Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Hikmah dari Allah


__ADS_3

Hari sudah malam saat Tareeq dan Zulaikha tiba di rumah mereka setelah mengantarkan Kakek Husein ke mansionnya. Sepanjang perjalanan Zulaikha tidak banyak bicara, ia hanya berani mencuri pandang suaminya itu sesekali.


"Jika ada yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja," ujar Tareeq setelah mendaratkan tubuhnya di sofa ruang keluarga dan diikuti Zulaikha yang duduk di sampingnya.


"Apa sejak awal kamu sudah merencanakan ini?" tanya Zulaikha akhirnya setelah memendam berbagai pertanyaan di dalam pikirannya sejak tadi.


"Iya, maaf karena aku tidak memberitahukanmu, seperti yang tadi aku sudah jelaskan di mobil, aku hanya ingin rencanaku berjalan lancar tanpa ada satu pun yang curiga.


"Apa itu sebabnya kamu cuek sama aku sampai selalu terlambat pulang?" tanya Zulaikha lagi dan mendapat anggukan dari sang suami.


"Lalu apa Nameera akan sembuh?" tanyanya pelan.


"Kita serahkan semuanya kepada Allah, kita sudah berusaha, sisanya kita tawakkal pada Allah." Kali ini Tareeq memutar tubuhnya menghadap ke arah sang istri, membuat Zulaikha merasa sedikit gugup.


"Terima kasih," cicit Zulaikha, mendapat Tareeq mengernyitkan alisnya.


"Untuk apa?" tanya pria itu.


"Untuk keputusan akhir yang tidak menikahi Qifty, aku sungguh takut jika itu sampai terjadi, hubungan kita berdua saja belum begitu baik, tapi malah ditambah dengan kehadiran orang ketiga," ungkap Zulaikha jujur.


Kali ini tak ada respon apa pun dari Tareeq selain tatapan yang membuatnya semakin salah tingkah.


"Emm, aku ambil minum dulu kalau gitu, kamu pasti haus dan lelah," cicit gadis itu beralasan dan hendak beranjak, tapi Tareeq langsung menarik tangannya hingga ia terduduk di pangkuan Tareeq, membuat hadis itu refleks menahan napas sejenak.


"Ma-maaf, aku tidak sengaja," lirih Zulaikha seraya berusaha bangkit, tapi tangan kekar Tareeq justru melingkar di pinggangnya.


Jantung Zulaikha semakin berpacu cepat hingga membuat wajahnya bersemu merah. Jangankan menatap mata Tareeq, mengangkat wajahnya saja sepertinya ia sudah tidak sanggup.


"Kamu di sini dulu, urusanku dengan Qifty dan Nameera sudah beres, tapi urusanku denganmu belum beres," ujar Tareeq yang kali ini berbicara begitu lembut di samping wajah Zulaikha.


"U-urusan apa? Seingatku kita tidak memiliki urusan yang perlu diselesaikan denganmu." Zulaikha bertanya tanpa mengangkat wajahnya sama sekali.

__ADS_1


"Jika berbicara dengan suami, tataplah matanya agar aku bisa memberitahumu urusan apa yang belum kita selesaikan."


Zulaikha perlahan mengangkat wajahnya dan menatap bola mata berwarna cokelat yang sangat indah dari sang suami, membuat degupan jantungnya semakin tak terkendali.


"Urusan apa maksud kamu?" tanyanya Zulaikha.


Tareeq tidak lantas menjawab, ia mendekatkan wajahnya lalu mengecup kening Zulaikha, kemudian kembali menatap gadis di pangkuannya itu.


"Aku belum pernah memberikan ungkapan cinta sebelum ini, jadi aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan cinta yang tepat." Tareeq menghentikan perkataannya lalu merogoh saku di bagian dalam jas yang masih ia kenakan, kemudian dengan hati-hati ia mengeluarkan setangkai bunga mawar merah yang sudah sedikit layu.


"Yah, sudah layu," lirih Tareeq tidak bersemangat. "Maaf Zulaikha, aku ingin mengungkapkan cinta seperti di film-film romantis, tapi bungaku malah layu, maafkan aku," lanjutnya tertunduk malu.


Zulaikha melihat ke arah bunga itu dan mengambilnya dari tangan Tareeq. Diciumnya bunga itu seraya memejamkan mata. "Bunganya cantik dan wangi, aku suka," ucapnya, membuat Tareeq mengangkat langsung wajah.


"Apa kamu menyukainya?" tanya pria itu dan dijawab anggukan malu-malu oleh Zulaikha.


"Apa itu artinya kamu menerima ungkapan cintaku?" Tareeq kini tampak lebih bersemangat.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Tareeq langsung memeluk sang istri. "Terima kasih, aku sangat mencintai kamu, saking cintanya aku hampir gila karena harus mengabaikanmu selama beberapa hari ini, terima kasih karena sudah bersabar dan tidak menuntut apa pun."


Kedua ujung bibir Zulaikha ikut tertarik membentuk sebuah lengkungan senyuman saat mendengar pernyataan cinta suaminya sendiri yang begitu unik dan sederhana, tapi mampu membuat hatinya menghangat dan merasa begitu bahagia.


"Iya, sungguh sangat sulit mempertahankan pernikahan di tengah masalah seperti kemarin, kata orang cinta memang bisa membuatmu bod0h," ujar Zulaikha.


"Cinta? Apa kamu juga mulai mencintaiku?" tanya Tareeq.


"Aku mencintai Nameera sebagai adikmu." Zulaikha menghentikan kata-katanya sejenak sembari melepas pelukan Tareeq lalu menatap ekspresi wajahnya yang berubah lesu.


"Dan aku mencintaimu sebagai suamiku," lanjut Zulaikha sembari memegang kedua sisi wajah Tareeq yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


Malam ini Zulaikha tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada sang suami, keberaniannya menolak Qifty dan mengungkapkan cinta kepadanya di hadapan orang-orang seolah mampu menambah rasa cinta Zulaikha kepada pria itu.

__ADS_1


Tareeq merapatkan keningnya dengan kening Zulaikha, rasa bahagia sungguh tak bisa ia sembunyikan dari wajahnya. "Terima kasih, Sayang," ucapnya lalu kembali mengecup kening sang istri, lalu menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke kamar utama mereka.


Meski Tareeq sedikit lelah pada awalnya, tapi saat mengingat rencananya yang berjalan dengan sukses, di tambah pengakuan cintanya yang di terima oleh sang istri, membuat lelahnya hilang seketika dan berganti dengan kebahagiaan. Tak ingin kehilangan momen bahagia, malam itu Tareeq membawa sang istri untuk menjemput kebahagiaan baru bersama yang begitu indah, di mana ia dan Zulaikha kini resmi menjadi pasangan suami istri yabg sesungguhnya.


***


Keesokan paginya, Zulaikha dan Tareeq sedang menikmati suasana terbitnya matahari di balkon kamar mereka sembari menikmati secangkir cokelat hangat, sesekali mereka saling bertukar cerita.


"Tareeq, aku pernah mendengar seseorang berkata, saat sebuah masalah datang menghampiri, kadang ia bisa menorehkan luka, tapi di kemudian hari masalah yang pernah menorehkan luka itu justru menjadi pengobat lukanya," tutur Zulaikha.


"Iya, Sayang, itu memang benar. Itu sebabnya jangan membenci takdir buruk karena di balik takdir buruk Allah menyiapkan takdir baik bagi siapa yang bersabar," ujar Tareeq membenarkan.


"Nah, kamu benar, sama halnya dengan yang kamu alami," sambung Zulaikha, membuat pria itu mengernyitkan alisnya.


"Yang aku alami?" ulangnya bertanya.


"Iya, maaf sebelumnya, aku tidak bermaksud untuk menggurui. Aku sudah mendengar cerita dari Kakek Husein, Ibu Ammara dulu memang telah menorehkan luka yang dalam di hati kamu, beliau meninggalkan ayah dan kedua anaknya lalu menikah lagi di Indonesia, Ibu Ammara sendiri telah mengakui kesalahan itu, dan beliau ingin menebus kesalahannya." Zulaikha menatap sang suami yang diam dengan alis yang bertautan.


"Dari kejadian ini, Allah telah menyimpan hikmah besar untuk kamu dan Nameera. Dari masalah itu, Allah menghadirkan Rafif, kita tidak pernah menyangka jika kehadiran Rafif justru menjadi obat bagi Nameera, dan dari masalah itu Allah juga sedang melatih kamu dan Nameera untuk bebesar hati memaafkan kesalahan Ibu Ammara. Nameera sudah bisa menerima dan memaafkannya, sekarang tinggal kamu." Zukaikha kini meraih satu tangan Tareeq dan mengusapnya dengan lembut.


"Aku tidak memintamu memaafkan kesalahannya, itu hak kamu karena kamu memang yang paling terluka di sini. Jujur, Ibu Ammara pernah bilang jika beliau sangat takut dan segan berbicara dengan kamu karena sorot matamu yang sangat memperlihatkan kebencian meski hanya menatapnya sekilas." Zulaikha diam sejenak.


"Kamu suamiku, aku mencintai kamu dan aku ingin kamu hidup dengan baik tanpa ada dendam dan benci yang bersarang dalam hati kamu," tukas Zulaikha.


Tareeq menatap Zulaikha dengan mata yang mulai berkaca-kaca, membuat gadis itu paham dan langsung beranjak dari duduknya lalu memeluk sang suami. Tak lama setelahnya, tubuh pria itu mulai bergetar, makin lama makin terasa getarannya. Zulaikha jelas tahu jika dia saat ini sedang menangis.


"Menangislah, kamu memang harus menangis agar semua beban yang kamu pendam sendiri dalam hati kamu selama ini bisa kamu salurkan." Zulaikha mengusap lembut punggung Tareeq.


Tareeq kini membalas pelukan Zulaikha, bahkan ia memeluknya jauh lebih erat. Hatinya membenarkan perkataan sang istri, di saat dia yang saudara kandung tidak bisa menolong Nameera, Allah hadirkan Rafif sebagai saudara seibu untuk menolongnya.


Memaafkan memang adalah jalan terbaik, tapi tidak mudah bagi mereka yang masih memiliki trauma di hati. Bisakah Tareeq memaafkan kesalahan ibunya? Apakah selama ini dia termasuk anak durhaka karena telah menyimpan rasa benci pada wanita yang pernah melahirkannya itu?

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2