Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Plin Plan


__ADS_3


“Bagaimana mungkin bekalnya hilang begitu saja?” gumam Livy yang tidak menemukan sama sekali bekal makanan Hizkiel yang dibuatnya tadi.


“Emm, Hizkiel sayang. Bagaimana kalau nanti Mommy akan buatkan lagi yang baru dan mengantarkannya ke sekolah saat lunch time?” tawar Livy.


Hizkiel pun dengan mantap langsung menganggukkan kepalanya. “Oke Mom!” jawab Hizkiel yang langsung menarik tangan Mom Livy untuk bergegas mengantarnya ke sekolah.


Sedangkan Marcho yang sedang dalam perjalanannya menuju ke kantor, kini harus berpikir keras bagaimana ia memerintahkan Livy untuk memasak untuknya. Padahal ia sudah terang-terangan menolak makanan buatan Livy pagi ini.


“Fredy, apa saja jadwalku hari ini?” tanya Marcho sambil terus memikirkan cara agar bisa menikmati masakan Livy.


“Pertemuan dengan Mr Rein untuk membicarakan pemasaran perhiasan emas dan perak di Grand Mall, Tuan!” jawab Fredy.


“Apa Michelle juga akan hadir dalam meeting ini?” tanya Marcho menanyakan perempuan yang pernah mengisi hatinya dan kini telah menjadi istri dari Rein, kolega bisnisnya.


“Benar Tuan, hanya saja pertemuan sebelumnya perusahaan kita diwakilkan oleh Manager Pemasaran!” jelas Fredy.


“Kalau begitu, perintahkan Manager Pemasaran untuk ikut meeting kali ini!”


Perintah Marcho barusan membuat Fredy menghela nafasnya panjang. “Sayangnya Manager Pemasaran yang Anda maksudkan sudah tidak bekerja lagi di perusahaan Anda.”


“Apa?!” pekik Marcho geram. “Siapa yang mengizinkan dia tidak bekerja lagi? Seenaknya berhenti bekerja!”


“Bukankah Anda sendiri yang mengizinkan surat pengunduran diri dari Nona Livy dan memintanya untuk fokus mengurus keperluan putra Anda, Hizkiel?” balas Fredy membuat Marcho tercengang.


‘Jadi Livy yang ada di balik keberhasilan ini?’ tanya Marcho dalam hati, mengingat pemasaran di Grand Mall bukanlah hal yang mudah.


“Kalau begitu, segera cari penggantinya!” titah Marcho yang tidak ingin melibatkan Livy kembali dalam perusahaannya.


Perintah Marcho kali ini membuat Fredy mulai melihat sisi negatif dari Bosnya yang berubah menjadi sangat plin plan menurutnya setelah bertemu dengan Livy. Awalnya sudah sangat jelas jika ia sama sekali tidak tertarik dengan Livy, tapi nyatanya mereka justru menikah.


Dalam perjanjian pun tertulis jika pernikahannya akan dihelat secara rahasia, namun yang terjadi malah sebaliknya. Pesta megah di sebuah ballroom hotel ternama dan mengundang semua kolega bisnisnya tanpa terkecuali.


Dan tentunya Fredy lah yang harus menyiapkan pesta dadakan tersebut dan juga menyebarkan undangan pernikahan bosnya. Dia bahkan rela tidak tidur demi pernikahan bosnya yang satu ini.


Selanjutnya, Marcho yang tadinya ingin mempertahankan Livy tetap bekerja agar ia puas mengerjainya di kantor dan juga di apartemen demi membalaskan dendamnya, kini justru menyetujui surat pengunduran diri dari Livy dan hanya memerintahkannya untuk mengurus Hizkiel.


Sayangnya Fredy tidak berani melayangkan protesnya dan hanya bisa menjawab dengan 2 kata. “Baik, Tuan!”

__ADS_1


☘️☘️☘️


“Tuan Marcho, sebenarnya saya sungguh menyayangkan istri Anda, Nona Livy karena tidak hadir dalam meeting kali ini!” tutur Mr Rein. “Terlebih Michelle sudah sangat klik dengan perencanaan brilian yang istri Anda sampaikan saat meeting yang lalu.”


“Sebenarnya Manager Pemasaran yang baru ini juga sangat berkompeten, Mr Rein!” kilah Marcho.


“Sayangnya dari pihak Grand Mall juga sudah sangat setuju dengan konsep pemasaran yang dibuat Nona Livy, Tuan. Jika ini diubah, tentunya akan sulit untuk perusahaan kita masuk kembali untuk memasarkan produk kita!” jelas Mr. Rein.


“Jadi saya harap kita bisa kembali mengadakan pertemuan besok pagi dengan Nona Livy. Selepas dari mengantarkan putra Anda ke sekolah juga tidak masalah!” pinta Mr. Rein yang tentunya tidak bisa dibantah lagi dengan Marcho,.


“Baik, Mr. Rein. akan saya usahakan!” balas Marcho.


Setelah mendapatkan kesanggupan dari Marcho, Mr. Rein dan juga beberapa kru yang menyertainya pun langsung undur diri.


Kini tinggal Marcho yang mulai kelimpungan bagaimana caranya membujuk Livy agar mau kembali bekerja dengannya dan membantu memasarkan produk miliknya.


“Kita akan kembali ke kantor atau ...”


“Antar aku ke apartemen terlebih dahulu, setelah itu kau bisa kembali ke kantor!” ucap Marcho yang langsung memotong ucapan Fredy.


Sedangkan di apartemen, Livy kini mulai membuat ulang Mushroom Egg Bake untuk ia antarkan ke sekolah Hizkiel siang ini. Kali ini ia dibantu oleh Mila yang sangat ingin tahu apa yang membuat masakan Livy terasa begitu lezat.


“Ceritakanlah tentang dirimu sebelum aku kembali ke London!” pinta Mila yang ditaksir usianya juag tidak jauh beda dengan Livy.


Livy memandangi Mila dengan seksama dan kemudian menyunggingkan senyumnya.


“Apa yang sebenarnya ingin kau ketahui dari ku?” tanya Livy kemudian.


“Informasi yang aku dapatkan dari Abang Marcho, kau adalah anak dari seorang konglomerat pertambangan minyak. Apa yang membuatmu melarikan diri dari Mansion megahmu dan bekerja sebagai karyawan di perusahaan Abangku?” tanya Mila.


“Waaah, kalau masalah itu tentunya tidak bisa diceritakan dalam waktu yang sekejap Mila!” balas Livy yang sama sekali tidak ingin menceritakan apa yang menjadi alasannya pergi dari Mansion Utama.


“Kalau begitu beri tahu aku intinya saja!” desak Mila.


Livy pun menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


“Karena aku tidak suka dikekang oleh banyak peraturan!” balas Livy.


Tak lama kemudian Marcho pun datang dan langsung menemui Livy di pantry yang baru saja selesai membuat bekal untuk Hizkiel.

__ADS_1


Melihat abangnya pulang lebih cepat dari biasanya, membuat Mila langsung sadar diri untuk segera meninggalkan pengantin baru tersebut.


“Emmh, kakak ipar. Aku ke kamar dulu ya. Kayaknya ayang beb lagi kangen tuh!” ucap Mila yang langsung meninggalkan mereka berdua.


Sedangkan Livy tidak peduli dengan kehadiran Marcho sama sekali dan terlihat sangat mengacuhkannya. Mendapati dirinya diacuhkan, membuat Marcho langsung membalikkan badan Livy yang kini membelakanginya dan menguncinya di bar pantry.


“Setelah mendapatkan pujian atas masakanmu yang lezat itu, kau langsung berani mengacuhkanku, hah?!” tanya Marcho dengan nada sedikit mengintimidasi.


“Siapa yang sedang mengacuhkan Anda, Tuan?” tanya Livy berkilah.


“Saya hanya sedang membuatkan bekal untuk Hizkiel dan harus segera mengantarnya kembali ke sekolah!” balas Livy tanpa gentar sedikit pun.


Mendengar jawaban Livy barusan membuat Marcho sedikit merasa bersalah. Namun cepat-cepat ia tepis perasaan itu dan membuat dirinya seolah-olah tidak tahu menahu mengenai bekal putranya yang sudah masuk ke dalam perutnya.


“Membuatkan bekal lagi?” tanya Marcho sambil mengerutkan dahinya.


“Bukankah tadi pagi sudah kau buatkan?”


Livy langsung mendorong tubuh Marcho untuk menjauh darinya dan segera menata bekal untuk Hizkiel.


“Memang sudah saya buatkan, Tuan. Tetapi tidak tahu kenapa tiba-tiba kotak bekalnya hilang begitu saja tanpa bekas!”


“Sepertinya di Penthouse ini ada hantu jelek yang sangat rakus dan diam-diam membawa pergi kotak bekal milik Hizkiel!” ucap Livy membuat Marcho merasa sangat tersindir.


“Apa?! Hantu jelek yang sangat rakus?” tanya Marcho yang langsung dijawab oleh Livy dengan anggukan kepalanya.


“Benar sekali Tuan. Bahkan mungkin wajah hantunya sangat mengerikan!” jawab Livy membuat Marcho membeliakkan matanya sedikit tidak terima.


‘Sial! Berani-beraninya ia menyebutku hantu jelek yang rakus dan dengan wajah mengerikan!’ gerutu Marcho dalam hati.


“Tuan!”


“Anda tidak sedang tersinggung dengan perkataan saya bukan?” tanya Livy membuat Marcho seketika tergagap.


“Hah, bagaimana mungkin aku tersinggung?” balas Marcho.


“Baiklah, kalau begitu saya akan mengantarkan ini ke sekolah Hizkiel terlebih dahulu. Saya permisi, Tuan!”


Livy pun langsung berbalik meninggalkan Marcho yang masih terpaku.

__ADS_1


“Aku akan mengantarmu!” ucap Marcho yang kemudian langsung mengejar langkah Livy yang semakin menjauh darinya.


__ADS_2