
Usai kehebohan malam itu akibat Zulaikha dan Nameera yang tiba-tiba kompak muntah dan tak enak badan, hari ini Tareeq dan Ali membawa istri mereka ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan mereka atas saran dari Bibi Afra.
Benar saja, kedua wanita itu sedang hamil dengan usia kehamilan yang sama. Tampak jelas raut kebahagiaan di wajah kedua pasangan itu saat meninggalkan rumah sakit menuju ke rumah mereka masing-masing.
"Selamat yah, Sayang. Akhirnya Allah mengganti anak kita yang sudah pergi lebih dulu, semoga kali ini dia kuat dan sehat yah," ucap Tareeq sambil menyetir mobil.
"Kamu ngomong apa sih, By? Nggak ada yang menggantikan di sini, dua-dua anak kita memiliki tempat yang spesial, jadi tidak ada yang mengganti siapa. Memangnya kamu sudah melupakan anak kita yang pertama? Jahat banget kamu, By," ujar Zulaikha tidak terima dan sedikit terbawa emosi.
"Eh kok malah marah sih?" batin Tareeq sedikit heran dengan sikap sang istri, padahal baru beberapa menit yang lalu ia tersenyum bahagia dan sekarang keadaan berputar sebaliknya.
"Ma-maaf, Sayang, bukan itu maksudku. Maksud aku Allah itu Maha Baik, Dia tidak ingin membuatmu bersedih jadi Dia menghadirkan anak di rahim kamu lagi," ujar Tareeq mengklarifikasi.
"Bilang kek dari tadi, jadi aku nggak perlu marah-marah, kamu kan tahu sendiri kalau Ibu hamil itu harus terjaga emosinya biar Ibu dan bayinya sehat."
"Iya iya Sayang, maaf, aku yang salah," ucap Tareeq cepat, daripada masalahnya tambah panjang, mending ia langsung mengaku salah dan meminta maaf.
Tak terasa, mobil pun tiba di halaman rumah mereka. Zulaikha dan Tareeq masuk ke dalam rumah bersama. Namun, baru beberapa langkah, Zulaikha mulai kembali merengek ingin ke mansion sang kakek.
"Kemarin 'kan sudah? Besok-besok saja yah, Sayang, kamu kan butuh istirahat total," tolak Tareeq hati-hati.
"Kita tinggal di sana saja, di sini sepi, Ibu dan Rafif juga lagi ke rumah nenek, aku rindu suasana di mansion kakek, boleh yah, By?" rengeknya kembali.
Tareeq benar-benar tidak habis pikir dengan Zulaikha kali ini, tapi daripada muncul perang dunia di rumah mereka akibat penolakannya, mau tidak mau ia akhirnya menuruti keingingan sang istri.
"Baiklah, kalau gitu kita siap-siap dulu, aku juga ingin menyiapkan berkas-berkas yang akan ku gunakan bekerja besok."
Zulaikha dengan wajah yang begitu riang langsung memeluk sang suami. "Syukron yaa Zaujiy (terima kasih, Suamiku)," ucapnya yang mulai sedikit demi sedikit menggunakan bahasa Arab.
Tareeq tersenyum mendapat pelukan mendadak itu, tapi tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. "Sayang, apa kamu tidak mual mencium bau badanku yang memakai parfum saat ini?" tanya Tareeq dan mendapat gelengan kepala sang istri yang kini sudah melepaskan pelukannya.
"Benarkah? Alhamdulillah, berarti kehamilan kamu kali ini tidak menyulitkanku," ucap Tareeq. Seketika alis Zulaikha saling bertautan.
"Oh, jadi menurut kamu, kehamilanku kemarin menyukitkan yah?" selidik Zulaikha dengan tatapan tajam bak elang.
__ADS_1
"Astaghfirullah, salah ngomong lagi aku," batin Tareeq sambil menelan salivanya dengan susah payah.
"Bukan begitu maksudku, Sayang. Maksud aku kamu tidak akan lagi menjauhiku hanya karena belum mandi dan memakai parfum," ucap Tareeq lagi-lagi mengklarifikasi perkataan sebelumnya.
"Oh gitu, makanya kalau bicara yang jelas, By, biar aku nggak salah paham terus, ya sudah aku mau ke kamar dulu kalau gitu," ujar Zulaikha lalu melengos pergi ke kamarnya dengan begitu santai.
"Sepertinya aku selamat dari keinginan Zulaikha yang tidak menyukai bau badanku kali ini, tapi aku juga harus belajar sabar lagi untuk mengahadapinya yang gampang marah di kehamilannya ini," lirih Tareeq lalu mengusap wajahnya seraya membuang napas kasar.
Setelah melalui perjalanan yang tidak begitu jauh, Zulaikha dan Tareeq kini tiba di mansion Kakek Husein. Saat memasuki mansion, mereka sedikit di buat terkejut dengan kehadiran Nameera dan Ali yabg sudah duduk santai di ruang keluarga.
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Tareeq.
"Kalian juga kenapa ada di sini?" tanya balik Nameera.
"Aku memenuhi keinginan istriku yang mau tinggal di sini," jawab Tareeq.
"Sama, Kak, aku juga sedang memenuhi keinginan suamiku yang ingin tinggal di sini, katanya dia mau makan buah mangga yang ada di taman belakang," balas Nameera sembari mengedikkan dagunya ke arah Ali yang sedang asik makan mangga di sampingnya.
"Kenapa malah dia yang makan mangga? Harusnya kamu, Dik. Kan kamu yang hamil," ujar Tareeq tidak terima.
"By, aku juga mau makan mangga, tolong ambilkan dong," rengek Zualikha. Wanita itu tiba-tiba ingin makan mangga saat melihat Ali yang memakannya dengan begitu nikmat.
"Kamu juga mau, Sayang?" tanya Tareeq memastikan dan mendapat anggukan dari sang istri.
"Ali, tolong ambilkan mangga juga untuk istriku," titah pria itu begitu bossy.
"Maaf, Bos. Tubuhku masih lemas, sepertinya aku tidak mampu memanjat lagi," tolak Ali menghentikan makannya sejenak.
"Apa? Lemas begaimana?"
"Kak Ali benar, Kak, tadi setelah memanjat pohon, Kak Ali muntah-muntah, ini baru sedikit mendingan setelah makan mangga," imbuh Nameera.
"Astaghfirullah, kenapa kau lembek sekali, biasanya juga tidak begitu." Tareeq merasa sedikit aneh dengan asisten pribadi sekaligus adik iparnya itu, bagaimana bisa dia yang muntah dan makan mangga, sementara istrinya yang hamil, sungguh aneh pikirnya.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi, Bos, mending Bos manjat sendiri, sebelum malam tiba," ucap Ali santa lalu kembali memakan mangganya.
"Oh ya ampun, berani sekali dia sekarang. Untung kau adik iparku, jika tidak sudah ku hajar kau," batin Tareeq mulai kesal.
"By, cepat dong, aku lapar." Zulaikha kembali merengek hingga membuat sang suami tersadar dari kekesalannya.
"Baik, Sayang. Ayo kita ke belakang," ajak Tareeq sembari menarik lembut tangan Zulaikha.
Meski pun di mansion itu ada pelayan laki-laki tapi kali ini dia bertekad untuk memanjat pohon mangga itu seorang diri untuk pertama kalinya. Tentu saja pria itu tidak ingin terlihat lemah di mata sang istri.
***
Di tempat lain, seorang pria berseragam sedang mengendarai mobil hendak pulang ke rumahnya malam itu. Namun, saat di jalan, ia sedikit merasa terganggu dengan mobil yang melaju di depannya. Bagaimana tidak, mobil itu terlihat sedikit oleng, kadang berbelok ke kanan dan ke kiri secara tiba-tiba hingga dapat membahayakan pengendara lain.
Merasa geram, pria yang tidak lain adalah Khalid segera menghentikan mobil di depannya dan langsung mengetuk pintu mobil. Alangkah terkejutnya pria itu saat mendapati Qifty, wanita yang akhir-akhir ini sering mengunjungi ibunya di lapas.
"Tolong aku, tubuhku begitu tidak nyaman saat ini," ucap Qifty dengan wajah yang berubah merah saat ia berhasil menurunkan kaca mobilnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Khalid bingung.
"Aku tidak tahu, yang jelas aku merasa mabuk saat ini. Sepertinya ada yang memasukkan alkohol ke dalam minumanku tadi saat berada di pesta ulang tahun perusahaan rekan bisnis ayahku," jawab Qifty dengan suara lemah.
"Astaghfirullah, kamu harus cari supir pengganti, sangat berbahaya jika kamu memaksa mengemudikan mobil saat keadaanmu seperti ini," ujar Khalid.
"Makanya, bantu aku mencarinya, aku sudah tidak kuat bertahan dalam kesadaranku." Qifty meninggikan suaranya, berharap pria itu tidak lagi bertanya padanya.
"Ya ampun, di mana aku bisa menemukannya jika berada di tengah jalan seperti ini?"
"Jangan banyak tanya? Cepat carikan ...." Qifty kini tidak sadarkan diri, bahkan sebelum ia menyelesaikan perkataannya.
"Ya ampun, menyusahkan sekali wanita ini," lirih Khalid sembari menoleh ke sana kemari untuk mencari bantuan.
Sangat tidak mungkin baginya untuk mengantar Qifty dalam keadaan mabuk, ia sadar begitu banyak ancaman fitnah yang bisa saja terjadi jika ia melakukannya.
__ADS_1
-Bersambung-