Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Pulang ke Kost


__ADS_3


Setelah Hizkiel tertidur, Livy segera berpamitan untuk kembali ke kostnya. Ia sudah sangat ingin bertemu dengan Cintya untuk menceritakan apa yang sudah terjadi padanya hari ini.


Ia pun berpamitan dengan Mom Merry dan juga Marcho. Kini Livy mulai bernafas lega karena sebentar lagi akan keluar dari penjara yang sudah mengurungnya satu hari penuh.


Namun langkah Livy terhenti saat melihat 3 orang body guard di hadapannya. Dua orang pria bertubuh kekar dan seorang wanita dengan gaya tomboy sudah berdiri tegap di depan pintu apartemen Marcho.


“Apa-apaan ini?” tanya Livy yang tidak suka dengan kedatangan body guard Marcho di depannya.


“Kami mendapat perintah untuk mengikuti Anda selama 24 jam penuh, Nona!” jawab salah satu body guard yang bertubuh kekar.


“Hei, aku tidak akan kabur lagi! Kost ku juga sangat sempit. Bagaimana mungkin kalian ikut denganku?” protes Livy yang sangat tidak terima jika harus terus menerus dikuntit oleh anak buah Marcho.


Marcho yang mendengar keributan di luar apartemennya pun langsung keluar.


“Mereka bisa beristirahat di dalam mobil, Livy! Tapi yang perempuan akan terus mengikutimu ke mana pun kau pergi. Yang jelas, aku tidak ingin kau melarikan diri karena aku sudah tidak bisa mempercayaimu lagi!” tegas Marcho.


“Ck!” Livy memutar bola matanya malas.


“Menyusahkan!” gerutu Livy sambil meninggalkan Marcho begitu saja.


Livy pun langsung memasuki lift bersama dengan ketiga body guard yang ditugaskan untuk mengikutinya.


Sesampainya di underground, salah satu body guard yang mengikutinya memberitahukan jika mereka akan mengikuti Livy dengan mobil. Sedangkan Livy tetap akan pulang mengendarai motornya.


“Apaa?!” pekik Livy dengan kencang.


Ia kira akan pulang dengan menaiki mobil, ternyata Marcho sudah menyiapkan kendaraan pribadinya di depan lobby.


“Dasar Tuan Pelit yang tidak tahu diri!” umpat Livy.


Hari ini ia benar-benar sangat sial! Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tubuhnya yang sudah sangat lelah mau tidak mau harus mengendarai motornya dan pulang ke kostnya.


Tiba di kostnya, Cintya langsung menyambut kedatangan Livy yang sudah tampak sangat kusut.


“Livy! Apa yang sudah terjadi padamu?” tanya Cintya yang sedari tadi mengkhawatirkannya.


Livy hanya menggelengkan kepalanya sambil menunjukkan tangannya ke arah body guard yang kini sedang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


“Hidupku usai sudah!” ucap Livy lirih sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam kost-kostannya.


Cintya mengerutkan dahinya dengan sejuta pertanyaan di dalam benaknya. Terlebih saat salah satu body guard wanita mengikuti mereka sampai masuk ke dalam kamar Livy.


Livy yang masih enggan bercerita pun langsung meraih handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi. Kini tinggal Cintya dan body guard yang ditugaskan mengikuti Livy lah yang ada.


“Siapa kamu?” tanya Cintya dengan tatapan mengintimidasi.


“Terra!” jawabnya singkat.


“Apa tujuanmu mengikuti sahabatku?”


“Saya hanya memenuhi perintah dari Tuan Marcho!”


Jawaban Terra membuat Cintya terhenyak. Kali ini ia langsung paham bagaimana posisi Livy yang tentunya sangat sulit. Selepas Livy membersihkan tubuhnya, ia langsung menceritakan semuanya yang terjadi padanya hari ini kepada Cintya. Sedangkan Terra hanya diam terpaku di atas kursi yang ada di dalam kamar Livy sambil mendengarkan cerita Livy.


“Maafkan aku Livy, karena membantuku kau justru menderita seperti ini!” tukas Cintya yang tidak tega mendengarkan cerita sahabatnya.


“Aku benar-benar lelah!” ucap Livy yang mulai menitikkan air matanya.


Cintya pun langsung memeluk sahabatnya dengan sangat erat.


☘️☘️☘️


Keesokan harinya, Livy langsung dibawa paksa oleh body guard Marcho menuju ke sebuah salon ternama. Livy hanya bisa pasrah saat MUA mulai memoles wajahnya dan merubahnya secantik putri kerajaan dalam sehari.


Setelah riasan di wajah Livy selesai, kini saatnya Livy mengenakan gaun pengantinnya yang sudah disiapkan oleh Marcho sebelumnya.


“Tuan, Nona Livy sudah siap!” ucap salah satu pegawai salon memberitahukan kepada Marcho yang masih sibuk dengan ponselnya.


Marcho pun mengangkat kepalanya dan melihat Livy dari atas sampai bawah.



“Tersenyumlah Livy!” titah Marcho yang tidak melihat senyum di wajah Livy sedikit pun.


Livy pun memaksakan dirinya untuk menarik ujung bibirnya agar senyumnya tercetak dengan jelas. Setelah Livy tersenyum, Marcho pun langsung berdiri dan mengangkat lengannya sedikit agar Livy bisa melingkarkan tangannya di lengan Livy.


“Ingat! Bersikaplah dengan baik selama pernikahan kita! Jangan sampai tamu undangan curiga!” bisik Marcho memberi ultimatum.

__ADS_1


“Tamu undangan?” tanya Livy dengan suaranya yang tercekat.


“Bukankah kata Anda jika pernikahan kita saat ini tertutup?”


“Awalnya begitu, tapi Mom Merry tidak menyetujuinya sama sekali!” jawab Marcho tanpa rasa bersalah sedikit pun.


“Lalu bagaimana dengan perjanjian kita kemarin?” tanya Livy mulai gusar.


“Apa kau lupa siapa aku? Aku akan dengan mudah mengubah semuanya atas kehendakku, Livy. Dan tentunya tanpa persetujuan dari mu!”


“Karena aku sekarang sudah memegang kelemahanmu!” lanjut Marcho lagi membuat Livy mengepalkan tangannya dengan geram.


“Dasar gila!” umpat Livy kesal.


Umpatan Livy kali ini langsung dibungkam oleh bibir Marcho yang mendarat tepat di bibir Livy. Cepat-cepat Livy mendorong tubuh Marcho untuk menjauh darinya dan mengusap bibirnya dengan kasar.


“Sial! Apa sebenarnya maumu, Tuan?!” tanya Livy yang kemarahannya sudah di ubun-ubun kepala.


Meski ini bukan ciuman pertamanya, tetap saja Livy tidak suka mencium bibir pria sembarangan. Terlebih pria ini jauh lebih tua darinya.


“Aku hanya ingin kau menjalani peranmu dengan baik! Karena aku akan menciummu lebih dari ini di depan tamu undangan nanti!” jawab Marcho sambil mengusap lipstik Livy yang sedikit berantakan.


“Benar-benar menyusahkan! Bertemu denganmu adalah petaka terbesar di hidupku!” gerutu Livy.


Marcho hanya berdecih pelan mendengar ucapan Livy barusan.


“Cih, bukannya justru kau sendiri yang datang kepadaku dan mengaku sedang hamil anakku?” tanya Marcho membuat Livy menghela nafasnya panjang.


“Itu adalah salah satu kesalahan terbesarku yang sangat aku sesali!”


“Masuk ke apartemen seorang duda dan berakhir di pelaminan terburuk seumur hidupku. Padahal sedari dulu aku mendambakan pernikahan yang paling indah dalam hidupku!”


“Sayangnya yang terjadi kali ini justru sebaliknya.” Livy kini menatap Marcho dengan tajam.


“Sialnya lagi aku hanya menikahi seorang duda yang sudah sepah dibuang orang. Padahal mimpiku selama ini adalah menikah dengan perjaka yang tampan dan tidak tua seperti Anda!”


Marcho membeliakkan matanya sempurna mendengar penuturan Livy barusan. Harga dirinya terasa sangat terinjak-injak oleh gadis ingusan yang tampak sangat cantik di hadapannya.


“Nyalimu cukup besar juga yaaa!”

__ADS_1


“Jangan pernah menyesal dengan apa yang kau katakan barusan, Livy!”


__ADS_2