Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Memiliki Dua Istri?


__ADS_3

"Halo, assalamu 'alaikum, Romi. Apa kamu punya kenalan yang ahli dalam pencarian orang?" Zulaikha saat ini sedang melakukan panggilan telepon dengan temannya di Indonesia.


"Wa'alaikum salam, pencarian orang hilang maksudmu?" tanya Romi di seberang telepon.


"Bukan, adik iparku membutuhkan donor sumsum tulang belakang, tapi saudara kandungnya malah tidak cocok, apa kamu bisa membantuku mencari seseorang yang cocok menjadi pendonor?" tanya Zulaikha lagi.


"Aku punya teman yang ahli men7cari data orang, tapi aku tidak yakin apa dia bisa membantumu mencari pendonor," jawab Romi sedikit ragu.


"Berikan nomornya padaku," pinta Zulaikha.


"Dulu dia teman SMAku, namanya Billy, tapi aku tidak memiliki nomornya karena dia hanya dekat dengan satu orang, namanya Akmal, aku akan berikan nomor Akmal dan kamu bisa menghubungi dia."


"Oke, kirimkan nomornya sekarang, terima kasih Rom, assalamu 'alaikum." Zulaikha segera mengakhiri panggilannya.


Tak lama setelah itu, nomor teman Romi yang bernama Akmal berhasil ia dapatkan. Tanpa menunda waktu lagi, Zulaikha langsung menghubunginya dan tak membutuhkan waktu lama, ia sudah bisa menyampaikan masalahnya kepada Akmal yang kebetulan saat itu sedang berada di tempat yang sama dengan Billy.


Zulaikha berbalik menatap Nameera yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Saat ini hanya mereka berdua yang berada di kamar itu, Kakek Husein dan Tareeq sedang melaksanakan sholat dzuhur di masjid.


Gadis itu duduk tepat di samping tepat tidur adik iparnya, lalu ia menggenggam dengan lembut tangan gadis itu. "Kamu kuat Nameera, bertahanlah, aku akan berusaha menemukan pendonor untukmu," lirihnya. "Meski kemungkinan peluang untuk menemukannya sangat kecil," lanjutnya dalam hati.


Suara pintu kamar yang terbuka seketika mengalihkan perhatian Zulaikha. Wajah gadis itu langsung berubah serius saat melihat kedatangan Bibi Afra dan wanita yang bernama Qifty, ia berdiri menyambut kedatangan dua wanita itu.


"Di mana Tareeq dan ayahku?" tanya Bibi Afra dengan begitu angkuh.


"Mereka sedang sholat di masjid, Bibi," jawab Zulaikha.


"Jangan panggil aku bibi karena aku bukan bibimu," ketus wanita paruh baya itu sembari mengajak Qifty untuk mendekat ke tempat tidur Nameera.

__ADS_1


"Minggir kamu! Qifty yang lebih cocok berada di sini karena dia adalah dokter," seru Bibi Afra membuat Zulaikha harus berpindah ke sisi tempat tidur yang lain.


"Duduklah di sini, saat Tareeq datang perlihatkan kepadanya bahwa betapa pedulinya kamu kepada Nameera," bisik Bibi Afra, membuat Qifty mengangguk.


"Dan kamu, ngapain kamu berdiri di situ? Sana duduk di sofa!" titahnya.


Mau tidak mau, akhirnya Zulaikha duduk di sofa sembari memperhatikan apa yang dilakukan oleh kedua wanita beda usia itu. Tak lama kemudian, pintu kamar itu kembali terbuka, Kakek Husein dan Tareeq memasuki kamar itu dan keduanya dibuat sedikit terkejut dengan kedatangan Bibi Afra dan Qifty. Namun, keduanya tak ingin menegur, mereka ikut duduk di sofa bersama Zulaikha, di mana Kakek Husein duduk di tengah.


Qifty tampak mengusap lembut tangan Nameera yang masih tertidur, sementara Bibi Afra sedikit bergeser agar apa yang dilakukan gadis itu dapat dilihat oleh Tareeq.


"Tareeq, lihatlah Qifty, dia sangat perhatian kepada adikmu, dia juga adalah dokter, tentu dia bisa menjaga dan merawat Nameera dengan baik," ujar Bibi Afra, membuat Tareeq hanya menganggukkan kepala dengan wajah datar.


"Tidak seperti dia, adik iparnya sakit, tapi malah duduk santai di sofa." Bibi Afra menunjuk Zulaikha sembari tersenyum meremehkan, membuat gadis itu mengerutkan keningnya.


"Oh, jadi ini tujuannya menyuruhku duduk di sini," batin Zulaikha yang mulai memahami tujuan kedatangan mereka. "Baiklah aku akan mengikuti permainan mereka," lanjutnya dalam hati.


"Sejauh ini, keadaan Nameera sudah lebih baik, selama kondisinya selalu dipantau dan obatnya diminum secara teratur," jelas Qifty.


"Oh, syukurlah kalau begitu, aku beruntung bisa mengenalmu, Nak, kamu baik dan cerdas, sangat cocok menjadi istri keponakanku, bagaimana Tareeq?" tanya Bibi Afra, membuat pria itu langsung bangkit dari duduknya.


"Qifty, bisa kita bicara?" Wajah pria itu tampak begitu serius lalu segera keluar dari kamar.


Qifty menatap Bibi Afra yang menganggukkan kepala ke arahnya lengkap dengan senyuman. Gadis itu kemudian berjalan menuju pintu sambil melirik ke arah Zulaikha dan melemparkan senyuman merehkan.


Setelah Qifty keluar, Bibi Afra langsung duduk di samping Zulaikha yang lebih memilih menundukkan kepala.


"Kamu lihat? Sepertinya akal sehat Tareeq sudah mulai terbuka," cetus wanita paruh baya itu, tapi sama sekali tak ditanggapi oleh Zulaikha.

__ADS_1


"Apa yang kamu rencanakan sekarang Afra? Hentikan semua omong kosongmu!" tegur Kakek Husein kepada wanita paruh baya itu.


"Aku tidak sedang membuat omong kosong Ayah, aku hanya memberikan kebebasan kepada Tareeq untuk memilih yang terbaik, dan lihat, sepertinya setelah melalui beberapa usaha akhirnya cucu tertua ayah itu sudah bisa menentukan pilihannya," ungkap Bibi Afra seraya melirik Zulaikha yang tampak biasa saja.


"Sejauh ini, ayah tidak pernah melihat gadis yang begitu tulus menyayangi Nameera selain Zulaikha, tak terkecuali kamu yang jelas-jelas adalah Bibinya."


"Ayah, kenapa sekarang Ayah lebih membela gadis miskin ini dari pada putri ayah sendiri?" wanita paruh baya itu menunjuk tepat di depan wajah Zulaikha.


"Ayah tidak membela siapa pun, ayah hanya membela yang benar," sanggah Kakek Husein.


Keduanya berbicara dengan bahasa Inggris sehingga membuat Zulaikha mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.


"Kak, Zul," panggil Nameera dengan suara lemahnya, membuat Zulaikha segera beranjak dari sofa menuju samping tempat tidur gadis itu.


"Kamu lihat Afra, bahkan dalam kondisi seperti ini, Nameera justru memanggil nama Zulaikha, bukan ayah atau pun Tareeq, bukankah itu sudah cukup untuk menggambarkan ketulusan dan kebaikannya?" lirih Kakek Husein dengan bahasa Arab, membuat wanita paruh baya itu mendengus.


***


Sementara itu di lorong rumah sakit yang tidak terlalu ramai tapi juga tidak sepi, Tareeq tampak berbicara serius dengan Qifty.


"Bukankah sudah ku katakan waktu itu di hadapan ayahmu bahwa aku sama sekali tidak tertarik memiliki dua istri? Kenapa kamu masih saja datang untuk menghasut Bibiku?"


Pria itu benar-benar tidak habis pikir dengan wanita di hadapannya ini. Sudah sangat jelas kemarin dia menolak tawaran dari ayah Qifty untuk menjadikan putrinya sebagai istri kedua, tapi masih saja berusaha mengganggu rumah tangganya.


Yang benar saja, memiliki dua istri? Satu istri saja bisa membuat ayahnya drop hingga meninggal, bagaimana dengan dirinya jika memiliki dua istri? Sungguh Tareeq tak akan pernah sanggup membayangkannya.


"Tapi Tareeq, bukankah hati manusia itu bisa berubah? Mungkin saat ini hatimu belum tertarik padaku, tapi bisa saja suatu hari nanti kamu mulai tertarik dan ingin menikahiku, aku hanya sedang berusaha membuatmu berpikir mana yang layak dan tidak layak kamu jadikan istri."

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2