Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Permintaan Maaf Qifty


__ADS_3

Pagi harinya usai sarapan, Zulaikha kini tertidur pulas. Bukannya malas, hanya saja semalaman ia hampir tidak tidur karena mengurusi Baby Fatih yang sedikit rewel. Sudah menjadi hal biasa bagi sebagian bayi, yang lebih suka tidur pada siang hari dan bangun pada malam hari.


Seperti saat ini, usai Baby Fatih dimandikan oleh Ibu Ammara, ia kembali tertidur pulas di box bayi yang telah disediakan, sementara Tareeq m kini ikut beristirahat karena ia juga ikut begadang semalaman bergantian dengan Ibu Ammara. Sedangkan Nameera, Ali, Bibi Afra, dan Kakek Husein sudah kembali ke mansion malam tadi.


Hingga matahari semakin tinggi, suara tangis Baby Fatih membangunkan Zulaikha. Dengan dibantu oleh Ibu Ammara, wanita itu kembali menyusui Baby Fatih. Tareeq yang berdiri disamping Ibu Ammara tak kuasa menahan haru tiap kali melihat anaknya.


Ceklek


Suara khas pintu terbuka seketika mengalihkan atensi mereka. Seorang wanita dengan sebuket buah sedang berdiri dengan tatapan canggung di dekat pintu. Tak ada sama sekali suara yang keluar dari mulut Zulaikha, Tareeq, dan Ibu, membuat suasana di ruangan itu semakin terasa canggung.


Perlahan wanita itu berjalan mendekat ke arah Zukaikha yang kini telah selesai menyusui Baby Fatih, ia segera membawa sang anak ke dalam gendongannya seraya menatap kedatangan wanita yang dulu ingin merusak rumah tangganya, ya dia adalah Qifty.


Ada rasa was-was terhadap Qifty, tapi melihat buket buah yang ada di tanganya, Zulaikha mencoba berpikir positif. Tareeq yang menyadari Qifty semakin mendekati istrinya akhirnya maju ke depan Zulaikha dan menjadikan dirinya sebagai tameng jika saja wanita itu hendak melakukan hal yang buruk pada istri dan anaknya.


Qifty tersenyum kecut mendapati kewaspadaan Tareeq. "Tenang saja, aku tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan kalian, aku hanya ingin menjenguk istrimu dan juga bayimu. Qifty menatap Zulaikha dan Baby Fatih secara bergantian.


"Apa maumu kali ini?" tanya Tareeq ketus.


Tak langsung menjawab, Qifty meletakkan buket buah yang sejak tadi ia pegang ke atas nakas yang berada di samping tempat tidur Zulaikha.


"Aku ingin minta maaf atas semua yang pernah kulakukan kepada kalian, begitu juga dengan yang pernah Ibuku lakukan kepada kalian." Kalimat itu akhirnya berhasil keluar dari mulut Qifty setelah sekian lama ia memendamnya.


Zulaikha diam menatap sorot mata Qifty, benar saja, tak ada kebohongan dari setiap perkataannya. Sebaliknya, ia melihat kesedihan dan penyesalan dari sorot mata wanita itu.


Setelah berpikir beberapa saat, Zulaikha akhirnya memantapkan diri untuk mulai berbicara, membuang semua rasa khawatir yang mengganggu pikirannya.


"Jika memang kamu sudah menyesali perbuatanmu, dengan senang hati kami akan menerima permintaan maafmu."


"Tapi, Sayang ...," protes Tareeq, tapi terpotong oleh perkataan Zulaikha.

__ADS_1


"By, aku hanya ingin berpikir positif, aku ingin mencoba mempercayai perkataan Qifty, tak ada salahnya kita memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi lebih baik."


"Tapi, Sayang, begaimana jika dia menyakiti kamu lagi?" Tareeq kini melemparkan tatapan tajam kepada Qifty.


"Tidak, aku berjanji itu tidak akan terjadi lagi, aku sudah bertekad memulai kehidupanku yang baru tanpa merugikan orang lain dan tanpa menyakiti hati orang lain," jelas Qifty menatap sendu Tareeq dan Zulaikha bergantian.


"Jika kalian tidak percaya, aku bahkan rela berlutut di hadapan kalian untuk membuktikan keseriusanku." Qifty hendak berlutut, tapi Zulaikha dengan cepat mencegahnya.


"Tak perlu, aku percaya padamu. Sekarang, kemarilah dan lihat keponakanmu ini," panggil Zulaikha, membuat senyuman tipis terbit di wajah cantiknya.


Ibu Ammara yang melihat wajah Tareeq masih kesal dan waspada, akhirnya menarik tangan putranya dan membawanya ke dekat wanita paruh baya itu untuk memberikan ruang kepada Qifty melihat cucunya.


"Masya Allah, dia sangat tampan," puji Qifty menatap lekat Baby Fatih. "Semoga kelak dia menjadi anak yang baik seperti Ibunya dan tegas seperti Ayahnya," lanjutnya tersenyum.


"Aamiiin, terima kasih doanya," ucap Zulaikha ikut tersenyum bahagia.


Usai menuntaskan semua masalahnya dengan Zulaikha maupun Tareeq, Qifty kini berjalan keluar. Namun, tanpa di sengaja, wanita itu menabrak tubuh tinggi dan kekar seorang pria yang sejak tadi berdiri di depan kamar.


"Ternyata kamu sudah berubah yah, tidak ketus lagi."


Langkah kaki Qifty seketika terhenti kala mendengar suara pria yang sangat ia kenali dan sudah lama ingin ia dengar.


Perlahan wanita itu berbalik ingin menatap pria yang sudah beberapa bulan ini mengganggu pikirannya. Jantungnya seketika berdegup kencang saat kedua manik mata mereka saling bertemu.


Benar, pria itu adalah Khalid, pria yang dulu selalu membuatnya merasa kesal, tapi entah kenapa selama beberapa bulan terakhir ia justru ingin melihatnya walau hanya sebentar.


Ingin sekali ia menanyakan kabar pria itu tapi lidahnya justru terasa kelu dan begitu berat.


"Apa kabar, Qifty? Lama tidak berjumpa," ucap Khalid sedikit canggung.

__ADS_1


"Baik." Meski hanya satu kata, Qifty telah berusaha keras untuk mengeluarkan suaranya.


Suasana canggung begitu terasa saat ini, tak hanya Qifty, bahkan Khalid pun merasakan hal yang sama. Ia ingin masuk saja ke kamar rawat Zulaikha untuk menghilangkan kecanggungan itu, tapi di sisi lain ia juga tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melihat wanita yang selama beberapa bulan ini selalu menggaggu pikirannya.


"Ap-apa boleh aku bicara sebentar?" Entah mendapat keberanian dari mana, akhirnya Qifty mulai berbicara kembali, meski sedikit tergagap.


"Silahkan." Khalid mempersilahkan.


"Aku ... aku ingin minta maaf atas perkataanku waktu itu, sepertinya perkataanku waktu itu sudah menyinggungmu hingga membuatmu pergi," ucap Qifty lirih seraya menundukkan kepala. Sungguh ia tak sanggup menatap lama pria yang ada di hadapannya ini.


Khalid tersenyum bahagia. "Sepertinya aku mulai memahami rencana Bibi Afra waktu itu," batinnya.


*Flashback*


Khalid diam mematung dengan kepala yang tertunduk usai mendengar perkataan Qifty yang cukup menohok hatinya. Bersamaan dengan itu, Bibi Afra yang kebetulan melihat dan mendengar perkataan Qifty langsung menghampiri pria itu.


"Khalid, kamu yang sabar yah, Qifty memang orangnya sedikit arogan, tapi dia aslinya baik," ujar Bibi Afra.


"Tidak apa-apa, Bi. Kalau begitu aku pergi dulu." Khalid kini hendak pergi.


"Apa kamu menyukai Qifty?" tebak Bibi Afra.yang seketika membuat langkah kaki pria itu terhenti tanpa berbalik.


Tanpa.di jawab pun, Bibi Afra sudah mengetahui jawabannya. Ia kembali mendekati Khalid lalu berbicara lirih pada pria itu.


"Ajukan kepindahan tugasmu ke tempat lain yang jauh dari Doha. Jika kamu ingin mengetahui apa Qifty memang tidak menyukaimu atau sebaliknya, menghilanglah secara tiba-tiba dari hadapannya."


Khalid mengerutkan keningnya. "Apa maksud Bibi?" tanya pria itu sedikit bingung.


"Lakukan saja apa yang Bibi katakan, kelak kamu akan mengerti apa maksud Bibi menyuruhmu melakukannya."

__ADS_1


*Falshback Off*


-Bersambung-


__ADS_2