Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Penerbangan 1


__ADS_3


Tak lama kemudian Livy pun sadar dari pingsannya dan mulai memanggil mamanya berulang kali. Marcho pun turut merasakan kesedihan Livy kali ini. Hatinya begitu pilu melihat istrinya yang terus memanggil mamanya.


“Aku akan segera membawamu bertemu dengan Mama Widya sayang!” bisik Marcho.


“Terima kasih sayang!” ucap Livy berlinangan air mata.


Marcho pun cepat-cepat menghapus air mata Livy yang jatuh membasahi pipinya.


“Jangan menangis istriku sayang. Aku mohon, tetaplah kuat agar kau bisa bertemu dengan mama Widya.”


Livy pun menganggukkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya menahan air matanya yang terus saja ingin keluar. Marcho pun langsung memeluk istrinya dengan sangat erat dan mengusap punggungnya agar Livy merasa lebih tenang.


Tak lama kemudian, Terra dan juga Bobi pun datang untuk memberi kabar bahwa tiket penerbangan mereka sudah dipesan. Berita tersebut membuat semangat Livy pun kembali terkumpul dan tangisannya juga mulai mereda.

__ADS_1


“Mau pulang atau langsung ke bandara?” tawar Marcho membuat Livy terdiam sejenak.


“Apa masih ada waktu untuk bertemu Hizkiel?” tanya Livy yang masih mengingat Hizkiel di sela kepedihannya memikirkan mama Widya.


“Tuan muda Hizkiel akan menyusul besok pagi Nona Livy. Penerbangan kita kali ini dua jam lagi dari sekarang. Saran saya, lebih baik kita langsung menuju ke bandara!” tukas Terra.


Livy pun mengangguk setuju dan mereka berempat pun bergegas menuju ke bandara. Sepanjang perjalanan, Marcho tidak lepas menggenggam tangan Livy dan memeluknya dengan hangat.


Mereka berdua tampak sangat romantis dan tentunya membuat Terra dan juga Bobi sangat iri melihatnya.


“Terra!” bisik Bobi tepat di telinga kekasihnya.


“Aku tidak sabar untuk mengubah statusmu menjadi istriku!” bisik Bobi lagi membuat wajah Terra mulai merona.


“Sssttt! Jangan berisik, Bobi! Aku tidak ingin Tuan Marcho dan istrinya mendengarkan obrolan kita!”

__ADS_1


“Memangnya kenapa? Lagi pula meski aku tengah begitu mencintaimu, aku masih bisa fokus dengan pekerjaanku, Terra sayang!”


Tangan nakal Bobi pun mulai mengabsen wajah cantik Terra mulai dari dahinya, kemudian turun menyentuh hidung mancung Terra, dan berhenti di bibirnya yang terlihat cukup sensual.


“Apa aku boleh mencicipinya?” tanya Bobi sambil terus mengusap bibir Terra dengan ibu jarinya.


Terra kini menelan ludahnya kasar. Baru kali ini Bobi berani menyentuhnya cukup intens, mengusapnya, dan tentunya membuat tubuhnya sedikit meremang.


Melihat Terra hanya diam tidak menjawab pertanyaannya pun membuat Bobi menganggap Terra mengizinkannya untuk mencicipi bibir sensual Terra. Perlahan Bobby mendekatkan bibirnya ke bibir Terra.


Terra yang sudah siap pun langsung memejamkan matanya. Sedangkan Livy yang tidak sengaja melihat mereka hendak berciuman pun langsung memberi kode kepada Marcho untuk melihat ke arah mereka berdua.


Bibir Bobi pun berhasil mendarat dengan sempurna di bibir Terra, tanpa menunggu lama, mereka berdua pun mulai saling mema9ut satu sama lain. Marcho dan Livy yang sedang menonton film secara live pun hanya bisa menelan ludahnya kasar berkali-kali.


“Apa kau merindukan aku melakukan itu padamu?” tanya Marcho berbisik ke telinga Livy.

__ADS_1


Livy pun menggelengkan kepalanya sambil kembali menyandarkan kepalanya ke dada bidang Marcho. Sifat manja Livy kali ini membuat Marcho semakin menyayangi istrinya.


Tangan Marcho pun terus terulur mengusap kepala Livy dan lama kelamaan Livy pun tertidur dalam pelukan Marcho. Yang sangat nyaman ia rasa.


__ADS_2