
Setelah membuatkan sup untuk Marcho, Livy langsung menuju ke kamar dengan membawakan obat pereda nyeri untuk suaminya. Sesampainya di kamar, tampak Marcho sudah menunggunya di sofa sambil menyandarkan tubuhnya.
Mendengar pintu kamarnya terbuka dan hidungnya mencium aroma sup yang dibuatkan oleh Livy membuat Marcho langsung menegakkan tubuhnya menyambut kedatangan Livy.
“Hmm, aromanya saja membuatku tidak sabar ingin segera menikmati masakan istriku!” ucap Marcho membuat hati Livy berbunga-bunga.
Namun, Livy cepat-cepat menepis perasaannya barusan dan memasang wajah datarnya di depan Marcho.
“Silakan dimakan, setelah itu obatnya bisa diminum!” ucap Livy datar sambil meletakkan sup buatannya di atas meja.
Setelah meletakkan supnya, Livy langsung berbalik meninggalkan Marcho. Dengan sigap Marcho meraih pergelangan tangan istrinya dan menahannya agar tidak pergi.
“Mau ke mana?” tanya Marcho sambil menarik Livy agar lebih dekat dengannya.
“Ke kamar Hizkiel. Bukankah tugasku di sini hanya untuk mengurus Hizkiel?” balas Livy.
Deg!
Ucapan Livy barusan membuat Marcho sangat terkejut. Ia tidak menyangka jika Livy masih mengingat tujuan pernikahan mereka.
“Tapi Livy, kini aku sedang sakit!” rengek Marcho dengan harapan Livy mau tetap di dekatnya dan menemaninya makan.
Bahkan awalnya Marcho sudah membayangkan jika kali ini ia akan disuapi dengan penuh perhatian oleh Livy.
“Tapi Hizkiel lebih membutuhkanku untuk membantunya menyelesaikan tugas sekolah!” balas Livy dengan acuhnya sambil meninggalkan Marcho.
Marcho mengusap wajahnya kasar mendapati Livy yang terlampau cuek dengannya malam ini. Padahal tadi sebelum Livy ke pantry membuatkan sup untuknya tidak sedingin ini.
“Kenapa Livy bersikap dingin denganku?” tanya Marcho bermonolog sambil menikmati sup buatan Livy.
“Ck, sup senikmat ini jadi terasa hambar dan dingin melihat sikap Livy barusan!” gumam Marcho.
Marcho terus berfikir apa yang membuat Livy begitu cuek terhadapnya. Bahkan sorot matanya juga tidak sehangat tadi. Seketika Marcho teringat dengan Mom Merry.
“Apa ini ada hubungannya dengan apa yang dibahas dengan Mom Merry saat tadi masuk ke kamarku?” tanya Marcho pada dirinya sendiri yang mengingat Mom Merry langsung menanyakan perihal Randy dengannya.
Setengah jam sebelumnya,
“Ya Ampun Marcho, kenapa sampai babak belur begini?” tanya Mom Merry yang begitu terkejut melihat banyak luka lebam di wajah putranya.
“Ini bukan apa-apa, Mom! Tak perlu merisaukan aku!” balas Marcho.
“Apa kau baru mengetahui jika rekan bisnismu kali ini adalah Randy Clift Allison, sampai kau nekat menghabisinya di Mall?”
__ADS_1
“Apa sakit hatimu yang dulu tidak kunjung hilang, Marcho? Biarkan saja Reggy menjalin hubungan dengan Randy asal ia tidak mengusik hidupmu yang sekarang!” lanjut Mom Merry yang tidak tega melihat wajah putranya dipenuhi lebam bekas pukulan.
“Bukan itu masalahnya, Mommy!” sanggah Marcho.
“Sudahlah Mom, yang penting aku pu4s sudah melampiaskan semua amarahku dengannya! Tapi dari mana Mommy tahu jika aku berkelahi dengan Randy?” tanya Marcho sambil mengerutkan dahinya.
“Dari siapa lagi kalau bukan dari istrimu. Ingat Marcho, waktumu akan terus berkurang setiap harinya. Jaga tingkah lakumu jika kau masih menginginkan Livy membalas cintamu.”
“Karena jika tidak, Mommy pastikan ia tidak akan pernah membalas cintamu karena ilfeel dengan sikapmu!” tegas Mom Merry memberi peringatan kepada putranya.
Marcho sendiri langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar nasihat dari Mommynya. “Yes, Mommy. I know!”
“Don’t worry, Mom! Aku akan mendapatkan cinta Livy sebelum batas yang ditentukan!” balas Marcho penuh percaya diri.
“Mommy tidak butuh omong kosong, Mommy butuh pembuktian!” ucap Mom Merry sambil meninggalkan kamar Marcho.
💕💕💕
“Jangan-jangan Mommy cerita dengan Livy jika Randy pernah merebut Reggy dari sisiku?”
“Ish, Mommy!” Marcho langsung meletakkan mangkok supnya yang hanya berkurang 2 sendok di atas meja dan bergegas menuju ke kamar mommynya.
“Mommy!” panggil Marcho sambil menggedor pintu kamar Mom Merry.
Mom Merry yang baru saja hendak merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur pun terpaksa membukakan pintu untuk putranya.
“Apa yang Mommy bicarakan dengan Livy sebelum Mommy masuk ke dalam kamarku?”
Mom Merry menghela nafasnya panjang mendengar pertanyaan putranya, “Mommy menceritakan jika Randy pernah merebut Reggy dari sisimu! Bukankah itu alasanmu menghabisi Randy saat di Mall tadi?”
Marcho langsung mengusap wajahnya kasar setelah mendengar jawaban Mom Merry.
“Mommy menceritakan semuanya?” tanya Marcho yang tampak begitu gusar.
“Yaaah, belum secara detail. Hanya garis besarnya saja!”
“Oh My God!”
Marcho langsung berbalik meninggalkan Mom Merry begitu saja dan menuju kamar putranya.
‘Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus menjelaskan sesuatu pada Livy agar dia tidak salah paham!’
Sedangkan Mom Merry hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd putranya kali ini. ‘Ternyata putraku benar-benar mencintai Livy. Hemm, semoga saja cintanya kali ini tidak bertepuk sebelah tangan.’ batin Mom Merry sambil kembali menutup pintu kamarnya.
Sesampainya Marcho di kamar Hizkiel, tampak Livy sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk putra kesayangannya. Hizkiel yang tadinya hampir terlelap, seketika rasa kantuknya hilang begitu saja melihat daddynya masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
“Daddy!” panggil Hizkiel sambil melambaikan tangannya ke arah Daddynya agar mendekat ke arahnya.
Marcho pun langsung mendekati putranya dan mengusap kepalanya dengan lembut.
“Hizkiel belum tidur?” tanya Marcho sambil memandang ke arah Livy yang sama sekali tidak menggubris kehadirannya.
“Mataku hampir saja terpejam, tapi melihat daddy membuka pintu kamar entah mengapa membuat rasa kantukku hilang seketika!” balas Hizkiel.
“Maafkan Daddy sayang!” Marcho naik ke atas ranjang putranya dan langsung memeluknya. “Daddy pikir putra daddy yang tampan ini sudah terlelap!”
“Bagaimana jika malam ini Daddy dan Mommy menemani Hizkiel tidur di sini?” tawar Hizkiel.
“Woow, ini tawaran yang tidak boleh dilewatkan. Benar kan istriku sayang?” balas Marcho yang langsung meminta persetujuan Livy.
Livy pun memaksakan senyumannya sambil menganggukkan kepalanya. “Tentu saja, malam ini Mom Livy akan menemani Hizkiel tidur bersama Daddy!” balas Livy.
Tanpa menunggu lama, kini Hizkiel sudah di apit oleh Daddy dan juga Mommynya di atas tempat tidur berukuran King Size itu. Livy masih melanjutkan dongeng yang ia baca dan 5 menit kemudian Hizkiel pun terlelap.
Tangan Marcho diam-diam mencari tangan Livy dan menggenggamnya dengan erat membuat bulu kuduk Livy tiba-tiba meremang.
“Kita kembali ke kamar yuk!” ajak Marcho dengan suaranya yang pelan.
“Tidak bisa, bukankah kita sudah berjanji akan tidur bersama Hizkiel?”
“Tapi tempat tidur ini tidak muat untuk kita bertiga, apalagi Hizkiel tidurnya berputar seperti jarum jam.”
“Kalau begitu aku saja yang menemaninya tidur di sini!” balas Livy sambil berusaha melepas genggaman tangan suaminya.
“Aku ingin kau membuatkan sup lagi, istriku sayang. Sup buatanmu yang tadi sangat dingin dan hambar!”
Livy cukup terkejut dengan ucapan Marcho barusan. Seingatnya ia sudah menambahkan garam dan gula ke dalam sup buatannya. Tidak hanya itu, ia juga menyajikan sup tersebut dalam kondisi yang masih panas.
“Benarkah?” tanya Livy sambil terduduk di tepi ranjang Hizkiel dan membuat genggaman Marcho langsung terlepas.
“Kalo tidak percaya cek saja di kamar!” jawab Marcho bersamaan dengan suara protes di dalam perutnya yang terdengar cukup keras.
‘Ya Ampun, suamiku benar-benar belum makan!’ gumam Livy dalam hati. Perasaan khawatir kini mulai menyelimuti dirinya.
“Baiklah, aku akan membuatkan sup yang baru!”
Livy langsung bergegas menuju ke Pantry dan membuatkan sup yang baru untuk suaminya.
💕💕💕
__ADS_1