
"Tapi Tareeq, bukankah hati manusia itu bisa berubah? Mungkin saat ini hatimu belum tertarik padaku, tapi bisa saja suatu hari nanti kamu mulai tertarik dan ingin menikahiku, aku hanya sedang berusaha membuatmu berpikir mana yang layak dan tidak layak kamu jadikan istri."
Tareeq tertawa mendengar perkataan Qifty. "Jadi menurutmu, siapa yang layak dan tidak layak menjadi istriku?"
"Apa perlu ku jawab? Kamu pasti sudah tahu jawabannya, dari segi apa pun aku lebih baik dari dia."
"Yah, kamu benar, aku memang sudah tahu jawabannya, dan status kalian terhadapku pun sudah menjawab siapa yang layak dan tidak layak. Dia istriku, dan kamu bukan, tidak peduli seberapa unggulnya kamu, sudah jelas kan?"
Usai mengatakan itu, Tareeq langsung pergi meninggalkan Qifty yang bahkan terbungkam oleh perkataannya sendiri. Merasa kesal dengan sikap Tareeq, gadis itu memutuskan untuk langsung pulang tanpa kembali menemui Bibi Afra. Rasanya ia telah benar-benar kehilangan muka di depan pria yang sudah ia cintai sejak lama.
Tareeq berjalan memasuki kamar Nameera seorang diri. Hal itu membuat Bibi Afra langsung menghampirinya dengan deretan pertanyaan bak kereta api.
"Bagaimana pembicaraanmu dengan Qifty? Bukankah dia memang lebih baik dari istrimu? Apa kamu sudah memutuskan pilihanmu? Oh iya dimana Qifty?" cecar wanita paruh baya itu
"Dia sudah pulang, Bibi. Jika Bibi penasaran dengan pembicaraan kami, Bibi bisa menyusulnya dan menanyakan langsung padanya mumpung dia belum pergi jauh," ujar Tareeq, dan benar saja, Bibi Afra langsung keluar menyusul Qifty tanpa mengatakan apa pun.
Pria itu hanya bisa membuang napas lesu menatap kepergian Bibinya yang benar-benar tidak peduli dengan Nameera. Meski begitu, ia tetap berusaha menghormati adik dari ayahnya itu karena bagaimana pun juga dialah yang sudah menggantikan sosok Ibunya selama ini.
Tareeq berjalan ke arah sofa dan mendaratkan tubuhnya di sana. Ingin sekali ia menanyakan keadaan Nameera secara langsung, tapi keberadaan Zulaikha di dekat sang adik membuat pria itu mengurungkan niatnya.
Ia menatap Nameera yang tampak sedang asik makan, kemudian beralih menatap Zulaikha yang sibuk menyuapi sang adik. Bahkan bisa-bisanya gadis itu membuat sang adik tertawa di tengah sakit yang menderanya.
Tanpa ia sadari, kedua ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah lengkungan tipis, hanya saja lengkungan tipis itu hanya berlangsung beberapa detik saja dan kemudian lenyap seketika saat gadis yang sejak tadi ia tatap tanpa sengaja menoleh ke arahnya.
"Jadi bagaimana keputusanmu setelah berbicara dengan Qifty?" tanya Kakek Husein dengan bahasa Arab.
"Kakek, menikahi satu wanita saja rasanya begitu berat, bagaimana mungkin aku menikahi dua wanita? Aku tidak sanggup, Kek," jawab Tareeq jujur.
"Lalu, bagaimana jika Bibimu memintamu untuk menceraikan Zulaikha dan menikahi Qifty?" tanya Kakek Husein lagi.
Tareeq membuang napas lesu. "Kakek, terlepas dari pernikahanku yang berawal dari keterpaksaan, bagiku, pernikahan adalah sesuatu yang ingin dilakukan sekali seumur hidup," jelas pria itu. "Meskipun sampai saat ini aku belum bisa menjalani kewajibanku sebagai suami dengan baik," lanjutnya dalam hati.
***
Sementara itu, di halaman depan rumah, Bibi Afra sedang melakukan pembicaraan serius.
__ADS_1
"Bibi, aku benar-benar sudah kehilangan muka di depan Tareeq," ujar Qifty dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Apa kamu ingin menyerah, Nak?" tanya Bibi Afra.
"Aku tidak tahu, Bi. Aku bingung apa yang harus kulakukan," ucap Qifty putus asa.
"Tetaplah berusaha, apa pun yang kamu lakukan Bibi akan mendukungmu. Bibi sangat mengharapkan kamu yang menjadi istri Tareeq dan bukan gadis miskin itu."
Qifty terdiam sejenak, ia benar-benar bingung bagaimana caranya untuk bisa menarik ketertarikan Tareeq kepadanya. Namun, sebuah ide tiba-tiba terlintas di pikirannya.
"Bibi, bagaimana jika aku melakukan ini?" Qifty membisikkan sesuatu di telinga Bibi Afra, membuat mata wanita paruh baya itu membola. "Apa Bibi akan mendukungku?" lanjutnya bertanya.
"Tapi .... Karirmu yang akan dipertaruhkan di sini, Nak."
"Aku jamin tidak akan, Bi," ujar Qifty sembari tersenyum.
***
Hari kini berganti malam, Tareeq, Zulaikha dan Kakek Husein masih setia di kamar Nameera.
Suara ponsel Tareeq seketika menyadarkannya dari lamunan yang entah tentang apa.
"Halo, assalamu 'alaikum," ucap pria itu membuka percakapan.
"....."
"Apa? Besok?"
"...."
"Kenapa mendadak sekali?"
"...."
"Baiklah kalau begitu. Wa'alaikum salam."
__ADS_1
Panggilan telepon pun berakhir. Tareeq lantas mendekati sang Kakek yang sedang menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kakek, besok Tareeq akan ke Dubai, rekan bisnis Tareeq yang di sana tiba-tiba ingin melakukan pertemuan," ujar Tareeq.
"Baiklah, pergi lah, Nak, kakek yang akan menjaga adikmu di sini," ujar Kakek Husein. "Zulaikha?" lanjutnya memanggil sang cucu menantu yang masih memijit kaki Nameera yang sudah tertidur, membuat gadis itu menoleh.
"Iya, Kek?" tanya Zulaikha.
Pulanglah bersama Tareeq malam ini, besok dia akan melakukan perjalanan bisnis," ujar Kakek Husein.
Zulaikha sedikit menoleh ke arah Tareeq yang masih sibuk dengan ponselnya. "Baiklah, Kek," balas gadis itu kemudian.
Mereka pun terpaksa pulang ke rumah malam ini, sebenarnya Zulaikha sedikit keberatan ingin meninggalkan sang Kakek yang terlihat kelelahan bersama Nameera, hanya saja ia juga memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan segala keperluan Tareeq yang akan pergi besok.
"Kakek menginginkan kamu untuk ikut dalam perjalanan bisnisku, tapi sebaiknya kamu tidak usah ikut."
"Aku memang tidak ingin ikut, aku ikut pulang saat ini karena aku hanya ingin membantumu menyiapkan pakaianmu saja," balas Zulaikha cepat, membuat pria itu sedikit melirik ke arahnya.
"Kamu juga tidak perlu melakukan itu ...."
"Tolong, jangan melarangku," tegasnya, bahkan sebelum Tareeq menyelesaikan perkataannya.
Suasana mobil kembali hening. Tak ada lagi suara dari kedua suami istri itu. Masing-masing kembali sibuk dalam pikiran mereka yang entah apa.
Tak terasa, mobil yang dikemudikan Tareeq kini sampai di halaman rumahnya. Pria itu langsung keluar dari mobil lebih dulu tanpa sepatah kata pun, kemudian di susul oleh Zulaikha.
Gadis itu berdiri di dekat pintu kamar Tareeq yang juga berdekatan dengan pintu kamarnya, kamar pria itu tidak tertutup hingga terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Zulaikha masuk ke dalam kamar itu dengan cepat lalu menyiapkan baju yang akan di pakai sang suami malam ini.
Setelah itu, ia berjalan kembali ke dalam walk in closet untuk menyiapkan pakaian yang akan di gunakan Tareeq selama perjalanan bisnis nanti. Gadis itu menyiapkan semuanya dengan begitu lincah sehingga semua sudah berhasil ia siapkan sebelum pria itu keluar dari kamar mandi.
Pintu kamar mandi pun terbuka, Tareeq keluar dari dalam sana dalam keadaan yang lebih segar. Tak lupa ia menutup pintu yang tadi ia lupakan karena buru-buru ingin segera buang air. Namun, saat ia berbalik, pandangannya langsung tertuju ke tempat tidur di mana pakaian gantinya sudah tersedia dengan rapi di sana, sesuai perkiraannya tadi saat di kamar mandi.
Pandangannya kini beralih ke arah koper yang sudah berdiri rapi di sisi nakas, dibukanya koper itu, dan terlihat semua keperluannya telah siap di dalamnya, lagi-lagi kedua ujung bibir pria itu tertarik membentuk lengkungan tipis, sebuah senyuman terlihat di wajahnya.
Ya, sadar tidak sadar, selama dua bulan bersama dengan Zulaikha yang selalu sigap menyiapkan segala keperluan meski tanpa sepengetahuannya, pria itu mulai terbiasa dengan semua yang dilakukan sang istri terhadapnya.
__ADS_1
-Bersambung-