
Marcho, Livy, juga Hizkiel kini sudah berada di mall dan mereka langsung menuju ke toko buku. Betapa bahagianya Hizkiel memiliki keluarga yang lengkap seperti ini. Suatu hal yang ia dambakan sedari dulu.
Tangannya sama sekali tidak terlepas menggenggam tangan Livy seolah dengan bangga Hizkiel memperkenalkan Mommy cantiknya kepada seluruh dunia.
Namun tanpa disengaja, Livy menangkap sosok yang begitu ia kenal sedang bermesraan di tangga eskalator. Tak hanya Livy, Marcho pun juga melihatnya karena sosok tersebut tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Randy!” gumam Livy dengan suara tercekat. Ia tampak sedikit shock mendapati pria yang masih berstatus sebagai kekasihnya kini sedang bercumbu dengan wanita lain.
“Siapa Randy, Mom?” tanya Hizkiel kemudian.
“Emm, dia teman mom Livy. Mungkin Mom Livy akan menemuinya sebentar!” jawab Marcho. “Kamu akan daddy temani cari buku yaa, biar Mom Livy menemui temannya sebentar saja!”
Livy sangat terkejut dengan perkataan Marcho barusan. Jika sedari kemarin ia sangat susah untuk mendapatkan izin dari Marcho untuk bertemu dengan Randy, kini dengan mudahnya Marcho justru memperbolehkannya untuk menemui Randy.
‘Kemarin gak ngebolehin, kenapa sekarang justru mempersilakan?’ tanya Livy bermonolog dalam hati.
‘Jangan-jangan dia ingin menjebakku?’ Livy mengedarkan pandangannya untuk mengecek keberadaan bodyguard Marcho atau polisi di sekitarnya.
Dan benar saja, tidak jauh dari tempat Randy berdiri tampak ada beberapa polisi di sana.
“Emm, tidak-tidak! Mommy tidak akan menemui teman Mommy!” sanggah Livy merasa takut jika ia dijebak oleh Marcho kali ini. Padahal dalam hatinya ia sangat ingin menanyakan siapa perempuan yang kini bersama dengan Randy.
__ADS_1
Sayangnya ia benar-benar tidak ingin masuk bui seperti yang sudah Marcho ancamkan padanya.
“Kenapa tidak mau?” tanya Marcho berbisik. “Apa kau tidak ingin menanyakan siapa perempuan yang kini sedang bersama dengan kekasihmu itu?”
Livy menghela nafasnya panjang. “Maaf suamiku, saya bukan perempuan bodoh yang bisa Anda jebak seenaknya!” balas Livy memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh Hizkiel.
“Anda pasti sedang merencanakan sesuatu terhadap saya bukan untuk menjebloskan saya ke dalam bui.”
Mendengar perkataan Livy barusan membuat Marcho membuang nafasnya kasar.
“Ck, kau memang perempuan bodoh! Harusnya kau marah melihat kekasihmu bersama dengan perempuan lain!” gumam Marcho dengan kesal.
“Siapa yang daddy bilang bodoh?” tanya Hizkiel yang mendengar umpatan Marcho sambil menatap tajam ke arah daddynya.
“Mommy, jangan sakit hati dengan umpatan daddy yaa. Hizki akan melaporkan ini pada Oma Merry biar daddy dimarahi Oma!” tutur Hizkiel sambil menarik tangan Livy menjauh dari daddynya.
Livy pun mengikuti langkah Hizkiel menuju ke arah toko buku mendahului Marcho. Sedangkan Marcho kini justru yang menemui Randy dan mulai membuat perhitungan dengannya.
“Oh, ternyata sudah punya pengganti Livy ya?” Marcho mendekat ke arah Randy sambil menepuk bahunya.
Randy yang terkejut dengan kehadiran Marcho pun langsung melepaskan perempuan yang kini tengah bergelayit manja di lengannya.
"Wanita ini bukan siapa-siapa!" tegas Randy. "Cintaku masih utuh untuk Livy dan aku akan merebutnya dari sisimu, Tuan Marcho?"
__ADS_1
Mendengar tekad Randy barusan, tangan Marcho pun mengepal sempurna, "Apa yang Anda katakan, Tuan?"
"Jangan pernah bermimpi untuk merebut Livy dari sisiku!" tegas Marcho.
"Kenapa anda terlihat begitu ketakutan, Tuan Marcho?" tanya Randy. "Apa anda takut jika saya mengetahui jika pernikahan anda bukanlah pernikahan yang didasarkan cinta?"
Deg!
Pertanyaan Randy barusan benar-benar menyulut kemarahan Marcho. Dengan sekali ayun, bogem mentah darinya mendarat sempurna di rahang kiri Randy.
Bugh!
"Jaga ucapanmu, Tuan!" hardik Marcho tidak terima.
Bibir Randy langsung mengeluarkan darah segar karena pukulan dari Marcho. Randy mengusap ujung bibirnya dan siap membalas serangan dari Marcho.
Bugh!
Randy membalas pukulan Marcho. "Aku hanya bicara yang sebenarnya. Bahkan aku juga mengetahui isi surat perjanjian dalam pernikahan kalian!"
Pernyataan Randy barusan membuat Marcho sangat terkejut. Ia tidak menduga sama sekali jika Randy justru mengetahui tentang hal ini.
Marcho semakin membabi buta menyerang Randy, begitu pun sebaliknya sampai banyak orang yang mengerumuni mereka berdua dan berusaha untuk melerainya.
__ADS_1