
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, musim dingin kini sebentar lagi akan berganti menjadi musim panas. Suhu negara Qatar pun perlahan tak sedingin saat pertengahan musim dingin.
Perut Zulaikha dan Nameera tampak mulai membuncit di usianya yang ke tiga bulan, di mana masa ngidamnya perlahan berkurang. Hal itu tentu saja menjadi kesyukuran tersendiri bagi Tareeq.
Bagaimana tidak, selama tiga bulan terakhir, ia begitu dibuat kewalahan oleh keinginan dua orang ngidam yang kadang membuatnya harus mempertebal kesabarannya. Belum lagi kesibukannya di perusahaan yang semakin padat sejak sang asisten terpaksa harus mengambil cuti karena efek sindrim couvade yang dialaminya.
Tareeq tentu saja memiliki asisten baru untuk mengganti kerja Ali selama cuti, tapi kinerjanya sangat berbeda dengan Ali yang serba bisa dan lincah, hal itu membuat pekerjaan Tareeq sedikit bertambah.
Saat ini, waktu telah menunjukkan pukul setengah empat sore. Zulaikha dan Nameera menikmati waktunya sembari menonton TV di ruang keluarga. Bertepatan dengan itu, sebuah iklan tentang balapan unta muncul di layar TV, membuat rasa penasaran Zulaikha kembali bangkit.
"Nameera, balapan unta itu bagaimana? Memangnya unta bisa balapan juga? Biasanyakan yang ada itu balapan kuda" tanya Zulaikha.
"Bisalah, Kak. Balapan unta di Qatar sudah menjadi tradisi khas yang sudah berlangsung sangat lama dan jarang ada di negara lain. Unta itu hewan yang kuat loh, bahkan ia sanggup bertahan berhari-hari tanpa makan dan minum," jelas Nameera.
"Benarkah? Aku jadi penasaran ingin melihatnya," ungkap Zulaikha penasaran.
"Mumpung ini hari Jum'at, ayo kita pergi setelah Kak Tareeq datang, aku juga sudah lama tidak pernah melihatnya."
Mereka pun sepakat menunggu kedatangan Tareeq, Nameera memanfaatkan waktunya untuk berbicara dengan Ali yang berada di kamar. Tak menunggu lama, suara deru mobil berhenti terdengar dari halaman depan rumah, membuat dua wanita hamil itu langsung beranjak dengan begitu antusias dan menghampiri pria itu.
"Ada apa?" tanya Tareeq saat kini dua wanita hamil itu sedang berada di depannya dengan senyuman merekah.
Sejujurnya pria itu sedikit khawatir jika saja akan ada hal-hal aneh lagi yang diinginkan sang istri seperti beberapa hari yang lalu. Di mana Zulaikha menginginkan Tareeq memakai maskot boneka buaya yang ia beli dari online shop.
Hal itu tentu membuatnya merasa sangat tidak nyaman karena begitu panas. Apalagi Ali yang melihatnya tak tinggal diam, tak tanggung-tanggung adik iparnya itu mengatainya 'buaya darat' dan dengan tidak takutnya ia meminta Tareeq untuk bergoyang dengan dalih bawaan ngidam.
Rasanya saat itu Tareeq ingin sekali memarahi sang asisten, tapi ia sadar jika memarahinya hanya akan menambah masalah, hingga akhirnya ia hanya bisa berkali-kali mengucapkan istighfar, demi membahagiakan calon anak dan keponakannya.
"Bawa kami nonton balapan unta yah, By. Please," pinta Zulaikha.
__ADS_1
"Balapan unta?" ulang Tareeq sembari menatap sang istri dan adik bergantian yang kini menganggukkan kepala dengan begitu kompak.
Tareeq sejenak menatap arlojinya yang kini menunjukkan pukul empat sore. "Baiklah, ayo!" Meski tubuhnya terasa begitu lelah, pria itu tetap berusaha memenuhi keinginan sang istri dan adiknya.
"Apa suamimu tidak ikut?" tanya Tareeq setelah mereka memasuki mobil.
"Tidak, Kak. Aku tadi mengajaknya tapi katanya ia ingin istirahat," jawab Nameera.
"Bagus, artinya bebanku sedikit berkurang hari ini," batin Tareeq tersenyum miring.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan mansion menuju ke tempat balapan unta sering dilakukan. Mereka mengambil tempat duduk untuk menyaksikan balapan dengan nyaman.
Zulaikha tampak begitu antusias sebab ini adalah pertama kali baginya menyaksikan balapan unta, sangat unik dan cukup menghibur, itulah kesan awalnya. Hingga saat balapan unta berakhir, Tareeq mengajak dua wanita itu untuk pulang, tapi Zulaikha menolak dengan alasan masih ingin melihat unta.
Sungguh sangat aneh keinginan istrinya itu. Tapi mau bagaimana lagi, ia tetap memenuhi keinginan wanita yang sangat ia cintai. Tujuan Tareeq saat ini adalah membawa sang istri ke Jassim bin Muhammed Street, di seberangnya terdapat halaman Amiri Diwan, tempat di mana pasukan pengawal kerajaan melakukan patroli.
Dari kejauhan, tampak barisan unta dan pasukan pengawal yang terlihat gagah dengan seragamnya yang khas. Mereka memakai gamis berwarna putih lengkap dengan salempang di dada dan pinggang warna hitam serta ikat kepala warna kotak-kotak merah putih.
"Ekhem, tolong matanya dikondisikan," sindir Tareeq, tapi sama sekali tidak mendapat respon dari Zulaikha.
"Ekhem, ingat sudah punya suami," sindir pria itu lagi dengan nada yang mulai kesal, sementara Nameera hanya bisa menahan tawa melihat bara api kecemburun yang muncul dari sang kakak.
"By, tolong foto aku bersama mereka," ucap Zulaikha dengan tidak merasa bersalah sama sekali, membuat Tareeq membulatkan matanya.
"Ayo pulang sekarang, semakin lama di sini posisiku semakin terancam." Tareeq langsung menarik tangan Zulaikha menjauh dari tempat itu.
"Tapi, By ...."
"Maaf, Sayang. Aku akan berusaha memenuhi segala keinginanmu, tapi untuk yang ini aku tidak bisa." Tareeq terus membawa sang istri hingga masuk ke dalam mobil diikutinoleh Nameera yang langsung duduk di jok kedua.
__ADS_1
"Kamu marah, By?" tanya Zulaikha seraya menatap sang suami yang duduk di sampingnya.
"Kamu pikir saja sendiri," jawab Tareeq ketus.
Mendengar jawaban Tareeq, bukannya prihatin, Zulaikha justru menahan tawanya. Sungguh terdengar sangat lucu di telinga wanita itu. Perkataan yang biasanya wanita katakan saat sedang merajuk kini keluar dari mulut pria itu.
"By, aku terpana pada pakaian dan unta yang ada di sana, bukan sama orangnya, karena aku baru pertama kali melihat pengawal bergamis dan berunta seumur hidupku." Zulaikha mencoba menjelaskan kesalahpahaman yang mengganggu pikiran suaminya.
"Selama aku di Qatar, aku tidak pernah melihat pria yang lebih tampan darimu. Kamu pernah bilang, jika Zulaikha di zaman dahulu terhipnotis oleh ketampanan Nabi Yusuf, maka kamu akan menghipnotis Zulaikha istrimu ini dengan caramu sendiri." Zulaikha menghentikan perkataannya sejenak.
"Dan aku mengakui bahwa kamu telah berhasil menghipnotisku sehingga hanya kamu yang tertampan di mataku, bukan yang lain," tukas Zulaikha sedikit menyisipkan unsur gombalan agar sang suami tidak merajuk lagi.
Benar saja, usai mengatakan itu, wajah kesal Tareeq perlahan memudar dan berganti dengan senyuman malu-malu. Ia baru hendak membalas perkataan Zulaikha tapi Nameera lebih dulu berbicara.
"Sudah-sudah, nanti saja kalian selesaikan urusan kalian di kamar, ingat telingaku mulai terasa panas karena ulah kalian."
Tareeq mendengus mendengar perkataan sang adik seraya melajukan mobilnya.
***
Di tempat lain, Qifty berjalan memasuki lapas untuk menjenguk sang ibu sebagaimana biasanya.
"Halo, kamu datang lagi, Nona," ucap Khalid yang kebetulan sedang berada di tempat itu.
"Ck, kamu lagi," balas Qifty masih dengan gaya ketusnya sambil berjalan melewati Khalid.
"Hei, kenapa kamu ketus sekali padaku? Padahal kita sudah sering saling bertemu, setidaknya kamu mengatakan terima kasih atas apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu," lirih Khalid di akhir kalimat, bukan bermaksud pamrih, ia hanya ingin wanita itu sedikit bersikap ramah kepadanya, sebab akhir-akhir ini ia selalu bertemu di beberapa tempat yang sama yang menurutnya sangat kebetulan.
Qifty menghentikan langkah kakinya dan langsung berbalik menghadap pria itu. "Sepertinya aku sudah salah menilaimu, kupikir kamu adalah pria baik yang suka menolong dengan ikhlas, tapi aku salah, kamu tidak lebih dari seorang pria yang suka mengemis kata terima kasih," sarkas wanita itu. "Oke, TERIMA KASIH UNTUK YANG WAKTU ITU, MAAF KARENA TELAT MENGATAKANNYA," lanjutnya dengan menekan setiap kata lalu pergi begitu saja meninggalkan Khalid yang kini diam bergeming.
__ADS_1
Entah kenapa hati pria itu seperti baru saja di sentil dengan kuat, sakit tapi tak berdarah. Tak hanya itu, keberadaannya seolah benar-benar direndahkan setelah mendengar perkataan Qifty yang begitu menohok hatinya.
-Bersambung-