
Kadang terdengar sepele ngidam seorang istri, kadang juga terdengar menyusahkan, tapi jika ingin membuat istri senang, berusahalah memenuhinya. Bukan perkara ada tidaknya atau susah tidaknya, tapi lebih ke bagaimana usaha untuk memenuhinya.
__________________________________________
"Semur jengkol adanya di Indonesia, dan aku sangat ingin makan itu," ujar Zulaikha tertunduk. "Tapi jika kita tidak bisa pergi ya tidak apa-apa," lanjutnya.
"Siapa bilang tidak bisa? Ayo kita pergi sekarang," ajak Tareeq.
"Benarkah? Kamu tidak bercanda kan?" tanya Zulaikha memastikan.
Tareeq menghampiri Zulaikha yang sejak tadi duduk di tepi tempat tidur lalu duduk di sampingnya dan menatap sang istri. "Apa aku terlihat sedang bercanda, Sayang?"
Zulaikha menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak," jawabnya.
"Ya sudah, ayo kita pergi sekarang." Tareeq menarik lembut tangan Zulaikha lalu segera pergi ke bandara, bagaikan orang yang sedang pergi ke pangkalan ojek untuk pergi ke pasar.
***
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 8 setengah jam dari kota Doha, Tareeq dan Zulaikha kini tiba di Jakarta. Keduanya langsung menuju ke desa Zulaikha di mana Tareeq yang mengemudikan mobil. Namun, di tengah jalan, Zulaikha meminta berhenti saat melihat sebuah warteg yang menampilkan gambar semur jengkol.
"By, kita singgah makan dulu yah, aku lapar banget nih, aku nggak sabar mau makan semur jengkol," pinta Zulaikha, membuat Tareeq tersenyum lalu segera menepikan mobilnya.
"Baiklah, aku juga ingin mencoba memakan makanan itu, seenak apa sih makanan semur semur itu sampai istriku ini sangat menginginkannya," ujar Tareeq lalu segera keluar dari mobil dan berlari membukakan pintu mobil untuk Zulaikha.
"Kamu yakin mau makan semur jengkol?" tanya Zulaikha sedikit ragu.
"Yakinlah, bakso kamu aja aku suka, itu artinya lidahku cocok dengan masakan Indonesia," jawab Tareeq begitu yakin.
Saat pertama kali memasuki warteg itu, Tareeq sedikit terkejut saat menjumpai begitu banyak orang yang antri untuk membeli makanan. Ditambah ruangannya yang tidak seluas restoran, membuat pria itu merasa begitu pengap. Bahkan bau masakan hingga bau keringat orang seolah berpadu menambah aroma khas warteg itu di indera penciumannya.
Tak menunggu lama, dua nasi hangat beserta semur jengkol dan lauk pelengkap lainnya telah tersaji di hadapan mereka. Zulaikha tak ingin mengulur waktu, setelah membaca doa, gadis itu langsung menyantap makanannya dengan begitu lahap.
Sangat berbeda dengan yang di lakukan Tareeq. Pria itu terlihat sedikit ragu untuk mencobanya sebab dari aromanya saja ia sudah sedikit pusing. "Enak banget yah?" tanya pria itu.
"Heem, enak banget," jawab Zulaikha alu kembali menyuapkan makanan itu ke mulutnya.
Melihat Zulaikha yang begitu menikmati makannya, akhirnya Tareeq memantapkan niatnya untuk memakan makanan itu satu suapan pun akhirnya berhasil masuk ke dalam mulutnya. Namun, baru beberapa kali mengunyah, Tareeq langsung mempercepat gerakan mengunyah dan segera meminum air putih yang sudah tersedia.
"Gimana rasanya?" tanya Zulaikha penasaran.
__ADS_1
"Hmm, rasanya enak kok, tapi sepertinya aku lebih suka dengan bakso kamu. Aku tunggu kamu di luar yah," ujar Tareeq lalu segera beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari warteg itu, sehingga mau tidak mau Zulaikha lah yang harus menghabiskan makanan suaminya itu.
Tak lama setelah Tareeq keluar, seorang wanita cantik menghampiri meja itu. "Assalamu 'alaikum, apa tempat duduk ini sudah kosong? Tempat duduk yang lain udah full soalnya."
Zulaikha langsung mendongak menatap wanita itu dan langsung tersenyum ramah. "Udah kosong kok, silahkan," jawabnya sembari menarik makanan milik sang suami yang sudah keluar lebih dulu.
Senyuman indah seketika terbit dari wanita itu. "Terima kasih," ucapnya lalu segera duduk.
"Kamu orang asli sini?" tanya wanita itu basa-basi.
"Bukan, aku hanya kebetulan singgah di sini karena ngidam makan semur jengkol," jawab Zulaikha.
"Benarkah? Masya Allah, aku juga singgah di sini karena ngidam semur jengkol," ujar wanita itu.
"Masya Allah, bisa pas gitu yah, oh iya aku Zulaikha, nama kamu siapa?"
"Aku Aira, senang bisa berkenalan denganmu."
Kedua wanita itu kini saling bertukar cerita, Zulaikha yang pada dasarnya mudah bergaul kini terlihat begitu akrab dengan wanita itu.
Sementara di luar warteg, Tareeq yang tadinya menunggu Zulaikha di dalam mobil tidak sengaja melihat Billy sedang duduk santai sembari memainkan ponselnya di depan warteg.
Billy yang tadinya sedang asik dengan ponselnya langsung mendongak ke arah sumber suara. "Wa'alaikum salam, masya Allah sultan Qatar datang," candanya dengan bahasa Indonesia, membuat Tareeq mengernyitkan alisnya.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Tareeq bingung.
"Bukan apa-apa, oh iya apa yang membawamu sampai ke warteg ini?" tanya Billy dengan bahasa Inggris.
"Aku menemani istriku yang ngidam makan semur ... semur ...." Tareeq terlihat kebingungan menyebut nama asli makanan itu.
"Semur jengkol?" sambung Billy dengan cepat.
"Nah, betul itu, semur jengkol," ujar Tareeq membenarkan.
"Wah kebetulan sekali, istriku juga lagi makan di dalam karena ngidam makanan itu."
"Kenapa tidak menemaninya?" tanya Tareeq.
"Selera orang beda-beda," jawab Billy.
__ADS_1
"Kita sama," ujar Tareeq.
Saat para suami itu asik bercerita, Zulaikha dan Aira keluar bersama dari warteg itu dan mendapati mereka sedang bercerita.
"By ...."
"Mas ...."
Panggil kedua wanita itu bersamaan.
"Iya, Sayang ...." jawab pria itu bersamaan dalam bahasa yang berbeda menoleh ke sumber suara yang sama, membuat dua wanita itu langsung saling berpandangan saat menyadari pria itu adalah suami mereka.
***
Di tempat lain, seorang wanita paruh baya sedang sarapan bersama suaminya. Mereka adalah kedua orang tua Qifty. Jika dulu mereka selalu sarapan bertiga dengan putri mereka, kini mereka hanya sarapan berdua tanpa gadis itu.
"Pa, sudah beberapa bulan berlalu semenjak kejadian itu, tapi kenapa sampai sekarang Qifty masih saja mengurung dirinya di kamar? Dia bahkan tidak pernah lagi pergi ke rumah sakit, ada apa dengannya, Pa? Aku sangat khawatir jika dia seperti ini terus," ungkap sang ibu.
"Papa juga tidak tahu, Ma. Mungkin Qifty butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan ini," balas sang ayah.
"Tapi mau sampai kapan, Pa?"
Bugh
Sebuah suara yang cukup keras dari kamar Qifty seketika mengalihkan atensi mereka. Membuat kedua orang tua Qifty langsung berjalan tergopoh-gopoh mendatangi kamar sang putri.
"Astaghfirullah, Qifty!" pekik kedua orang tua Qifty histeris saat mendapati putrinya tidak sadarkan diri dengan pergelangan tangan yang penuh dengan darah segar.
"Papa, tolong panggilkan ambulans, Pa," pinta sang ibu begitu panik.
Pria paruh baya yang juga terlihat begitu shock segera memanggil ambulans. Tak lama setelah itu ambulans pun datang. Qifty di masukkan ke dalam van ambulans bersama dengan kedua orang tuanya.
"Qifty, bertahanlah, Nak, hiks," ucap sang ibu di sela tangisannya.
"Kita berdoa saja, semoga putri kita baik-baik saja," balas sang ayah berusaha tenang.
"Apanya yang baik-baik saja, sejak awal putri kita tidak baik-baik saja karena ulah Tareeq dan istrinya, ditambah lagi dengan kejadian ini, tentu itu akan semakin menyakitinya. Jika terjadi apa-apa dengan Qifty, aku tidak akan tinggal diam."
-Bersambung-
__ADS_1