Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Menunggumu


__ADS_3


Malam ini Livy sengaja menemani Hizkiel di kamarnya. Ia menyibukkan dirinya untuk membantu Hizkiel mengerjakan tugas, menemaninya memasang lego barunya, dan membacakan cerita pengantar tidur sampai Hizkiel terlelap.


Setelah menyelimuti Hizkiel, Livy pun turun dari tempat tidur dan menata bantal di sofa yang ada di dalam kamar Hizkiel.


'Malam ini lebih baik aku tidur di sini dari pada harus satu kamar dengan Tuan Marcho!' gumam Livy yang sudah siap untuk memejamkan matanya.


Hari ini begitu melelahkan untuk Livy. Semua terasa cepat dan berlalu begitu saja. Tanpa menunggu lama, ia pun sudah tenggelam dalam mimpinya.


Sedangkan Marcho yang kini merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran King Size miliknya terus saja menatap ke arah pintu dengan harapan pintu kamarnya segera terbuka dan terlihat sosok wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya berdiri di sana.


Mata Marcho pun beralih memandang ke arah jam dinding di kamarnya yang kini sudah menunjukkan jam sepuluh malam.


"Ck, tidak mungkin Hizkiel belum juga tidur jam segini!" gerutu Marcho yang sudah tidak sabar menantikan kehadiran Livy.


"Oh My God! Lagi pula untuk apa aku menantikan dia datang ke kamarku?"


"Bukankah seharusnya aku tidak perlu bersikap peduli dengan wanita yang sudah berbuat onar itu?!"


Marcho langsung menutupi tubuhnya dengan selimut dan berusaha memejamkan matanya. Namun tiga puluh menit terlewati, Marcho tidak kunjung terlelap dari tidurnya, melainkan terus saja membolak balikkan badannya seperti orang yang terkena insomnia.


"Huft! Sebenarnya apa aja sih yang Livy lakukan di kamar Hizkiel?" gumam Marcho gusar.


Ia pun akhirnya menyibakkan selimutnya dan turun dari tempat tidurnya.


"Aku harus membeli perhitungan dengannya karena sudah membuatku menunggu!"


Marcho pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar putranya. Saat ia membuka pintu kamarnya, tampak Mila yang sedang mengemasi barang-barangnya di ruang tengah dibantu oleh Mom Merry.


"Istrinya belum balik ke kamar ya Bang?" tanya Mila dengan nada yang sedikit meledek Abangnya.


"Hemm!" jawab Marcho singkat.


"Kayaknya ada yang udah gak sabar nih buat memadu kasih!"


Kali ini Mom Merry ikut menimpali untuk meledek putranya yang sudah sangat gusar menantikan Livy sedari tadi.


Sayangnya Marcho sama sekali tidak peduli dengan celotehan Mommy dan adik perempuannya itu. Ia pun berlalu begitu saja menuju ke kamar Hizkiel.


Betapa geram nya Marcho saat mendapati Livy ternyata lebih memilih tidur di sofa yang ada di kamar putranya dari pada kembali ke kamar dan tidur bersamanya.


Tanpa menunggu lama, ia pun menggendong tubuh Livy ala bridal style dan membawanya ke kamar.


Lagi-lagi Mom Merry dan Mila kembali meledek Marcho yang tampak mesra memperlakukan Livy yang sudah tertidur pulas.

__ADS_1


"Yaaah, ternyata kakak ipar sudah tidur, Mom. Kayaknya ada yang gagal unboxing nih malam ini!" tutur Livy yang langsung mendapat cubitan kecil dari Mommynya.


"Hush, tidak akan mungkin gagal, Mila!" sergah Mom Merry.


"Abangmu setelah sampai di kamar pasti akan mengganggu tidur istrinya dan meminta haknya malam ini."


"Jika tidak, besok pagi Mommy tebak pasti abangmu uring-uringan!"


"Oh yaa. Kalo begitu kita nantikan jawabannya besok pagi!" timpal Mila yang langsung mendapat tatapan tajam dari Abangnya.


"Ups!" Mila langsung menutup mulutnya sendiri.


"Damai ya Bang, tadi cuma gurau aja kok!"


"Aku tidak akan berdamai denganmu, Mila!" balas Marcho kesal.


Bisa-bisanya malam ini ia jadi bahan ledekan Mommy dan juga adik perempuannya.


Sesampainya di kamar, Marcho pun langsung merebahkan Livy di atas ranjang miliknya dan kemudian menyelimuti tubuh perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu.


Setelah itu Marcho pun menyusul naik ke atas ranjangnya dan merebahkan tubuhnya sambil memandangi wajah Livy yang tampak sangat lelah.


"Dasar kelinci bodoh!"


"Bisa-bisanya kau terjebak dalam perangkap yang kau buat sendiri!"


"Meski kau memang terlihat cantik, sayangnya kau hanyalah tawanan ku yang akan mengurus Hizkiel. Tidak lebih!" lanjut Marcho lagi.


Marcho terus saja memandangi wajah Livy sampai ia pun lama kelamaan tertidur dan tenggelam di alam mimpi.


...☘️☘️☘️...


Keesokan harinya Livy sangat terkejut saat ada tangan kekar yang menimpa tubuhnya. Matanya pun langsung terbuka sempurna untuk melihat siapa yang kini sedang bersamanya.


"Tuan Marcho!" gumam Livy dengan suaranya yang tercekat.


'Sejak kapan aku ada di sini?' tanya Livy dalam hati mengingat semalam ia tidur di sofa yang ada di dalam kamar Hizkiel.


Perlahan Livy menjauhkan tangan Marcho yang kini berada di atas tubuhnya. Namun, Marcho justru menarik tubuh Livy dan memeluknya lebih erat lagi.


Jantung Livy pun seketika bertalu-talu tidak menentu terlebih saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Marcho yang membuat bulu kuduknya langsung meremang.


Marcho yang sudah terbangun saat Livy berusaha memindahkan tangannya pun langsung tersenyum dan bergumam dalam hati.


'Kenapa rasanya sehangat ini ya? Bahkan membuat aku enggan untuk melepasnya.'

__ADS_1


Sedangkan Livy pun kembali menggelisahkan tubuhnya agar terlepas dari pelukan Marcho.


"Tuan, saya mohon lepaskan saya!" pinta Livy.


"Bukankah saya harus menyiapkan sarapan dan keperluan sekolah Hizkiel?" lanjutnya lagi.


Sayangnya Marcho tetap tidak mengendurkan pelukannya sedikitpun.


"Diamlah atau aku akan meminta hakku sekarang juga!" ancam Marcho membuat Livy terhenyak.


'Apa? Meminta haknya?!' pekik Livy dalam hati.


'Jangan bilang kalau Tuan Marcho akan kikuk kikuk denganku!'


'Tunggu, bukankah dalam perjanjian tidak ada hal seperti itu dalam pernikahan ini?'


'Haish, aku lupa! Perjanjian tertulis itu dengan mudah nya akan dia rubah sesuka hatinya tanpa menunggu persetujuan dariku!'


'Matilah aku kali ini! Aku benar-benar tertawan olehnya tanpa bisa berbuat apa-apa lagi!'


Melihat tidak ada penolakan dari Livy, membuat Marcho semakin memberanikan tangannya mengusap punggung Livy.


Untungnya saja baru tiga kali usapan, pintu kamar Marcho digedor sedikit kencang dari luar dan kemudian terdengar teriakan dari Hizkiel.


"Daddy, where is My Mom?"


"Sssttt! Hizkiel sayang sama tante Mila aja yuk siapin perlengkapan sekolahnya!" bujuk Mila yang tidak ingin keponakannya itu mengganggu Abang dan juga kakak iparnya.


"No, I just need My Mommy!" jawab Hizkiel yang kembali menggedor pintu kamar daddynya.


Akhirnya mau tidak mau Marcho pun mengendurkan pelukannya dan Livy cepat cepat turun dari atas ranjang dan membuka pintu kamarnya.


"Mommy!" panggil Hizkiel yang langsung memeluk Livy dengan erat seperti sudah lama tidak berjumpa.


"Hai sayang, Good Morning!" sapa Livy sambil mengecup kening Hizkiel.


"Good Morning, Mommy. Hari ini Mommy akan antar jemput Hizkiel sekolah kan?"


"Tentu saja, sayang. Hizkiel sekarang mandi dan berkemas. Mommy akan membuatkan sarapan lezat untukmu!" titah Livy sambil mengusap kepala Hizkiel dengan lembut.


"Siap Mommy!" jawab Hizkiel yang langsung berbalik kembali ke kamarnya.


Sedangkan Marcho hanya bisa membuang nafasnya kasar melihat keakraban antara putra kesayangannya dengan Livy.


"Bisa-bisanya Hizkiel berubah menjadi sangat penurut dengan ucapan kelinci itu!" gumam Marcho.

__ADS_1


Ia pun langsung beranjak dari tempat tidur dan bergegas untuk membersihkan diri.


__ADS_2