
Zulaikha kembali ke mobil dan langsung duduk tepat di samping Tareeq. "Kamu terlalu gampang berprasangka buruk, kata orang-orang itu, dulu gedung ini memang bank darah tali pusat. Namun, 5 tahun lalu mereka mengalami masalah, sehingga harus ditutup," jelas Zulaikha.
"Iya, maaf, aku salah," ucap Tareeq. "Lalu? Apa darah tali pusat itu juga tidak ada?" lanjutnya bertanya.
"Aku tidak yakin, sebagian mengatakan semuanya sudah tidak ada, tapi ada yang berkata bank darah itu masih ada, mereka hanya pindah lokasi, begitu pun semua darah tali pusat yang mereka miliki semua dipindahkan, tapi mengenai lokasinya tidak ada yang tahu," jawab Zulaikha.
Tareeq diam sejenak memikirkan cara lain. "Apa tidak ada lagi bank darah tali pusat di sini?" tanya Tareeq.
"Yang aku dapat dari informasi Billy, ada, hanya saja darah tali pusat yang ada di sana adalah simpanan khusus dari beberapa keluarga untuk digunakan suatu saat ketika dibutuhkan, dan mereka membayar untuk waktu penyimpanannya. Aku tidak tahu apakah mereka mau menjual sedikit kepada kita atau tidak," terang Zulaikha lesu.
"Kita coba saja ke sana untuk menanyakannya, barangkali ada yang cocok dan keluarganya mau," ujar Tareeq.
"Ide bagus, dan aku memiliki tambahan ide, bagaimana jika setelah memeriksa di sana kita temui Billy, siapa tahu dia bisa melacak kemana bank darah tadi dipindahkan," usul Zulaikha.
"Apa? Billy lagi? Apa kamu memang sengaja ingin bertemu denganya?" selidik pria itu curiga.
"Astaghfirullah, mulai lagi, apa kamu cemburu?" tanya Zulaikha memicingkan mata menatap sang suami.
"Itu adalah pertanyaan yang sudah pasti kamu tahu jawabannya Zulaikha," jawab Tareeq tanpa menoleh ke arahnya.
"Ayolah Tareeq, kita ini sedang dalam urusan penting, jika urusan kita sudah selesai barulah kamu keluarkan semua unek-unekmu itu," kata Zulaikha berusaha meyakinkan Tareeq yang bagaikan anak ABG saat cemburu.
"Ya sudah, ayo kita ke bank darah dulu, tolong atur mapsnya," pinta pria itu pada akhirnya.
Mereka akhirnya pergi menuju bank yang dimaksud Zulaikha. Dan lagi-lagi mereka harus kembali ke hotel dengan tangan kosong. Hari yang sudah malam, di tambah tubuh yang begitu lelah, membuat pasangan suami istri itu ambruk di tempat tidur usai melaksanakan isya. Zulaikha sendiri telah mengatur pertemuan dengan Billy untuk keesokan harinya.
***
"Bagaimana rencanamu Qifty?" tanya Bibi Afra saat mereka sedang makan malam bersama di restoran mewah.
"Seperti biasa, Bibi. Tareeq menolak tawaranku, dia memilih akan mencari pendonor sendiri dari pada harus menikahiku. Apakah aku setidak menarik itu di matanya?" ujar Qifty dengan tatapan sendu.
"Kamu apa-apaan sih, justru kamu itu sangat menarik, Sayang. Bahkan jauh lebih menarik dari Zulaikha, entah apa yang sudah ia lakukan pada keponakanku itu hingga Tareeq begitu setia padanya," sanggah Bibi Afra.
"Mereka pikir menemukan darah tali pusat itu semudah membalikkan telapak tangan, aku sangat bersyukur karena aku dilahirkan dengan otak cerdas dan cepat tanggap, lihat saja, pada akhirnya mereka akan kembali menemuiku." Qifty memperlihatkan senyuman liciknya.
"Apa pun rencanamu, ku harap itu bukanlah sesuatu yang bisa membahayakanmu di kemudian hari," ucap Bibi Afra memperingatkan.
__ADS_1
"Tenang saja, Bibi. Semuanya aman," balas nya begitu tenang dan senang.
***
Adzan subuh mulai berkumandang mengajak setiap hambaNya untuk kembali mendirikan sholat subuh. Zulaikha mulai membuka matanya perlahan, ia hendak bangkit dari tidurnya untuk melaksanakan sholat, tapi tubuhnya terasa berat di bagian perut, rupanya sebuah tangan kekar sedang bertengger di sana.
Entah sejak kapan ia dan Tareeq tidur dalam posisi sedekat ini. Seingatnya tadi malam, Tareeq lebih dulu tertidur di sisi sebelah kanan, lalu di susul dirinya yang tidur di sisi sebelah kiri.
Zulaikha ingin mengangkat tangan sang suami secara hati-hati, tapi gagal saat Tareeq sedikit menggeliat lalu memperbaiki kembali tangannya dan semakin memeluk pinggang Zulaikha lebih erat hingga punggungnya rapat pada dada bidang pria itu.
Bahkan embusan napas sang suami dapat ia rasakan di tengkuknya, membuat bulu tengkuk Zualikha meremang dan jantungnya pun semakin berdegup kencang. Gadis itu terus berusaha melepaskan pelukan Tareeq beberapa kali hingga membuat pria itu terusik dari tidurnya.
"Kenapa banyak gerak sekali?" tanya Tareeq dengan suara seraknya.
"Aku mau sholat, tapi tangan kamu berat banget ini," jawab Zulaikha.
"Memangnya udah adzan?" tanya pria itu lagi tanpa memindahkan tangannya.
"Udah, baru aja selesai adzan," jawab Zulaikha.
"Oh yah? Astaga aku harus segera bersiap ke masjid" ucapnya lalu bangkit dari tidurnya, tak lupa ia mengecup sejenak kening Zulaikha, membuat gadis itu menahan napas.
Zulaikha membuang napas lega. "Astaga, dia suka sekali melakukan sesuatu secara tiba-tiba, membuat jantungku mau lompat saja," gumamnya, lalu segera turun dari tempat tidur dan menyiapkan gamis putih berkerah, kain penutup kepala dan agal berwarna hitam untuk dipakai sholat oleh Tareeq sebagaimana biasa.
Sambil menunggu kedatangan sang suami, Zulaikha memutuskan untuk sholat lalu bersiap-siap. Rencana mereka pagi ini adalah pergi ke tempat Billy yang jaraknya memakan waktu 3 jam lamanya dari lokasi mereka saat ini.
Tepat setelah semuanya siap, Tareeq pun tiba dengan gaya khas pria Timur Tengahnya.
"Kenapa lambat balik?" tanya Zulaikha sedikit heran, pasalnya hampir satu jam Tareeq di masjid.
Tareeq yang mendapati Zulaikha duduk di sofa akhirnya ikut duduk tepat di sampingnya. "Tadi Pak Imam mengajakku cerita-cerita dulu, lancar sekali bahasa Arabnya. Ternyata orang-orang di sini cukup ramah dan baik," ujar Tareeq dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya.
"Memangnya siapa yang bilang orang Indonesia tidak baik?" tanya Zulaikha.
"Aku, tapi itu dulu," jawab Tareeq.
"Oh, kalau yang kemarin membenci orang Indonesia siapa?"
__ADS_1
"Aku juga sih, tapi ...."
"Terus yang nikah sama orang Indonesia siapa?"
"Ya aku juga, tapi itu kan karena di paksa."
"Oh jadi kamu terpaksa?" Zulaikha memicingkan mata menatap sang suami.
"Eh, sekarang tidak lagi, malah aku bersyukur," ralat Tareeq cepat.
"Bersyukur kenapa?"
"Karena kamu adalah pilihan terbaik yang Allah berikan, bahkan aku menyesal telah menyia-nyiakan kamu dulu." Tareeq berbicara jujur dengan raut wajah serius, membuat wajah Zulaikha merona merah.
"Nggak apa-apa kan kita tunda dulu acara resepsi pernikahan kita di sini? Aku ingin Nameera ikut merayakannya bersama kita," lanjut pria itu.
"Tidak apa-apa, aku juga menginginkan Nameera ikut merasakan kebahagiaan bersama kita," balas Zulaikha
"Terima kasih sudah menyayangi Nameera," ucap Tareeq sembari menggenggam kedua tangan Zulaikha.
"Nameera itu seperti cahaya dalam hidupku yang gelap, membawaku dalam kehidupan yang lebih terang dan seperti tasbih yang mengingatkanku pada Allah. Jika saja aku bisa menjadi pendonor yang cocok, tentu aku ingin sekali membantunya, aku menyayanginya seperti adik kandungku sendiri." Suara Zulaikha kini terdengar sedikit bergetar.
Tareeq yang merasa tersentuh akhirnya membawa Zulaikha ke dalam pelukannya. "Apa kamu tahu? menikahimu adalah harapan Nameera, maka dari itu mari kita jalani rumah tangga kita dengan sebaik mungkin, mengharapkan ridho Allah, dan saling membahagiakan, jika kita bahagia, Nameera pasti akan ikut bahagia," tuturnya lirih.
Zulaikha menganggukkan kepala menyetujui perkataan sang suami, kali ini ia juga membalas pelukan Tareeq untuk pertama kalinya, sepertinya ia memang harus membuka hati agar ia juga bisa bahagia tanpa memendam perasaan yang membuatnya selalu merasa bimbang.
--
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam, Tareeq dan Zulaikha kini telah sampai di sebuah cafe di mana seorang pria berkacamata dan temannya sudah menunggu kedatangan mereka.
"Assalamu 'alaikum, selamat datang di kota A. Perkenalkan aku Billy, dan ini teman sekaligus kakak Ipar saya, namanya Akmal." Pria berkacamata itu memperkenalkan diri dengan begitu ramah dengan bahasa Indonesia.
"Wa'alaikum salam, terima kasih, saya Zulaikha, dan ini suami saya namanya Tareeq." Zulaikha ikut memperkenalkan diri.
Mereka pun mulai membicarakan apa yang menjadi alasan pertemuan mereka. Zulaikha menceritakan keadaan Nameera dan misi mereka datang ke Indonesia, Billy yang mulai paham akhirnya membuka laptop dan mulai menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard.
Beberapa menit berlalu dan semua yang ada di sana hanya diam melihat aksi Billy yang begitu memukau. Bahkan Tareeq tampak ikut takjub dengan kemampuan pria yang sempat ia ragukan kemampuannya.
__ADS_1
"Aku telah menemukannya, jadi bank darah tali pusat ini ternyata memang sudah dipindahkan ke Singapura 5 tahun lalu. Dan di sana masih tercatat nama pendonornya, yaitu Rafif anak dari Ammara."
-Bersambung-