Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Siapa yang kelabakan?


__ADS_3


Setelah acara pernikahan, Livy langsung dibawa ke apartemen Marcho. Namun kali ini apartemennya berbeda dengan yang kemarin. Lebih luas dan mewah serta tersedia berbagai fasilitas yang sangat lengkap.


Bukan hanya itu, Marcho juga menempati satu lantai penuh di gedung tersebut membuat Livy sangat takjub dan mulai memperhitungkan berapa kekayaan Marcho sebenarnya.


“Nah, Livy. Penthouse ini adalah hadiah pernikahan kalian dari Mommy!” ucap Mom Merry membuat Livy semakin terkesiap.


‘Jadi ternyata bukan dari kekayaan Tuan Marcho, melainkan dari Mom Merry? Berarti Mom Merry lebih kaya dong dari Tuan Marcho?’ gumam Livy dalam hati.


“Thanks mom!” ucap Livy.


“Tidak perlu berterima kasih, Livy. Aku memang hanya memenuhi janjiku kepada Marcho akan memberikan penthouse jika ia menikah nanti.”


“Seharusnya aku yang berterima kasih denganmu karena sudah mau menikahi putraku dan menjadi mom untuk Hizkiel.”


Mom Merry mengusap kepala cucunya yang sedari tadi nempel terus dengan Livy seperti perangko.


“Aku sangat senang melihat cucuku akhirnya bisa tersenyum gembira seperti ini karena sudah lama ia mendambakan seoranhg mommy. Aku harap kau bisa menjadi mommy terbaik untuk Hizkiel!” ucap Mom Merry panjang lebar membuat Livy semakin tidak tahu harus berkata apa.


“Oma tenang saja, aku yakin mom Livy akan mengurusku dengan baik!” timpal Hizkiel yang tampak sangat manja dengan Livy. “Iya kan, Mom?” tanya Hizkiel dan Livy langsung menganggukkan kepalanya.


“Mommy janji akan menjadi Mommy untukmu, Hizkiel!” ucap Livy membuat semuanya tenang mendengarnya.


“Akhirnyaaa, tante Mila bisa balik ke London lagi!” ucap Mila yang sudah sangat merindukan negaranya.


“Kau kembalilah ke sana, Mila! Sepertinya mommy akan sedikit lama di sini. Karena Mommy masih ingin menantikan kehamilan Livy!” balas Mom Merry yang seketika membuat nafas Livy terasa begitu sesak.


Sedangkan Mila hanya tersenyum mendengar ucapan Mommynya. Namun saat pandangannya beralih ke arah Marcho, seketika ia tersadar jika abangnya sedikit diacuhkan oleh Livy karena Livy lebih memilih memanjakan Hizkiel.


“Emm, Hizkiel. Bagaimana jika kita berbelanja ke market yang ada di underground?” tawar Mila.


“Mom Livy biar mengganti bajunya terlebih dahulu.”


Hizkiel memandangi Mommynya dari atas sampai bawah yang masih lengkap mengenakan baju pengantin. Meski mommynya terlihat sangat cantik, tapi Hizkiel paham jika mommynya tentu tidak nyaman dengan pakaiannya saat ini.

__ADS_1


“Okey, Aku akan segera kembali Mommy!” ucap Hizkiel sambil mengecup pipi Livy sekilas.


“Mom akan menunggumu, Hizkiel!” ucap Livy sambil melambaikan tangannya.


Setelah kepergian Hizkiel dan Mila, Livy kini bingung harus ke mana untuk mengganti bajunya. Terlebih saat ini ia tidak membawa barang apa pun. Bahkan Marcho juga sudah masuk ke dalam kamarnya yang Livy tidak tahu di mana letaknya.


“Livy, tunggu apa lagi? Temuilah suamimu di kamar selagi Hizkiel diajak Mila berbelanja!” titah Mom Merry.


“Tapi saya tidak tahu di mana letak kamarnya!” jawab Livy.


“Ck, Marcho ini! Bukannya mengajak istrinya masuk ke kamar malah ditinggal begitu saja!” gerutu Mom Merry pelan.


“Ayo biar Mommy antar!” Mom Merry mengamit tangan Livy dan mengajaknya ke kamar Marcho.


“Kau harus sabar menghadapi suamimu itu Livy. Dia memang terlihat sangat cuek, tapi sebenarnya di sangat peduli!” ucap Mom Merry.


“Jika dia terlihat marah, rayu saja untuk tidur di atas ranjang. Mommy yakin kemarahannya pasti akan hilang!” lanjut Mom Merry membuat Livy menelan ludahnya kasar.


Bagaimana mungkin ia merayu Marcho untuk melakukan hal seperti itu? Pernikahannya kali ini bukanlah pernikahan yang sesungguhnya. Bahkan Livy kini hanya memandang Hizkiel yang memang membutuhkan Mommy.


Ucapan Mom Merry barusan membuat Livy bergidik ngeri dan mulai membayangkan hal yang tidak-tidak. Mom Merry kemudian memberi kode agar Livy segera masuk ke dalam kamar Marcho dan kemudian berbalik meninggalkan Livy yang masih mematung di depan kamar Marcho.


Tiba-tiba pintu kamar Marcho terbuka dan tampak Marcho berdiri tegap sambil menatap tajam ke arah Livy.


“Kenapa masih berdiri di situ?” tanya Marcho. “Cepat masuk ke dalam!!” titah Marcho sambil menarik tangan Livy.


Livy kini hanya bisa menurut tanpa melayangkan protesnya lagi mengingat ancaman Marcho sudah tidak bisa diganggu gugat.


“Maaf Tuan, pakaian dan barang-barang saya masih ada di kost. Apa saya boleh mengambilnya?” tanya Livy hati-hati.


“Tidak perlu! Mom Merry sudah menyiapkan semua kebutuhanmu di sana!” Marcho menunjuk ke arah walk in closet yang sudah lengkap berisikan barang keperluan Livy.


“Baik, Tuan. Terima kasih!” jawab Livy yang langsung menuju ke arah yang ditunjukkan oleh Marcho untuk mengganti gaunnya dan bersiap untuk membersihkan diri.


Sedangkan Marcho yang masih mengenakan jas pengantinnya pun mengikuti langkah Livy menuju walk in closet.

__ADS_1


“Apa yang ingin Anda lakukan, Tuan?” tanya Livy sedikit merasa ketakutan saat Marcho mengikutinya.


“Tentu saja sama sepertimu, melepaskan pakaian lalu membersihkan diri di kamar mandi. Apa lagi?” jawab Marcho membuat Livy mulai kalang kabut.


“Kalau begitu silakan Anda mengganti pakaian Anda terlebih dahulu, Tuan!” ucap Livy.


Namun saat Livy hendak berbalik dan menjauh dari pria yang kini menjadi suaminya, Marcho justru mengunci tubuhnya di depan lemari pakaian.


“Bantu aku melep4s pakaian!” titah Marcho.


Livy yang tadinya hendak melayangkan protes langsung teringat jika ia harus mematuhi titah Marcho. Mau tidak mau Livy pun mulai melep4skan pakaian yang dikenakan Marcho mulai dari yang terluar.


Setelah melep4skan jasnya, kini tangan Livy mulai melep4skan kancing kemeja Marcho satu per satu hingga terlihatlah tubuh atletis Marcho yang hampir membuat liur Livy menetes.


“Sudah, Tuan!” ucap Livy sambil memalingkan wajahnya.


“Yang namanya pakaian itu satu set Livy! Kamu tidak lihat jika yang ini belum kau lep4skan?” tanya Marcho sambil menunjuk ke arah cel4n4nya.


Kali ini Livy sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melayangkan protes.


“Apaaa?!! Mana mungkin saya juga harus melep4skan celana Anda, Tuan?!” sarkas Livy membuat Marcho langsung tersenyum smirk.


“Kenapa?”


“Apa kau takut akan tergoda dengan milikku Livy?” tanya Marcho yang mulai membuka peng4it ikat pinggangnya.


Livy mulai mengatur nafasnya dengan baik untuk menghadapi duda tampan yang kini resmi menjadi suaminya itu. Meski kini ia memang menjadi tawanan Marcho dengan ancaman yang membuatnya tidak berkutik, bukan berarti ia bisa kalah begitu saja.


“Kata siapa takut? Kalau memang itu yang Anda inginkan, maka dengan senang hati akan saya penuhi Tuan Marcho!” balas Livy sambil menarik ikat pinggang Marcho dan membantu untuk melepasnya.


Dengan mengumpulkan keberanian yang tersisa, Livy pun memberanikan dirinya untuk membuka celana milik Marcho. Namun Marcho justru cepat cepat menepis tangan Livy yang hampir saja menyentuh senjata miliknya.


“Tidak perlu kau lanjutkan! Aku bisa melakukannya sendiri!” ucap Marcho sambil beranjak meninggalkan Livy dan masuk ke dalam kamar mandi.


‘Sial! Bisa-bisanya milikku langsung teg4ng begini saat Livy hampir saja menyentuhnya!” rutuk Marcho.

__ADS_1


 


__ADS_2