Tawanan Duda Tampan

Tawanan Duda Tampan
Go Home


__ADS_3


Sedangkan di sisi lain, Livy dan Hizkiel yang belum menemukan buku yang diperlukan oleh Hizkiel pun mulai bertanya-tanya saat melihat banyak orang yang berlari keluar. Karena penasaran, Livy dan juga Hizkiel pun ikut melihat apa yang membuat banyak orang berlarian keluar.


Betapa terkejutnya Livy saat mendapati suaminya dan Randy saling bergelut dengan keadaan yang sudah babak belur.


“Daddy!” teriak Hizkiel sambil menyeruak keramaian.


“Randy! Hentikaaan!” teriak Livy saat Randy melayangkan tinjunya ke arah Marcho.


Teriakan Livy berhasil membuat keduanya berhenti bergelut dan memandang ke arah Livy.


“Semuanya bubar!” titah satpam mall yang baru saja datang di tempat kejadian.


“Anda berdua, ikut kami ke pos satpam karena sudah membuat keributan di sini!”


Marcho dan Randy pun langsung digiring menuju pos keamanan.


“Mommy mengenal pria yang berkelahi dengan daddy?” tanya Hizkiel yang tidak tega melihat daddynya babak belur.


“Emm, dia kolega bisnis daddy!” jawab Livy sambil menggandeng tangan Hizkiel menuju ke pos keamanan Mall.


“Kita akan cari bukunya setelah masalah daddy selesai yaa!”


“Besok juga bisa, Mommy. Bukunya akan digunakan untuk pekan depan!”


“Baiklah kalau begitu, besok mommy akan mengantarmu lagi sepulang sekolah!” ucap Livy sambil mengacak rambut Hizkiel.


💕💕💕


Setelah urusan di pos keamanan selesai, Livy langsung mengajak Marcho dan juga Hizkiel kembali ke Penthouse.

__ADS_1


Livy sama sekali tidak mempedulikan Randy yang masih diinterogasi oleh pihak keamanan.


Sesampainya di Penthouse, Marcho langsung menarik Livy ke dalam kamar.


“Memalukan! Bisa-bisanya berkelahi di tempat keramaian seperti tadi!” gerutu Livy sambil mengobati luka Marcho di dalam kamar.


“Ck, diamlah!” sahut Marcho kesal.


Kini ia tengah memikirkan dari mana Randy tahu perihal perjanjiannya dengan Livy. Randy bisa saja menyebarkan berita itu kapan pun ia mau demi menghancurkan pernikahannya.


‘Huft, masalah yang satu belum selesai. Ada saja masalah yang datang!’ gumam Marcho dalam hati sambil memandangi Livy yang sangat telaten mengobatinya.


“Livy, apa kau mengatakan kepada Randy jika kita menikah tanpa cinta?” tanya Marcho to the point.


Pertanyaan Marcho kali ini membuat Livy terhenyak. Ia langsung menjauhkan tubuhnya dari Marcho.


“Saya belum menjelaskan apa pun tentang diri saya kepada Randy!” jelas Livy.


Livy semakin terkejut mendengar pertanyaan suaminya. Perjanjian tersebut memang hanya sedikit orang yang tahu. Bahkan sahabat Livy saja sama sekali tidak mengetahuinya meski keduanya masih saling bertukar kabar.


“Saya sama sekali tidak memberi tahukan mengenai hal ini kepada siapa pun! Bukankah Anda yang seharusnya ditanya, Suamiku!”


“Silakan saja tanyakan kepada asisten kepercayaan Anda, Fredy atau mungkin pengacara Anda!”


“Aku akan segera mencari tahu mengenai hal ini!” balas Marcho.


“Sebenarnya masalah apa yang membuat kalian berdua berkelahi?” tanya Livy yang kembali mengobati suaminya.


Marcho terdiam dan tidak langsung menjawab pertanyaan Livy. Ia justru semakin intens memandangi wanita yang semakin hari semakin terlihat cantik di matanya.


‘Tidak mungkin bukan aku mengatakan jika aku menyerangnya hanya karena tidak rela dia merebutmu kembali dari sisiku?’ gumam Marcho dalam hati.

__ADS_1


Tatapan Marcho kali ini membuat Livy justru salah tingkah dibuatnya. Mendapati suaminya tidak menjawab pertanyaannya, Livy pun sengaja menekan bekas tonjokan Randy di wajah Marcho sedikit keras.


“Awh!” pekik Marcho kesakitan.


“Ups! Maaf sayang, tidak sengaja!” tutur Livy sengaja memanggil Marcho dengan sebutan ‘sayang’ agar Marcho tidak memarahinya dan kembali mengancamnya.


“Sayang?” tanya Marcho sambil mendekatkan tubuhnya dengan Livy.


“Emm, bukan bukan! Maksud saya ...”


Belum selesai Livy berkelit, Marcho sudah membungkam bibir istrinya dengan bibirnya.


“Panggil aku dengan dua panggilan itu, -suamiku sayang-!” titah Marcho dengan berbisik tepat di telinga Livy.


“Tapi, saya tadi hanya ...”


“Aku tidak terima protes atau pun penolakan!”


“Ta-tapi ...”


Marcho kembali membungkam bibir Livy dan kali ini lebih lama dari sebelumnya. Kali ini geleny4r aneh kembali menjalari tubuh Livy. Pa9ut4n Marcho yang lembut membuatnya hanyut dalam permainan bibir suaminya dan mulai membuka mulutnya.


“Apa kamu masih mencintai Randy setelah melihatnya jalan dengan seorang wanita?” tanya Marcho sambil memainkan rambut Livy dengan jemarinya.


Livy hanya menjawab pertanyaan Marcho dengan gelengan kepalanya.


“Aku fikir kau akan mengamuk dan menangis tersedu-sedu melihat kekasihmu menggandeng wanita lain, ternyata dugaanku salah!”


 


🌟🌟🌟

__ADS_1



__ADS_2