Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Jawaban Khalid dan Ali


__ADS_3

Tareeq memilih melanjutkan langkah menuju ke ruang kerjanya. Beberapa berkas yang kemarin sempat tertunda telah menantinya di atas meja dengan sabar. Hal itu tentu saja karena Zulaikha yang selama beberapa hari ini sangat suka membuat bakso, dan wanita hamil itu selalu menginginkan dirinya yang pertama kali memakan bakso itu. Sehingga mau tidak mau, ia akan pulang lebih awal.


Tareeq medaratkan tubuh di kursi kebesarannya, lalu mulai mengerjakan pekerjaannya satu per satu. Hingga tidak terasa, jam kerja pun telah tiba, yang ditandai dengan masuknya Ali ke ruangan itu untuk memaparkan agenda sang bos hari ini.


"Assalamu 'alaikum, Pak. Agenda Bapak hari ini tidak terlalu padat, pagi ini Bapak akan mengikuti rapat bersama tim A untuk membahas kelanjutan pembangunan hotel yang berada di dekat The Pearl Qatar. Jam makan siang nanti kosong, tapi jam 2 Bapak akan bertemu dengan CEO dari salah satu perusahaan yang berada di Singapura untuk membahas kontrak kerja sama," papar Ali.


"Oke, jika jadwalku siang ini memang kosong, aku ingin kamu menemaniku makan siang bersama Khalid," ucap Tareeq, membuat pria di hadapannya langsung membulatkan mata.


"Kenapa kaget begitu?"


"Ti-tidak, Pak. Baik, saya akan menemani Bapak dan Pak Khalid makan siang," jawab Ali cepat.


***


Sementara itu, Zulaikha yang saat ini sedang duduk bersama Ibu Ammara sambil menonton mulai tampak gelisah. Akhir-akhir ini ia selalu berada di rumah dan itu membuatnya mulai merasa bosan, terbukti dari raut wajah dan embusan napas kasar yang beberapa kali ia keluarkan.


"Kenapa, Nak?" tanya Ibu Ammara.


"Eh, tidak apa-apa, Bu. Hanya bosan saja," jawab Zulaikha jujur.


"Gimana kalau kita jalan-jalan sama Nameera," usul sang ibu mertua.


"Jalan-jalan kemana, Bu? Cuaca sekarang lagi panas." Zulaikha tampak begitu malas untuk keluar meski ia bosan, hal itu dikarenakan musim panas yang kini telah melanda Qatar.


"Ya, kita bisa jalan-jalan ke tempat yang adem, misalnya ke mall atau apalah, ibu nggak mungkin juga ngajak kamu jalan-jalan lihat balapan onta, onta aja nggak mau balapan karena panas," canda wanita paruh baya itu.


"Eh iya yah, kok aku be90 gini sih?" gumam Zulaikha nyengir seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Oke deh, Bu. Aku mau," lanjutnya menyetujui usulan Ibu Ammara.


"Tapi minta izin dulu sama suami kamu, kamu tahu sendiri 'kan bagaimana menakutkannya dia saat marah? Ibu aja kapok."


"Siap, Bu." Zulaikha segera menghubungi Tareeq menggunakan ponselnya.


Akan tetapi, sudah beberapa kali wanita itu menghubungi ponsel sang suami, tapi tak kunjung di angkat.


"Nggak diangkat, Bu," ucap wanita itu malas dengan bibir yang mulai mengerucut.


"Chat aja, mungkin dia lagi meeting, setidaknya dia tahu kalau kamu keluar bersama Ibu," usul sang ibu mertua lagi.


"Eh, bener juga, oke deh."

__ADS_1


Zulaikha mulai mengetikkan sebuah pesan kepada Tareeq, berharap sang suami akan memaklumi jika ia pergi bersama sang ibu.


Hubby


[By, aku izin jalan-jalan ke mall bareng Ibu yah, aku bosan di rumah terus, boleh yah, oke? Terima kasih, By.]


Usai mengirimkan pesan kepada sang suami, Zulaikha bergegas ke kamarnya untuk bersiap-siap.


Di sinilah mereka saat ini, Villagio Mall, sebuah mall besar yang menjadi surganya shopaholic, di mana barang-barang brand mendunia ada di sini. Berbeda dengan kegiatan para pengunjung mall lainnya, tiga wanita beda usia itu justru hanya berjalan bersama menikmati suasana bangunan mall yang begitu mewah dan unik.


Kemewahan mall ini semakin bertambah karena di dalamnya terdapat sungai, bahkan bisa naik perahu jika mau. Hal yang paling unik dari mall ini adalah, desain interior mall yang unik, bahkan malam pun akan terasa siang karena langit-langitnya yang seperti langit di siang hari.


"Apa Ibu dan Nameera tidak ingin belanja?" tanya Zulaikha kepada dua wanita beda generasi itu.


"Aku lagi tidak ingin belanja, Kak, kecuali belanja makanan, aku mau," jawab Nameera.


"Sama, Nak. Saat ini ibu tidak selera belanja, dan hanya mau makan." Ibu Ammara tersenyum bersama Nameera, kedua wanita itu tampak begitu kompak.


Kekompakan yang mungkin sangat tidak mungkin terjalin kembali setelah apa yang terjadi sebelumnya. Tapi tidak dengan Nameera, gadis itu senantiasa membangun ikatan yang lebih kuat dengan sang ibu,dan melupakan semua luka di masa lalu.


"Kalian memang luar biasa," puji Zulaikha.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk makan siang di mall itu. Sembari menunggu pesanan makanan mereka datang, mereka bercerita satu sama lain, dan kali ini pembicaraan mereka tampak serius.


"Iya, Kak, Kak Ali dan Kak Khalid."


"Masya Allah, langsung dua di saat yang sama, terus gimana?"


"Yaa belum aku jawab, insya Allah beberapa hari lagi aku akan memberikan jawaban."


"Apa kamu sudah sholat istikharah, Nak? Jika dalam keadaan bimbang karena di hadapkan oleh 2 pilihan atau lebih, maka mintalah petunjuk Allah melalui istikharah." Kali ini Ibu Ammara ikut berbicara.


"Aku sudah melakukannya, Bu. Sebenarnya aku juga sudah memiliki jawaban atas istikharah itu, hanya saja aku ingin melihat seberapa besar keseriusan mereka," jawab Nameera seraya tersenyum tipis.


"Siapa dia Nameera?" tanya Zulaikha.


"Aku akan mengumumkan jawabanku beberapa hari ke depan."


***

__ADS_1


Di tempat lain, Tareeq, Khalid, dan Ali sedang makan siang bersama seraya bercerita.


"Beberapa hari lagi, kalian akan bertemu kembali dengan adikku, apa kalian sudah memiliki jawaban?" tanya Tareeq.


"Belum, Pak," jawab Ali tertunduk.


"Sudah dong, aku siap menjawab permintaan adikmu itu," jawab Khalid begitu percaya diri.


"Apa kau tidak mencarinya Ali?" tanya Tareeq.


"Bukan begitu, Pak. Sampai saat ini saya masih berusaha mencarinya," jawab Ali cepat.


"Hey, apa kau serius ingin melamar Nameera? Bagaimana mungkin sampai hari ini kamu belum menemukan apa-apa?" tanya Khalid merasa bingung dengan saingannya satu itu. Sepertinya persaingan kali ini tidaklah sulit baginya.


Alih-alih menjawab, Ali justru tertunduk lesu, apakah ia akan kalah kali ini? Jika memang seperti itu, sepertinya dia memang harus mempersiapkan diri atas sebuah penolakan.


***


Hari yang ditunggu-tunggu kini telah tiba. Ali dan Khalid kini telah duduk bersama bak dua orang yang siap menerima interogasi dari beberapa orang di hadapannya.


Ya, kali ini, semua keluarga berkumpul di ruang tamu, termasuk Kakek Husein, Tareeq, Zulaikha dan Ibu Ammara. Hanya bibi Afra yang tidak ada, sepertinya wanita paruh baya itu benar-benar tidak peduli dengan apa pun tentang Nameera.


"Baiklah, Nak. Karena kita sudah berkumpul di sini, silahkan paparkan apa yang telah kalian dapatkan." Kakek Husein mulai mempersilahkan dua pria itu untuk memaparkan hasil pencarian mereka selama satu minggu terakhir.


"Terima kasih Kakek, jadi bukti dari cintanya Allah kepada hambanya ada pada surah Al-A'raf ayat 156, 'Kasih sayangKu meliputi segala sesuatu.' Adapun bukti dari cintanya Nabi kepada ummatnya adalah sebuah pesan Beliau sebelum meninggal yang mengatakan, 'ummatku ... ummatku,' saking cintanya Nabi, di akhir hidupnya Beliau masih memikirkan ummatnya."


Khalid memaparkan jawabannya dengan padat dan jelas, membuat Kakek Husein menganggukkan kepalanya. "Bagaimana dengamu, Nak Ali?"


Ali sejenak menatap lesu semua yang ada di ruangan itu lalu kembali tertunduk.


"Maaf, saya telah berusaha mencarinya selama satu minggu ini, dan pada akhirnya saya tidak bisa mengajukan satu bukti tentang betapa cintanya Allah pada hambaNya." Ali menghentikan sejenak perkataannya.


Khalid mulai tersenyum senang dalam tunduknya saat mendengar jawaban Ali.


"Bukannya tidak ada, tapi justru sebaliknya. Semakin saya mempelajarinya, saya semakin menyadari bahwa cinta Allah sangat besar kepada hambaNya, sehingga hanya memaparkan satu saja rasanya saya tidak mampu. Bahkan diturunkannya Al-Qur'an sudah menjadi bukti cinta Allah."


Khalid seketika mengangkat wajahnya dan langsung menatap Ali setelah mendengar lanjutan jawaban dari pria itu. Tak hanya dia, bahkan semua orang yang ada di ruangan itu diam menyimak jawabannya.


"Begitu pun dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, saya tidak bisa menyebutkan satu bukti hadis karena nyatanya buktinya teramat sangat banyak, bahkan dengan adanya hadis yang menjadi acuan kita selama ini, sudah menjadi bukti cinta Nabi pada ummatnya. Bagaimana bisa kita yang tidak pernah melihatnya bisa mencintainya bahkan merindukannya?"

__ADS_1


Ali tertunduk, sembari mengusap matanya yang mulai berair. "Tentu saja itu karena cintanya yang begitu besar kepada ummatnya. Oleh karena itu, jika saya di minta untuk menunjukkan satu ayat atau hadis saja, maaf saya tidak bisa." Ali mengakhiri pemaparannya lalu kembali tertunduk.


-Bersambung-


__ADS_2