
Telah begitu banyak ujian yang kulalui sebelum ini, telah begitu banyak pula tetes air mata yang kukeluarkan selama ini. Semuanya bermula dari kepergian kedua orang tuaku, disusul pengkhianatan cinta dari orang terkasih, hingga akhirnya aku bertemu denganmu dan keluargamu.
Hidupku yang semula gelap perlahan mendapat setitik cahaya. Namun, kesabaranku kembali diuji saat kupikir aku menikahi pria yang tak memiliki cinta sepertimu, tapi aku salah, rupanya kamu adalah pria dengan sejuta cinta yang terpendam, cinta yang begitu hangat dan cinta yang begitu indah.
Aku mulai merasakan kebahagiaan sejak saat itu, hingga kupikir ujianku sudah berakhir. Tapi lagi-lagi aku salah, sepertinya Allah begitu mencintaiku sebab musibah demi musibah masih saja menghampiriku sampai saat aku harus kembali merasakan sakitnya kehilangan.
Aku kembali terpuruk, hanya saja aku beruntung sebab Allah masih menjaga iman dan akal sehatku hingga tak berpaling dariNya untuk yang kedua kali akibat musibah itu. Aku juga beruntung dikaruniai keluarga yang sayang dan peduli, terutama suami yang selalu sabar menghadapiku.
Sampai pada akhirnya aku sampai di tahap ini, tahap di mana kini aku merasakan menjadi wanita sekaligus istri yang sempurna. Bisa melahirkan anak yang sudah kami harapkan sejak dulu, melihat suamiku menangis bahagia sungguh membuatku ikut bahagia.
Ya, aku hanya wanita biasa, dari kalangan biasa, impianku yang dulu sempat hilang, kini kembali bersinar kala kembali ke jalanNya dan bertemu dengan pria yang kini menjadi suamiku. Menjadi wanita yang taat pada Allah dan membuat suamiku bahagia adalah keinginanku saat ini, meski kutahu, dalam pernikahan tak hanya kebahagiaan yang akan hadir, tapi berbagai rasa lain pun akan ikut mewarnai.
Terima kasih atas semuanya Ya Allah, terima kasih juga untukmu suamiku.
(Zulaikha Azkadina)
--
Zulaikha menangis terharu saat melihat Tareeq mengumandangkan adzan di telinga kanan putranya yang baru saja lahir beberapa menit yang lalu. Meski tubuhnya terasa begitu lelah setelah berjuang hidup dan mati untuk melahirkan buah hatinya, bibirnya tak berhenti mengucapkan kalimat syukur.
Usai mengadzankan sang anak, Tareeq mendekati Zulaikha dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya.
"Terima kasih, Sayang, karena sudah melahirkan putra kita, terima kasih sudah bersabar dan berjuang selama ini menjalani hidup denganku yang banyak kekurangan ini, hingga putra kita akhirnya lahir. Kamu tahu, aku, tidak, maksudnya kami, kami sangat mencintaimu," ungkap Tareeq lalu mengecup kening Zulaikha dengan penuh cinta, tak lupa ia mendekatkan sang buah hati kepada wanita itu hingga ia juga dapat menciumnya.
Sementara itu, diluar ruangan sudah menunggu Kakek Husein, Ibu Ammara, Nameera, Ali dan Bibi Afra. Semuanya tampak tidak sabar menanti kabar bahagia atas kelahiran anak dari Zulaikha dan Tareeq.
Hingga saat pintu terbuka, perawat mulai mendorong brankar di mana Zulaikha sudah tertidur di atasnya menuju ke kamar rawat yang sudah disiapkan, menyusul Tareeq yang mengikuti sang istri di belakangnya.
"Di mana bayinya?" tanya Kakek Husein yang tidak sabar ingin melihat cicit pertamanya.
__ADS_1
"Dia di bawa ke kamar bayi, mungkin nanti akan di bawa ke kamar Zulaikha setelah ini," jawab Tareeq.
Mereka pun kompak mengikuti Tareeq menuju kamar Zulaikha bersama, kecuali Bibi Afra yang diam-diam pergi ke kamar bayi untuk melihat bayi yang juga merupakan cucunya. Saat ia berada di depan kamar bayi berdinding kaca, pandangannya menyisir papan nama yang berada di beberapa tempat tidur bayi.
Senyumannya seketika tersungging saat melihat bayi kecil dengan perpaduan wajah khas Timur Tengah dan Indonesia yang berada pada tempat tidur bayi atas nama orang tua Tareeq dan Zulaikha.
Sejenak wanita paruh baya itu diam menatap bayi yang begitu menggemaskan, air matanya menetes ke pipi tanpa ia sadari. Rasanya ia begitu bahagia bisa melihat sang cucu dalam keadaan sehat. Namun, di sisi lain ada rasa penyesalan yang juga hinggap di hatinya saat ini. Menyesal karena pernah bersikap buruk dan tidak menerima kehadiran Zulaikha, ibu dari bayi itu.
"Maafkan nenek yang dulu memperlakukan ibumu dengamln tidak baik. Nenek janji, mulai saat ini nenek akan menerima kehadiran kalian dengan baik, dan memperlakukan kalian dengan baik pula," lirihnya sembari mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Bibi?" panggil seorang wanita dari arah belakang, membuat Bibi Afra refleks berbalik.
"Qifty? Kamu ada di sini?" tanya wanita paruh baya itu. Pasalnya rumah sakit yang mereka tempati saat ini bukanlah rumah sakit Qifty Medical, tempat di mana wanita itu bekerja.
"Aku sedang mengunjungi temanku yang sakit di sini. Bibi sendiri kenapa di sini?" tanya Qifty penasaran.
"Zulaikha baru saja melahirkan, dan Bibi sedang melihat anaknya." Bibi Afra menunjuk ruangan yang ada di hadapannya saat ini.
"Dia laki-laki?" tanya Qifty memastikan.
"Iya, setahu Bibi, namanya Fatih Al-Barak," jelas Bibi Afra.
Qifty kembali tersenyum. "Bayi yang sangat tampan, sesuai dengan namamya yang indah," ungkap Qifty.
"Terima kasih, apa kamu ingin menjenguk Ibunya?"
Senyuman di wajah Qifty seketika lenyap dan berganti sendu. "Aku tidak pantas bertemu dengannya, perlakuanku sangat buruk waktu itu, bahkan aku sendiri malu jika mengingatnya, mungkin juga Zulaikha membenciku," ujar Qifty menolak.
Bibi Afra menatap bayi yang tampak terlelap lalu tersenyum tipis. "Kamu tidak mengenalnya, dia wanita yang sangat baik. Meski bibi sudah beberapa kali kasar padanya, dia tidak pernah membenci bibi, dia bahkan selalu bersikap baik pada bibi."
__ADS_1
Wanita paruh baya itu menoleh ke arah Qifty yang diam menatap lurus ke arah sang bayi.
"Bibi tidak akan memaksamu untuk menemuinya, tapi Bibi rasa kamu perlu menemuinya untuk sekadar meminta maaf, bukankah itu perlu kamu lakukan agar hidupmu tenang?"
Lagi-lagi Qifty diam, ia mengakui apa yang dikatakan Bibi Afra adalah benar adanya. Mana ada orang yang tenang jika dalam hidupnya pernah menyakiti hati orang lain? Dan itu sudah terbukti selama beberapa bulan terakhir, di mana kadang ia merasa gelisah jika mengingat apa yang pernah ia lakukan pada Zulaikha dan Tareeq. Namun, jujur saja ia belum siap untuk menemuinya, rasanya ia begitu malu untuk hanya sekadar menampakkan diri di depan mereka.
--
Di ruang rawat Zulaikha yang cukup luas, tampak jelas kebahagiaan orang-orang di dalam ruangan itu sejak Baby Fatih dipertemukan dengan sang ibu. Terlihat wanita itu sedang belajar memberikan ASI kepada Baby Fatih dengan dibantu oleh Ibu Ammara disampingnya yang dengan sabar mengajarinya.
Sementara Nameera dan Bibi Afra ikut menyimak di samping Ibu Ammara. Ya, seiring berjalannya waktu, Bibi Afra tidak lagi menampakkan kebenciannya kepada Ibu Ammara, bahkan keduanya mulai saling berbicara sebagaimana biasa.
Berbeda dengan Tareeq yang justru sibuk menghalau pandangan Ali dan Kakek Husein dari melihat Zulaikha yang sedang menyusui. "Maaf, untuk yang merasa pria, sebaiknya menunggu di sofa saja karena apa yang ada di belakangku saat ini hanya boleh dilihat oleh diriku seorang dan para wanita itu."
"Memangnya kenapa? Kakek ingin melihat cicit Kakek," ujar Kakek Husein heran karena tidak tahu apa yang terjadi pada cicitnya saat ini.
"Fatih sedang minum susu, Kakek, mohon pengertiannya," jelas Tareeq lagi.
"Oh, bilang dong dari tadi, kakek juga mengerti kok," ujar Kakek Husein lalu kembali duduk di sofa bersama Ali.
***
Di tempat lain, seorang pria sedang memeriksa sebuah dokumen kasus kejahatan yang ada di mejanya. Tak lama setelah itu, suara ponselnya yang berdering membuat pria itu menghentikan aktifitas lalu segera mengangkat teleponnya.
"Assalamu 'alaikum, Bi," ucap pria itu.
"...."
"Alhamdulillah, kalau begitu aku akan meluangkan waktu besok untuk mengunjungi keponakanku itu."
__ADS_1
-Bersambung-