
Hari demi hari terus berlalu, waktu pernikahan antara Nameera dan Ali kini tinggal menghitung hari. Persiapan demi persiapan telah selesai dilakukan, undangan pun telah menyebar.
Setiap calon pengantin yang akan menikah tentu akan merasa bahagia dalam menyambut acara sakralnya, tapi berbeda dengan Nameera, gadis itu justru tampak murung dan tidak bersemangat.
Bukannya Nameera tidak bahagia dengan pernikahannya, ia hanya merasa hampa karena kehilangan sosok kakak perempuan yang selalu mendukungnya selama ini. Bagaimana tidak? Setiap pesan dan panggilan yang dilakukannya tak pernah mendapat balasan.
"Calon pengantin kenapa murung begitu?" Nameera yang sejak tadi duduk sendiri di taman kini berbalik saat mendengar suara bariton seorang pria dari belakangnya.
"Kak Tareeq," ucapnya saat melihat sang kakak tiba dan langsung duduk di sampingnya.
Pria itu tersenyum ke arah Nameera, tapi senyuman itu sangat jelas memperlihatkan keterpaksaan untuk menyembunyikan kesedihan.
"Aku merindukan Kak Zul," jawab Nameera, membuat senyum di wajah pria itu perlahan menghilang. "Kakak juga pasti merindukannya, iya 'kan?" lanjut Nameera bertanya.
Tareeq sejenak diam, tak bisa ia pungkiri, rasa rindunya semakin lama semakin besar dan itu benar-benar menyiksanya hingga saat ini. Sudah beberapa hari berlalu dan selama itu pula ia tak pernah berkomunikasi dengan Zulaikha. Hanya Paman Harun yang menjadi tempatnya bertanya mengenai kabar sang istri.
"Kenapa Kakak diam? Apa kakak tidak merindukan Kak Zul?" tebak Nameera.
"Tanpa menjawab tentu kamu sudah tahu, Dik," ucap Tareeq tersenyum kecut dengan tatapan yang mengarah ke atas untuk mencegah munculnya air mata.
Nameera menatap sendu sang kakak lalu menyandarkan kepalanya di pundak lebarnya. "Aku mengerti perasaan Kakak, dan aku juga mengerti perasaan Kak Zul, kuharap Kak Zul segera membaik, bersabarlah, Kak," ucap gadis itu.
***
Sementara di Indonesia, Zulaikha duduk di dekat jendela kamarnya sambil menatap keluar memandangi anak-anak yang sedang asik bermain di sore hari. Angin yang berembus memasuki jendela membuat kerudungnya bergoyang kesana-kemari.
Tok tok tok
"Nak, boleh bibi masuk?" Zulaikha menoleh ke arah pintu yang masih tertutup lalu segera beranjak untuk membuka pintunya yang selalu dikunci.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu mau membukanya juga, Nak." Bibi Anisa merasa sangat senang karena akhirnya Zulaikha mau membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
Selama ini wanita itu tidak pernah menggubris jika ia atau pun suaminya ingin mengajaknya berbicara. Bahkan saat makan, Bibi Anisa terpaksa meletakkan makanan di depan kamar wanita itu, kadang di makan, tapi lebih sering tidak dimakan.
"Masuk, Bi," ucap Zulaikha mempersilahkan Bibi Anisa masuk.
"Nak, bagaimana keadaanmu? Bibi dan Pamanmu sangat khawatir denganmu," tanya Bibi Anisa.
"Masih seperti ini, Bi," jawab Zulaikha apa adanya.
"Bibi tahu, kamu pasti sangat merasa kehilangan atas semua ini, bibi juga pernah berada di posisi kamu."
Zulaikha menatap sendu Bibi Anisa.
"Nak, jika kamu merasa tertekan dengan keadaanmu, berbagilah, Nak, setidaknya dengan begitu hati dan pikiranmu bisa sedikit lega."
"Bibi tidak memintamu berbagi kepada bibi jika kamu tidak mau, tapi kamu perlu berbagi kepada Allah, Nak."
"Berbagi kepada Allah?" tanya Zulaikha.
"Bagaimana caranya, Bi?"
"Dulu, Mama kamu selalu bilang kepada Bibi saat Bibi berada di posisi kamu. 'Jika kamu memiliki masalah, atau beban di hati dan pikitan, jangan dulu cerita kepada orang lain, tahanlah semuanya hingga waktu sholat tiba, lalu sholatlah dan ceritakanlah semua yang kamu rasakan kepada Allah saat sujud sebagaimana kamu curhat kepada orang di hadapanmu.' Meski hanya dalam hati pengungkapannya, tapi bibi benar-benar merasa tenang setelah itu," jelas Bibi Anisa.
Zulaikha bergeming, ia diam memahami perkataan sang bibi. Benar, selama ini ia hanya sibuk bersedih, sibuk menyalahkan diri sendiri dan sibuk meratapi nasibnya. Tak pernah sekali pun ia berpikir ingin bercerita kepada Allah. Allah memang Maha Tahu tapi Allah juga menyukai hamba yang menjadikanNya tempat berkeluh-kesah.
"Oh iya, Nak. Kenapa kamu tidak pernah mengangkat telepon Tareeq? Kamu tahu, dia sangat mengkhawatirkanmu, beberapa kali ia ingin menemuimu, tapi bibi larang, bibi takut kamu belum ingin bertemu dengan siapa pun."
Zulaikha langsung menoleh ke arah ponselnya yang tersimpan di atas nakas, sudah beberapa hari ini ia tidak pernah memeriksa p benda pipih itu, jika ada telepon ia akan membiarkannya dalam mode diam.
"Apa kamu sengaja mengabaikan setiap panggilannya, Nak?" tanya Bibi Anisa lagi, membuat Zulaikha menundukkan kepala.
Bibi Anisa yang memahami arti diam keponakannya itu hanya bisa membuang napas kasar. "Bibi tidak akan memaksamu untuk kembali ke Qatar, tapi coba pikirkan kembali, Nak. Sudah cukup lama kamu menyendiri seperti ini, cobalah untuk kembali menjalani hidupmu, Nak, ada suami yang selalu menunggumu di sana dengan sabar."
__ADS_1
Usai mengatakan itu, Bibi Anisa pamit keluar dari kamar Zulaikha untuk memberikannya kesempatan untuk berpikir.
"By ...," lirihnya lalu segera mengambil ponselnya di atas nakas.
Zulaikha membuka ponselnya, tapi ternyata sudah lowbatt. Ia menyambungkan ponselnya pada pengisi daya terlebih dahulu lalu kembali membukanya. Wanita itu begitu terkejut saat mendapati begitu banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari Tareeq, Nameera, Ibu Ammara, bahkan dari Kakek Husein.
Hubby : Assalamu 'alaikum, Sayang. Bagaimana keadaanmu? Aku sangat merindukanmu, semoga kamu segera membaik.
Hubby : Assalamu 'alaikum, Sayang. Bagaimana kabarmu, semoga Allah menjaga kesehatanmu selalu, aku mencintaimu.
Hubby : Assalamu 'alaikum, Sayang. Bagaimana kabarmu? Apa aku bisa ke situ? Aku tidak akan memaksamu untuk kembali ke Qatar, aku hanya ingin bertemu denganmu, aku sangat merindukanmu, sepertinya aku akan menjadi mayat hidup jika seperti ini terus."
Air mata Zulaikha mengalir setelah membaca sebagian pesan yang di kirim Tareeq. Ia juga sangat merindukan pria itu, hanya saja kesedihannya membuat wanita itu tak memedulikan apa pun selama ini.
Zulaikha kembali melanjutkan membaca pesan dari sang suami lalu membaca pesan dari Nameera, Ibu Ammara dan Kakek Husein. Setelah itu ia berjalan kembali ke jendela dan menatap suasana di luar rumahnya yang penuh canda tawa anak-anak.
"Ya Allah, ampuni hamba yang lemah ini, hamba telah mengabaikan suami hamba, mengabaikan kewajiban hamba sebagai seorang hamba dan sebagai seorang istri."
***
Hari pernikahan Nameera kini telah tiba, gadis itu kini tengah berada di kamar dalam balutan gaun pengantinnya. Ia menatap pantulan dirinya dari cermin yang tampak sangat cantik dan anggun.
Embusan napas kasar beberapa kali terdengar dari bibirnya. Gadis itu bahagia dengan pernikahannya, tapi ia tidak bersemangat karena ketidakhadiran Zulaikha.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ibu Ammara menghampiri sang putri.
"Pernikahan ini membuatku bahagia, Ibu, tapi rasanya tidak lengkap jika kak Zul tidak ada," jawabnya lesu.
"Sabar, Sayang. Kita doakan saja, semoga keadaan Zulaikha bisa segera membaik," ucap Ibu Ammara seraya mengusap lembut pundak Nameera.
"Aku datang kok." Dua wanita beda generasi itu sontak berbalik ke sumber suara dan seketika raut wajah mereka berubah bahagia.
__ADS_1
-Bersambung-