Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Pria Baik


__ADS_3

Usai melaksanakan sholat maghrib dan makan malam, Zulaikha duduk bersama Tareeq dan Kakek Husein di ruang keluarga sambil menikmati mangga muda sebagai pengganti makan malam, hal itu karena ia selalu merasa tidak enak tiap kali nasi atau makanan lain masuk ke perut wanita itu, hanya mangga yang menurutnya paling nyaman dimakan saat ini.


Berbicara tentang mangga, mungkin ini terakhir kalinya Zulaikha meminta Tareeq untuk memanjat pohon. Bukan karena tidak mampu memanjat, hanya saja pria itu memiliki trauma dengan semut rangrang, sehingga hanya dengan melihatnya tubuhnya bergetar, bahkan pria itu sempat terjatuh dari pohon sebelum ia berhasil mengambil buah mangga.


Hingga akhirnya, mau tidak mau, Zulaikhalah yang memanjat pohon mangga itu. Awalnya Tareeq melarang, tapi saat melihat kemampuan memanjat sang istri yang begitu lincah, Tareeq hanya bisa diam dengan mulut yang terbuka.


Tidak tahu saja dia jika memanjat pohon adalah kebiasaan gadis desa seperti Zulaikha sejak kecil. Di desa tak ada wahana bermain seperti di kota, sehingga sebagai gantinya, Zulaikha dan teman-temannya akan memanjat pohon dan berayun-ayun di dahannya untuk memperoleh kesenangan tersendiri.


"Kenapa lihat-lihat? Mau?" tanya Zulaikha seraya menyodorkan mangga dengan sambal rujak buatannya sendiri. Bagaimana tidak, sejak tadi Tareeq tak berhenti menelan salivanya saat menonton sang istri menikmati mangga.


"Apa seenak itu?" tanya pria itu memastikan.


"Hum, enak sekali, coba buka mulut, By, biar aku suapin." Tareeq membuka mulut dengan begitu patuh dan satu potong mangga kini berhasil masuk ke mulut pria itu setelah Zulaikha menyuapinya.


"Gimana?" tanya Zulaikha sambil menahan tawa karena melihat raut wajah Tareeq yang berubah kecut, begitu pun dengan Kakek Husein yang sejak tadi mengamati interaksi antara cucu dan cucu menantunya.


"Asam, pedas, asin, kok rasanya aneh banget sih?" tanya Tareeq setelah menelan paksa mangga yang sudah terlanjur berada di mulutnya.


"Ya memang gitu rasanya, ini namanya rujak mangga, enak banget tahu" terang Zulaikha.


"Apanya yang enak, rasanya aneh gitu ...."


"Tareeq, jika tak suka dengan makanannya, jangan mencela. Lidah orang itu beda-beda, mungkin di lidahmu memang tidak cocok, tapi di lidah istrimu justru sangat cocok, buktinya Zulaikha sangat menikmati mangga itu," sela Kakek Husein menjelaskan, membuat Tareeq bungkam seketika.


"Iya, Kek," jawab Tareeq lalu kembali diam.


Tak lama setelah itu, Nameera datang dan ikut bergabung. Tak terlihat Ali setelah makan malam tadi karena tiba-tiba pria itu kembali muntah.


"Di mana Ali?" tanya Tareeq.


"Di kamar, dia tidak enak badan," jawab Nameera.


"Mungkin di masuk angin kali," tebak Zulaikha.


"Masuk angin?" Kakek Husein, Tareeq, dan Nameera kompak bertanya karena merasa asing dengan istilah itu.

__ADS_1


Melihat raut wajah kebingungan dari tiga orang di hadapannya, Zulaikha langsung menepuk jidat. Ah, benar, ia lupa bahwa istilah masuk angin hanya ada di Indonesia dan saat ini ia sedang berbicara dengan orang Qatar yang tentu saja tidak akan mengerti.


"Sok tahu, Ali itu sedang mengalami sindrom couvade atau kehamilan simpatik." Bibi Afra tiba-tiba muncul dan langsung duduk di samping Kakek Husein.


"Ah iya, aku tahu itu, sebuah sindrom di mana suami akan merasakan keluhan-keluhan yang biasanya Ibu hamil rasakan, benar 'kan, Bibi?" terang Zulaikha sekaligus ingin memastikan penjelasannya sudah benar menurut Bibi dari suaminya.


"Nah, itu kamu tahu, lalu kenapa kamu bilang masuk angin? Memangnya balon masuk angin, ada-ada saja kamu," ujar wanita paruh baya itu.


"Maaf, Bi. Di negaraku, gejala kayak gitu biasanya orang bilang masuk angin, terus paling enak dikerokin, Bibi tidak akan tahu rasanya kalau belum coba," balas Zulaikha.


"Nanti saja aku rasa kalau sudah nikah sama orang Indonesia kayak kamu," ketus Bibi Afra yang berarti ia tidak akan pernah mencoba hal itu karena baginya, menikah dengan orang Indonesia adalah sesuatu yang mustahil.


"Aamiiin," ucap Zulaikha dengan suara lantang membuat Bibi Afra langsung melayangkan tatapan tajam ke arahnya, sementara Tareeq, Nameera, dan Kakek Husein kini hanya bisa menahan tawa mereka.


Suara ponsel berdering dari saku baju Bibi Afra seketika mengalihkan atensi wanita paruh baya itu.


"Assalamu 'alaikum," ucapnya mengawali pembicaraan.


"Wa'alaikum salam, Bibi ini Khalid, Bibi kenal 'kan sama wanita yang sering datang ke lapas menginjungi Ibunya?" tanya pria di seberang telepon.


"Dia sedang membutuhkan bantuan, tapi saya tidak bisa membantunya, apa Bibi bisa ke sini untuk membantunya?"


"Apa maksudmu?"


"...."


Bibi Afra menautkan kedua alisnya saat mendengar keterangan dari Khalid. "Baiklah, aku segera ke sana," ujar Bibi Afra lalu segera beranjak pergi tanpa mengatakan apa pun kepada Kakek Husein, Tareeq, dan Zulaikha yang ada di ruang keluarga, hingga menimbulkan tanda tanya di pikiran mereka.


***


Khalid masih menunggu di tepi jalan yang ramai akan kendaraan. Hingga beberapa saat kemudian, sebuah taksi berhenti tepat di sampingnya dan keluarlah seorang wanita paruh baya.


"Bagaimana keadaan Qifty, Khalid?" Bibi Afra langsung melihat keadaan Qifty yang masih dalam keadaan sama, tak berubah tempat saka sekali.


"Dia tertidur, Bi. Maaf karena saya menelepon Bibi, hanya Bibi yang menurut saya bisa dipercaya, saya khawatir ada yang melaporkan dia ke polisi karena salah paham."

__ADS_1


"Kamu 'kan polisi?"


"Iya, Bi. Tapi saya tahu ceritanya, makanya saya kasihan jika dia sampai di tangkap karena itu."


"Baik juga kamu. Ya sudah, biar aku yang membawa mobilnya menuju apartemennya, tapi kamu harus mengikutiku."


"Kenapa harus begitu, Bibi?" tanya Khalid sedikit heran.


"Ya karena kamu yang pertama kali menemukannya, makanya kamu harus memastikan dia aman hingga tiba di apartemennya."


Khalid hanya bisa menghela napas pasrah. "Baiklah, saya akan mengikuti Bibi dari belakang," jawab Khalid.


Mobil Qifty pun mulai kembali melaju dengan Bibi Afra yang mengemudikanya, sementara Khalid tetap setia mengikutinya dari belakang hingga mereka tiba di kawasan apartemen elit yang menjadi tempat tinggal pribadi Qifty.


Baru saja Khalid akan segera pergi, tapi lagi-lagi Bibi Afra menahan pria itu agar mau membantunya membawa tubuh Qifty yang tidak sadarkan diri sampai ke lantai delapan. Awalnya Khalid menolak karena ia benar-benar tidak berani menyentuh wanita itu.


Akan tetapi, karena tak ada pilihan lain, akhirnya dengan sangat terpaksa, Khalid menggendong Qifty dengan di dampingi Bibi Afra di sampingnya. Sembari berjalan bersama, Bibi Afra yang merasa Khalid benar-benar baik, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya-tanya seolah sedang basa-basi, tapi sebenarnya serius.


"Khalid, apa kamu sudah menikah?" tanya wanita paruh baya itu.


"Belum, Bibi. Ada apa?"


"Tidak, hanya tanya-tanya saja, lalu apakah kamu sudah memiliki calon istri?"


Khalid tersenyum kecut mendengar pertanyaan Bibi Afra. "Apa Bibi sedang mengejekku karena sudah di tolak oleh keponakanmu beberapa bulan yang lalu?"


"Astaghfirullah, kamu itu masih muda tapi gampang sekali berpikiran buruk. Bibi hanya penasaran, siapa tahu kamu tertarik dengan wanita yang sedang kamu gendong itu."


Khalid seketika menatap wajah Qifty yang masih tertidur dalam gendongannya. Tidak bisa ia pungkiri, Qifty memang sangatlah cantik dan mampu menarik perhatiannya, hanya saja ia merasa tidak mungkin wanita itu mau padanya karena setiap kali bertemu di kantor polisi atau di lapas, hanya perkataan ketus yang ia terima.


"Itu mustahil, Bibi. Dia sepertinya membenciku," ucap Khalid dengan tatapan yang kini menatap lurus ke depan.


Pria itu tidak menyadari jika kini Bibi Afra sedang tersenyum penuh arti. Dari jawaban Khalid saja, ia sudah tahu bahwa pria itu memiliki sedikit ketertarikan pada Qifty. Sebuah ide pun muncul di pikirannya, tapi kali ini ia tak akan mengumbar ide itu, biarlah ia berusaha dalam senyap, agar kejadian seperti Tareeq dan Qifty waktu itu tidak terulang lagi.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2