
Di rumah sakit, dokter sedang melakukan penanganan pada Qifty. Terlihat beberapa kantong darah dibawa oleh para perawat ke dalam ruangan di mana Qifty berada.
Sementara kedua orang tua gadis itu tengah menunggu di luar ruangan dengan perasaan yang hancur. Tak pernah sekali pun terlintas dalam benak mereka bahwa putri yang mereka kenal cerdas selama ini akan nekat melakukan hal yang bisa membahayakan hidupnya seperti tadi.
Sang ibu tak henti-hentinya menangis sejak tadi, ia hanya bisa memeluk sang suami untuk meluapkan ketakutan dan kekhawatirannya akan sang putri saat ini.
Cukup lama dokter dan para perawat di dalam ruangan itu, entah apa yang terjadi pada Qifty, kedua orang tuanya berharap semoga gadis itu baik-baik saja.
Terdengar suara khas pintu terbuka dari ruangan itu dan langsung mengalihkan perhatian mereka. Seketika pasangan suami istri itu berlari menghampiri dokter yang keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan Qifty, Dok? Dia baik-baik saja 'kan? Dia selamat 'kan? Lukanya tidak dalam 'kan?" cecar sang ibu memberondong dokter itu dengan pertanyaan.
"Tenang yah, Bu. Luka di tangan Qifty memang cukup dalam dan dia kehilangan banyak darah, tapi kami sudah melakukan penanganan yang terbaik, semoga Qifty baik-baik saja," jawab dokter tersebut yang tidak lain adalah teman Qifty.
"Apa kami sudah bisa melihatnya?" tanya sang ayah.
"Silahkan, tapi setelah Qifty dipindahkan ke kamar rawat," ujar dokter itu.
Tak lama setelah itu, Qifty dipindahkan ke kamar rawat khusus untuk pemilik rumah sakit. Kamar yang bagaikan kamar hotel itu sungguh terlihat mewah dan nyaman. Namun, senyaman-nyamannya suasana kamar itu, tetap saja tak bisa membuat suasana hati ibunya Qifty membaik.
Rasa kesal dan dendam terus menguasai pikirannya. "Nak, kenapa kamu sampai nekat melakukan ini hah? Lupakan dia, Nak. Pria itu sungguh tidak pantas untukmu," lirih sang ibu sembari mengelus tangan Qifty yang telah diperban.
Sudah beberapa jam berlalu sejak Qifty telah selesai mendapatkan penanganan. Namun, tak ada sama sekali tanda-tanda gadis itu akan sadarkan diri.
"Tareeq ... Tareeq ... Tareeq," ujar Qifty dengan mata yang masih terpejam.
"Qifty, ini ibu, Nak," ucap sang ibu, tapi bukannya respon dari sang putri yang ia dapat, melainkan gelengan kepala gadis itu dengan alis yang bertautan, bagaikan orang yang sedang mengalami mimpi buruk.
"Tareeq," panggilnya lagi dengan suara yang lemah disertai lelehan air mata yang keluar dari sudut matanya.
Melihat keadaan Qifty, sang ibu tak kuasa menahan tangis. Diraihnya sebuah ponsel dari dalam saku abayhanya lalu menekan nomor seseorang.
__ADS_1
"Halo, aku punya tugas khusus untuk kalian .... Bawa Tareeq dan Istrinya ke rumah sakit tempat Qifty dirawat, terserah kalian mau pake cara apa, jika mereka menolak, seret saja mereka ke sini," titah wanita paruh baya itu pada seseorang di seberang telepon.
***
Di Indonesia, Tareeq dan Zulaikha kini sudah berada di desa. Usai pertemuannya dengan Aira dan Billy, mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju desa. Meskipun pertemuannya sangat singkat, tapi cukup berkesan di hati Zulaikha. Semoga saja mereka bisa bertemu kembali, begitulah harapannya.
Zulaikha dan Tareeq sedang menikmati jalan kaki bersama sembari menikmati suasana sore yang sangat asri di desa itu. Tangan mereka tak hentinya saling bergandengan, bahkan dalam keadaan tertentu, Tareeq merangkul pundak sang istri.
"Bagaimana? Kamu senang kembali ke desa? Sepertinya kamu harus puaskan diri kamu selama di sini dengan makanan dan pemandangan yang tidak akan kamu temui di Qatar." Tareeq menatap Zulaikha sembari terus melangkah santai menyusuri jalan desa.
"Memangnya tidak apa-apa kita di sini agak lama? Kerjaan kamu gimana?" tanya Zulaikha.
"Aman, aku kan bosnya, Sayang," jawab pria itu sembari tersenyum sombong.
"Tapi bagaimana pun, bos juga punya tanggung jawab, malah lebih besar karena kamu harus memberi teladan yang baik kepada pegawai kamu," sanggah Zulaikha.
"Iya, aku tahu, tapi saat ini istriku jauh lebih membutuhkan, toh aku hanya libur masuk kantor, beberapa pekerjaan tetap aku kerjakan dari sini," ujar Tareeq. Zulaikha hendak kembali membuka suara, tapi terhenti saat seseorang memanggilnya.
"Zul, ternyata kamu ada di sini, bagaimana kabarmu?" pria itu melangkah mendekati Zulaikha.
Tareeq yang menyadari kehadiran pria yang pernah menatap sang istri di pernikahannya langsung merangkul pinggang Zulaikha sembari melayangkan tatapan serius ke arah pria itu.
Melihat sang mantan kekasih yang kini dirangkul mesra oleh suaminya, membuat hati pria itu sedikit panas. Ya, pria itu adalah dia yang pernah di panggil Surya oleh Zulaikha, tapi sekarang, jangankan dipanggil Surya, di panggil dengan nama asli pun Zulaikha enggan melakukannya.
Kadang, ia merasa rindu dengan panggilan itu, tapi mau bagaimana lagi, ia sudah menyakiti wanita yang pernah ia cintai, dan kini wanita itu telah bersama dengan orang lain, bahkan jauh lebih baik darinya.
"Alhamdulillah, baik," jawab Zulaikha singkat.
"Apa kamu tinggal di sini atau hanya berkunjung ke sini?" tanya pria itu.
"Aku hanya berkunjung karena aku ngidam makanan di sini," jawab Zulaikha.
__ADS_1
"Oh, kamu hamil yah? Selamat atas kehamilanmu," pria itu tersenyum kecut sembari mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Zulaikha.
Tak ingin sang istri bersentuhan dengan pria lain, Tareeq dengan cepat menyambut uluran tangan pria itu dan berjabat tangan sesaat sembari tersenyum. Padahal Zulaikha pun tak ingin menyambut uluran tangan itu, ia hanya ingin menangkupkan kedua tangannya, tapi sepertinya sang suami lebih lincah darinya.
"Sayang," teriak seorang wanita dengan perut buncit menghampiri pria itu.
"Sayang, kok kamu malah pergi sih, kamu kan belum beres-beresin rumah, nanti kalau ibuku datang gimana? Bisa malu aku," ujar Della yang belum menyadari keberadaan Tareeq dan Zulaikha.
"Maaf, Sayang tadi aku hanya ingin jalan-jalan sebentar untuk menyapa Zulaikha."
"Zulaikha?" Della segera menatap wanita di hadapannya. "Ngapain kamu sapa dia? Kamu .... Eeeeh Abang ganteng ada di sini juga, yuk mampir di rumah dulu Bang, kita bisa bicara berdua," lanjut Della dengan suara mendayu-dayu saat menyadari keberadaan Tareeq, membuat Zulaikha langsung memutar bola mata malas.
"Dih, sama suami sendiri digalakin, giliran suami orang dibaik-baikin, dasar. Daripada kamu ngajak suamiku berbicara berdua, noh ajak suami kamu sana biar bisa berbicara berdua." Zulaikha langsung memeluk pinggang Tareeq dengan begitu posesif, Tareeq yang mengerti langsung merangkul pundak sang istri.
"Heleee, sok banget, semua cowok yang ku kenal itu sama, asal udah di pancing sama tubuh seksiku pasti langsung luluh kayak mantan kamu ini." Della menunjuk suaminya dengan tatapan remeh dan langsung memegang tangan Tareeq, refleks pria itu langsung menyentakkan tangannya dengan kasar hingga tangan wanita itu terlepas.
Zulaikha yang melihat wajah terkejut Della pun tertawa pelan. "Sayangnya, kamu tidak mengenal suamiku." Wanita itu segera menarik Tareeq yang hanya diam tak memahami pembicaraan mereka.
"Besok kita balik yah, aku nggak tenang tinggal di sini gara-gara mereka," pinta Zulaikha di tengah perjalanan pulang ke rumah Bibi Anisa dan Paman Harun.
"Baik, Sayang," ucap Tareeq.
***
Di taman rumah sakit, seorang wanita paruh baya tampak sedang bicara serius dengan tiga orang pria bertubuh besar.
"Kenapa kalian datang dengan tangan kosong? Apa perintahku masih kurang jelas?" tanya wanita paruh baya itu.
"Maaf, Bu. Kata penjaga rumah mereka, Tareeq dan istrinya sedang berada di Indonesia," jawab salah satu dari pria itu.
"Ck, kalau begitu, adiknya saja yang kalian bawa kemari, tapi ingat jangan sampai ada yang tahu, kecuali Tareeq dan istrinya," titahnya seraya tersenyum licik.
__ADS_1
-Bersambung-