
Livy kini sudah berada di dalam mobil bersama Marcho. Suasana canggung menyelimuti mereka berdua. Livy sendiri memilih untuk membuang wajahnya ke luar jendela.
Sedangkan Marcho diam-diam menggerakkan tangannya untuk menggenggam tangan Livy. Darah Livy langsung berdesir menjalari ke seluruh tubuhnya.
Meski dua hari ini ia tengah merajuk dengan suaminya, tetap saja ia sangat merindukan kehangatan Marcho. Terlebih cinta mereka baru saja terungkap satu sama lain.
“Maafkan aku sayang!” Marcho mulai buka suara sambil menarik tangan Livy dan mengecupnya mesra.
“Aku kalang kabut tidak karuan mendapatimu mengacuhkan aku seperti ini! Bahkan aku hampir hancur tidak melihat senyummu dua hari ini, istriku sayang!” ucap Marcho memberanikan dirinya meluahkan segala kerinduannya terhadap Livy.
“Emmm...” Livy sedikit gugup menimpali ucapan Marcho barusan. Perlahan ia menarik tangannya dari Marcho, namun Marcho masih menahannya.
“Biarkan tetap seperti ini, sayang. Aku mohon!” pinta Marcho.
“Aku hanya tidak ingin tenggelam lebih jauh lagi dengan hubungan kita saat ini. Aku takut akan merasa semakin kecewa nantinya!” ucap Livy yang terus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Marcho.
“Oke, kita selesaikan masalah ini di ruang kerjaku!”
Akhirnya dengan berat hati, Marcho pun melepaskan tangan Livy dan menambah kecepatan laju mobilnya menuju ke kantor untuk segera menyelesaikan masalahnya dengan wanita yang sangat ia cintai.
☘️☘️☘️
Sesampainya di ruang kerja, Marcho langsung mengunci pintu ruangannya dan menutup semua gorden yang mengelilingi ruang kerjanya.
Setelah itu, ia langsung mengajak Livy untuk duduk di sofa panjang yang ada di dalam ruangannya dan mulai berbicara dengan istrinya.
“Sayang, aku memang meminta Fredy untuk menyiapkan makan malam romantis untuk kita! Tapi aku benar-benar tidak tahu jika Fredy justru bersekongkol dengan Randy di belakangku dan menyebabkan dinner malam itu jadi hancur berantakan.”
“Aku tidak perlu penjelasan mengenai hal itu!” balas Livy dengan tegas. “Aku hanya ingin mempertegas hubungan antara kita berdua.”
Marcho menghela nafasnya pelan, “Tentu saja hubungan kita adalah suami dan istri. Kau adalah istriku satu-satunya, dan aku adalah suamimu!”
“Lalu bagaimana dengan dua ronde p4n4smu bersama dengan Reggy?” tanya Livi sambil menatap Marcho dengan tatapan tajamnya.
Marcho kini terdiam sambil menelan ludahnya kasar.
“Tentunya dia lebih hebat bukan melayani seorang Bos Tambang Perak di atas tempat tidur?” lanjut Livy yang terdengar begitu ketus di telinga Marcho.
“Aku ... Aku sama sekali ...”
Belum selesai Marcho meneruskan kalimatnya, Livy sudah langsung memotongnya.
__ADS_1
“Aku bukan wanita yang rela berbagi dengan wanita lain, dan aku siap mundur dari ...”
Marcho langsung bersimpuh di kaki Livy sambil menundukkan kepalanya. “Aku mohon dengarkan dulu penjelasanku, sayang! Aku sama sekali tidak melakukan apapun dengan Reggy.”
“Bahkan saat kau masuk ke dalam kamar pun aku juga baru saja sadar, Livy!”
“Tubuhku sangat lemah karena efek bius yang tidak kunjung hilang. Apa mungkin aku melakukan hubungan terlarang dengan Reggy, jika aku sendiri sama sekali tidak mampu mengangkat tanganku saat itu!” jelas Marcho.
Livy sedikit terkejut mendapati suaminya yang nota benenya adalah seorang Bos besar, kini justru bersimpuh di kakinya.
“Jika kau tidak percaya, aku akan menyeret Reggy kemari untuk membuat pengakuan agar kau percaya! Bhkan dia juga sudah mengakui di depanku jika senjata milikku sama sekali tidak berreaksi meski sudah dibangunkan berkali-kali!”
Marcho akhirnya menjelaskan secara detail apa yang sudah ia dapatkan dari menginterogasi Reggy dengan ancaman yang ia layangkan kepada mantan istrinya itu.
Reggy sendiri tidak bisa berbuat apa-apa setelah dimasukkan ke dalam kandang macan oleh Livy selain menjelaskan secara gamblang apa saja yang terjadi di dalam kamar.
Karena jika ia tidak menjelaskannya, Marcho akan menjualnya di kawasan pelacur pinggir jalan yang biasa dipesan oleh para sopir truk jalanan.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Marcho, kini Livy semakin kikuk harus bersikap seperti apa di depan suaminya.
Tidak ada lagi alasan Livy untuk merajuk, namun ia sangat malu jika ia memperlihatkan betapa dua hari ini ia merindukan kehangatan Marcho.
“Aku mohon maafkan aku, sayang!” ucap Marcho sambil menatap wajah istrinya sambil berjongkok.
Betapa bahagianya Marcho saat permintaan maafnya diterima oleh Livy. Ia pun langsung menghambur memeluk istrinya dengan sangat erat.
“Terima kasih sayang, akhirnya kau mau memaafkan aku! Terima kasih juga karena sudah merasa cemburu saat melihatku bersama dengan wanita lain!” ucap Marcho membuat Livy langsung melepaskan pelukannya dan sedikit mendorong tubuh suaminya.
“Cemburu? Memangnya siapa yang cemburu?” tanya Livy.
Marcho mengerutkan dahinya sambil memegang dagu Livy. “Apa kau sungguh tidak cemburu melihat aku bersama dengan Reggy?” tanya Marcho.
“Bukankah waktu itu kau mengamuk dengan Reggy sampai menariknya dan memasukkannya ke kamar bodyguardku?”
Livy langsung berdiri dan sengaja menghindari Marcho menuju ke meja dimana Marcho meletakkan dua kotak makan siang di sana.
“Ck, itu bukan cemburu! Aku hanya memberi perhitungan saja dengannya karena sudah membuat asma Mom Merry kambuh!” kilah Livy sambil mengambil kotak makan siangnya.
“Aku lapar dan aku ingin makan,” ucap Livy yang sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
“Makanlah sayang, setelah ini kita lanjutkan lagi pembicaraan kita!”
“Bukannya sudah selesai masalahnya. Aku juga sudah memaafkanmu, bukan?” balas Livy.
__ADS_1
Senyum Marcho pun langsung terlukis sempurna mendengarkan penuturan Livy barusan.
“Lalu kesimpulannya apa?” tanya Marcho mulai menggoda istrinya.
“Kesimpulannya?” tanya Livy mengulang perkataan Marcho dan Marcho pun langsung menganggukkan kepalanya.
“Kesimpulannya tentu saja masalah ini sudah selesai. Tinggal bagaimana selanjutnya nasib Randy, Fredy dan juga Reggy nantinya!” balas Livy sambil menikmati makan siangnya.
“Berarti benar yang aku katakan tadi di awal bukan?”
“Kita adalah sepasang suami istri, Kau istriku satu-satunya dan aku adalah suamimu!” balas Marcho yang hanya dijawab Livy dengan deheman singkat.
Marcho pun semakin berani mendekatkan dirinya dengan Livy dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
“Dan jika masalah ini sudah selesai, berarti program kita ke depannya adalah membuat adik untuk Hizkiel, bukan?” bisik Marcho membuat Livy sedikit meremang.
“Bisa tidak untuk jangan menggangguku dan biarkan aku menikmati makananku dengan baik?” tanya Livy dengan suara yang sedikit tercekat.
“Tentu saja bisa sayang, tapi dengan satu syarat yang harus kau penuhi!”
“Syarat apa?”
“Panggil aku dengan suara manja!”
Livy seketika membeliakkan matanya saat mendengar syarat yang diajukan oleh Marcho. Namun, lagi-lagi ia tidak kehilangan akal untuk berkelit.
“Makanlah dulu dan setelah itu aku akan memenuhi syarat itu!”
“Oke, oke.” Marcho pun membuka kotak makan untuknya.
“Aku akan menunggumu memanggilku manja selepas ini, istriku sayang!”
🍀🍀🍀
Iklan dulu yaaa. Lanjut malem. Masih puasa soalnya 🥰
__ADS_1