
“Apa Fredy dan juga Randy sudah ditemukan dimana keberadaan mereka sekarang?” tanya Livy kepada Marcho yang terus saja menggenggam tangannya sambil mengemudi.
“Belum, sayang. Padahal aku sudah mengerahkan seluruh anak buahku untuk mencari jejak mereka.”
“Lalu, bagaimana keadaan Mamanya Hizkiel?” tanya Livy yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Marcho.
“Hizkiel tidak punya Mama, yang dia punya hanyalah Mommy Livy yang membuat daddynya ingin selalu melahapnya di atas ranjang!” jawab Marcho dengan nada kesal.
“Ck, bukan itu maksudnya ...”
“Aku tidak ingin membahasnya sayang!” ucap Marcho memotong kalimat istrinya.
“Kenapa?”
“Karena ada hal lain yang lebih penting untuk jadi pembahasan kita kali ini. Seperti, membahas gaya baru bercinta kita nanti malam.”
“Diiih, aku justru tidak ingin membahas masalah itu, sayang. Memalukan!” timpal Livy yang kemudian memejamkan matanya sambil bersandar di headrest.
Marcho pun hanya tersenyum melihat istrinya yang masih malu-malu dengannya jika membahas masalah di kamar. Namun, senyum Marcho hilang seketika saat matanya tertuju ke arah spion mobilnya dan melihat mobil yang kini ada di belakangnya.
‘Sepertinya mobil yang ada di belakang terus saja mengikutiku sejak dari kantor!’ gumam Marcho dalam hati yang sudah mulai waspada.
Tanpa pikir panjang, Marcho pun segera menghubungi anak buahnya.
“Halo, Bobi. Mobil jeep dengan plat nomor xxxx tampak mengikutiku sejak aku keluar dari kantor sore ini!” ucap Marcho saat panggilannya sudah tersambung dengan salah satu bodyguardnya.
“Benar, Tuan. Jangan risau, kami juga tengah mengikuti anda dengan meminjam mobil taksi!” balas Bobi di ujung panggilan.
“Polisi juga sudah bekerja sama dengan kami untuk mencari jejak Randy dan juga Fredy yang belum juga ditemukan!”
“Kerja bagus, Bobi. Kalau begitu, aku tidak akan melakukan penyerangan dan mengikuti permainan mereka.”
__ADS_1
Marcho pun langsung mematikan panggilannya dan kembali waspada karena saat ini Livy masih bersamanya.
“Ada apa sayang?” tanya Livy membuka matanya dan berbalik melihat ke belakang.
“Aku perhatikan mobil jeep yang ada di belakang tengah mengikuti kita sejak kita keluar dari kantor tadi!” jawab Marcho.
“Jalanan kota sangat ramai dan mereka tidak mungkin menghadang kita. Kecuali jika kita singgah sebentar ke supermarket. Tentunya mereka punya kesempatan untuk menyekap salah satu di antara kita.”
“Dengan begitu, kita baru bisa menguak apa yang sebenarnya mereka inginkan dan juga menemukan keberadaan mereka semua!” jelas Livy panjang lebar.
“Saranmu sangat berbahaya , sayang. Dan aku tidak akan pernah setuju akan hal itu!” balas Marcho yang begitu mengkhawatirkan Livy.
“Aku bisa menjaga diriku sendiri dengan baik, sayang. aku hanya penasaran apa motif Randy begitu mengejarku. Padahal dia sudah memiliki istri!”
“Berarti selama ia menjalin hubungan denganku, ia telah membohongiku dan juga keluarga besarku!” tukas Livy menguraikan kekesalannya yang sudah ditipu oleh Randy. Terlebih ia sendiri pernah benar-benar mencintai Randy meskipun akhirnya ia memilih pergi dan melupakannya.
“Kita bisa menguak semua ini tanpa harus masuk ke dalam perangkap mereka, sayang.”
“Caranya?” tanya Livy sambil mengerutkan dahinya.
“Aku setuju! Kapan kita akan menemui Reggy?”
“Bagaimana jika besok?”
“Okey!” jawab Livy singkat sambil kembali melihat ke belakang. Tampak mobil jeep tersebut sudah berbelok dan tidak lagi mengikuti mobil Marcho.
“Mobilnya sudah tidak mengikuti kita, sayang!” ucap Livy.
“Ya, sekarang anak buahku yang sedang mengikuti mobil tersebut. Aku sudah tidak sabar untuk menggeret Fredy dan juga Randy ke kantor polisi!” timpal Marcho.
Sedangkan di sisi lain, Randy saat ini tengah mengamuk dengan Fredy karena saran dari Fredy gagal total dan tidak membuahkan hasil sama sekali.
Bahkan dengan disekapnya Reggy membuat keselamatan Randy kini mulai terancam. Tidak hanya itu, karena kejadian kemarin pun pihak Mall langsung memutus kerja samanya dengan Randy yang saat ini statusnya adalah buronan polisi.
__ADS_1
“Idemu benar-benar sangat buruk, Fredy! Bahkan kini aku menjadi buronan polisi karena mengikuti saran gilamu itu!”umpat Randy yang tengah merutuki kebodohannya karena mengikuti semua saran Fredy.
“Tapi mendatangkan Reggy sama sekali bukan ide saya, Tuan. Apa anda lupa, saya justru tengah berusaha agar anda bisa kembali bersama Nona Livy?” balas Fredy yang tidak terima jika kesalahan ini dilimpahkan kepadanya.
“Dasar sial! Sekarang pikirkan bagaimana kita bisa lepas dari kejaran polisi. Bahkan anak buahku juga saat ini tidak bisa berbuat apa-apa lagi!” keluh Randy yang baru saja mendapat kabar jika anak buahnya yang diminta untuk mengikuti Livy dan Marcho kini tengah berputar balik dan menunda aksinya untuk menculik Livy dengan alasan jalanan kota yang sangat padat dan ramai.
“Aku tahu bagaimana caranya melarikan diri!” balas Fredy yang pernah memiliki pengalaman akan hal ini.
Ia pun menyarankan kepada Fredy untuk tinggal di rumah orang tuanya sementara waktu ini sampai polisi angkat tangan untuk mencari mereka. Karena jika Randy memaksakan diri untuk kembali ke kota asalnya, sudah pasti polisi akan cepat menangkapnya dan memasukkan mereka ke dalam bui.
Kini Randy menimbang nimbang tawaran dari Fredy. Jika ia kembali bertemu dengan Julio, sudah pasti papanya akan marah besar karena kegagalannya dan akan mencampakkannya begitu saja.
Tentunya Randy pun akan menjadi gelandangan. Sedangkan jika saat ini Randy berhasil melarikan diri, tentunya ia akan bebas dari kejaran polisi dan juga bisa memulai hidupnya sendiri dengan harta yang saat ini masih ia pegang.
Ia sendiri tidak mungkin akan menggantungkan hidupnya pada Fredy, mengingat ide Fredy kali ini justru membuatnya sangat rugi.
Di tengah kebimbangan Randy, ponselnya berdering dan tampak panggilan masuk dari anak buahnya yang ia perintahkan untuk mengikuti mobil Marcho dan juga Livy.
“Mobil kami dihadang oleh mobil taksi yang kemungkinan ini adalah bodyguard Tuan Marcho!” ucap salah satu anak buahnya di ujung panggilan.
“Sial! Katakan saja jika kalian akan pergi berlibur ke puncak dan cari cara untuk melepaskan diri. Setelah itu kalian bisa pergi kemanapun kalian mau untuk menyelamatkan diri!” balas Randy.
“Tapi anda belum membayar kami untuk tugas hari ini Tuan Randy. Kami akan tutup mulut dan tidak membocorkan kepada mereka dimana keberadaan anda sekarang asal anda secepatnya mentransfer uangnya ke rekening kami!” ancam anak buah Randy dan tentunya membuat Randy naik pitam dibuatnya.
“Kurang ajar! Kau belum mendapatkan Livy dan ini berarti jika kau masih belum bekerja untukku. Bagaimana bisa aku membayarmu? Dasar bodoh!” umpat Randy dan mematikan panggilannya secara sepihak.
Setelah panggilannya terputus, Randy bergegas membereskan semua barang-barangnya dan bersiap untuk melarikan diri.
“Kali ini aku tidak bisa menerima tawaranmu, Fredy. Kau bisa tinggal di apartemenku sampai kapanpun kau mau. Yang jelas, aku sudah tidak bisa lagi bertahan di sini!” jelas Randy.
Fredy pun langsung tersenyum lebar mendengar Randy mengizinkannya untuk tinggal di apartemennya kapanpun ia mau. Terlebih jika Randy tidak kembali lagi ke apartemennya, sudah pasti kini apartemen Randy adalah miliknya.
Setelah mengemasi semua barang-barangnya, Randy pun bergegas meninggalkan apartemennya dan pergi dengan mobilnya seorang diri.
__ADS_1