Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Merindukannya


__ADS_3

Cinta itu seperti setitik cahaya, saat siang keberadaannya tak dipedulikan, tapi di saat malam telah tiba, meski hanya setitik, kehadirannya akan sangat dinantikan.


Kadang seseorang menganggap remeh sebuah hubungan, tanpa menyadari betapa sakral dan pentingnya hubungan itu. Hingga saat hubungan itu kandas, barulah ia sadar bahwa selama ini ia sudah bergantung dan merasa nyaman dengan hubungan itu.


__________________________________________


"Tidak ada penumpang pesawat atas nama Zulaikha Azkadina sejak kemarin hingga hari ini."


Tareeq mematikan ponselnya usai mendapat kabar dari seseorang yang ia perintahkan untuk memeriksa nama sang istri jika saja dia telah melakukan perjalanan melalui pesawat.


Satu hari telah berlalu semenjak Tareeq menyadari kepergian Zulaikha. Sudah beberapa tempat ia kunjungi untuk mencari keberadaan gadis itu, bahkan sampai ke apartemen milik Kakek Husein yang pernah menjadi tempat tinggalnya sementara, tapi hasilnya nihil.


Sejak kemarin pun, Tareeq tidak mengunjungi Nameera karena keberadaan Ibu Ammara yang masih tidak bisa ia terima. Meski setelah penjelasan sang Kakek kemarin membuatnya sedikit bersyukur jika kehadirannya bisa mengobati rasa rindu sang adik, tapi tetap saja, luka tidak akan sembuh begitu saja.


Usai menyelesaikan pekerjaan di kantor, Tareeq tak lantas masuk ke kamarnya, ia memilih memasuki kamar yang berada tepat di samping kamar utama, kamar yang dulu menjadi tempat istirahat istri yang selalu ia abaikan selama ini, padahal gadis itu selalu sigap menyiapkan semua apa yang ia perlukan tanpa diminta.


Pria itu duduk di tempat tidur sembari mengusap seprei yang terasa begitu lembut. Ada rasa sesak di dadanya yang tak bisa ia ungkapkan, rasa sakit yang hadir karena ulahnya sendiri. Jika saja malam itu ia bisa mengontrol kata-katanya, mungkin saat ini gadis cerewet itu masih berada bersamanya.


"Sepertinya aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu, dan kepergianmu ini benar-benar menyiksaku."


***


Di tempat lain, Zulaikha berdiri mematung di dekat jendela apartemen, tatapannya lurus memandangi keindahan pulau yang sangat memukau di bawah sana.


The Pearl Qatar, sebuah pulau buatan di kota Doha berbentuk lingkaran yang di kelilingi oleh gedung-gedung apartemen.


Kawasan ini merupakan kawasan hunian pertama di Qatar yang mengizinkan kepemilikan freehold bagi orang asing. Dan Kakek Husein khusus membelinya atas nama Zulaikha sebagai hadiah beberapa waktu lalu.


*Flashback*


Malam itu, Kakek Husein merasa ada yang tidak beres di antara Tareeq dan Zulaikha usai melihat keduanya meninggalkan rumah sakit tadi. Rasa khawatir akan hubungan mereka membuat pria usia lanjut itu mendatangi rumah sang cucu. Setibanya di sana, ia mendengar perkataan Tareeq yang begitu tajam dan menyakitkan kepada Zulaikha.


Semakin bertambah rasa penasaran Kakek Husein saat melihat Zulaikha keluar dari kamar Tareeq dan masuk ke kamar di sampingnya.


"Apa mereka selama ini berada di kamar terpisah?"

__ADS_1


Kakek Husein merasa begitu bersalah dan tidak tega kepada Zulaikha. Niat hati ingin membahagiakan Zulaikha dengan menikahkan dia dengan cucunya yang mapan, tapi ternyata hanya luka yang diterima gadis itu. Pria usia lanjut itu akhirnya memutuskan untuk menuggu Zulaikha di luar rumah saat ia melihat gadis itu keluar dari kamar sembari menyeret koper.


Wajahnya sendu, bahkan terlihat jejak air mata yang masih menempel di pipinya. Ia benar-benar tidak menyangka Tareeq akan mengucapkan hal yang begitu menyakitkan kepada gadis sebaik Zulaikha.


Pria usia lanjut itu segera menghampiri Zulaikha saat melihat gadis itu keluar dari rumah, ia menyuruh gadis itu untuk masuk ke mobilnya lalu pergi meninggalkan kediaman Tareeq.


"Jujurlah kepada Kakek, Nak. Apa rumah tanggamu selama ini baik-baik saja?" tanya pria usia lanjut itu kepada Zulaikha yang hanya diam tertunduk.


"Kami baik-baik saja, Kek," jawab gadis itu lirih.


"Lalu kenapa kalian tinggal di kamar yang berbeda?" selidik Kakek Husein.


Zulaikha menatap Kakek dari suaminya itu dengan penuh tanda tanya, bagaimana Kakek bisa tahu? Begitu pikirnya, tapi tetap saja ia bingung harus menjawabnya bagaimana.


Kakek Husein yang mengerti dengan arti tatapan Zulaikha akhirnya kembali berbicara. "Kakek tadi melihat semuanya termasuk perkataan Tareeq, anak itu benar-benar keterlaluan. Maaf Nak, bukannya Kakek ingin mencampuri urusan rumah tangga kalian. Namun, untuk saat ini tinggallah di apartemenmu untuk beberapa saat, tenangkan hatimu."


"Apartemenku?" Zulaikha merasa sedikit bingung, rumahnya di Indonesia saja sangat sederhana, bagaimana dia bisa memiliki apartemen di negara orang.


Kakek Husein mengangguk sambil tersenyum. Tak lama kemudian, mobil yang membawa mereka berhenti di depan sebuah gedung tinggi.


Mereka terus berjalan dan menaiki lift menuju unit apartemen yang di maksud Kakek Husein.


"Nah, tinggallah di sini selama beberapa hari, tenangkan hatimu, dan beri Tareeq pelajaran dengan hilangnya kabarmu, jika dia menghubungimu, abaikan saja."


"Kami tidak memiliki nomor satu sama lain, Kek," jujur gadis itu, membuat Kakek Husein hanya bisa menepuk jidatnya.


"Astaghfirullah." Hanya ucapan itu yang bisa di katakan oleh Kakek Husein yang merasa miris dengan rumah tangga sang cucu.


"Baiklah, Kakek akan pulang dulu, assalamu 'alaikum," ucapnya lalu pergi. Zulaikha menatap kepergian Kakek Husein hingga hilang di balik dinding lalu ia pun masuk ke unitnya.


*Flashback off*


***


Satu minggu telah berlalu sejak Ibu Ammara menjaga Nameera di rumah sakit. Bahkan wanita baya itu sudah memperkenalkan anaknya yang bernama Rafif kepada gadis itu, dan ia dapat menyambut dengan baik adiknya.

__ADS_1


Beberapa kali Nameera meminta Tareeq untuk datang menjenguknya, tapi pria itu selalu menolak karena tidak ingin bertemu Ibu Ammara. Entah bagaimana lagi cara yang harus ia tempuh agar bisa mendamaikan ibu kakaknya itu.


Di tengah kebimbangannya, ponsel Nameera berdering, dan lagi-lagi nama sang kakak yang tertera di layar benda pipihnya itu. Paling juga ingin menanyakan kabarnya seperti biasa karena tak bisa menjenguknya secara langsung.


"Halo, assalamu 'alaikum," ucap gadis itu.


"Wa'alaikum salam, bagaimana kabarmu, Dik?"


"Entahlah, jika penasaran datanglah langsung ke sini, Kak."


"Maafkan aku, Dik."


"Ya sudah, jika tidak ingin datang, matikan saja teleponnya."


"Tunggu, apa kamu memiliki nomor ponsel Zulaikha?"


Nameera yang mengetahui rencana kakeknya, kini tersenyum senang. Apa Kakaknya kali ini sudah kehabisan cara untuk menemukan Zulaikha? Jika memang begitu, maka dia akan memanfaatkan situasi ini.


"Aku punya, Kak. Tapi jika Kakak ingin mengambilnya, sebaiknya kakak datang ke sini secara langsung," ujar Nameera dan tak ada lagi suara di seberang telepon, sepertinya pria itu langsung mematikan ponselnya.


Satu jam, dua jam, hingga tiga jam telah berlalu, jam dinding bahkan sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi pria itu tak kunjung datang.


Nameera baru saja akan menutup mata untuk beristirahat mengikuti Ibu Ammara yang telah tidur lebih dulu karena kelelahan, tapi tiba-tiba suara pintu terbuka kembali menyadarkannya,


Sesosok pria tampan yang tidak lain adalah kakaknya kini sedang berdiri di ambang pintu, ia menoleh sejenak ke arah Ibu Ammara yang sudah tertidur pulas, lalu beralih menatap sang adik.


Tareeq melangkah mendekati Nameera lalu mengecup kening sang adik.


"Maafkan kakak karena tidak pernah menjengukmu, kakak masih butuh waktu untuk bisa menerima semuanya, dan kakak harap kamu mengerti," lirih pria itu, membuat Nameera yang berbaring hanya bisa menatap wajah sang kakak yang tampak serius.


"Sekarang kakak sedang kalut, tidur kakak tidak pernah nyenyak, dan hari-hari kakak terasa sangat hampa. Harus kakak akui, kakak sangat merindukan Zulaikha, jadi tolong bantu kakak kali ini."


-Bersambung-


Note: Sertifikat kepemilikan atas unit yang dibangun di atas lahan bersama, seperti apartemen di luar negeri di kenal memiliki dua tingkatan, yaitu freehold dan leasehold. Leasehold memiliki durasi waktu batasan kepemilikan seperti 99 tahun, dan freehold tidak memiliki batas waktu kepemilikan dan bisa di wariskan ke anak atau pun cucu.

__ADS_1


__ADS_2