
Sesampainya di ruang meeting, betapa terkejutnya Marcho saat melihat Randy juga ada di sana dan tampak sangat akrab dengan Mr. Rein. Tidak hanya itu, Randy juga tampak duduk berdampingan dengan pemilik Grand Mall.
‘Ck, kenapa laki-laki itu juga ada di ruangan ini?’ gerutu Marcho dalam hati sambil melayangkan tatapan tidak sukanya ke arah Randy.
Terlebih saat Randy tampak melemparkan senyumnya ke arah Livy. Cepat-cepat Marcho mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Livy.
“Selamat datang Tuan Marcho,” sapa pemilik Grand Mall. “Maaf jika kami mengganggu waktu bulan madu Anda, Tuan!” lanjutnya lagi.
“Tidak masalah, Tuan Liem!” balas Marcho sambil melemparkan senyumannya dan kemudian menarik kursi untuk Livy.
Setelah semuanya duduk, meeting pun dimulai. Tuan Liem selaku pemilik Grand Mall memperkenalkan Randy sebagai investor terbesar di Grand Mall.
Dan untuk ke depannya, dialah yang akan bertanggung jawab dalam pemasaran perhiasan dari pihak Lichie Group maupun Mc Energy.
Setelah memperkenalkan Randy, Tuan Liem pun undur diri karena masih ada hal lain yang harus ia kerjakan. Dan kini rapat pun dipimpin oleh Randy.
Selama rapat berlangsung, Randy terus saja menatap ke arah Livy dan tentunya membuat aliran darah Marcho melegak panas.
Terlebih saat Livy mempresentasikan rancangan pemasaran yang ia buat untuk 2 perusahaan sekaligus dan menuai pujian luar biasa dari Randy yang tentunya membuat Marcho semakin meradang.
Presentasi dari Livy pun langsung disetujui oleh semua pihak dan mulai besok ia akan disibukkan dengan kegiatan pemasaran perhiasan di Mall tersebut.
‘Argh! Sial! Kenapa harus Livy yang menghandle semua ini?’ gerutu Marcho dalam hati.
‘Jika seperti ini, dia pasti akan memiliki banyak waktu untuk bersama dengan Randy!’
Tepat saat meeting berakhir, Marcho langsung undur diri dengan alasan ingin menjemput putranya pulang sekolah.
“Ini masih jam 10 pagi Tuan Marcho, apa tidak sebaiknya kita menikmati kopi dan kudapan dulu di resto underground?” tawar Randy yang tentunya langsung ditolak mentah-mentah oleh Marcho.
__ADS_1
“Terima kasih atas tawaran Anda Tuan Randy. Mungkin bisa lain kali karena kebetulan putra saya hari ini pulang lebih cepat!” kilah Tuan Marcho yang langsung mengamit tangan Livy untuk meninggalkan ruangan meeting.
Kini keduanya sudah berada di dalam lift. Livy memandangi wajah Marcho yang sedari tadi terus saja bermuka masam dari awal sampai akhir meeting.
“Ada apa dengan Anda, Tuan?” tanya Livy hati-hati.
“Aku sangat tidak suka dengan meeting hari ini! Kenapa harus bertemu dengan Randy untuk yang kedua kalinya?” jawab Marcho yang masih diliputi dengan amarahnya yang masih membara.
“Apa yang tidak Anda sukai dengan Randy? Bukankah dia langsung menyetujui perencanaan pemasaran yang kita ajukan dan sama sekali tidak mempersulit perusahaan Anda?” balas Livy.
“Bahkan Mr Rein juga tampak sangat puas dengan meeting kali ini!” lanjut Livy membuat tangan Marcho mengepal sempurna.
“Tentu saja dia langsung menyetujuinya karena yang mempresentasikan perencanaan tersebut adalah mantan kekasihnya! Dia hanya mencari simpatikmu lagi, Livy. No more!” tegas Marcho membuat hati Livy berdenyut nyeri. Ternyata usahanya kali ini sama sekali tidak ternilai di mata Marcho.
“Sebenarnya bukan mantan kekasih, Tuan. Karena saya juga belum memutuskan hubungan kami secara resmi!” jawab Livy dengan nada yang cukup pelan namun terdengar begitu jelas di telinga Marcho.
“Apa maksudmu, Livy?!” tanya Marcho dengan geram sambil mengunci tubuh istrinya di dinding lift.
Tatapan tajam Marcho kali ini membuat Livy merinding ngeri. Untung saja pintu lift segera terbuka dan Marcho langsung membuat jarak di antara keduanya.
“Di kantor? Bukankah kita akan menuju ke sekolah Hizkiel?” tanya Livy yang sama sekali tidak dijawab oleh Marcho.
Marcho lebih memilih diam dari pada menanggapi pertanyaan Livy kali ini. Dia tidak ingin Livy tahu jika dia hanya memberikan alasan klise yang tidak sebenarnya untuk segera undur diri dari ruangan meeting.
Meskipun di ruangan meeting tersebut cukup dingin karena terdapat beberapa AC, tetap saja ia merasa bahang api menjalari tubuhnya sepanjang meeting berlangsung.
“Tuan!” panggil Livy saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
“Kita akan menuju ke sekolah Hizkiel atau ke kantor?” tanya Livy kemudian.
“Diam atau aku cium!” ancam Marcho geram. “Kenapa hari ini kau sangat banyak bicara Livy?!” protes Marcho tidak suka.
__ADS_1
Livy kini hanya bisa menelan ludahnya kasar mendengar ancaman dari Marcho. Ia pun langsung memalingkan wajahnya untuk menatap ke luar jendela. Sedangkan Terra sudah mulai menjalankan mobilnya untuk kembali ke kantor.
“Ck, padahal kan aku cuma bertanya. Gitu aja marah!” gerutu Livy sangat lirih dan hampir tidak terdengar bahkan oleh telinganya sendiri.
Namun tiba-tiba bahunya di balik oleh Marcho dan kini keduanya saling berhadap-hadapan. Tanpa menunggu lama, Marcho langsung mendaratkan ciumannya di bibir Livy. Jangan ditanya bagaimana terkejutnya Livy kali ini. Namun ia sudah tidak bisa lagi menolak pa9utan Marcho kali ini.
Awalnya pelan dan sangat lembut, membuat Livy mulai membuka mulutnya dan membalas permainan Marcho. Namun lama-kelamaan terasa semakin menuntut membuat Livy mencoba mendorong tubuh Marcho untuk menghentikan permainannya.
“Jangan pernah membantahku, Livy!” tegas Marcho sambil mengusap bibir Livy dengan sangat lembut.
“Baik, Tuan!”
“Putuskan hubungan mu dengan Randy secepatnya. Aku tidak ingin dia menjadi perusak rumah tangga kita!” lanjutnya lagi membuat Livy seketika mengerutkan dahinya dan berusaha mencerna ucapan Marcho barusan dengan baik.
“Bukankah rumah tangga kita sudah rusak sejak awal, Tuan?” tanya Livy dengan berhati-hati.
Marcho tidak menjawab pertanyaan Livy kali ini dan hanya menatapnya dengan tajam. Bahkan tatapan Marcho kali ini seperti hendak menguliti Livy hidup-hidup.
“Emmh, maaf Tuan. Saya akan segera memutuskan hubungan saya dengan Randy dan akan menjadi Mommy yang baik untuk Hizkiel!”
Kini lebih baik Livy menuruti titah Marcho dari pada nantinya ia dikembalikan ke Mansion Utama.
Sedangkan di sisi lain, Randy yang sedang menikmati kopi dan kudapan di resto underground mencoba untuk mengorek tentang Livy dengan Mr Rein dan juga Michie istrinya.
“Apa Anda mengenal Livy dengan baik Mr and Mrs Rein?” tanya Randy yang langsung dijawab oleh Michie.
“Tentu saja, Tuan. Dia adalah Manager Pemasaran di Mc Energy yang sangat berpengaruh dalam pemasaran produk di perusahaan Tuan Marcho!”
“Itulah yang membuat kami terdorong untuk menjalin kerja sama. Mungkin itu juga bisa menjadi alasan Tuan Marcho untuk mempersunting Livy!” jelas Michie membuat Randy hanya bisa menghela nafasnya panjang.
“Memangnya ada apa Tuan Randy?” tanya Mr Rein hati-hati karena sedari tadi saat meeting ia memperhatikan Randy yang tidak lepas memandangi Livy.
__ADS_1
“Sebenarnya Livy adalah putri semata wayang dari Bos pertambangan minyak dan juga kekasihku. Setahun yang lalu entah kenapa ia memutuskan untuk kabur dari Mansion utama dan memutuskan komunikasinya.”
“Sejak saat itu aku terus saja mencari keberadaannya. Namun sayangnya saat aku mendapatkan kabar tentangnya dari Mamanya, ia justru sudah menikah dengan Tuan Marcho!” jelas Randy membuat sepasang suami istri tersebut sangat terkejut dan hanya bisa saling melempar pandang.