Tasbih Cinta Di Negeri Qatar

Tasbih Cinta Di Negeri Qatar
Memafkan itu Menenangkan


__ADS_3

Menghapus luka di hati tidak semudah menghapus jejak di pasir, luka di hati itu bagaikan pahatan kayu yang sampai kapan pun akan tetap ada, kecuali jika kamu kembali memahatnya menjadi sesuatu yang lebih indah, maka pahatan itu tidak akan menyiksamu melainkan membuatmu tersenyum tiap kali melihatnya.


_________________________________________


Zulaikha dan Tareeq melangkah bersama memasuki gedung rumah sakit sambil bergandeng tangan, senyuman keduanya seolah tak bisa surut dari wajah mereka, bagai sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Faktanya, mereka memang baru merasakan kasmaran yang sesungguhnya setelah beberapa bulan menikah.


Langkah kaki pasangan suami istri itu membawa mereka ke depan ruang ICU tempat di mana Nameera di rawat. Dari kejauhan terlihat jelas Ibu Ammara sedang menunggu di luar dengan begitu setia karena mereka tidak boleh sering keluar masuk ruangan itu.


Zulaikha seketika menghentikan langkahnya dan melepas tangan Tareeq. Gadis itu memberikan kode kepada sang suami untuk berbicara jika ia ingin melatih kebesaran hatinya secara perlahan.


"Saat kamu merasa kesal dengan Ibu, ingatlah pengorbanannya saat hamil, melahirkan, menyusui, dan merawatmu hingga besar dengan penuh kasih sayang, agar kebencian tidak menguasai hati kamu," pesan Zulaikha, sederhana, tapi sangat berarti.


"Aku akan menunggumu di taman," pungkas gadis itu lalu segera berbalik dan pergi meninggalkan Tareeq.


Kini tinggal Tareeq yang diam di tempatnya seraya menatap sang ibu dari kejauhan. Perlahan pria itu melangkah mendekati sang ibu. Sementara Ibu Ammara yang menyadari kehadiran Tareeq hanya memperlihatkan senyuman tulus di wajahnya.


"Aku ingin bicara, apa boleh?" tanya Tareeq.


"Tentu saja, kemarilah." Ibu Ammara menepuk kursi di sampingnya sebagai isyarat agar Tareeq duduk di tempat itu.


Meski masih canggung, Tareeq memberanikah diri untuk duduk di samping Ibu Ammara.


Hening sejenak, pria itu sedikit bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Namun, saat ia hendak membuka mulut untuk berbicara, Ibu Ammara justru berbicara lebih dulu.


"Terima kasih, Nak, sudah mau berbicara dengan ibu. Ibu tahu kamu sangat membenci ibu, tapi setidaknya beri ibu kesempatan untuk meminta maaf padamu," ujar Ibu Ammara yang makin lama suaranya terdengar semakin bergetar.


Tarreq hanya diam, tapi tangannya justru terkepal demi menahan rasa di hatinya yang juga ikut bergetar mendengar perkataan ibunya itu. Andai saja luka masa lalunya dapat dihapus dengan mudah, tentu rasa rindulah yang lebih menonjol di hatinya saat ini.


"Ibu minta maaf, Nak. Ibu memang salah sudah menyakiti kalian dulu, ibu tidak pernah menduga jika pada akhirnya kamu akan sangat terluka akibat perbuatan ibu, jika kamu ingin menghukum ibu, ibu akan terima, Nak," ungkap Ibu Ammara dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Tareeq masih saja terdiam mendengar ungkapan sang ibu, air matanya seolah memaksa ingin keluar menerobos pelupuk matanya saat ini, tapi ia sungguh tak ingin terlihat lemah di hadapan wanita paruh baya itu.


"Aku ... aku mau minta maaf juga karena sudah menggunakan 12 tahunku untuk membenci Ibu," ungkap Tareeq. "Aku juga berterima kasih karena bantuan Ibu, kini Nameera sudah selesai melakukan transplantasi." Setelah sekian lama berusaha menahan gejolak di dadanya, akhirnya dua ungkapan itu terlontar dari mulutnya.

__ADS_1


"Tidak, Nak. Kamu tidak perlu mengatakan itu bagaimana pun ini sudah kewajiban ibu untuk melindungi kalian, bahkan jika nyawa ibu sekali pun itu tidak cukup untuk mengganti 12 tahun kalian tanpa kehadiran ibu," ujar Ibu Ammara sesenggukan.


Hati Tareeq seolah teriris mendengar perkataan sang ibu. Di saat seperti ini, ia kembali mengingat kebersamaannya sebelum masalah itu hadir dan memporak-porandakan hati dan psikisnya hanya dalam waktu singkat, tapi butuh waktu lama untuk bisa berdamai dengan luka dan trauma itu.


Saat ini adalah waktu yang tepat untuk melepas semua rasa benci yang bersarang di hatinya, memaafkan dan mengikhlaskan adalah obatnya.


"Boleh aku memegang tangan ibu?" tanya pria itu ragu-ragu.


"Apa kamu sudah memafkan ibu?" Merasa tak percaya dengan perkataan putranya, Ibu Ammara kembali bertanya untuk meyakinkan dirinya dan ia mendapat jawaban anggukan dari Tareeq.


Ibu Ammara tersenyum, ia mengulurkan tangannya dan perlahan di sambut oleh Tareeq. Pria itu lantas mencium punggung tangan yang tidak lagi kencang dengan air mata yang kini telah keluar dari pelupuk matanya.


Begitu pun dengan Ibu Ammara yang semakin menangis terharu melihat apa yang di lakukan putranya, dia yang dulu berperangai dingin kini perlahan kembali menghangat.


"Boleh ibu memelukmu?" lirih wanita paruh baya itu.


Tareeq melepas tangan sang ibu lalu kembali mengangkat wajahnya yang sudah sedikit basah oleh air mata. Kemudian ia kembali menganggukkan kepala sebagai isyarat bahwa sang ibu boleh memeluknya.


Tanpa berkata-kata, Ibu Ammara langsung memeluk putra sulung yang sangat ia rindukan itu, untuk beberapa saat mereka menangis dalam pelukan masing-masing, meluapkan segala rasa yang tertahan dalam hati mereka selama ini, entah itu rindu, atau luka dan kecewa, yang jelas hati mereka seketika merasa lega setelah melakukannya.


"Ibu, Ayah, bagaimana kabar kalian di sana? Apa kalian tahu? Aku sangat merindukan kalian?" Zulaikha menyeka bulir air mata yang keluar meski ia sedang tersenyum.


"Sudah cukup banyak masalah yang Zul hadapi tanpa kalian. Luka, tangis, marah, kecewa, senang, hingga cinta sudah kulalui, jika saja Zul tidak pernah ke Negeri Qatar ini, mungkin selamanya Zul akan tenggelam dalam lubang kesedihan.


Doakan Zul, untuk selalu istqomah dalam belajar menjadi lebih baik, agar bisa menjadi anak sholehah yang senantiasa melangitkan doa kebaikan untuk Ibu dan Ayah.


***


Beberapa bulan kini telah berlalu, Qatar kini memasuki musim panas di mana suhunya berkisar antara 31 hingga 41 derajat selsius, bahkan sesekali suhunya bisa mencapai 50 derajat selsius. Langit kadang tampak begitu cerah sepanjang musim panas, tapi juga kadang berawan.


Nameera telah di nyatakan pulih dari sakitnya setelah beberapa bulan menjalani perawatan pasca transplantasi. Meski harus mengalami gejala efek samping transplantasi, tapi pada akhirnya semua dapat di lalui dengan baik, dukungan dari keluarga tercinta benar-benar sangat berperan saat itu.


"Kak Zul," ucap gadis itu saat keluar dari rumah sakit bersama Kakek Husein, Ibu Ammara, dan Rafif. Ia mendapati Zulaikha dan Tareeq baru saja datang untuk menjemputnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya kamu keluar juga. Kamu mau kemana nih? Biar aku temenin kamu sepuasnya," ujar Zulaikha sembari merangkul pundak Nameera.


"Ekhem." Tareeq yang berdiri di hadapan Zulaikha langsung berdehem saat mendengar istrinya ingin menemani sang adik sepuasnya.


Nameera tersenyum melihat ekspresi tidak rela dari Tareeq. "Panas kak, malas mau keluar-keluar. Lagi pula kalau Kak Zul sama aku sepuasnya, nanti Kak Tareeq gimana?" ucapnya sembari mengerlingkan mata ke arah Tareeq dan di balas acungan jempol oleh kakaknya itu.


"Eh iya, ini panas banget ternyata, kalau begitu yuk masuk, Ibu dan Rafif ikut masuk yah, kita pulang sama-sama," ajak Zulaikha.


"Kami nggak usah ikut, takut bertengkar lagi sama Afra, kami langsung pulang saja," tolak Ibu Afra.


Ya, semenjak kembalinya Ibu Ammara ke Qatar, Bibi Afra tak pernah ingin bertemu dengannya, jika tidak sengaja bertemu,.Bibi Afra akan melontarkan kata-kata pedas untuk mantan kakak iparnya itu.


Apalagi setelah pembatalan nikah oleh Tareeq terhadap Qifty, kini Bibi Afra enggan berbicara dengan pria itu. Jangan tanyakan Zulaikha, sebab hingga saat ini wanita paruh baya itu tidak menerima kehadirannya.


"Ibu tinggal di rumah kami saja, agar Nameera tidak kesulitan jika dia merindukan Ibu dan Rafif," usul Tareeq.


"Benar, Bu. Ibu dan Rafif tinggal bersama kami saja, di rumah sepi sekali soalnya. Apalagi kalau Tareeq pergi kerja, aku nggak ada teman cerita," timpal Zulaikha.


Meski awalnya menolak, pada akhirnya Ibu Ammara setuju dengan usulan putra dan menantunya itu..


-


Malam harinya, Tareeq dan Zulaikha mengadakan acara makan malam bersama kaluarga besarnya, termasuk Ibu Ammara, Rafif, Kakek Husein, Nameera dan Bibi Afra, awalnya wanita paruh baya itu menolak, tapi melalui bujukan Kakek Husein, akhirnya ia mau ikut.


Kini semua keluarga itu berkumpul di meja makan, segala jenis makanan khas Qatar telah tersaji di atas meja, bahkan bakso buatan Zulaikha juga tak ingin kalah menampakkan pesonanya di hadapan orang Qatar.


"Hueek." Semua orang yang ada di meja makan seketika menoleh ke arah Zulaikha yang kini sedang menutup mulutnya dengan tangan.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Tareeq.


Tak lantas menjawab, Zulaikha hanya menggelengkan kepala pelan pertanda ia baik-baik saja. Namun, baru beberapa menit berlalu, lagi-lagi suara Zulaikha mengalihkan perhatian mereka.


"Hueek."

__ADS_1


-Bersambung-



__ADS_2