksa keadaan Zulaikha, sementara Tareeq hanya diam dengan kecurigaannya yang sejak tadi bercokol dalam hatinya.


Mana ada orang yang mengalami gejala anemia langsung memeriksakan diri di dokter obgyn, setidaknya mereka akan ke dokter umum terlebih dulu.


Tareeq memperhatikan dengan seksama apa yang di lakukan dokter wanita itu.


See? Mana ada orang yang mengalami gejala anemia sampai perutnya diolesi gel kayak gitu, memangnya ini SPA. Nah ... alat apa lagi itu? Kayak setrikaan aja.


Tareeq masih asik dengan segala macam pemikirannya yang tak henti-hentinya berceloteh.


"Selamat yah Pak, istri Bapak saat ini sedang mengandung," ujar dokter itu yang mulai merasa risih dengan pria yang sejak tadi menatap setiap tindakanny dengan kening yang berkerut bahkan kedua alisnya saling bertautan.


"Apa? Mengandung?" ulang Tareeq.


"Iya, Pak, istri Bapak sedang hamil, Bapak lihat ini? Ini adalah kantung janinnya dan yang kecil ini adalah janinnya," jelas dokter itu lagi seraya menunjuk ke layar monitor USG.

__ADS_1


Tareeq menyipitkan mata sejenak memperhatikan lingkaran dan sebuah titik di dalam lingkaran yang ditunjuk dokter. Pria itu kini beralih menatap sang istri yang saat ini sedang menatapnya sambil tersenyum.


Kening yang tadinya mengerut kini perlahan merenggang, wajah yang tadi tampak serius kini berganti menjadi senyuman kebahagiaan. Tangan pria itu kini terulur menyentuh perut sang istri yang baru saja di bersihkan dari gel.


"Jadi kamu sudah tahu jika kamu hamil? itu sebabnya kamu langsung ke dokter obgyn?" tanya Tareeq dan dijawab anggukan oleh Zulaikha.


"Aku sudah tahu, maafkan aku karena tidak segera mengabarkan kamu, aku hanya ingin memastikannya terlebih dahulu. Aku takut salah dan malah mengecewakanmu," jawab Zulaikha jujur.


Pria itu menggelengkan kepala pelan. "Tidak, apa pun yang terjadi, aku akan tetap bersyukur, terima kasih, Sayang." Ingin sekali rasanya pria itu memeluk dan mencium kening sang istri di ruangan itu, hanya saja aturan untuk orang yang bermesaraan di tempat umum tidak main-main di negara itu.


***


Tareeq dan Zulaikha kini sampai di rumah mereka dengan perasaan yang bahagia. Saking bahagianya, Tareeq langsung memeluk sang istri begitu memasuki rumah mereka.


"Terima kasih, Sayang, aku sangat bahagia," ucap pria itu lalu hendak mencium sang istri.


"Ekhem." Tareeq dan Zulaikha langsung saling melepaskan diri saat menyadari ada yang melihat mereka.


"Eh, Ibu, Rafif," ucap mereka bersamaan ketika melihat Ibu Ammara sedang menutup mata Rafif dengan tangannya.


"Kalian ini, masih nggak ingat aja kalau kami tinggal di sini," dumel Ibu Ammara.


"Maaf Bu, kita beneran lupa," jawab Tareeq tertunduk malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jadi, gimana hasil pemeriksaannya?" tanya Ibu Ammara.


"Alhamdulillah Bu, sebentar lagi Ibu akan jadi Nenek," jawab Zulaikha antusias.


"Alhamdulillah, Ibu sudah menduganya sejak semalam, oh iya Tareeq, ingat, apa pun yang nantinya diminta oleh istrimu, tolong penuhi karena itu adalah bawaan anak. Kalau tidak, nanti anakmu bisa ileran," ujar Ibu Ammara yang sudah terkontaminasi dengan aturan turun-temurun para ibu-ibu Indonesia perihal kehamilan.


"Iya, Bu," jawab Tareeq.


Kini Zulaikha dan Tareeq sudah kembali ke kamar mereka.


"Sayang, apa kamu ingin makan sesuatu? Katakan saja maka akan kupenuhi dengan senang hati."


"Benarkah? Sebenarnya sejak kemarin aku ingin makan sesuatu, tapi aku tidak yakin kamu bisa memenuhinya."


"Apa kamu meremehkan suamimu ini? Katakan saja, aku pasti bisa memenuhinya," tanya Tareeq dengan begitu percaya diri.


Zulaikha terdiam sejenak. "Sebenarnya ... aku ingin makan semur jengkol," jawab Zulaikha sedikit ragu.


"Hah? Apa?"


"SEMUR JENGKOL."


"Makanan apa itu? Di mana aku bisa mendapatkannya?"


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2