Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Kamu Licik Aku Lebih Licik


__ADS_3

Usai acara lamaran Qifty, Tareeq semakin sering terlambat pulang ke rumah, kadang saat pulang, ia mendapati Zulaikha telah tertidur lebih dulu. Hal itu membuat gadis itu semakin di rundung kesedihan yang kian menyiksa batin.


Bahkan di usia pernikahan yang hampir menginjak 5 bulan ini, ia belum menjadi istri Tareeq seutuhnya. Kadang ia ingin menyerah dengan pernikahan yang menurutnya tidak jelas, tapi jika mengingat Nameera, rasanya ia begitu berat meninggalkan gadis itu.


Dan kini tibalah saat di mana Tareeq akan melangsungkan aqad nikah di rumah Qifty. Sesuai permintaan Tareeq, ia hanya ingin melangsungkan aqad saja terlebih dahulu tanpa pesta karena Nameera yang masih sakit.


Semua keluarga besar Qifty dan Tareeq pun telah berkumpul di ruang keluarga untuk melangsungkan aqad nikah, seperti Kakek Husein dan Bibi Afra, tak terkecuali Zulaikha yang juga datang karena permintaan Tareeq. Rasanya ia seperti tamu tak di undang di ruangan itu, pasalnya tak ada seorang pun yang mau mengajaknya berbicara, bahkan kehadirannya seperti tak terlihat oleh mereka.


"Baiklah, karena semua keluarga sudah hadir, maka langsung saja kita mulai aqadnya, untuk putriku tercinta, Qifty, bagaimana? Apa kamu sudah siap, Sayang?" tanya sang ayah yang menghampiri putrinya di ruang yang bersebelahan dengan tempat aqad.


Sebagaimana kebiasaan keluarga Qifty saat menikah, tempat perempuan dan laki-laki di pisah. Mereka berada di rumah yang sama tapi di batasi oleh dinding, sehingga baik mempelai pria maupun wanita tak bisa saling melihat satu sama lain.


"Siap, Ayah," jawab Qifty dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya.


"Baiklah, kalau begitu tunggulah di sini dan dengar suamimu menikahimu," ujar sang ayah, kemudian pergi menuju tempat Tareeq.


"Aqad nikah akan segera di mulai, bagaimana? sudah siap Tareeq?" tanya pria paruh baya itu menyodorkan mikrofon kepada calon menantunya.


"Maaf, sebelumnya saya ingin menjelaskan jika saya adalah pria yang sudah beristri," ujar Tareeq, membuat keluarga di rumah itu ada yang terkejut karena baru tahu, dan ada yang hanya menganggukkan kepala karena sudah tahu.


"Saya akan jelaskan, saya sangat mencintai istri saya saat ini, dan bagaimana pun keadaannya, saya tidak akan menduakannya." Kini suara riuh mulai terdengar saling bersahutan di rumah itu.


"Tareeq! Apa maksudmu? Jangan bercanda kamu!" ujar ayah dari Qifty dengan nada sedikit tinggi karena begitu terkejut.


Begitu pun dengan Qifty yang kini terdiam mencerna perkataan calon suaminya itu, senyuman yang sejak tadi menghiasi wajah cantiknya kini hilang bagai disapu ombak.


"Saya tidak bercanda, Pak. Saya tidak sedang bercanda, dan saya tegaskan sekali lagi, SAYA TIDAK AKAN MENDUAKAN ISTRIKU, itu artinya saya tidak akan menikahi Qifty," tegas Tareeq seraya menatap Kakek Husein yang juga terkejut.


"Kurang ajar kau Tareeq!" hardik pria paruh baya itu hendak melayangkan tangan ke arahnya tapi tak mengenai pria itu karena ia sempat menghindar.


"Tareeq, apa kamu tahu, apa akibatnya jika kamu melakulan ini? Nyawa adikmu bisa tidak selamat." Qifty kali ini berdiri di tengah keluarga laki-laki dengan tatapan penuh emosi dan sendu.

__ADS_1


"Karena ini aku tidak pernah berpikir akan menikahimu, Qifty. Bagaimana bisa aku menikahi wanita yang menjadikan nyawa adikku sebagai permainan untuk mengancamku?"


"Tareeq, anggap saja itu usahaku untuk meluluhkan hatimu, apa kamu tidak mengerti betapa aku sangat mencintaimu sejak dulu?"


Tareeq tertawa sumbang mendengar alasan Qifty. "Kalau begitu anggap saja ini adalah balasan untukmu atas perbuatanmu yang begitu licik mengambil semua stok sel punca tali pusat yang cocok untuk Nameera agar bisa menyudutkanku."


"Tareeq!" teriak Qifty dengan suara bergetar.


"Aku mohon maaf untuk semua ketidaknyamanan ini, tapi kamu harus tahu, jika kamu licik, aku bisa lebih licik darimu," ujar Tareeq.


"Oke jika itu maumu, aku tidak akan membiarkan adikmu melakukan operasi itu," ancam Qifty kembali.


Lagi-lagi Tareeq di buat tertawa mendengar ancaman yang sudah membuatnya begitu muak. "Sayangnya, Nameera baru saja melakukan transplantasi dengan lancar tanpa gangguan apa pun," ujar pria itu, membuat Qifty semakin terkejut.


"Aa-apa? Bagaimana bisa?" tubuh wanita itu seketika luruh ke lantai, hilang sudah


satu-satunya cara untuk mengancam pria itu.


"Ali, lihat baik-baik video ini dan pelajari semua yang kamu lihat, aku tahu kecerdasanmu di atas rata-rata, memahami hal seperti ini adalah hal yang mudah bagimu."


Tareeq memperlihatkan sebuah video yang ia ambil saat memasuki lab tempat penyimpanan sel punca tersebut. Di sana menampilkan video di sekitar lab hingga jalan apa saja yang ia lalui menuju lab, serta tata cara yang di gunakan untuk masuk ke sana. Bahkan di video itu, Tareeq memperjelas tulisan di tabung yang menjadi tempat sel punca itu disimpan.


"Pak, apa aku juga harus mempelajari wanita yang ada di dalam video ini?" tanya Ali saat melihat Qifty di dalam video itu.


"Terserah jika kau ingin menikahinya, intinya aku memasukkannya ke video itu agar dia tidak protes atau curiga," ujar Tareeq.


"Baiklah, setelah ku pelajari, apa yang harus ku lakukan?" tanya Ali lagi.


"Berpura-puralah menjadi laboran penanggung jawab di sana selama beberapa hari lalu ambil sel punca itu dan aku akan membayarnya langsung ke rekening Qifty, aku juga akan meminta dokter penanggung jawab Nameera untuk mengatur jadwal transplantasi secara rahasia jika keadaannya sudah membaik dan mendapatkan penanganan khusus sebelum transplantasi."


"Bukankah sudah ada laboran di sana?" bagaimana jika mereka curiga karena penanggung jawab lab yang berubah?"

__ADS_1


"Tenang saja, biar aku yang mengurus itu," tukas Tareeq.


Usai mengatur rencana dengan Ali, Tareeq dan beberapa timnya membawa penanggung jawab lab itu ke sebuah tempat yang tidak di ketahui siapapun. Sementara Ali mulai melancarkan aksinya sebagai penanggung jawab lab, ia di rias sedemikian rupa hingga wajahnya mirip dengan penaggung jawab lab yang asli saat memakai kacamata dan masker.


"Aku bersumpah akan melaporkan kalian kepada polisi karena telah menculikku," ancam penanggung jawab lab tersebut dengan emosi yang memuncak.


"Silahkan saja, jika itu terjadi maka kau yang akan masuk penjara lebih dulu karena telah bersekongkol dengan Qifty melakukan sebuah kecurangan demi obsesinya, kau tidak mau kan adik satu-satumu hidup sebatang kara?" ujar Tareeq sembari menyeringai, membuat laboran itu seketika diam seribu bahasa.


Ya, Tareeq tentu saja sudah memeriksa seluruh latar belakang mereka yang terlibat dalam kelicikan Qifty. Dengan mengetahui seluruh latar belakang mereka, maka ia bisa mempelajari kelemahan mereka.


Selama kurang lebih dua minggu Ali menyamar sebagai laboran, akhirnya ia mendapat kabar jika Nameera sudah siap untuk melakukan transplantasi. Segera Ali menjalankan aksinya, dan tepat malam hari sebelum pernikahan Tareeq, Nameera telah selesai dengan transplantasinya dan kini ia berasa di ruang ICU.


Hanya ibu Ammara yang tahu akan rencana itu karena ia yang selalu menjaga Nameera, mau tidak mau Ali harus menjelaskan kepadanya.


*Flashback off*


"Bukankah itu namanya mencuri Tareeq?" tanya Qifty dengan suara bergetar.


"Aku tidak mencuri karena aku membayarnya langsung ke rekeningmu, bahkan lima kali lipat dari biaya yang sudah kamu keluarkan, jadi tentu sangat menguntungkan untukmu. Lagi pula aku tidak akan melakukan itu jika aku tidak dalam keadaan terpaksa karena ancaman darimu," jelas Tareeq, membuat tubuh Qifty langsung luruh ke lantai.


"Jadi uang yang kamu kirim itu ....?" Pertanyaan Qifty tak mampu ia lanjutkan.


"Ya, itu bukan uang pernikahan kita, tapi uang untuk sel punca itu," jelas Tareeq, semua keluarga kembali riuh di rumah itu.


"Aku pamit," ucap Tareeq menghampiri Kakek Husein dan Zulaikha untuk membawanya pergi keluar dari rumah itu.


"Tunggu Tareeq!" teriak ayahnya Qifty.


"Kamu tahu? Apa yang kamu lakukan ini bisa saja membuatku membatalkan proyek kerja sama kita?" ujar pria paruh baya itu mengingatkan.


"Ya, aku tahu, Pak. Tapi lebih baik aku kehilangan proyek itu dari pada kehilangan istri yang sangat ku cintai ini," jawab Tareeq sembari menatap lekat bola mata Zulaikha yang sudah dipenuhi oleh air mata.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2