
Qifty membuka matanya perlahan kala adzan subuh mulai berkumandang. Perlahan ia bangkit dari tidurnya seraya memegang kepalanya yang terasa sakit dan berdenyut.
"Astaghfirullah, sepertinya aku benar-benar telah meminum minuman beralkohol semalam, lalu bagaimana dengan sholatku? Apa sholatku benar-benar tidak akan diterima selama 40 hari?" lirih Qifty begitu khawatir. "Aaaakh, siapa yang telah berani melalukannya padaku?" teriak wanita itu lalu kembali tersadar jika saat ini ia sudah berada di dalam kamarnya.
"Tunggu dulu? Siapa yang membawaku ke sini?" Qifty mulai berusaha mengingat apa yang terjadi padanya malam itu. Seketika wajah Khalid melintas di ingatannya.
"Apa dia benar-benar membawaku ke sini?" monolognya lalu mengamati kondisi seluruh tubuhnya yang masih memakai pakaian utuh, kecuali kerudung yang semalam masih menutupi kepalanya, tapi sekarang sudah terlepas entah di mana.
"Apa dia yang membuka kerudungku? Ih dasar pria kurang ajar," umpat Qifty begitu kesal.
"Bukan Khalid kok yang membukanya." Qifty segera menoleh ke arah pintu kamarnya saat mendengar suara wanita tiba-tiba memasuki kamar itu.
"Bibi Afra? Bibi ngapain di sini?" tanya Qifty dengan perasaan yang kembali kesal tapi juga sedikit lega setelah mendengar perkataan dari wanita paruh baya itu.
"Bibi sedang mengurus wanita yang sedang mabuk sejak malam tadi. Kamu beruntung loh karena yang menemukanmu adalah Khalid, dia pria yang sangat baik. Bibi tidak bisa bayangkan jika yang menemukanmu justru pria asing, mungkin kamu sudah habis dimakannya," celoteh Bibi Afra seraya meletakkan sebuah teh dengan campuran jahe dan rempah lain yang dapat mengurangi efek mabuk.
"Bibi bicara apa sih?" sana pergi dari kamarku," usir Qifty begitu ketus.
"Qifty, kamu bisa tidak hormat sedikit jika berbicara denganku? Terlepas dari apa yang pernah terjadi padamu, aku tetap jauh lebih tua darimu, aku bahkan adalah sahabat Ibumu," bentak Bibi Afra yang mulai habis kesabaran menghadapi sikap arogan wanita itu.
Qifty seketika terdiam, baru kali ini ada yang berani membentaknya seperti tadi. Ia baru saja hendak membuka suara untuk membalas perkataan Bibi Afra, tapi ia kembali bungkam saat wanita paruh baya itu kembali berbicara.
"Jika kamu membenci Bibi, oke Bibi terima. Tapi asal kamu tahu, apa yang terjadi padamu waktu itu diluar kuasa Bibi, Bibi sudah berusaha mendekatkanmu dengan Tareeq, tapi memang sulit jika hatinya tidak memihak. Apalagi rencana terakhimu waktu itu sudah Bibi peringatkan sejak awal, tapi kamu yang memang nekat. Lalu kenapa setelah semua yang terjadi kamu malah menyalahkan Bibi?"
Qifty lagi-lagi diam tak berkutik. Ia mengakui semua yang dikatakan Bibi Afra adalah benar, tapi kebenciannya kepada Taeeq membuatnya ikut membenci sang bibi.
Melihat Qifty yang tertunduk dalam diam, Bibi Afra kembali bersuara. "Kamu tahu? Saat terakhir kali bibi mengunjungi Ibumu, Ibumu berpesan agar Bibi menjagamu, jadi jika kamu berpikir bibi ke sini karena ingin kembali mengusikmu, maka kamu salah besar, bibi hanya ingin menjalankan amanah Ibumu." Bibi Afra menghentikan perkataannya sejenak lalu menatap wanita muda yang masih duduk di tempat tidurnya.
Wanita paruh baya itu kemudian meminta Qifty untuk meminum teh itu selagi hangat lalu melaksanakan sholat subuh. Namun, bukannya segera beranjak, wanita muda itu justru diam di tempatnya dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
Bibi Afra berpikir jika Qifty masih belum bisa menerima penjelasannya, sehingga ia hendak memutuskan untuk keluar dari kamar itu, tapi Qifty tiba-tiba bersuara yang membuat langkah wanita paruh baya itu terhenti.
"Bukankah sholatku tidak akan di terima selama 40 hari karena telah meminum minuman beralkohol? Jadi apa aku tidak wajib sholat saat ini?"
Bibi Afra seketika berbalik menatap wanita muda itu. Ada sedikit rasa lega, ternyata diamnya Qifty bukan karena belum bisa menerima penjelasannya, tapi karena ada rasa bingung yang menghampirinya.
"Maksudnya sholatmu tidak diberi pahala selama 40 hari itu sebagai bentuk hukuman karena minum minuman beralkohol, tapi bukan berarti kewajiban sholatmu menjadi gugur. Jika kamu tidak melaksanakan sholat karena itu sama saja kamu menambah masalahmu," terang Bibi Afra.
"Allah tahu kamu tidak sengaja, jika kamu bertaubat, insya Allah sholatmu tetap di terima. Bibi bukanlah ahli ibadah, Bibi juga masih banyak dosa, tapi Bibi sadar, sholat adalah kunci seluruh ibadah, itu sebabnya bagaimana pun keadaannya, tetaplah dirikan sholatmu," lanjut Bibi Afra lalu keluar dari kamar Qifty.
Qifty menatap pintu yang baru saja dilalui wanita paruh baya itu, lalu menoleh ke secangkir teh yang masih mengepulkan asap di atas nakas. Perlahan ia bergerak mendekati nya lalu meminumnya sedikit demi sedikit.
Matanya terpejam menikmati teh itu, di detik berikutnya air mata mulai mengalir melewati kelopak mata yang masih saling merapat, ia tidak tahu kenapa, yang jelas hatinya bergetar saat ini, rasa penyesalan akan masa lalu hingga apa yang baru saja ia alami seolah datang merangkul hatinya.
-
Qifty keluar dari kamarya usai melaksanakan sholat subuh. Aroma makanan yang begitu menggugah selera menyapa indera penciumannya. Langkah kakinya kini membawa wanita itu ke dapur di mana aroma itu berasal.
Tanpa bersuara, Qifty mendekat ke arah meja makan dan mengambil posisi berhadapan dengan Bibi Afra. Mereka pun memulai sarapan bersama tanpa suara dari Qifty, tapi tidak dengan wanita paruh baya di hadapannya.
Selama makan, Bibi Afra tak pernah berhenti bercerita mengenai kejadian semalam, terutama mengenai Khalid. Hingga sarapan berakhir, wanita paruh baya itu masih saja menceritakan tentang betapa baiknya Khalid.
"Bibi, kenapa sejak tadi Bibi selalu membahas Khalid? Apa tidak ada topik lain selain pria menjengkelkan itu?" protes Qifty setelah menghabiskan minumnya.
"Apanya yang menjengkelkan dari dia? Dia itu baik, tampan, sopan lagi. Benar-benar calon suami idaman, Bibi lihat kamu cocok sama dia."
Qifty memutar bola mata malas saat mendengar perkataan terakhir dari Bibi Afra. Tidak lagi, ia tidak ingin lagi dijodoh-jodohkan oleh wanita paruh baya itu. Sudah cukup ia merasa malu karena Tareeq, dan ia tidak ingin itu terulang lagi dalam hidupnya.
"Dari pada Bibi sibuk menjodohkanku dengan Khalid, mending Bibi saja yang nikah sama dia," ujar Qifty lalu beranjak dari duduknya dan kembali ke kamar untuk bersiap ke rumah sakit.
__ADS_1
"Ck, dasar gadis keras kepala," decak Bibi Afra .
***
Pagi itu, Zulaikha kembali mengalami morning sickness, entah sudah berapa kali wanita hamil itu bolak-balik ke kamar mandi. Tareeq sebagai suami tentu sangat tidak tega melihat keadaan sang istri yang lebih parah dari kehamilan pertamanya kala itu.
Setelah kembali dari kamar mandi dengan dibantu oleh Tareeq, wanita itu terlihat begitu pucat dan lemah. Rasa pusing dan mual membuatnya hanya bisa berbaring untuk saat ini.
"Kamu mau makan apa, Sayang? Biar aku pesankan pada pelayan, bagaimana pun kamu harus makan agar kamu dan anak kita sehat," tanya Tareeq sembari memijit lembut kepala Zulaikha.
"Aku mau makan buah naga, By. Hanya itu yang ringan untuk kumakan, makanan lain hanya akan membuatku berakhir di kamar mandi."
"Oh baiklah, kalau begitu aku akan menyuruh seseorang untuk membelinya."
"Tidak, By. Aku mau kamu yang langsung membelinya."
"Baiklah, Sayang. Aku pergi dulu membelinya, kamu baik-baik di sini."
Tareeq pun akhirnya bergegas mengambil kunci mobil lalu segera keluar dari kamarnya. Namun, baru beberapa langkah dari kamarya, Nameera langsung menahannya.
"Ada apa, Dik?" tanya pria itu.
"Kakak mau kemana?"
"Mau ke toko buah."
"Alhamdulillah pas sekali kalau begitu, titip buah naga yah, Kak Ali ngidam ingin makan buah naga, dan dia ingin Kakak yang membelikannya."
Mendengar permintaan sang adik, Tareeq tentu merasa tidak terima, bagaimana bisa Ali menginginkan hal yang sama dengan sang istri? Terlebih pria itu menginginkan dirinya yang membelikan. Namun, setelah melalui perdebatan yang tidak sebentar, akhirnya dengan terpaksa Tareeq menyetujuinya.
__ADS_1
"Astaga, kenapa sekarang aku yang disuruh-suruh oleh asistenku? Kenapa juga harus dia yang ngidam? Kenapa bukan Nameera saja yang ngidam? Menyusahkan sekali."
-Bersambung-