
Siang yang cerah, matahari sedikit terik dengan embus angin yang cukup menyejukkan. Qifty kembali mengunjungi sang ibu setelah beberapa hari semenjak kunjungan terakhirnya.
Ada yang berbeda dari suasana yang biasa ia rasakan. Sepi, tak ada lagi yang menyapanya di tempat itu sebagaimana yang hari-hari yang lalu. Sejenak Qifty menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah di mana seorang pria sering berdiri dan menyapa kedatangannya.
Tak ada pria itu, hanya ada pria lain yang tampak acuh dengan kehadirannya. Qifty mengedikkan bahunya tak ingin pusing lalu segera menuju ke tempat bertemunya ia dengan sang ibu. Mungkin pria itu sedang memiliki tugas di tempat lain, begitu pikirnya.
Beberapa hari kemudian, Qifty hendak kembali mengunjungi sang ibu. Namun, lagi-lagi ia tak menemukan pria yang sering menyapa. Rasa penasaran akan pria itu kini mulai menghampiri pikirannya, tapi untuk saat ini ia masih tetap mencoba untuk mengabaikannya.
Hingga beberapa bulan berlalu, Qifty masih setia mengunjungi sang ibu. Namun, semakin ke sini, ia semakin dibuat penasaran dengan ketidakberadaan pria itu. Pria yang begitu menjengkelkan menurutnya, tapi saat dia tidak ada, tiba-tiba suasananya terasa berbeda.
Ya, dia adalah Khalid, pria yang terakhir kali dibentak dan dicap mengemis terima kasih oleh Qifty. Ingin sekali rasanya wanita itu menanyakan keberadaan pria itupada rekan kerjanya, tapi ego dalam mempertahankan sikap arogannya masih mendominasi.
"Dia sudah pindah tugas ke kota lain." Suara seorang wanita paruh baya terdengar memasuki tempat di mana Qifty berdiri dan memandangi tempat Khalid biasanya berdiri dan menyapanya.
"Bibi Afra?" lirih Qifty, gadis itu perlahan mulai menerima wanita paruh baya itu kembali dan melupakan masa lalunya.
"Bibi mau menemui Ibumu, kamu jangan menghalangi Bibi," ujar Bibi Afra yang mengira bahwa Qifty akan kembali mencegahnya.
Bagaimana tidak, karena alasan itu, selama ini Bibi Afra mengunjungi sang sahabat di waktu setelah Qifty mengunjunginya, dan kali ini wanita paruh baya itu sengaja datang di hari yang sama dengan Qifty untuk menyampaikan berita kepindahan Khalid.
"Siapa juga yang mau menghalangi Bibi," balas Qifty.
"Apa kamu sedang mencari Khalid?" tebak Bibi Afra.
"Tidak, Bibi jangan sok tahu deh," kilah Qifty. Bibi Afra menahan senyumnya saat Qifty mengatakan tidak, tapi matanya seolah mencari-cari seseorang.
"Bibi sudah bilang, Khalid pindah ke kota lain. Dia berpindah tugas ke Dukhan, jika kamu penasaran, kamu bisa langsung memeriksanya ke kantor polisi Dukhan," ujar Bibi Afra lagi lalu segera pergi menemui sahabatnya dan meninggalkan Qifty yang masih termangu di tempat.
"Dukhan?" lirih Qifty pelan.
__ADS_1
***
Perut Zulaikha kini semakin membesar, untuk beraktivitas sehari-hari saja ia mulai kesulitan. Terang saja, usia kandungannya kini sudah memasuki 38 minggu. Di saat-saat inilah ia selalu ingin bersama sang suami. Bahkan saat bekerja, Zulaikha selalu ikut ke kantornya.
Beruntung, di ruang kerja Tareeq, terdapat kamar pribadi yang bisa ia tempati untuk beristirahat jika ia sudah mulai lelah duduk. Seperti saat ini, ia sedang beristirahat di kamar itu dengan berbaring di atas kasur dan kaki yang sedikit ia tinggikan menggunakan bantal. Duduk terlalu lama, membuat kakinya sedikit membengkak dan tidak nyaman.
Sementara di luar, Tareeq dan Ali beserta beberapa pimpinan divisi sedang melakukan meeting di ruangan milik Tareeq. Terbukti dari suara sang suami yang terdengar begitu berkarisma dalam memimpin rapat itu.
"Aduh." Zulaikha sedikit meringis saat ia merasakan sebuah tendangan kecil dari dalam perutnya.
"Assalamu 'alaikum baby F, kamu lagi ngapain , Sayang? Makin kuat aja tendangan kamu, sehat-sehat selalu yah, tidak lama lagi kita akan bertemu, semoga Allah menjaga kita selalu yah, Sayang. I love you," ujar Zulaikha berbicara kepada anaknya yang berinisial F itu.
Semenjak memasuki usia kandungan 38 minggu, Zulaikha sudah mengalami beberapa kali kontraksi, hanya saja menurut dokter, itu adalah kontraksi palsu yang berarti kemungkinan menandakan kepala bayi sudah mulai memasuki panggul.
Hal itu membuat Zulaikha tampak tenang-tenang saja, meski sejak tadi pagi ia mulai merasakan kontraksi lagi. Wanita itu hanya mengaggapnya sebagai kontraksi palsu karena hari perkiraan lahirannya masih ada dua minggu lagi.
Dengan berusaha keras, Zulaikha baranjak dari tempat tidur dan berjalan pelan sembari menahan rasa sakitnya menuju pintu untuk memanggil sang suami. Dibukanya sedikit pintu kamarnya dan terlihat sang suami masih fokus memperhatikan materi yang dipresentasikan oleh pegawainya.
"By," panggilnya kepada sang suami.
Satu panggilan, dua panggilan belum membuat sang suami sadar, hingga saat panggilan ketiga, barulah Tareeq sadar dan langsung menghampiri Zulaikha.
"Ada apa, Sayang?" tanya pria itu sedikit khawatir karena melihat wajah sang istri yang sudah mulai memucat.
"Perutku sakit sekali," jawab Zulaikha dengan suara lemahnya karena menahan kontraksi yang semakin lama semakin terasa sakit.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Tareeq langsung menggendong Zulaikha dan membawanya keluar kamar.
"Ali, tolong ambil alih rapatnya, sepertinya istriku akan melahirkan," titah Tareeq yang langsung mendapat anggukan dari Ali.
__ADS_1
Ali rupanya langsung menghubungi Nameera untuk memastikan apakah istrinya itu juga akan melahirkan atau tidak, sekaligus memberitahukan kepada sang istri jika kakak iparnya akan melahirkan.
***
Sudah beberapa jam berlalu sejak Zulaikha di bawa ke rumah sakit. Kini wanita itu siap untuk melahirkan anaknya setelah dokter yang memeriksanya mengatakan jika ia sudah mengalami pembukaan lengkap.
"Bismillah, Sayang. Semoga Allah memudahkan persalinan kamu yah. Aku akan di sini bersamamu, jika kamu sangat kesakitan, aku rela kamu menarik rambut atau menggigit tanganku, asal sakitmu bisa tersalurkan, aku tidak ingin kamu merasakan sakit sendirian," bisil Tareeq di dekat telinga Zulaikha yang sejak tadi sudah menahan sakit.
Setelah mendengar perkataan sang suami, terang saja wanita itu langsung mengalihkan tangannya yang sejak tadi mencengkeram seprei tempat tidurnya ke rambut Tareeq. "Maafkan aku, By," lirihnya.
"Tidak apa-apa, Sayang," balas Tareeq dengan wajah yang memerah karena ikut menahan sakit, meski tak seberapa dibanding sakit yang dirasakan sang istri.
Dokter mulai memberikan instruksi kepada Zulaikha untuk mulai berjuang mengeluarkan sang anak. Keringat semakin gencar membasahi pelipisnya, bahkan wajah putih Zulaikha ikut memerah seiring perjuangannya untuk melahirkan seorang anak.
Sementara Tareeq yang sejak tadi mendapat tarikan rambut dari Zulaikha kini mulai menutup mulutnya kala Zulaikha menggigit tangannya agar ia tak mengeluarkan suara karena kesakitan. Namun, seberapa keras usahanya menahan suara, pada akhirnya suara pria itu terdengar juga.
"Semangat, Sayang, aku bersamamu, aaaaaaaaaa."
"Tidak apa-apa, ini tidak sakit, aaaaaaaa."
Dokter dan suster yang melihat Tareeq menjerit sembari menyemangati justru menahan tawa karena tingkah pria itu malah terlihat lucu di mata mereka.
"Oeeeek oeeek."
Suara pria yang tadinya menggema di ruangan itu seketika berganti menjadi suara tangisan bayi yang begitu melengking. Rasa sakit yang tadinya di rasakan oleh Zulaikha maupun Tareeq seolah lenyap seketika, haru, lega, dan bahagia itulah yang mereka rasakan saat ini.
"Assalamu 'alaikum Baby Fatih Al-Barak," lirih Zulaikha dan Tareeq bersamaan dengan senyuman yang merekah di wajah lelah mereka.
-Bersambung-
__ADS_1