
Jangan menyimpan benci terlalu lama, sebab ia dapat merusak "hatimu". Belajarlah dari mereka yang telah menyakitimu untuk lebih bersabar, kuat, dan mudah memaafkan. Memang sulit, tapi dengan begitu hidupmu akan lebih tenang.
__________________________________________
Pagi itu, dua wanita beda usia tampak sedang duduk bersama di ruang tamu. Meski baru pertama kali bertemu, Zulaikha mampu menangkap adanya raut kerinduan di wajah wanita paruh baya itu.
"Perkenalkan, saya Zulaikha, istri Tareeq, saya yang beberapa hari lalu sempat menghubungi Ibu."
"Namaku Ammara, Nak .... Jadi Tareeq sudah menikah?" tanya wanita paruh baya itu antusias, tapi sesaat kemudian wajahnya berubah sendu.
"Iya, Bu, kami baru menikah kurang lebih dua bulan yang lalu di Indonesia."
"Indonesia?" ulang wanita itu.
"Iya, Bu. Saya orang Indonesia," jelas Zulaikha.
Sejenak wanita paruh baya itu terdiam dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Aku sangat menyesal telah meninggalkan Tareeq dan Nameera serta ayah mereka waktu itu demi seorang pria, dia juga berasal dari Indonesia." Wanita itu menghentikan perkataannya sejenak untuk menarik napas dalam. "Karena keegoisanku, Allah memberikan hukuman padaku yang setimpal, tidak, bahkan itu masih jauh dari kata setimpal dibanding luka yang telah kutorehkan di hati mereka," lanjutnya dengan suara bergetar.
Zulaikha masih diam menyimak perkataan wanita paruh baya itu.
"Kamu tahu? tepat di satu tahun pernikahanku dengannya, dia meninggalkanku dan pergi dengan wanita lain, bahkan saat itu aku sedang hamil anaknya," ungkapnya sembari menghapus air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Sejak saat itu, hidupku benar-benar sengsara, jika bukan karena pertolongan Allah melalui kamu, mungkin aku masih hidup menderita di sana," tukasnya.
"Saya ikut bersedih dengan apa yang menimpa Ibu," ujar Zulaikha pelan.
"Aku datang bersama putraku, tapi aku titipkan dia di rumah neneknya. Aku sangat terkejut saat mengetahui Nameera mengidap penyakit itu," ujar wanita itu lagi.
"Iya, Bu, Nameera saat ini sangat membutuhkan donor sumsum tulang belakang, dan kemungkinan yang cocok dengannya hanya anakmu, tapi setelah mengetahui usia anakmu yang masih 11 tahun, tetap saja tidak bisa," ujar Zulaikha.
"Apa aku bisa membantunya? Tidak mungkin seorang ibu tidak memiliki kecocokan dengan anaknya." Wanita paruh baya itu menawarkan diri.
"Biasanya orang tua dengan anak tidak cocok, tapi kita bisa langsung berkonsultasi dengan dokter nantinya," jelas Zulaikha.
--
Usai bertemu di rumah, akhirnya mereka bersama menuju ke rumah sakit, dan bertemu dengan dokter untuk dilakukan pemeriksaan tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk Nameera.
"Apa boleh aku melihat Nameera?" tanya wanita itu usai melakukan serangkaian pemeriksaan.
"Saya akan melihat keadaan kamarnya dulu, saya tidak berani membawa Ibu jika ada Tareeq atau pun Kakek Husein di dalam kamar itu," jawab Zulaikha.
--
__ADS_1
"Assalamu 'alaikum," ucap Zulaikha sembari memasuki kamar yang lagi-lagi sepi karena Kakek Husein sedang sholat dzuhur di masjid.
"Wa'alaikum salam," balas Nameera yang sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur sembari memegang sebuah tasbih di tangannya.
"Bagaimana keadaanmu, Nameera?" tanya Zulaikha.
"Yah, seperti yang kak Zul lihat," jawab Nameera apa adanya.
"Emm, Nameera, aku mau minta maaf. Sebenarnya seminggu lalu aku sempat mendengar kamu menangis di kamar dan mengatakan bahwa kamu merindukan Ibumu," ungkap Zulaikha sedikit tertunduk di samping Nameera.
"Oh, jadi Kak Zul mendengarnya? Tolong jangan beritahu Kak Tareeq dan Kakek yah," pinta gadis itu dan Zulaikha menganggukkan kepala.
"Apa kamu sangat merindukan Ibumu?" tanya Zulaikha dan hanya dijawab anggukan oleh gadis itu.
"Ada yang ingin bertemu denganmu," ujar Zulaikha lalu berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu itu untuk seseorang.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya dengan abayha hitam dan kerudung hitam berjalan memasuki kamar itu. Nameera tampak begitu terkejut melihat wanita yang selama ini sangat ia rindukan sedang berjalan ke arahnya.
Air mata mulai membasahi mata dan pipi keduanya. Tak ada suara, hanya tatapan mata yang memancarkan isyarat kerinduan.
"Maafkan ibu, Nak." Wanita paruh baya itu kini tertunduk di hadapan sang putri, bahkan ia hendak mencium kaki sang putri karena sangat merasa bersalah, tapi segera di cegah oleh Nameera.
"Jangan lakukan itu, Bu," ujar gadis itu. "Boleh aku memeluk Ibu?" lanjutnya bertanya.
Tak menjawab, wanita paruh baya itu langsung memeluk erat tubuh Nameera, dan pecahlah tangisan di antara keduanya. Sementara Zulaikha hanya diam sembari mengusap matanya yang ikut mengeluarkan air mata melihat interaksi keduanya.
Brak
Sebuah kotak berisi makanan tiba-tiba jatuh dari tangan seorang pria yang menatap ke arah Ibu Ammara dan Nameera dengan tatapan kebencian.
"Tareeq," lirih Zulaikha dengan wajah pias dan ketakutan saat melihat sorot mata pria itu.
Tanpa berkata apa pun, Tareeq langsung pergi dari tempat itu, dan dengan cepat Zulaikha berlari untuk menyusul sang suami.
"Tareeq," panggil Zulaikha setelah mereka berada di tempat parkir, tapi tak di gubris oleh pria itu.
"Tareeq," panggilnya lagi saat melihat sang suami memasuki mobil dan langsung melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumah sakit.
Zulaikha yang sedikit panik akhirnya dengan cepat berlari untuk menahan taksi yang lewat.
"Pak, tolong kejar mobil itu," pinta Zulaikha seraya menunjuk mobil berwarna hitam yang melaju kencang di depannya. Sungguh Zulaikha takut jika Tareeq sampai melakukan hal yang tidak-tidak karena terbawa emosi.
Taksi yang di tumpangi Zulaikha kini melaju dengan kencang mengikuti kemana mobil yang dikemudikan Tareeq melaju. Setelah beberapa saat, Zulaikha merasa lega karena Tareeq justru mengarahkan mobilnya menuju ke rumah mereka.
Zulaikha dapat melihat dengan jelas bagaimana pria itu melangkahkan kaki lebarnya dengan cepat masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Setelah membayar taksi, Zulaikha kini ikut masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar pria itu.
Tok tok tok
"Tareeq?" panggilnya, tapi tak ada sahutan dari dalam kamar. Beberapa kali Zulaikha mengetuk dan memanggilnya, tapi hasilnya tetap sama.
Sebegitu marahkah Tareeq kepadanya hingga pria itu enggan berbicara apa pun kepadanya? Lalu apa yang harus ia lakukan untuk meredam kemarahannya?
"Apa sebaiknya ku biarkan dulu dia untuk menenangkan diri?" batin Zulaikha merasa begitu bimbang dan pada akhirnya, ia berpindah dari hadapan kamar Tareeq dan masuk ke kamarnya.
-
Malam mulai menjemput, bahkan sholat Isya pun telah selesai dilaksanakan, tapi Tareeq tidak kunjung keluar dari kamarnya, padahal pria itu belum makan malam sama sekali.
Zulaikha yang sejak tadi menunggu di meja makan akhirnya memutuskan untuk membawakan makanan sang suami langsung ke kamarnya.
Tok tok tok
Zulaikha mengetuk pintu, berharap kali ini pria itu mau membukanya, tapi lagi-lagi tak ada respon dari dalam sana. Merasa khawatir dengan keadaan Tareeq, ia pun memberanikan diri untuk membuka kamar itu yang ternyata tidak dikunci.
Gadis itu berjalan perlahan seraya menelisik seluruh isi kamar, tapi ia tak menemukan sosok suaminya di dalam. Suara gemericik air di kamar mandi yang terdengar membuatnya tersadar jika saat ini Tareeq sedang mandi.
Zulaikha bergegas meletakkan makanan yang ia bawa di atas nakas lalu mengambil pakaian tidur suaminya di walk in closet, setelah itu ia letakkan di atas tempat tidur seperti biasa.
Akan tetapi, jika dulu Zulaikha akan langsung keluar setelah melakukan tugasnya, kali ini dia memutuskan untuk menuggu Tareeq keluar dari kamar mandi karena ia ingin berbicara lebih dulu dengannya.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi yang terbuka menandakan Tareeq telah menyelesaikan aktivitasnya di dalam sana. Pria itu keluar dengan penampilan yang hanya mengenakan handuk sepinggang dan handuk kecil yang menutupi kepalanya.
Kehadiran Zulaikha di kamarnya tentu membuatnya terkejut, tapi kekesalannya kepada gadis itu membuatnya tak memberikan reaksi apa pun. Pandangannya kini tertuju pada pakaiannya yang sudah berada di kasur.
Perlahan ia mendekati kasurnya, diraihnya pakaian itu dan langsung membuangnya ke hadapan Zulaikha. Pria itu terlihat tenang, tapi tatapan matanya memperlihatkan kemarahan.
"Aku sangat membenci orang-orang yang tidak tahu apa-apa tapi malah ikut campur dan sok tahu. Aku tidak butuh semua perlakuanmu, masa bodoh dengan tugasmu, mulai saat ini berhenti mencampuri urusanku, aku tidak ingin melihatmu lagi ada di sini .... PERGI!" gertak pria itu.
Jantung Zulaikha seketika berpacu cepat mendengar perkataan Tareeq yang yang terucap hanya dalam sekali tarikan napas, tapi mampu membuat hatinya bagai dicabik-cabik menjadi seribu bagian.
Gadis itu berjalan cepat keluar dari kamar Tareeq tanpa memberikan pembelaan apa pun atas apa yang sudah ua lakukan. Ia berjalan masuk ke kamarnya dan bersandar sejenak di balik pintu sembari mengusap dadanya yang berdegup kencang, air matanya mulai memburamkan pandangannya.
PERGI!
Perkataan terakhir Tareeq membuat Zulaikha langsung mengusap matanya yang mulai basah dan segera mengemas pakaiannya. Gadis itu meletakkan black card yang pernah diberikan Tareeq kepadanya di atas nakas lalu berjalan keluar dari rumah itu dengan perasaan yang begitu hancur.
"Dari awal aku tidak ingin melibatkan perasaanku dalam hubungan ini, tapi kenapa rasanya begitu sakit?"
__ADS_1
-Bersambung-