
Livy yang sudah mengenakan piyamanya pun sengaja mengacuhkan Marcho yang duduk di tepi tempat tidur dan terus saja memandanginya. Kemudian Livy menyiapkan makanan untuk suaminya, mengingat perut suaminya masih kosong selepas makan siang bersamanya tadi.
“Makanlah, setelah itu kau bisa beristirahat!” ucap Livy datar.
“Maaf, sayang. Aku benar-benar tidak tahu tentang apa yang terjadi malam ini!” ucap Marcho sendu tanpa berani memegang Livy.
“Kita bahas masalah ini besok! Aku tidak mau Hizkiel terganggu karena suara kita berdua!” balas Livy sambil merebahkan tubuhnya di samping Hizkiel dan memeluknya.
Marcho kembali menghela nafasnya panjang tanpa mengalihkan pandangannya dari Livy yang tengah memejamkan matanya.
‘Aku bahkan kini merasa sangat cemburu melihat Livy lebih memeluk putraku dari pada memelukku!’ batin Marcho sambil menyantap makan malamnya yang terlewat.
Ada sedikit yang ia sesalkan kali ini ketika ia lebih memilih ke restoran daripada tinggal di kamar bersama Livy untuk melanjutkan siang pertama mereka.
‘Aku harus segera mengurus Fredy dan juga Randy di pos satpam seperti apa yang tadi Bobi informasikan.’
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Marcho pun memilih untuk membersihkan dirinya di kamar mandi dan kemudian menuju ke pos satpam restoran Puri Asmara. Sayangnya, Randy dan juga Fredy sudah tidak ada di sana.
🍀🍀🍀
Keesokan paginya, Livy sangat terkejut saat membuka matanya dan mendapati Marcho tengah duduk di sampingnya. Senyum Marcho mengembang melihat istrinya mengerjapkan matanya.
“Kau tidak tidur?” tanya Livy dan Marcho langsung menjawabnya dengan gelengan kepala.
“Kenapa?”
“Aku hanya ingin menjagamu dan juga Hizkiel sepanjang malam, sayang. Mana mungkin aku bisa tidur tanpa mendapatkan maaf dari istriku!” jawab Marcho.
Livy pun menyibakkan selimutnya dan duduk bersandar di headboard. “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku hanya belum ingin membahas masalah tadi malam. Semuanya membuatku sangat shock!”
“Tolong pahami keadaan ini! Terlebih saat ini Mom Merry masih dirawat di rumah sakit.”
Penjelasan Livy barusan membuat Marcho semakin merasa bersalah. “Tapi, sayang...”
“Kita harus segera ke rumah sakit untuk melihat keadaan Mommy. Aku akan mandi terlebih dahulu!” Livy langsung turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
Lagi-lagi Marcho hanya bisa menghela nafasnya panjang tanpa bisa berbuat apa-apa untuk segera menyelesaikan masalah mereka berdua.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Dua hari berlalu,
Kini Mom Merry sudah tampak lebih baik dari sebelumnya dan diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Livy dan juga Hizkiel mulai mempersiapkan kepulangan Mom Merry dari rumah sakit.
Marcho sendiri masih menyibukkan dirinya untuk mengusut masalah konspirasi yang dibuat oleh Randy dan juga Fredy, sayangnya kedua orang itu belum juga ditemukan keberadaannya.
Sedangkan Reggy kini justru menjadi bulan-bulanan ketiga anak buah Marcho dan tidak ada harganya sama sekali.
“Dimana suamimu?” tanya Mom Merry kepada Livy yang baru saja mengurus administrasi rumah sakit.
“Masih mengusut kejadian malam itu di restoran Puri Asmara, Mom!” jawab Livy singkat.
“Daddy sangat sibuk dua hari ini Oma. Bahkan dia selalu terlambat menjemput Hizkiel dari sekolah!” Lapor Hizkiel mengadukan kesalahan daddynya kepada Mom Merry.
Mom Merry mengerutkan dahinya mendengar penjelasan dari Hizkiel. Tidak pernah sekalipun putranya melupakan cucunya sampai terlambat menjemput dari sekolah.
“Apa masalahnya sepelik ini ya sampai Marcho terlambat menjemput putranya sendiri?” gumam Mom Merry bertanya-tanya.
Kemudian pandangan Mom Merry tertuju ke arah Livy yang tengah mengemasi barang-barangnya.
“Kau tidak sedang bertengkar bukan dengan suamimu?” tanya Mom Merry dengan berbisik di telinga Livy.
Livy sendiri kini hanya diam seribu bahasa karena tidak tahu harus menjawab apa. Namun, tiba-tiba tangan Mom Merry bergerak mengusap punggung Livy dengan sangat lembut.
Mom Merry melirik sekejap ke arah cucunya yang tengah fokus mengerjakan tugas sekolahnya dan kemudian kembali memandangi Livy.
“Mommy tahu tentang kontrak pernikahan kalian berdua!”
Deg! Ucapan Mom Merry barusan membuat Livy sangat terkejut dan langsung menelan ludahnya kasar.
“Putra Mommy sudah mengakui jika ia benar-benar sudah jatuh hati denganmu, sayang. Namun, Mommy paham jika kau belum bisa membalas perasaan Marcho!”
“Mommy sendiri sudah banyak berhutang budi padamu dan tentunya Mommy tidak ingin melihat kau tersiksa karena terus tertawan oleh putra Mommy sendiri!”
Livy masih terdiam mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Mom Merry.
“Tinggalkan putra Mommy jika itu bisa membuatmu bahagia di luar sana Livy! Raih kebebasanmu tanpa harus terkekang seperti ini!”
__ADS_1
Tanpa terasa air mata Livy jatuh membasahi pipinya setelah mendengarkan kalimat terakhir yang terlontar dari Mom Merry.
Dia bukannya tidak mencintai Marcho, hanya saja masalah kemarin belum sempat ia bicarakan secara empat mata dengan Marcho mengingat ia masih harus menemani Mom Merry di rumah sakit.
Mom Merry tersenyum melihat pipi menantunya yang mulai basah dengan air mata. Tangannya pun langsung terulur mengusap air mata Livy yang jatuh membasahi pipinya.
“Namun, jika kau memang sudah mencintai putra Mommy dan siap untuk menjadi ibu untuk Hizkiel, segera bicarakan masalah kalian berdua dan selesaikan dengan baik-baik! Mommy tidak mau kalian hidup saling diam dan mengacuhkan seperti ini!” jelas Mom Merry yang langsung diangguki oleh Livy.
Tak lama kemudian pintu rumah sakit pun terbuka dan tampak Marcho datang hendak menjemput Mom Merry pulang.
“Maaf, Mom! Aku sedikit terlambat untuk membawamu pulang!” ucap Marcho sambil menyalami tangan Mom Merry.
Di belakang Marcho sudah berdiri Terra, sopir sekaligus bodyguard Livy yang sudah siap sedari tadi di depan kamar inap Mom Merry.
“Emm, tidak masalah. Kali ini Mommy dan Hizkiel akan pulang bersama Terra. Dan kau bisa membawa Livy bersamamu agar masalah di restoran Puri Asmara segera terusut tuntas!” balas Mom Merry sambil mengedipkan matanya ke arah Marcho.
Hati Marcho pun langsung bersorak gembira mendengar ucapan dari Mom Merry barusan. Setelah dua hari lamanya Livy benar-benar mengacuhkannya.
“Oke Mom, doakan putramu ini ya agar masalahnya cepat selesai!” pinta Marcho sambil memeluk Mommynya.
“Tentu saja, Mommy akan mendoakan yang terbaik untukmu, Livy dan juga Hizkiel,” balas Mom Merry.
Marcho pun menggendong Mommynya dan mendudukkannya di kursi roda. Setelah itu ia mendorongnya keluar dan mengantarkannya sampai di lobby.
Sedangkan Livy kini menggandeng tangan Hizkiel dan mengikuti langkah Marcho di belakang.
“Mommy, malam ini aku ingin makan masakan buatan Mommy. Cepat pulang ya!” rengek Hizkiel sebelum masuk ke dalam mobil.
Livy pun menganggukkan kepalanya, “Oke sayang, Mommy akan tiba di rumah tepat jam 5 sore!” balas Livy membuat Marcho langsung melirik jam di tangannya.
Tampak waktu kini menunjukkan jam setengah 1 siang, bermakna ia hanya memiliki waktu yang sangat singkat untuk membicarakan masalahnya dengan Livy.
“Emm, tapi daddy belum tentu bisa mengantar Mommy pulang dan tiba di rumah tepat jam 5, Hizkiel!” sanggah Marcho dengan harapan putranya memberikan tambahan waktu lagi setidaknya sampai jam 7 malam.
Wajah Hizkiel langsung tampak cemberut mendengar ucapan daddynya barusan. Untung saja Livy cepat membaca situasi.
“Jangan risau Hizkiel, Mommy akan meminta aunty Terra untuk menjemput Mommy. Bagaimana?” tawar Livy yang langsung diangguki oleh Hizkiel.
Ia pun langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Mom Merry.
__ADS_1
“Gunakan waktu singkat ini dengan baik, Marcho!” pesan Mom Merry sambil melambaikan tangannya ke arah Marcho dan juga Livy. “Ba-bay!”