Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Apa Masalahnya?


__ADS_3


Livy pun akhirnya menceritakan kepada Marcho tentang masalah yang ada dalam keluarganya sebelum ia memutuskan untuk melarikan diri.


Setelah kematian papa kandungnya, Julio terus saja berkunjung ke Mansion Utama tanpa mengenal batas waktu berkunjung. Mama Widya tadinya selalu mengacuhkan Julio, begitu pula dengan Livy. Namun, lama kelamaan pertahanan Mama Widya pun runtuh.


Mama Widya mulai membuka hatinya untuk Julio. Sayangnya mereka berdua sama sekali tidak mengantongi izin dari Livy. Sampai akhirnya Livy jatuh cinta dengan Randy dan akhirnya mengizinkan mamanya untuk menikah lagi.


Kehadiran Julio di Mansion Utama membuat Livy semakin terkekang. Ia membatasi ruang gerak Livy dan bahkan terus mengantar jemput ke mana Livy pergi.


Satu hal yang tidak disukai oleh Livy adalah ketika Julio terus memuji kecantikannya dan berkali-kali masuk ke dalam kamarnya. Bahkan pernah suatu ketika keperawanan Livy hampir melayang di tangan Marcho.


Untung saja Livy jago bela diri dan bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Sejak saat itu ia memutuskan untuk melarikan diri dari Mansion Utama.


Mendengar cerita Livy barusan membuat tangan Marcho mengepal geram. Ia tidak terima istrinya hampir saja dinodai oleh papa tirinya sendiri.


“Kita akan pergi dengan beberapa bodyguard Livy. Jangan khawatir! Aku akan tetap selalu berada di sisimu!” ucap Marcho sambil memeluk istrinya dengan sangat erat.


Tak lama kemudian ponselnya berdering dan tampak panggilan masuk dari salah satu bodyguardnya.


“Ada apa Bobi?” tanya Marcho saat panggilannya sudah tersambung.


“Reggy mengalami demam tinggi dan menggigil hebat. Di tubuhnya juga tampak ruam ruam kemerahan!”


“Bawa saja ke rumah sakit dan urus administrasinya. Aku akan mentransfer biayanya!”


“Sudah, Tuan. Dan kami membutuhkan biaya dengan segera karena pihak rumah sakit akan mengecek penyakit Reggy lebih dalam lagi karena ada kemungkinan ia menderita HIV!”


“Apa?!” pekik Marcho membulatkan matanya dengan sempurna.


“Baiklah, aku akan segera mengirimkan uang untuk kalian.”


Marcho langsung mematikan panggilannya.


Pikirannya langsung kalut mengingat ia pernah satu kamar dengan Reggy sebelumnya. Meskipun tidak melakukan hubungan intim, tetap saja tubuhnya tidak luput dari tangan nakal Reggy.


“Ada apa sayang?” tanya Livy sambil mengusap punggung suaminya.


“Kita harus segera ke rumah sakit. Aku dan kamu harus sama-sama mengecek kesehatan kita!”

__ADS_1


“Ada apa sebenarnya? Kenapa mendadak seperti ini?”


Marcho menghela nafasnya panjang. Meski kalut, ia tidak bisa menceritakan begitu saja dengan Livy. Ia takut istrinya shock dan berfikiran yang tidak-tidak tentangnya.


“Berkemaslah sayang, aku akan mandi dan setelah itu kita langsung ke rumah sakit. Setelah hasilnya keluar baru aku bisa menceritakannya denganmu!” titah Marcho yang langsung menyambar handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Sedangkan Livy yang masih diselimuti rasa penasarannya pun hanya bisa mengikuti titah suaminya. Setelah Marcho mandi, mereka pun bergegas menuju ke rumah sakit. Marcho sengaja membatalkan pertemuannya karena ia merasa yang ini lebih penting.


Sepanjang perjalanan, keduanya saling diam sambil berpegangan tangan satu sama lain. Yang ada dalam pikiran Marcho kali ini adalah ketakutannya yang begitu besar akan hasil check upnya nanti.


Sedangkan dalam pikiran Livy justru dipenuhi rasa penasaran yang sangat besar.


🍄🍄🍄


Tiga jam kemudian, hasil check up Reggy keluar lebih dulu dan ia positif terkena HIV. Berita ini membuat Marcho semakin was-was menunggu hasil check up miliknya dan juga Livy.


Tak lama kemudian hasil mereka berdua pun muncul. Hasil keduanya negatif dan membuat Marcho bisa bernafas lega. Ia pun langsung memeluk Livy dengan sangat erat. Ia sangat beruntung tidak sampai melakukan hubungan dengan Reggy saat itu.


“Sekarang katakan padaku, apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Livy.


“Reggy terkena HIV!”


“Malam itu terbukti aku tidak melakukan hubungan terlarang dengan Reggy, sayang. Hasil check up milikku negatif!” jelas Marcho.


“Bukan itu yang aku takutkan, sayang!”


“Lalu?”


“Semua anak buahmu melakukan hubungan dengan Reggy. Dan semuanya berawal dari kebodohanku!” ucap Livy sambil menutup wajahnya sendiri.


“Oh My God! Aku melupakan itu, sayang!”


Marcho pun berdiri dan segera memanggil seluruh anak buahnya untuk merapat ke rumah sakit dan melakukan pengecekan yang sama dengan yang ia dan Livy lakukan.


Benar saja dugaan Livy kali ini. Dari 5 orang bodyguard laki-laki Marcho, hanya Boby yang hasilnya negatif.


“Bobi, jadi kau tidak melakukan hubungan itu dengan Reggy?” tanya Marcho yang sedikit merasa tenang karena masih ada Bobi yang bisa ia andalkan untuk ikut dengannya menjenguk Mama Widya.


“Tidak Tuan Marcho! Saya tidak ingin Terra cemburu dan memutuskan hubungannya dengan saya!” jawab Bobi dengan jujur.

__ADS_1


Terra yang ada tidak jauh dari mereka pun wajahnya langsung memerah karena tersipu malu. Livy pun menepuk bahu Terra dengan bangga. “Aku salut denganmu Terra. Dan aku sangat merestui hubungan kalian berdua!”


“Terima kasih Nona Livy!”


“Suamiku, kali ini aku akan bertanggung jawab untuk pengobatan bodyguard yang terkena penyakit ini karena aku merasa bersalah dengan kejadian ini!”


“Meski HIV memang tidak bisa sembuh secara total, aku bertanggung jawab untuk pengobatan mereka seumur hidup!” tekad Livy untuk menebus rasa bersalahnya.


Empat orang bodyguard Marcho pun langsung berterima kasih kepada Livy. Mereka tidak sepenuhnya menyalahkan Livy karena mereka juga salah sudah bergonta ganti pasangan.


Setelah menebus obat dan vitamin di apotek, Livy mengajak Marcho untuk menjenguk Reggy. Reggy yang baru saja diberitahukan oleh dokter jika ia mengidap HIV pun tidak henti-hentinya menangis.


Bahkan kedatangan Marcho bersama Livy pun diacuhkan olehnya. Baginya kini hidupnya sudah selesai.


“Puas kalian setelah mengetahui jika aku terkena HIV?” racau Reggy dengan wajahnya yang sembab.


“Reggy, aku sendiri turut sedih dengan apa yang sedang kau alami!” timpal Livy.


“Sedih? Aku rasa kau justru sangat bahagia bukan?”


“Kau bebas memiliki suami dan anakku tanpa ada halangan lagi.”


“Kau juga bebas menikmati harta suamiku yang melimpah.”


“Kau hanyalah wanita paling kejam yang aku kenal, Livy. Kau yang merebut semua kebahagiaanku!”


Umpatan Reggy membuat Marcho naik pitam, “Stop, Reggy! Kau tidak pantas mengumpat istriku seperti itu!”


“Istri? Aku lah yang sebenarnya istrimu, Marcho!”


“Ingat bagaimana kau dulu sangat mencintai aku dan tidak ingin jauh dariku!”


“Ingatlah bagaimana cinta kita yang terus bersemi sampai Hizkiel terlahir di dunia!”


Marcho yang sudah ingin muntah mendengar ucapan bullshit yang keluar dari mulut Reggy pun langsung menarik istrinya keluar dari ruangan. Sayangnya Livy justru enggan meninggalkan Reggy sendiri.


“Tenanglah, sayang. Aku masih butuh berbicara dengannya.”


Livy menahan Marcho untuk tetap tinggal di ruangan. Akhirnya mau tidak mau Marcho pun menuruti permintaan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2