
Qifty berjalan menyusuri koridor lapas dengan perasaan yang saling berlawanan, di satu sisi ia sedang sedih tapi di sisi lain ia juga sedang marah. Rasa cinta yang dulu sangat ia agungkan kepada Tareeq seolah berubah menjadi benci. Pada akhirnya, semua yang ia lakukan untuk mendapatkan pria itu selalu gagal total.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Wanita itu meremas jari-jemarinya sembari terus melangkah ke depan.
Bugh
Tak sengaja pundak wanita itu bertabrakan dengan lengan kekar seorang pria hingga membuatnya terjatuh.
"Maaf, apa anda tidak apa-apa, Nona?" tanya pria dengan seragam polisi lengkap seraya mengulurkan tangannya.
Qifty hanya menatap sekilas tangan pria itu lalu berdiri tanpa menyentuhnya. "Apanya yang tidak apa-apa? Bajuku jadi kotor sekarang, enak aja minta maaf, memangnya maafmu bisa mengobati tanganku yang sakit dan membersihkan bajuku yang kotor?" sungut Qifty lalu pergi meninggalkan pria itu begitu saja dengan mulut yang masih setia berkomat-kamit menggerutu meski tak ada lagi yang mendengarnya.
Pria itu menatap kepergian Qifty seraya menggelengkan kepalanya. "Cantik tapi sayang, emosian," lirihnya.
"Hey Pak Khalid, kenapa kau diam di situ? Kemarilah, kita punya kasus baru," panggil salah satu temannya dari jauh.
"Oke, aku ke situ," balas pria itu lalu berlari-lari kecil menghampiri temannya.
Qifty kini telah berada di luar lapas, ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya saat ini. Namun, belum jauh ia meninggalkan lapas, matanya tak sengaja menangkap sosok wanita patuh baya yang sangat ia kenali, Bibi Afra, sahabat ibunya, sekaligus bibi dari Tareeq.
Rasa benci kembali merasuki hatinya, karena ulah Tareeq yang mempermalukannya waktu itu, Qifty kini ikut membenci Bibi Afra. Langkahnya kini berbelok tak lagi menuju ke tempat mobil, melainkan menghampiri wanita paruh baya itu.
"Mau apa Bibi ke sini?" tanya Qifty ketus.
"Bibi mau menemui Ibumu, Nak," jawabnya.
"Tidak perlu, mulai sekarang Bibi bukan lagi sahabat Ibuku, dan anggap saja kita tidak pernah saling kenal, pergilah dari sini!" titah Qifty dengan tangan yang menunjuk ke arah jalan pulang.
"Tapi, Nak, Bibi ingin bicara dengan Ibumu," ungkap Bibi Afra berusaha membujuk.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, sekarang Bibi pergi dari sini! PERGI!!" Kali ini wanita itu meninggikan suaranya lengkap dengan tatapan tajam ke arah Bibi Afra, membuat wanita paruh baya itu terpaksa berbalik untuk pulang
Diperlakukan dengan kasar tanpa hormat sedikit pun tentu saja membuat siapa pun akan merasakan sakit hati, begitu pun yang dirasakan oleh Bibi Afra.
"Pergilah kalian semua, aku tidak ingin lagi berurusan dengan orang-orang seperti kalian," lirih wanita itu lalu kembali melanjutkan jalannya menuju mobil dan mulai melajukan kendaraan roda empatnya dengan kecepatan tinggi.
***
Beberapa minggu kini telah berlalu, Ali dan keluarganya baru saja melakukan lamaran secara resmi terhadap Nameera di mansion Husein bin Ibrahim. Penetapan tanggal pernikahan mereka bahkan telah di tetapkan yaitu satu bulan ke depan.
__ADS_1
Usai kepulangan Ali dan keluarga, Kakek Husein mengajak Zulaikha dan Tareeq, serta Nameera dan Ibu Ammara untuk berdiskusi sejenak di ruang keluarga yang cukup luas.
"Jadi insya Allah pernikahan Nameera akan berlangsung bulan depan, bagaimana dengan kalian, Tareeq dan Zulaikha?" tanya Kakek Husein memulai pembicaraan.
"Kami?" Zulaikha menunjuk dirinya dan Tareeq yang duduk agak berjauhan dengannya.
"Iya, kalian," jawab Kakek Husein.
"Kamikan sudah menikah, Kek."
"Maksud Kakek itu, acara pernikahan kita di sini, Sayang. Kita kemarin nikahnya di Indonesia dan di sini belum sama sekali," jelas Tareeq.
"Benar, Nak. Kakek rasa kalian juga perlu melangsungkan acara pernikahan kalian di sini agar semua rekan bisnis Kakek dan Tareeq tahu kalau kalian sudah menikah, selama ini kan hanya beberapa orang saja yang tahu kalau Tareeq sudah menikah, selebihnya belum ada yang tahu," imbuh Kakek Husein.
Zulaikha diam dan menoleh ke arah sang suami. "Tapi sekarang aku sedang hamil, perutku aja sudah terlihat buncit," sanggah Zulaikha sambil mengusap perutnya.
"Memangnya kenapa? Apa kamu mau aku disangka lajang oleh rekan bisnisku, kemudian mereka hendak menjodohkanku de...." Ucapan Tareeq terputus saat ia mendapat tatapan tajam dari Zukaikha.
"Kenapa nggak dilanjutkan? Lanjutkan saja, aku mau dengar kalau kamu mau dijodohkan sama anak perempuan mereka, gitu 'kan maksud kamu?"
"Eh, i-itu cuma perumpamaan, Sayang. Biar kamu bisa mengambil keputusan, mau buat acara juga atau tidak, iya 'kan, Kek?" Tareeq mengedipkan matanya pada Kakek Husein, berharap sang Kakek mau membantunya menjelaskan agar sang istri yang memiliki emosi yang tidak stabil saat hamil bisa mengerti.
"Jarang-jarang kakek melihat Tareeq seperti itu," lirihnya, membuat Nameera yang duduk tepat di sampingnya mengangguk setuju.
"Itukan pilihan, By. Jadi maksud kamu, kalau aku belum siap mengadakan acara pernikahan kita di sini karena hamil, kamu akan menerima jika ada yang menjodohkanmu dengan putrinya, iya 'kan?"
"Astaghfirullah, Sayang. Mana mungkin aku mau melakukan itu, memiliki satu istri saja sudah membuatku bahagia seperti ini, tidak mungkin aku berpikir untuk menambah istri lagi."
Zulaikha sejenak diam, kata-kata yang terucap dari bibir sang suami sepertinya berhasil membuatnya merasa senang dan lega. "Aku akan berpikir terlebih dahulu, aku bukannya tidak mau, aku hanya takut kelelahan, kamu tahu sendiri, selama hamil aku cepat sekali lelah," lanjutnya.
"Baiklah, Nak. Pikirkanlah, bagaimana pun kesehatanmu dan calon anak kalian yang lebih utama di sini." Kakek Husein mulai membuka suara kembali.
Setelah melakukan pembicaraan serius yang tidak sebentar, mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat mengingat malam sudah semakin larut, termasuk Ibu Ammara yang tidur di kamar tamu. Bagaimana pun juga ia tidak berhak lagi tidur di kamar mantan suaminya di mansion itu karena mereka sudah cerai.
-
Zulaikha kini sudah berbaring di tempat tidur. Rasanya tubuhnya seperti remuk, padahal kerjaannya seharian hanya di mansion duduk dan makan.
"Apa kamu lelah, Sayang?" Tareeq yang baru saja menyelesaikan mandinya duduk di sebelah kiri Zulaikha yang sedang berbaring.
__ADS_1
"Iya, By, belakangku rasanya sakit banget." Zulaikha menunjuk anggota tubuhnya itu dengan suara pelan.
"Ya sudah, miringkan tubuh kamu ke arah kanan, biar aku pijitin," ujar pria itu lalu mulai memijit sang istri.
"By, ajari aku bahasa Arab dong, masa iya sampai sekarang tinggal di Qatar aku hanya tahu kata la (tidak), na'am (iya), ana (aku), anta (kamu laki-laki), anti (kamu perempuan)."
"Kamu yakin ingin belajar bahasa Arab?" tanya Tareeq sambil memijit lembut Zulaikha.
"Tentu saja," jawabnya yakin.
"Baiklah, sekarang ikuti apa yang aku katakan .... Uhibbuki fillah," ucap Tareeq perlahan.
"Uhibbuki fillah," ucap Zulaikha mengikuti perkataan Tareeq.
"Tidak, Sayang, jika kamu mengatakan itu kepada laki-laki, katakan, 'uhibbuka fillah.' Akhiran 'ka' bermakna 'kamu laki-laki', dan akhiran 'ki' bermakna 'kamu perempuan'," jelas Tareeq.
"Oh oke, By. Uhibbuka fillah," ucap Zulaikha perlahan. "Memangnya itu artinya apa, By?" Kini Zulaikha mengubah posisinya dan duduk berhadapan dengan Tareeq.
"Artinya adalah aku mencintaimu karena Allah," ucap Tareeq seraya tersenyum dengan mata yang tak lepas menatap manik mata sang istri, membuat wajah Zulaikha seketika merona merah di sertai senyuman tipis malu-malu.
"Uhibbuki fillah, yaa Zaujaty," ucap Tareeq sekali lagi tanpa mengalihkan tatapannya. "Zaujatiy artinya istriku, dan Zaujiy artinya suamiku," sambungnya menjelaskan.
"Oh, oke aku ngerti," ujar Zulaikha menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
Senyuman Zulaikha perlahan memudar saat sang suami masih saja menatapnya penuh harap. "Kenapa menatapku seperti itu?" tanyanya pura-pura tidak mengerti.
"Hufth, ya sudahlah, aku mau istirahat," ucap Tareeq lesu lalu bangkit dari duduknya, tapi Zulaikha berhasil menarik tangan kekar pria itu hingga kembali duduk.
"Uhibbuka fillah, Zaujiy," ucapnya pelan lalu mengecup singkat pipi sang suami.
Senyuman seketika terbit dari wajah pria tampan itu. Ia baru juga akan membalas kecupan sang istri, tapi terhenti saat deringan ponsel Zulaikha berbunyi begitu nyaring di kamarnya.
"Tunggu, aku harus mengangkatnya, deringan panggilan ini adalah deringan khusus dari Bibi Anisa," ucap Zulaikha, lalu segera meraih ponselnya di atas nakas.
"Halo, assalamu 'alaikum, Bi."
"..."
"Apa? Baiklah, Bi. Zulaikha akan usahakan kembali ke Indonesia sekarang."
__ADS_1
-Bersambung-