
Suara khas pintu yang terbuka meski sangat pelan membuat anak buah dari ibunya Qifty berbalik, gegas mereka segera berlari keluar karena mencurigai sesuatu. Benar saja, saat berdiri di ambang pintu, mereka melihat bayangan dua orang sedang berlari keluar dari ruang bawah tanah sembari menggendong seseorang.
"Kejar dia!" titah salah satu pria itu, lalu dua pria yang berada di sampingnya langsung berlari mengejar Tareeq dan Ali. Sementara satu pria tmyang tadinya memberi perintah memilih tinggal seraya mencari pengaman listrik.
"Ada apa?" tanya Ibu dari Qifty sambil berjalan pelan karena ruangan yang begitu gelap.
"Mereka kabur, Bu," jawab pria itu, kemudian menaikkan tuas pengaman listrik. Lampu seketika kembali menyala. Wanita paruh baya itu sangat terkejut saat mendapati Zulaikha dan Nameera sudah tidak ada lagi di tempatnya.
"Apa? Cari mereka sampai dapat dan seret mereka semua ke sini termasuk Tareeq!" titah wanita paruh baya itu amat murka.
-
Sementara itu, Tareeq dan Ali yang menyadari bahwa mereka sedang di kejar, berusaha keras berlari hingga bertemu debgan Khalid yang sejak tadi menunggu mereka di luar ruang bawah tanah.
"Khalid, mereka mengejar kami," ujar Tareeq dengan napas yang mulai memburu.
"Cepat masuk ke dalam mobil," ujar Khalid ikut berlari menuju mobil sambil sesekali melihat ke belakang.
"Masuk, aku yang akan mengemudikan mobilnya," ujar Khalid lalu mengambil tempat di belakang kemudi, Ali mengambil tempat di samping Khalid, sementara Nameera duduk di jok kedua bersama Tareeq yang sedang memangku Zulaikha, wanita itu belum juga sadarkan diri hingga saat ini.
"Sayang, bangunlah," ucap Tareeq dengan suara bergetar. Tangannya menepuk lembut pipi Zulaikha, tapi tak kunjung mendapat respon.
"Apa yang terjadi padanya, Dik? Kenapa dia bisa di pukul oleh mereka?" tanya Tareeq.
"Itu semua perintah Ibunya Qifty kak, dia memaksa Kak Zul untuk meminta Kakak menikahi putrinya, tapi Kak Zul tidak mau, jadi dia menyuruh orang itu memukuli perut Kak Zul biar Kak Zul kehilangan janin dan tidak bisa hamil lagi, tapi Kak Zul melindungi perutnya dengan menggunakan kepala," terang Nameera.
"Astaghfirullah, orang itu sangat nekat, lihat saja, mereka tidak akan melihat matahari terbit besok dengan bebas," gumam Tareeq. "Khalid, bagaimana?" lanjutnya bertanya.
__ADS_1
"Aman," jawab pria itu singkat, lalu mengecek kaca spionnya. "Mereka mengejar kita," lanjutnya.
"Bagus, mari kita selesaikan," ucap Tareeq dengan tatapan tajam ke depan.
Aksi kejar-kejaran di jalan raya yang mulai lenggang karena sudah larut malam kini tak terelakkan lagi, mobil orang suruhan ibu Qifty beberapa kali hampir mendahului mobil Tareeq, tapi kemampuan menyetir Khalid tidak diragukan lagi. Dengan mudah, pria itu dapat kembali dengan mudah mengubah posisi mobil agar kembali melaju kencang ke depan.
"Bagaimana kawan-kawan? Apa sudah siap?" tanya Khalid melalui handy talkie yang berada di kantung bajunya sejak tadi. Entah sejak kapan pria itu berkomunikasi dengan rekan timnya, yang jelas, saat ini ia sudah mengatur sebuah rencana bersama mereka.
Usai berbicara dengan rekannya, Khalid kembali melajukan mobilnya ke sebuah jalan. Saat di rasa sudah waktunya, Khalid segera memutar arah mobilnya hingga menghadap tepat ke arah mobil yang tadi mengejarnya.
Tak lama setelah itu, dua pria yang berada di dalam mobil itu keluar dengan masing-masing membawa senjata tajam. Sementara Khalid dan yang lain memilih tetap berada di dalam, lalu segera melajukan kembali mobilnya ke arah rumah sakit saat melihat posisi kedua pria itu sudah semakin dekat.
Dua pria yang tadinya sudah keluar langsung kembali memasuki mobilnya untuk mengejar Tareeq. Namun, saat hendak melajukan mobil, beberapa mobil polisi datang menghadang mereka dari depan dan belakang, membuat pergerakan mobil itu terhenti seketika.
Begitu pun dengan ibu Qifty yang masih bersama anak buahnya di ruang bawah tanah langsung di kejutkan dengan kedatangan secara tiba-tiba dengan membawa surat pengakapan.
Zulaikha kini tiba di rumah sakit hanya dalam beberapa menit. Bagaimana tidak, Khalid melajukan mobilnya bagaikan pembalap profesional yang sedang berusaha mencapai garis finish dalam waktu singkat.
Kini wanita itu sedang ditangani oleh dokter. Tareeq, Nameera, Ali dan Khalid menunggu di luar ruangan dengan perasaan yang beragam.
"Tenanglah, Tareeq, insya Allah Istrimu baik-baik saja," ujar Khalid sembari menepuk pelan pundak temannya itu.
Pria itu lalu beralih ke Nameera yang penampilannya sedikit berantakan, tapi tetap terlihat sangat cantik. "Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.
"I-iya, kak, aku baik-baik saja," jawab Nameera tertunduk.
"Syukurlah," ujar Khalid kemudian berlalu ke samping Ali yang berdiri tidak jauh dari Nameera dan Tareeq.
__ADS_1
Suara pintu ruangan terbuka dari ruangan itu membuat atensi semua orang yang ada di sana teralihkan. Tareeq segera menghampiri dokter itu dengan deretan pertanyaan yang penuh kekhawatiran di pikirannya.
"Istri Bapak mengalami gegar otak ringan akibat pukulan benda tumpul, jika beristirahat selama beberapa hari insya Allah bisa segera pulih. Mengenai kandungannya, alhamdulillah baik-baik saja," jelas dokter itu.
Rasa lega langsung mengisi sebagian pikiran yang tadinya dipenuhi rasa khawatir. Tak ingin menunggu lagi, usai mendapatkan izin untuk menemui sang istri, Tareeq langsung masuk ke dalam ruangan itu, di mana Zulaikha sudah membuka mata.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Maafkan aku tidak bisa menjagamu, terima kasih karena kamu sudah berkorban demi menjaga anak kita." Tareeq menggenggam tangan Zulaikha lalu mengecupnya beberapa kali.
"Kenapa kamu malah minta maaf? Kamu tidak salah, By. Mereka yang salah." Zulaikha berbicara dengan suara yang lemah.
"Semua masalah ini ada karena aku yang menolak dan mempermalukan Qifty," ujar Tareeq dengan raut sendunya.
"Kenapa kamu bicara begitu, By? Apa kamu menyesal menolak Qifty?" selidik Zulaikha. Meski kepalanya masih terasa sakit, tapi ia masih bisa berpikir dengan baik, dan apa yang dikatakan suaminya itu sedikit mengganggu pikirannya.
"Eh, bukan itu maksudku, Sayang. Aku mengatakan itu karena itulah alasan Ibunya Qifty, aku sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menikahinya karena aku hanya ingin memiliki kamu, percayalah, Sayang," jelas Tareeq.
Zulaikha menarik ujung bibirnya saat mendengar klarifikasi sang suami. Ia kemudian merentangkan tangannya ke arah Tareeq. "Boleh aku memelukmu, By, aku masih sedikit takut akibat kejadian tadi," ujar wanita itu.
Tareeq segera memeluk Zulaikha yang masih dalam posisi berbaring. "Aku akan pastikan mereka tidak akan bisa mengganggu kita lagi, Sayang. Tidak peduli jika dia adalah seorang wanita paruh baya, jika dia siap melakukan kejahatan, maka harusnya dia juga sudah siap dengan segala konsekuensinya," lirih Tareeq di dekat telinga sang istri, membuat wanita itu menganggukkan kepalanya pelan.
-
Sementara di luar ruangan, Nameera yang memilih memberikan kesempatan kelada sang kakak untuk berbicara berdua dengan Zulaikha kini sedang duduk dengan didampingi dua pria lajang.
Nameera hanya diam, tak ingin berbicara kepada siapa pun. Sementara dua pria yang sejak tadi ikut diam, rupanya sering mencuri pandang ke arah gadis itu tanpa ketahuan satu sama lain.
-Bersambung-
__ADS_1