
Livy yang baru saja menyelesaikan makan siangnya pun perlahan melirik ke jam dinding yang ada di belakang Marcho. Senyum tipis di bibir Livy merekah sempurna saat melihat waktu kini telah menunjukkan jam setengah tiga.
“Sayaang!” panggil Livy dengan nada manja memenuhi permintaan suaminya sebelum makan.
Marcho sendiri yang mendengar suara manja istrinya pun langsung mendekati Livy dan menggendong istrinya ala bridal style.
“Eh eh, kita mau kemana sayang?” tanya Livy yang sangat terkejut.
“Meluahkan rindu lewat pintu rahasia!”
“Hah, tapi ...”
Sebelum Livy melanjutkan protesnya, bibir Marcho sudah membungkam bibir istrinya dan keduanya pun mulai berpa9utan satu sama lain.
Marcho pun membawa Livy masuk ke dalam kamar khusus miliknya yang ada di dalam ruang kerjanya dan ini adalah pertama kalinya Marcho membawa Livy masuk ke dalam kamar privasinya.
Perlahan Marcho merebahkan istrinya di atas tempat tidur dan tanpa menunggu lama, kini tubuh Livy sudah terkunci oleh tubuh Marcho yang mengungkungnya dari atas.
Marcho memandangi wajah istrinya secara intens membuat wajah Livy merah merona. “Kau sangat cantik, sayang!” puji Marcho sambil memainkan helai rambut Livy.
Livy yang salah tingkah pun mencoba mendorong tubuh Marcho dengan kedua tangannya, “Kita harus segera pulang dan berbelanja, sayang. Aku sudah berjanji dengan Hizkiel akan memasak untuknya malam ini!”
“Memangnya kau tidak rindu padaku?” tanya Marcho dengan nada merajuk sambil membuka kancing blouse yang dikenakan Livy satu per satu.
__ADS_1
Sesekali Marcho sengaja menyentuh kulit istrinya dan tentunya membuat nafas Livy terdengar begitu menderu. “Mulutku saja sangat merindukan nutrisi dari istri cantikku, apalagi yang sudah begitu sesak di bawah sana!” bisik Marcho.
Tubuh Livy seketika meremang terlebih saat Marcho mulai membuka cup penutup nutrisi untuk mulutnya yang ia maksud. Ujung titik sensitif milik Livy tampak begitu menantang saat penutupnya terbuka membuat Marcho semakin mengagumi kecantikan istrinya.
“Kau benar-benar sangat cantik Livy,” puji Marcho membuat Livy langsung menyilangkan tangannya di depan dada.
“Jangan membuatku malu, sayang!” rengek Livy membuat hasrat Marcho semakin membara.
Marcho pun langsung melepaskan kemejanya dan membuangnya ke bawah. Setelah itu ia menyingkirkan tangan Livy yang menutupi benda favoritnya dan sengaja menguncinya di atas.
Perlahan Marcho memainkan ujung titik sensitif milik Livy dengan lidahnya dan membuat Livy m3ngg3l!njan9 tidak karuan.
Akhirnya suara d354h4n yang sedari tertahan pun terdengar memenuhi kamar Marcho dan membuat Marcho semakin rakus menikmati +ubuh Livy yang membuatnya candu.
Bahkan terkadang menekannya seperti memberikan kode agar Marcho menikmatinya lebih dalam lagi.
“Apa kau menyukainya sayang?” tanya Marcho membuat pipi Livy semakin memerah.
Dengan malu-malu, Livy pun menganggukkan kepalanya.
“Lebih suka saat aku melakukannya perlahan, atau saat aku menikmatinya dengan sangat rakus?” tanya Marcho lagi.
“Emmmh, a-aku tidak tahu, sayang!” jawab Livy.
Marcho pun mulai memainkan ujungnya dengan sangat lembut dan tentunya membuat Livy mabuk kepayang.
__ADS_1
“Yang barusan, aku melakukannya dengan sangat lembut!” bisik Marcho.
Kemudian ia memainkan ujung milik Livy dengan sedikit rakus melebihi dari anak bayi yang sedang kehausan ataupun sedang tumbuh gigi.
Kali ini d354h4n Livy semakin terdengar membuat Marcho tidak bertanya lagi mana yang lebih disukai istrinya.
Lagi-lagi siang panas menjadi saksi bisu penyatuan mereka. Tepat jam 4 sore, mereka menyudahi kencan panas mereka dan bersiap untuk pulang ke rumah.
"Kita lanjutkan nanti malam ya sayang!" ucap Marcho yang kini sedang mengenakan jasnya.
"Memangnya yang barusan masih belum cukup?" tanya Livy sambil merapikan rambutnya yang baru saja ia keringkan.
"Mana cukup kalau cuma satu kali, sayang!" balas Marcho dengan manja.
"Memangnya harus berapa kali bisa merasa cukup?"
Marcho terkekeh pelan mendengar pertanyaan istrinya kali ini.
"Bahkan sampai punya anak banyak pun aku masih merasa belum cukup, sayang!" bisik Marcho membuat Livy langsung melayangkan cubitannya di pinggang suaminya.
"Iiih, bisa ajah! Tapi nanti malam aku gak janji yaa. Kan sayang tahu sendiri kalo Hizkiel biasa minta ditemeni sampai larut malam."
"Aku pasti akan siap menunggu di kamar!" balas Marcho yang sudah siap menggandeng tangan istrinya untuk keluar kamar.
Mereka pun pulang dengan perasaan yang sangat bahagia. Selain permasalahan antara mereka sudah selesai, kerinduan mereka pun juga sudah tersalurkan.
__ADS_1